Menjadi Pembantu Tuan Muda

Menjadi Pembantu Tuan Muda
Bab 45 : Perasaan alaska


__ADS_3

"Sudah tidur?" tanya Ezio saat membuka pintu kamar Alaska


"Belum tuan," ucap Alaska yang memang belum tidur.


"Ayo duduk di pinggir kolam," ajak Ezio yang langsung pergi ke arah kolam berenang. Alaska yang tidak bisa tidur pun langsung mengikuti Ezio.


Mereka duduk di kursi tepat di samping kolam berenang, Alaska melihat ke arah langit banyak bintang dan bulan yang bersinar terang.


"Indah sekali," ucap Alaska memuji


"Tentu saja, apalagi ada kamu di samping ku," ucap Ezio sambil tersenyum ke arah Alaska. Seketika Alaska pun langsung salah tingkah.


"Bagaimana kuliah mu?" tanya Ezio sambil menatap Alaska


"Baik baik saja tuan," ucap Alaska tidak berani menatap Ezio untuk saat ini.


"Bagus lah." Ucapnya.


Beberapa menit kemudian mereka hanya diam membisu, mereka hanya menikmati bintang dan bulan yang bersinar terang malam itu.


Mereka menghabiskan malam bersama di samping kolam berenang, mereka kembali ke kamar masing masing saat kantuk mulai menghantui.


__________________


Pagi yang penuh dengan semangat Alaska bangun lebih awal, membantu Ceoli untuk bersiap siap berangkat ke sekolah.


"Alaska," panggil Ezio saat mereka ingin sama sama berangkat dari rumah.


"Ada apa tuan?" tanya Alaska


"Semangat ya," ucap Ezio menyemangati Alaska. Ia pun mengangguk sambil tersenyum.


Kini hati Alaska sudah di penuhi oleh Ezio, sikap Ezio yang sangat lembut terhadap Alaska membuat Alaska tak ingin jauh darinya.


Mereka berangkat secara bersamaan tapi beda mobil, Alaska sangat bersemangat untuk belajar di kampus hari ini.


terima kasih telah menyayangi ku, batin Alaska berbunga bunga


Saat sampai di kampus Alaska terkejut saat melihat Anton berada di depan kelasnya, ia melihat Alaska dengan tatapan yang sedikit tajam.


"Alaska" panggilnya. Alaska mendekat


"Ada apa pak?" tanya Alaska sedikit gugup


"Aku ingin berbicara sebentar," ucap Anton langsung berjalan menuju taman, Alaska hanya mengikuti Anton dari belakang.

__ADS_1


"Benar nama majikan mu Ezio Abraham?" tanya Anton memastikan lagi


"Iya pak," ucap alaska jujur


"Dia belum menikah, dia memberi mu biaya untuk kuliah. Apa kamu tidak curiga dengan semua itu?" tanya Anton memastikan


"Curiga kenapa pak?" Alaska benar benar bingung


"Curiga bahwa ia mencintai mu," ucap Anton serius. Alaska terdiam dengan pernyataan itu, tak bisa di sembunyikan sebenarnya Alaska lah yang telah mencintai Ezio.


"Aku tidak tau pak," ucap Alaska tak tau lagi harus menjawab apa.


"Lebih baik kamu pergi saja dari rumah itu," saran Anton. Alaska terkejut, bagaimana mungkin ia meninggalkan rumah yang sudah di anggapnya sebagai keluarga.


"Tidak bisa pak," ucap Alaska tak ingin melakukan hal itu.


"Kenapa? atau jangan jangan kamu mencintai Ezio?" tebak Anton.


"Masalah pribadi ku bukan urusan bapak, lagian bapak bukan siapa siapa saya. Kenapa bapak dengan beraninya menyuruh ku pergi dari rumah tuan Ezio. Maaf pak, saya menghargai bapak selaku dosen saya. Tapi tolong jangan ikut campur urusan pribadi saya." Ucap Alaska langsung pergi dari sana. Ia kesal dengan sikap Anton yang sangat berlebihan terhadapnya.


Alaska masuk ke dalam kelas dengan perasaan yang kesal, pagi pagi sudah membuat mood Alaska langsung hilang seketika.


