
Angin musim gugur berhembus menerbangkan kelopak bunga menuntun kupu-kupu berterbangan. Althea duduk seraya membaca buku di bawah sebuah pohon yang tengah berbunga tanpa ada senyum dan tawa.
Althea yang sedang membaca buku teralihkan pandangan nya saat beberapa ekor kupu-kupu menghampiri nya saat berada tepat di atas telapak tangan Althea kupu-kupu itu perlahan bersinar dan menghilang.
Semua ingatan bagaikan sebuah rekaman video mulai memenuhi kepala Althea, benar beberapa ekor kupu-kupu tersebut adalah salah satu familiar Althea atau lebih tepatnya makhluk yang ia ciptakan dari kekuatan milik nya.
Althea sudah mengetahui dari mana racun bunga itu berasal hanya saja ia belum mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Saat Althea sedang di pusingkan dengan masalah ini datanglah seorang yang sangat-sangat tidak ingin Althea lihat.
"Orang-orang bodoh itu akan memiliki prasangka buruk pada ku," ucap Althea seraya berdiri dan menatap orang yang kini sudah ada di hadapannya.
Orang yang tak lain adalah Alvaro itu tersenyum entahlah namun semakin dekat dengan hari pernikahan nya semakin ia memikirkan Althea. "Jadi apa tujuan anda berkunjung yang mulia?" Tanya Althea dingin. "Entahlah aku hanya ingin berkunjung." Althea mengerutkan dahi nya, sementara Alvaro duduk seraya memandang taman bunga yang ada di depan nya.
"Kau tau aku kecewa padamu," tanya Althea tiba-tiba. "Hanya orang tak berperasaan yang tidak kecewa," jawab Alvaro yakin. "Ku pikir aku bukan orang yang punya perasaan kau sendiri yang bilang begitu." Althea duduk di samping Alvaro.
Alvaro terkekeh mendengar pernyataan Althea, ya memang benar ia mengatakan hal seperti itu. "Aku tidak akan minta maaf tapi sekarang aku sudah punya seseorang yang akan menemani hidupku, aku harap kau juga menemukan orang seperti itu." Ekspresi Alvaro cukup membingungkan bagi Althea kata-kata nya seakan sombong namun ekspresi wajah nya berbeda seratus delapan puluh derajat dari perkataan nya.
"Dan membiarkan mu menghancurkan kerajaan? Jangan bermimpi di siang hari Alvaro," Althea bangkit dari duduk nya dan pergi meninggalkan Alvaro.
"Altheana!" Teriak Alvaro membuat Althea menghentikan langkahnya, Althea berbalik "Akan ku bawakan kepala pembunuh itu ke hadapan mu," ucap Althea dingin dan membuat matanya samar-samar berubah menjadi merah.
Alvaro yang baru saja akan memasuki kediaman Amaryllis seketika di halangi canace yang mengaum dengan keras di depan pintu masuk. Alvaro tersentak namun beberapa pelayan menghampiri canace dan menenangkan nya.
"Siapa kamu sebenarnya."
...
__ADS_1
Hari pernikahan Alvaro dan Irene pun tiba, seluruh rakyat bersuka cita para bangsawan mulai melihat celah untuk mencapai suatu keuntungan, beruntung lah bagi mereka yang sedari awal hanya mencari keuntungan.
Irene tengah bersiap untuk upacara pernikahan nya gaun putih yang sangat mewah, perhiasan berupa permata yang terjahit satu demi satu dalam gaun nya, tak lupa make up yang membuat nya semakin cantik pagi hari ini.
Setelah selesai semua orang terkesima dengan kecantikan Irene, bagaimana pun sepertinya Raja mereka tidak salah memilih calon ratu.
Irene menitik kan air matanya terharu, tak di sangka ia akan menikah hari ini andai saja ayah nya berada di sini, mau bagaimana lagi ia bahkan tidak pernah merencanakan untuk berada di sini.
Alvaro menunggu di altar dengan rasa gelisah entah, mungkin ia gugup Alvaro mengedarkan pandangannya mencari sesosok cantik berambut silver. Entahlah rasanya sangat aneh scenario yang selama ini di pikirkan Alvaro malah tidak ada satu pun yang terjadi namun bukan berarti itu merujuk pada hal buruk bagaimana pun ia mencintai Irene.
