Menjadi Duchess Iblis

Menjadi Duchess Iblis
6. putri mahkota baru


__ADS_3

Alvaro berjalan dengan penuh Amarah menuju ruang kerja nya.


Ia benar-benar kesal pada sikap Althea yang seperti itu, bagaimana bisa seseorang dengan mudah nya berkata "bunuh aku." Apa ia sudah tidak sayang nyawa lagi, ah benar! dari awal ia memang tidak takut mati.


Alvaro sampai di ruang kerjanya dan membanting apa saja yang dilihat nya, sampai pada suatu bingkai foto yang berisi lukisan dirinya sang Ibu juga cinta pertamanya.


Alvaro memandang lekat wajah pada lukisan itu, iris keunguannya, surai peraknya. tunggu! memang untuk apa ia memikirkan semua ini?! gadis yang  ia cintai telah hilang kini hanya ada seorang gadis kejam dalam cangkang indah itu.


....


tanpa sadar mata Althea kini berkaca-kaca, ia berusaha menahannya namun satu bulir air matanya jatuh begitu saja ia benar-benar ceroboh bagaimana bisa ia terusik oleh ucapan alvaro tadi, bagaimana jika alvaro mengetahui dirinya yang sebenarnya, bagaimana jika semua orang tahu.


Althea mengambil sebuah foto yang ada di laci meja kerjanya foto yang sama dengan yang dimiliki Alvaro, seketika Althea mengingat pesan terakhir mendiang ratu sebelum meninggal, mata yang tadinya sudah netral itu kembali bercahaya althea menata nanar taman bunga yang ada di depannya dengan tatapan hampa.


jika benar yang dikatakan Alvaro bahwa dirinya tidak memiliki hati bagaimana rasanya bisa sesakit ini, bagaimana bisa rasanya se perih ini althea memeluk erat foto yang dipegangnya.


mungkinkah jika ia hanya manusia biasa ia bisa mencintai alvaro tanpa takut akan apapun? ah sudahlah lagipula hal itu tidak mungkin terjadi.


....


setelah kejadian hari itu raja memutuskan untuk menggelar rapat dengan para petinggi, semua berseteru siapa yang lebih pantas memegang gelar putri mahkota.


ada yang mendukung putri mahkota sebelumnya yaitu althea ada juga yang beralih mendukung irene dengan berbagai macam alasan dan keuntungan bagi keluarga masing-masing.


althea yang duduk di samping duke amarylis hanya terdiam dengan tatapan mata kosong  yang punya banyak arti, rasa sedih yang samar, kekecewaan yang terlihat begitu jelas namun jika tak memahaminya mungkin orang yang melihat hanya berpikir althea tidak peduli dengan semua ini.


"bagaimana jika kita dengarkan dari orang yang akan paling di rugikan dengan pembatalan pertunangan ini," ucap raja berharap althea menentang pembatalan pertunangan ini.


"aku menerima pembatalan pertunangan ini," kata althea membuat riuh seisi ruangan.


"putri!!" teriak beberapa pendukung althea yang tidak terima, menurut mereka selama althea menjabat menjadi putri mahkota beberapa tahun belakangan kerajaan astrantia semakin maju dan berkembang hidup rakyat pun semakin sejatera dan angka kemiskinan semakin menurun.

__ADS_1


raja mengangkat satu tangan nya isyarat agar semua orang diam, ia sendiri pun cukup kaget dengan jawaban Althea namun sebagai seorang ayah raja harus menghormati keputusan putri nya.


"Apa kamu punya alasan yang kuat untuk menerima ini putri?" Tanya raja. Alvaro menatap Althea tajam seraya menunggu jawaban dari pertanyaan raja.


"Aku tidak bisa memaksakan perasaan seseorang yang mulia dan meski pun prioritas seorang ratu adalah rakyat tapi kita tidak bisa menyangkal raja dan ratu yang saling mencintai juga akan membawa kerajaan dan rakyat nya menjadi lebih baik lagi." Semua orang di sana tercengang akan jawaban Althea mereka tidak menyangka putri Duke Amaryllis yang terkenal gila kerja dan tidak berperasaan itu bisa mengatakan hal tersebut.


"Tapi apa jaminan nya jika nanti putri mahkota yang baru akan lebih baik dari mu?" Raja tersenyum miring ia tahu bahwa gadis berambut perak itu sangat cerdas benar-benar mirip dengan mendiang istri nya.


"Yang mulia!!" Teriak Alvaro tak terima sang ayah merendahkan kekasihnya.


