
Setelah hari itu Althea di bantu Felix dan Alex mulai membuat susunan rencana untuk memancing pelaku, namun sebelum itu mereka harus bisa membersihkan nama Althea di hadapan bangsawan atau lebih tepatnya menutup mulut mereka.
"Menyembunyikan nya tidak akan berguna lagi, mereka menganggap ku monster," ucap Althea di tengah perundingan mereka. Raut wajah Felix berubah ia menampakkan wajah tidak suka. "Lady berhenti menyebutkan kata itu sebelum kakak menghancurkan Astrantia tanpa sepengetahuan kita," kata Alex yang mengerti isi Felix.
"Yang mulia tolong jangan hancurkan Astrantia tanpa sepengetahuan kami," ucap Althea membuat Felix tersenyum kecil. "Jadi bagaimana menurut mu lady?" Tanya Felix to the point sedari tadi Althea hanya mendengarkan saran Felix dan Alex.
"Bagaimana pun Astrantia adalah tanah air ku, aku tidak memungkin menghancurkan nya hanya karna aku membenci raja mereka, jadi bagaimana kalau aku kembali ke Astrantia-" belum selesai Althea menyelesaikan nya Felix lebih dahulu menyela. "Lady!" Ucap Felix tak suka.
"Kakak bahkan lady belum selesai berbicara," kata Alex seraya menepuk pundak Felix. "Maaf tolong di lanjutkan," ucap Felix tanpa merubah raut wajah nya yang sudah tidak enak. "Rencananya adalah membuat ku mendapatkan posisi duchess, seperti yang anda ketahui keluarga Amaryllis memiliki pengaruh yang sangat besar. Tapi tentu saja aku tidak bisa kembali dengan cara biasa aku butuh bantuan yang mulia." Felix mengangguk mengerti jadi target Althea sebenarnya target Althea yang pertama adalah melindungi keluarga nya.
"Jadi apa yang harus ku lakukan?" Tanya Felix dengan raut wajah serius. "Yang mulia hanya perlu berdiri di samping ku, dengan dukungan putra mahkota kekaisaran aku yakin tidak ada siapapun yang berani menentang keberadaan ku di sana," ucap Althea tanpa keraguan.
....
Sore hari setelah diskusi selesai Felix dan Alex tetap berada di sana dengan Felix yang emosi nya sedang berantakan. "Berdiri di samping apanya!" Gumam Felix kesal. "Apa salah nya jadi kesatria putra mahkota," ucap Alex enteng. Felix mengeluarkan aura mengerikan membuat Alex bergidik ngeri.
"Apa salah nya kata mu!! Aku sudah berulang kali memikirkan skenario pasangan, berdiri di depan orang-orang itu dan memperkenalkan Thea sebagai pasangan ku agghhh!! Sudah lah!!" Semua itu keluar begitu saja dari mulut Felix, semoga suara nya tidak terdengar sampai kamar Althea. Lagi pula apa-apaan ini kenapa kesatria putra mahkota?! Kenapa bukan kekasih atau tunangan atau apapun itu yang lebih mudah.
__ADS_1
Felix menarik nafas mencoba menenangkan pikiran nya di bantu Alex yang ikut mencoba membantu Felix dengan menumbuhkan daun-daun besar untuk mengipasi Felix.
"Aku sih sudah menduga, kita coba pikir saja lady baru saja terkena masalah dengan 'percintaan' mungkin saja menurut lady 'percintaan' itu bukan lah solusi dari masalah apapun dan lagi bukankah kakak sudah tahu dari awal kalau lady Amaryllis memang punya pikiran kritis seperti itu." Mendengar ucapan Alex, Felix mulai berpikir memang benar yang di katakan Alex harus nya ia bersabar lagi pula ini masih awal dari perjalanan mereka.
Hari demi hari mereka habiskan untuk mempersiapkan keberangkatan menuju Astrantia, tentu saja di iringi dengan latihan yang Althea lakukan. Felix menjadi guru yang baik untuk Althea ia mengajari dengan perlahan dan mudah di mengerti.
"Coba hentakan sedikit kaki mu," ucap Felix seraya melihat Althea dari jauh. Perlahan tapi pasti es mulai keluar dari kaki Althea membeku kan target-target yang sudah di siapkan. "Hentikan!" Ucap Felix mendadak meski begitu Althea sudah memahami nya dan bisa langsung menghentikan es nya sampai batas yang sudah di tentukan.
