
...Kepada yang terhormat ...
...count marigold...
...Seperti janji saya seminggu yang lalu, ...
...Saya harap anda bisa berkunjung ke kediaman Amarylis untuk makan siang.. ...
...Td. Altheana lunar de Amarylis. ...
Sebastian von marigold, seorang pemuda yang baru saja pulang ke Astrantia dan mewarisi gelar Count, ia terkenal sebagai seorang yang ramah dan sangat menghormati para lady.
Sebastian tersenyum saat membaca isi surat yang ada di tangan nya. "Mari kita ikuti permainan seru ini."
"Siapkan Kereta kuda! Aku akan pergi ke kediaman Amarylis," Ucap Sebastian pada pelayan nya.
...
Di kediaman Amarylis Althea tengah duduk dan masih saja berkutat dengan dokumen nya, padahal sebentar lagi jam makan siang dan Sebastian akan datang sebentar lagi.
"Haruskah kamu mengundang dia kemari?" Tanya felix dengan nada kesal. "Tentu, aku sudah berjanji dan lagi berbincang dengan nya bisa menambah informasi yang kita miliki sekarang," Jawab Althea masih melihat pada dokumen nya.
Felix menghel nafas nya dan menghentikan gerak tangan Althea yang hendak mengambil dokumen berikut nya.
"Aku akan kembali Kekaisaran selama seminggu," Ucap felix seraya menatap mata Althea dalam, Althea balik menatap Felix seraya tersenyum. "Fel-"
Belum sempat Althea menyelesaikan kalimat nya lucas terlebih dahulu membuka pintu ruang kerja Althea, "Count marigold sudah sampai lady," Ucap Lucas membuat Althea beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju pintu namun sebelum keluar Althea berbalik arah melihat Felix.
"Maaf untuk hari ini, aku akan meminta mereka menyiapkan makanan untuk mu. Akan sulit menjelaskan kenapa yang mulia putra mahkota Kekaisaran berkeliaran di kediaman Amarylis bisa-bisa beredar rumor yang tidak-tidak." Althea menutup pintu kemudian segera pergi menemui count marigold yang sudah berada di tempat jamuan.
"Selamat siang lady Amarylis," Ucap Sebastian seraya mengecup tangan Althea. "Selamat siang count, selamat datang di kediaman kami," Balas Althea.
Althea mempersilakan Sebastian duduk dan menikmati sajian yang sudah berada di depan mata mereka. "Maaf atas apa yang terjadi di kediaman anda count," Ucap Althea tiba-tiba. Sebastian tersenyum kecil. "Tidak apa-apa lady, lagi pula apa yang lady lakukan hari itu benar-benar menarik.
"Anda pasti sudah tahu, saya mengundang anda bukan hanya untuk makan siang bersama," Kata Althea. "Hahaha... Anda benar-benar lady yang tidak sabaran." Sebastian menatap Althea dengan rasa penasaran. "Jadi, apa yang Anda inginkan?" Tanya Sebastian to the point.
"Mari kita bersekutu," Ucap Althea tegas.
__ADS_1
"Apa keuntungan yang akan saya dapat jika bekerja sama dengan lady?" Tanya Sebastian. "Revolusi." Sebastian terkejut mendengar pernyataan Althea, raut wajah yang tadinya bermain-main itu langsung berubah serius. Sebastian menarik nafas panjang.
"Anda pasti tahu ini tidak akan mudah kan?" Tanya Sebastian memastikan. "Saya tahu, karna itu dengan adanya count di rencana ini akan mempermudah rencana saya." Sebastian mengangguk kecil dan tersenyum.
"Jadi, kita mulai dari mana?"
...
Satu bulan telah berlalu, Althea masih mengumpulkan bukti untuk menjalankan rencana nya. Ia pergi ke beberapa tempat untuk mencari informasi yang di Butuhkan.
Namun entah kenapa satu bulan ini terasa sangat hampa, mungkin karna di kediaman Amarylis hanya ada Althea dan para pelayanan.
Althea melangkahkan kaki nya keluar dari kediaman Amarylis menuju istana. Sesampainya ia di istana lucas menyambut nya. Kedua nya saling bertatapan sebagai isyarat, dengan percaya diri mereka berjalan menuju ruang kerja Alvaro.
"Lady Amarylis, menghadap matahari astrantia," Ucapan Althea seraya membungkuk.
"Duduk lah," Balas Alvaro mempersilakan Althea duduk, "aku ingin bicara empat mata dengan lady." Lucas yang mengerti langsung pamit dan meninggalkan ruangan Alvaro.
"Beberapa negara memutuskan hubungan kerja sama," Ucap Alvaro tiba-tiba. "Itu tugas Ratu, kenapa yang mulia repot-repot memanggil saya?" Tanya Althea dengan nada malas.
