Menjadi Duchess Iblis

Menjadi Duchess Iblis
1. Altheana Amaryllis


__ADS_3

Menjadi putri satu-satunya keluarga Duke Amaryllis membuat gadis berambut perak itu menjalani masa kecilnya dengan persiapan untuk menjadi seorang ratu yang sempurna.


Meski sebelum lahir telah ditetapkan sebagai calon Ratu, terkadang diam-diam Althea belajar seni pedang dengan meniru gerakan sang ayah.


keluarga Duke Amaryllis selain merupakan keturunan dari mendiang Ratu kerajaan Astrantia juga merupakan keluarga yang terkenal akan militernya yang tidak bisa diragukan lagi kehebatannya.


Altheana Lunar De Amaryllis, putri satu-satunya Duke Amaryllis calon Ratu masa depan, Althea memiliki kepribadian yang cukup unik ia anggun seperti bangsawan pada umumnya bijak sana sebagai mana seorang putri mahkota juga hebat dalam hal militer.


Rambut peraknya tergerai dengan begitu indah, mata berwarna ungunya bagaikan permata yang dapat membuat seseorang langsung terpikat setelah menatapnya.


"Putri hari ini juga terlihat cantik," ucap salah seorang pelayan Althea, sebagai seorang bangsawan Althea memiliki beberapa pelayan pribadi juga prajurit yang setia berada di dekatnya.


Setelah selesai dirias para pelayan menyiapkan Althea untuk memakai gaunnya, para pelayan sibuk memilihkan gaun yang cantik dan mewah untuk putri mahkota mereka meski mereka tau seorang Altheana tidak suka sesuatu yang membuatnya sulit untuk bergerak.


"Putri anda mau pakai gaun apa hari ini?" Tanya Anne salah satu pelayan kepercayaan Althea.


"Pilih saja yang sederhana, oh ya! Anne tolong siapkan seragam keluargaku," jawab Althea, setelah bekerja rencananya Althea akan pergi diam-diam dari istana seperti biasanya ia lakukan.


"Anda mau pergi diam-diam lagi putri?" tanya Anne sedikit khawatir akan keselamatan Althea pasalnya terkadang Althea pulang dengan luka gores atau sekedar noda darah di bajunya.


Bukan hanya karena keselamatan calon Ratu namun jika kebiasaan Althea ini diketahui oleh putra mahkota bisa-bisa putra mahkota semakin membenci calon istrinya.


Benar! Meski Althea seorang putri mahkota namun keduanya belum menikah, Althea masih berstatus sebagai tunangan putra mahkota namun dikarenakan beberapa urusan negara harus dikerjakan oleh seorang putri mahkota alhasil Althea yang juga merupakan sepupu dari putra mahkota lah yang mengisi posisi itu bahkan sebelum keduanya menikah.


"Kamu mengenalku." Althea tersenyum tipis pada Anne, Anne beberapa tahun lebih tua dari Althea namun rasanya Althea terlihat lebih dewasa karna sifatnya yang tenang dan selalu berpikir sebelum bertindak.


Setelah selesai bersiap Althea pergi ke ruang kerjanya yang terletak di bangunan utama istana, ketika memasuki ruang kerjanya ia melihat banyak sekali tumpukan kertas yang ada di mejanya.


Meski begitu Althea tetap bersikap tenang mengingat hal ini sudah menjadi rutinitas nya selama beberapa tahun masuk istana.


Setelah duduk Althea langsung saja fokus mengerjakan tugas yang harus ia kerjakan, meski tugasnya sangat banyak namun Althea bisa mengerjakan semuanya dengan cepat dan tepat.


"Lucas tolong bawakan buku yang ada di daftar ini," ucap Althea pada asisten pribadinya seraya menyerahkan selembar kertas berisi daftar buku yang sudah ia catat.


Lucas adalah salah satu orang kepercayaan Althea selama ia ada di istana, meski pun statusnya adalah tunangan putra mahkota namun putra mahkota tidak melindungi Althea secara langsung.


Sebut saja putra mahkota membenci tunangannya ya memang hal itu adalah kenyataannya.


Setelah tugasnya selesai Althea langsung saja diam-diam menyiapkan kudanya untuk pergi ke kediaman Duke Amaryllis.


"Anda benar-benar akan melakukan ini lagi yang mulia?" tanya Lucas yang khawatir akan keselamatan putri mahkotanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melakukannya jika situasi di istana ini aman Lucas, seperti biasanya kau harus bisa menjaga rahasia," jawab Althea dengan nada bicara terkesan sangat berwibawa.


Althea menaiki kuda kesayangannya, setelah itu Lucas menyerahkan pedang berukir mawar yang di sembunyikan Althea dari calon suaminya.


Bagi seorang bangsawan, Istana adalah Medan perang di mana jika lengah sedikit saja mungkin nyawa mu dan keluarga mu akan dalam bahaya dan Althea merasakannya sejak kecil, sejak pertama kali ia datang ke istana.


Setelah berpamitan dengan Lucas, Althea memacu kudanya dengan sangat cepat menuju kediaman Duke Amaryllis benar satu-satunya tempat yang bisa Althea sebut rumah.


Setelah sampai di perbatasan hutan kerajaan, tiba-tiba seekor Harimau putih dewasa yang sangat besar mengejar kuda Althea membuat kuda yang ia tunggangi ketakutan.


Altha berhenti memacu kudanya ia menatap tajam pada harimau putih yang memiliki corak sangat indah itu.