Althea mengubah sepatu nya agar bisa berseluncur di es yang di buat nya karna sebelumnya ia tidak melakukan itu dan sering kali hampir tergelincir akibat es yang terlalu licin. Baru saja Althea mulai berseluncur dahan-dahan pohon milik Alex sudah menghadang nya dan bersiap menyerang.
Althea berputar seraya mengarahkan tangannya ke atas, seraya melompat cukup tinggi dengan cepat pedang yang sangat tajam dengan sinar berwarna biru muncul dari tangan Althea. Althea menebas semua dahan di sana tanpa menyisakan satu pun.
"Ilusi yang cantik lady," puji Alex yang hampir saja terpana dengan mawar-mawar itu. "Terima kasih yang mulia."
Setelah menyelesaikan latihan hari ini Felix menghampiri Althea di kamar nya, ia duduk dengan tenang di sofa yang berada dalam kamar Althea. "Lady, lawan mu itu seorang yang licik," ucap Felix tiba-tiba. "Racun dari bunga wolfbane sangat sulit di temukan dan hanya sedikit orang yang memproduksi nya, kau kenal count allysium?" Ucap Felix. "Count allysium kerabat dekat yang mendiang raja, hubungan nya dengan keluarga Amaryllis juga cukup baik, apa yang mulia mencurigai nya?" Tanya Althea balik.
"Entahlah aku juga belum yakin tapi dari laporan investigasi yang di lakukan count allysium merupakan penyumbang dana terbesar untuk Budi daya bunga wolfbane." Althea paham maksud Felix ada kemungkinan count merupakan tali yang berhubungan dengan pelaku atau mungkin pelaku itu sendiri.
__ADS_1
"Memang ada beberapa faktor yang memungkinkan dari bukti tersebut, tapi jika memang benar apa alasan count melakukan itu? Merebut tahta pun bukankah seharusnya menargetkan Alvaro juga tapi kenapa Alvaro terlihat baik-baik saja." Felix mengerutkan keningnya saat Althea menyebut nama Alvaro, ia tidak suka Althea begitu mudah nya menyebut 'Alvaro' sementara diri nya belum pernah di panggil dengan nama asli.
"Kau mengkhawatirkan nya?" Tanya Felix tidak suka. "Siapa? Alvaro? Kenapa aku harus mengkhawatirkan nya." Jawab Althea polos. "Kalau begitu jangan menyebut nama nya," ucap Felix tegas. "Jadi bagaimana aku harus memanggilnya yang mulia?" Tanya Althea. "Felix," kata Felix dengan suara kecil, sontak Althea terkejut bagaimana bisa ia memanggil Alvaro dengan nama putra mahkota. "Panggil aku Felix, jangan yang mulia rasa nya tidak nyaman." Althea terkekeh hampir saja ia menyebut Alvaro dengan nama Felix.
"Tapi anda sekarang adalah atasan ku," ucap Althea membuat Felix tersenyum masam. "Baiklah Felix, aku hanya akan menyebutkan nama anda hanya saat kita sedang berdua, bukan kah aneh jika kesatria memanggil nama depan tuan nya." Althea tersenyum kecil membuat Felix tersipu.
"Ehhmmm... Jadi Althea, bagaimana menurut mu apa kita harus menyelidiki lebih lanjut tentang count Allysium?" Tanya Felix berusaha kembali ke pembicaraan utama.
"Tentu saja semakin lengkap informasi yang kita punya semakin dekat kita dengan pelaku." Althea tersenyum seraya melihat langit sore yang kini sudah di penuhi dengan bercak-bercak oranye yang tersebar sepanjang mata memandang.
"Sebentar lagi, kita pasti bertemu dan yang pasti aku akan balas semua yang kau lakukan.."
....
halo semua!!! thank you so much buat 7k nya ya makasih banyak buat kamu yang masih setia nunggu next episode dari 'menjadi duchess iblis'
Minggu depan aku upload lagi ya request dong mau berapa episode wkwkwk jangan banyak-banyak ya~
__ADS_1
see you on next chapter bye-bye
ran.nace