"Aku tidak menyuruh mu memotong putra mahkota," ucap raja dingin dan tajam pada Alvaro, alhasil Alvaro hanya bisa terdiam menahan rasa kesal nya.


"Silakan di lanjutkan putri." Althea mengangguk mengerti, ia menatap Irene yang berada di samping Alvaro dengan penuh arti seakan-akan mempelajari sesuatu di balik diri Irene.


"Aku memang tidak bisa menjamin nya yang mulia, tapi sebagai ganti nya izin kan aku menjadi penerus keluarga Duke Amaryllis Dan izin kan pula aku untuk menjadi guru dari putri mahkota yang baru." Alvaro melotot tidak percaya dengan perkataan Althea omong kosong apa ini?! Menjadi penerus Duke Amaryllis?! Yang benar saja!


"Yang mulia bagaimana bisa seorang putri menjadi pemimpin pasukan kerajaan." Berbagai komentar dari para petinggi tidak henti-hentinya terucapkan.


"Saya setuju dengan permintaan putri saya yang mulia, tolong kabulkan permintaan putri saya," ucap Duke Amaryllis tanpa ragu, ia mengenal putri nya lebih dari siapa pun.


Sebagai seorang kesatria ialah yang paling mengerti kemampuan berpedang Althea juga kemampuan nya dalam mengatur strategi perang.


Althea memang jauh lebih unggul dalam hal militer dari pada Alvaro. hanya saja karna status nya ia tidak bisa memperlihatkan itu pada publik.


"apa kamu yakin Duke?" tanya Raja mencoba meyakinkan, sebenarnya dulu saat althea dan Alvaro berlatih bersama Raja sudah melihat dan menilai sendiri kemapuan althea hanya saja ia ingin memastikannya sekali lagi.


"saya yakin yang mulia, saya akan menguji dan menilai sendiri kemampuan putri saya tanpa keringanan apapun dan bila ia menjadi kesatria saya tidak akan membedakannya dengan kesatria lain," ucap Duke tanpa sedikit pun keraguan pada nada bicara juga tatapannya.


"baiklah aku serahkan padamu." Althea tersenyum dalam hatinya setidaknya dengan begini ia bisa terus mengawasi alvaro dari jauh setidaknya meski sedikit ia bisa membantu Alvaro dan Astrantia.


.....

__ADS_1


beberapa minggu pun telah berlalu, persiapan untuk penobatan Irene telah selesai tinggal lah esok hari penobatan akan berlangsung.


di malam bulan purnama ini althea berjalan-jalan di taman mawar biru milik mendiang ratu di temani Canace yang berada dalam wujud aslinya, Canace menatap Althea sedih seakan-akan mewakilkan perasaan Althea yang tengah hancur.


Althea tersenyum tipis saat Canace bersikap manja padanya, bulan yang semakin terang diikuti mata Althea yang bersinar semerah darah juga Canace yang mata dan lorengnya bersinar biru, perlahan air mata jatuh dari pelupuk mata gadis bersurai silver itu air mata yang mengalir dan jatuh ke tanah perlahan membentuk snowflake yang sangat indah.


"air mata berhargamu itu tidak seharusnya jatuh begitu saja," ucap seseorang berjubah hitam dibalik pohon dengan mata merah menyala seperti milik Althea.


keesokan harinya seluruh istana bersorak ria akan penobatan putri mahkota yang baru di hadapan para rakyat juga bangsawan yang hadir Alvaro memamerkan senyuman manis nya, senyuman yang membuat semua orang terpana.


"Thea?" panggil Duke.


"aku sedang menjalankan tugas terakhir dari ratu ayah." Althea tersenyum dengan sangat cantik dan anggun, beberapa bangsawan yang melihatnya tertegun mereka baru pertama kali melihat senyum seperti ini meskipun sangat cantik entah kenapa rasanya di penuhi dengan kesedihan yang mendalam.


rasanya bagaikan kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Duke mengelus pelan puncuk kepala putrinya ia bisa merasakannya kesedihan dan beban yang Althea pikul.


"ayo kita pulang," ucap Duke lembut seraya mengulurkan tangan nya pada Althea. Althea dengan senang hati menyambutnya.


"iya."


.....


hallooo semua!!! hai hai gimana nih kabar nya semoga baik-baik aja ya-,


ada yang kesel sama Irene atau Alvaro? atau malah Althea? coment yaa!!


please banget tolongin aku buat bikin cerita ini banyak peminatnya biar aku tambah semangat lagi nulisnya dan makasih banget buat reader yang udah mau baca cerita ini hope you like it!


enjoy reading!!


see you next time

__ADS_1


-Ran.nace


__ADS_2