"Canace ikuti aku dengan tenang, kau bisa membuat hewan-hewan di sini takut dengan raungan mu yang seperti tadi," ucap Althea pada Harimau putih bernama Canace itu.


Bukannya mematuhi ucapan tuannya Canace malah lompat ke arah kuda dan seketika ukurannya yang sangat besar itu berubah menjadi bayi harimau.


"Dasar manja." Althea kembali memacu kudanya dengan Canace yang tengah bersantai di pangkuannya.


Setengah jam telah berlalu, Althea sudah melewati berbagai tempat untuk sampai di tempat tujuannya.


Canace pun turun setelah Althea menghentikan kudanya. Harimau putih itu pun kembali kedalam wujud dewasanya.


Setelah menitipkan kuda putihnya pada kesatria, Althea di ikuti Canace berjalan kearah pintu utama kediaman Duke Amaryllis.


Ketika pintu terbuka para pelayan berbaris menyambut tuan putrinya meski begitu Althea tidak menghiraukan nya dan malah langsung menuju tempat latihan para kesatria.


Sebenarnya Duke melarang putrinya untuk mempelajari militer lebih jauh namun Althea memiliki sifat keras kepala yang memang di turunkan dari ayahnya, dengan cerdik Althea memilih waktu saat ayahnya sedang bekerja atau pergi keluar ibu kota.


Dengan gagah nya Althea menarik pedang dari sarung nya, para kesatria pun tersenyum tipis karna sudah lama mereka tidak mendapatkan pelajaran berpedang dari sword master seperti Althea.


*Pranggg, sringg..


Suara besi yang saling bergesekan memenuhi seisi mansion, sementara Althea menikmati kegiatan nya Canace pun tak ingin kalah bersenang-senang, seraya memperhatikan Althea dari jauh beberapa pelayan memberikan setumpuk daging pada Canace.


Tak terasa malam pun segera tiba, Althea menyusup masuk kedalam kamarnya yang berada di istana, ia terlalu senang hingga lupa bahwa malam ini bulan bersinar dengan terang nya.


Mengikuti sinar sang rembulan mata unggu milik Althea perlahan bersinar Semerah darah, Althea berusaha menutupi mata dan rasa sakit yang ia rasakan karna kutukan ini.


*Flashback..


suasana malam yang sunyi begitu mencekam, udara yang entah mengapa begitu sesak, bulan yang bersinar Semerah darah dan teriakan kesakitan seorang wanita yang sedang berjuang melahirkan darah daging nya.

__ADS_1


"bertahan lah sedikit lagi yang mulia, bayi anda akan segera lahir," ucap seorang pelayan seraya menggenggam erat tangan Duchess Amaryllis.


tak selang beberapa lama seisi ruangan akhirnya menghela nafas lega, seorang bayi mungil berambut perak dan bermata unggu dengan lucu nya menangis dengan keras.


bayi itu pun di bawa kedalam pelukannya sang ibu, Duchess Amaryllis pun menangis bahagia melihat putri pertama nya yang lahir dengan sehat.


namun belum lama kebahagiaan itu berlangsung, suasana tiba-tiba semakin mencekam, mata bayi Althea perlahan menyala bagai sinar rembulan saat itu.


...


Duke Amaryllis yang mendengar istri nya melahirkan pun bergegas menuju mansion Duke, namun sesampainya di sana ia dibuat tercengang dengan keadaan yang ada seluruh orang yang berada di sana tergeletak di tanah bersimpuh darah, dari keheningan yang ada suara tangis seorang bayi memenuhi seisi mansion.


Duke pun berlari menuju suara tersebut, di bantingnya pintu kamar tempat sang istri tengah memeluk erat buah hati mereka.


di saat-saat terakhirnya Duchess Amaryllis yang kini memiliki warna mata sama seperti bayi Althea, mengucapkan permintaan terakhir pada sang suami.


"Aku mohon, sayangi lah anak kita untuk ku." dengan senyuman manis nya Duchess menghembuskan nafas terakhirnya.


Duke menatap mata Putri nya yang sudah kembali seperti semula, air mata menetes dari ujung matanya ia mengecup pelan pipi putri kecilnya.


"Altheana Lunar De Amaryllis. putri ku, putri kami."


...


Waktu pun berlalu begitu cepat, kini Althea sudah menginjak usia sepuluh tahun. ia yang sedang tertidur pun terusik dengan sesuatu dengan kaki mungil nya ia melangkah menuju sebuah taman bunga tempat di mana sang ibu sering menghabiskan waktu saat sedang menghamili Althea.


awan yang tadi nya menutupi bulan pun kini Perlahan mulai menghilang, memperlihatkan bulan purnama yang bersinar dengan terangnya, Althea mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya perlahan mata bagai permata itu bersinar layak nya darah.


"Thea!" teriak Duke saat mendengar teriakan sang putri. Duke berlari menuju putrinya namun ia di buat terkejut saat banyak sekali hewan dan makhluk halus yang entah dari mana menunaikan seakan-akan memberi hormat pada putrinya yang kini sudah di selimuti bayangan berwarna hitam.


*back now


Althea yang sudah berhasil mengendalikan warna matanya, menatap dirinya di pantulan cermin.


"ibu aku berjanji, darah mu tidak akan aku sia-siakan."


....


holaaa, gimana nih ceritanya?


maaf kalau masih ada banyak kekurangan karna aku juga manusia yang bisa berbuat salah -3-

__ADS_1


semoga suka ya! jangan lupa klik like, love dan vote, coment juga ya biar aku tambah semangat ;)


-Ran.nace


__ADS_2