Setelah menunggu akhirnya Irene berjalan menuju altar pernikahan di bantu beberapa dayang untuk mengangkut ekor gaun nya. Semua orang di sana terkesima dengan kecantikan Irene rambut hitam legam yang tertata rapih, riasan wajah yang menonjolkan kecantikan nya juga gaun mewah yang entah berapa harga nya.
Alvaro sendiri pun terkesima dengan kecantikan calon istri nya ia tersenyum lembut menatap Irene, Althea yang tak sengaja melihat itu pun ikut tersenyum meski hanya sesaat ia menarik nafas berusaha untuk tenang.
Percayalah tidak semudah itu melepaskan seseorang yang kita cintai begitu lama, tak semudah itu menghilangkan rasa yang telah di perkuat oleh waktu dan suatu ketika di hancurkan juga oleh masa.
Sumpah pernikahan pun telah di ucapkan oleh kedua insan yang sedang berbahagia itu, di hadapan seluruh rakyat yang menjadi saksi. Setelah acara pernikahan berlangsung kini acara penobatan ratu berlangsung Irene pun sudah mengganti busana nya dengan gaun ratu Astrantia.
Alvaro pun sudah bersiap memakaikan mahkota ratu pada istri nya itu, mungkin ini adalah hari paling bahagia dalam hidup nya mungkin juga hanya awal dari kebahagiaan yang akan datang. Namun saat penobatan berlangsung Althea tak ada di sana setelah acara pernikahan ia pergi dari sana.
Althea berada di puncak istana Astrantia duduk di sana memandang dari jauh acara penobatan itu seraya menggenggam liontin yang di berikan mendiang raja padanya.
Perlahan air mata Althea menetes rasa sakit benar-benar sakit. Mata Althea perlahan berubah menjadi merah, ia tersenyum lembut di tengah tangis nya seraya melihat langit senja yang seakan-akan mengerti rasa sakitnya.
"Ibu, bibi, yang mulia, aku berhasil membuat Alvaro bahagia. lihatlah dia tersenyum di samping Irene Alvaro menemukan kebahagiaan sejatinya..hikss..hikss.."
__ADS_1
Sore kini telah berganti malam dan pesta pun akhirnya berlangsung dengan sangat meriah, dansa pembuka pun di lakukan Alvaro dan Irene dengan sangat menawan. Althea memasuki ruangan di tengah dansa yang sedang berlangsung.
Di sisi lain..
"Kak! Kau yakin tidak ingin turun?! Ayolahhh!!" Rengen Alex pada sang kakak.
"Mereka tidak akan nyaman kalau aku turun," ucap nya spontan, putra mahkota kekaisaran wisteria ya padahal sedari tadi ia menghadiri acara tanpa masalah namun di pesta ini entah kenapa ia tidak ingin turun.
*Brakkk!! *Trangggg!! *Bukkkk!!
"Suara apa itu?" Tanya Alex kanget seperti nya suara itu berasal dari ruang pesta dan jarak nya pun cukup jauh dari istana tempat mereka beristirahat.
Alex buru-buru membuka pintu dan menanyakan pada pelayan yang lewat. "Ampun yang mulia, ada kerusuhan yang terjadi di ruangan pesta nona Amaryllis-" belum selesai pelayan itu menyelesaikan ucapannya nya putra mahkota langsung memecahkan kaca kamar begitu saja.
"Kakak!!!" Teriak Alex tak habis pikir. Kakak nya ini benar-benar jika menyangkut putri keluarga Amaryllis ia benar-benar sensitif padahal pada adik nya sendiri pun ia tidak seheboh ini.
Kini ruangan pesta sudah benar-benar hancur, aura membunuh yang pekat tersebar di sekitar ruangan dan membuat para kesatria ragu untuk memasuki ruangan itu.
"Ayah..."
....
Holaaaa~
Long time no see, ada yang sama nyesek nya gak kayak aku? Mau aku update cepat? Komen yaaa~
__ADS_1
See you next time
-Ran.nace