Alaska tidak fokus saat mengikuti pelajaran, masih teringat akan Anton dan Ezio dalam pikirannya, ia benar benar kacau hari ini.


Saat pulang kuliah, Alaska memilih untuk tidak pulang dulu, ia mencari angin untuk bisa menenangkan hatinya saat ini. Ia berhenti di salah satu danau kecil dekat kampus.


Alaska duduk di bawah pohon, ia mengambil minum dari dalam tasnya, ia menatap kosong ke arah danau. Danau yang sangat tenang, cukup indah di pandang mata.


Alaska tak tau ingin berbuat apa, ia ingin menjauhi Anton tapi ia tak tau bagaimana caranya. Anton terlalu berlebihan menyikapi kehidupan Alaska.


Semakin hari perasaan Alaska tak dapat di bohongi lagi, ia benar benar mencintai Ezio saat ini, tapi ia tak tau bagaimana perasaan Ezio sendiri. Alaska berharap Ezio juga menyukainya. Ia tak mau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Alaska menatap ke arah sekitar, danau ini di penuhi oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah.


Lama Alaska di sana, akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang saat itu, ia kembali ke gerbang kampus, ia yakin bahwa pak sopir sudah menunggunya di sana. Dan benar saja pak sopir sudah berada di depan gerbang kampus.


"Kemana saja non?" tanya pak sopir


"Maaf pak, tadi teman saya ngajak makan," ucap Alaska bohong


"Owalah, ya sudah yuk pulang," ajaknya. Alaska pun hanya mengangguk.


Tak lama kemudian Alaska sudah sampai di rumah, ceoli sedang bermain bola sendiri di taman. Ceoli pun langsung menyambut kepulangan Alaska.


"Kak, kakak capek?" tanya Ceoli

__ADS_1


"Enggak, ada apa?" tanya Alaska


"Main bola yuk kak," ajak Ceoli semangat.


"Bentar ya, kakak ganti baju dulu," ucap Alaska ingin menganti baju dulu.


"Hore. . . oke kak," ceoli senang.


Alaska menemani Ceoli untuk bermain hingga sore hari, mereka pun duduk setelah lelah bermain. Langit mulai berubah menjadi jingga, langit yang tadinya di temani awan kini sudah menampakkan keindahannya yaitu senja.


"Kak langitnya cantik banget," puji Ceoli.


"Iya, cantik banget," ucap ku pun memuji. Tiba tiba aku melihat ke arah parkiran, tidak ada mobil Ezio di sana.


"Apa tuan belum pulang?" ucapku bertanya tanya.


Malam pun telah menyapa, aku mengajak Ceoli untuk mandi saya itu, ia pun hanya menurut. Saat ingin makan malam Ezio belum kunjung datang.


"Bik, tuan Ezio belum pulang ya?" tanya Alaska kepada bik rumi.


"Belum, mobilnya saja belum ada," ucap bik Rumi. Alaska langsung mengambil ponselnya di dalam kamar, ia berpikir mungkin Ezio menghubunginya. Namun ternyata tidak ada notif di ponsel Alaska.


Alaska pun langsung menelpon Ezio saat itu.


Pembicaraan lewat telepon


"Ada apa?" tanya Ezio


"Tuan belum pulang?" tanya Alaska sedikit khawatir.


"Kenapa? kamu khawatir ya," ucap Ezio mulai merayu


"Eh gak gitu tuan, ceoli tadi nanya in," ucap Alaska mencari alasan yang lain.


"Masak sih? jadi bukan kamu ni yang khawatir," Ezio masih ingin merayu Alaska.


"Enggak tuan," ucap Alaska, pipi Alaska kini sudah merah merona akibat mu, padahal Ezio tidak ada di depannya saat ini.


"Sebentar lagi aku pulang, masih ada kerjaan yang harus ku selesaikan," ucap Ezio.


"Oooo baiklah tuan." Ucap Alaska yang langsung mematikan ponsel tersebut.


Maaf teman teman author jarang update. Jangan lupa baca novel author yang berjudul Hujan di aksana grass


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴


_Happy Reading_


__ADS_2