"Mereka memutus kerja sama dengan Astrantia, tapi tidak dengan Amarylis." Althea tersenyum kecil. "Hentikan semua rencana busuk mu Althea, kau bisa menyakiti rakyat," Ucap Alvaro serius. Althea memperhatikan mata Alvaro yang terlihat sangat lelah.
"penggelapan dana di daerah selatan dan utara, pemutusan kerja sama oleh negara A karna tidak berjalan nya transaksi rutin selama 1 tahun terakhir, akibat nya wilayah selatan tidak bisa mengatasi kekeringan di tahun ini."
"Dari mana-"
"Begitu pula wilayah utara, pemasukan dari tambang safir biasa nya di gunakan untuk memenuhi kebutuhan warga, tapi selama beberapa bulan ini tidak ada ekspor ke negara B dan mereka sudah menemukan tambah yang baru jadi tidak ada alasan lain untuk tetap bekerja sama dengan Astrantia."
"Pertanyaan nya, bagaimana bisa Ratu rutin mengadakan pesta sementara rakyat menderita." Alvaro terdiam, ia masih membaca dengan teliti dokumen yang di berikan Althea.
"Anda jangan khawatir karna Amarylis sudah mengurus semua nya," Ucap Althea lagi, entah mengapa ia benar-benar puas dengan ekspresi Alvaro sekarang.
"Apa yang kau inginkan, sebagai balasan nya?" Tanya Alvaro. "Umumkan jasa ku di hadapan seluruh Astrantia dan kembalikan kehormatan keluarga Amarylis kau hancurkan." Althea menatap tajam pada Alvaro. Alvaro dapat melihat perubahan warna mata Althea.
"Sihir mu," Ucap Alvaro pelan. "dapat mengatasi kekeringan tahun ini." Althea tersenyum. "Ku anggap ini tugas pertama ku sebagai Duchess," Ucap Althea seraya berdiri berniat meninggalkan ruangan.
"Aku tidak bisa memberikan posisi Duchess padamu," Kata Alvaro. "Kalau begitu berikan tahta padaku." Alvaro terkejut namun Althea terlihat sangat tenang.
__ADS_1
...
Beberapa hari kemudian, sesuai dengan janji Alvaro ia mengumumkan jasa Althea pada publik. Membuat sebagian besar bangsawan berlomba-lomba untuk mendekati Althea.
Karna mereka tahu, posisi mereka saat ini bisa tergeser kapan saja saat Althea menjadi Duchess nanti. Lebih baik menjadi kawan dari pada menjadi lawan.
Althea menjalankan tugas yang di berikan Alvaro, keesokan hari setelah tugas itu di berikan Althea langsung bergegas berangkat menuju selatan.
Saat ia menginjakkan kaki di daerah selatan yang panas, sihir es yang ia punya meleleh dan menyuburkan tanah yang ada di sana. Wilayah selatan kini tidak perlu khawatir tentang persediaan air.
Belum selesai di sana bahkan Althea setiap hari nya selalu memberikan bantuan, baik itu makanan kebutuhan pangan dan lain-lain.
Ia juga mengajarkan pada anak-anak cara nya untuk bercocok tanam dengan tahan selatan yang tandus.
"Kami sangat berterima kasih, lady sudah membantu kami lagi, " Ucap sesepuh desa yang ada di sana.
"Bagaimana pun saya juga manusia, saya tidak bisa menghiraukan sesama yang sedang membutuhkan pertolongan," Ucap Althea lembut.
"Lady bukan monster, beliau malaikat."
"Bagaimana mungkin wanita lembut ini monster, mereka hanya iri karna berkat yang lady terima."
"Lady seharus nya menjadi ratu."
Begitulah tanggapan-tanggapan yang terucap dari mulut rakyat.
"Tapi Sesepuh desa, saya tidak sebaik itu saya juga menginginkan imbalan dari pertolongan yang saya berikan," Ucap Althea membuat seluruh orang di ruangan itu terkejut.
"Maaf Lady, tapi kamu tidak punya apapun yang bisa kami berikan pada Lady," Ucap sesepuh desa, suara nya bergetar takut mengecewakan Althea.
"Punya, kalian punya suara yang bisa membantu ku. Suatu hari nanti saat aku membutuhkan nya kuharap kalian mau membuka suara untuk membantu ku." Althea tersenyum lembut, para warga menarik nafas lega.
"Tentu Lady, kami tentunya akan membantu lady."
Perlahan nama baik Althea dan Amarylis kembali pulih, meski orang-orang masih bertanya-tanya mahkluk apakah Althea sebenarnya. Namun seiring berjalan nya waktu mereka menerima keberadaan Althea diantara mereka.
Tepat satu bulan sejak Althea berada di wilayah selatan, ia memutuskan kembali ke wilayah Amarylis. Karna jika mengingat waktunya Felix mungkin sudah berada di sana ketika Althea pulang.
__ADS_1
Althea melangkahkan kaki nya menaiki kereta kuda yang akan membawa nya pulang.
"Saat yang tepat untuk memulai langkah selanjutnya."