Menjadi Pembantu Tuan Muda

Menjadi Pembantu Tuan Muda
Bab 46 : Ezio kecelakaan


__ADS_3

Alaska mengerjakan tugas kuliahnya, ia juga membantu Ceoli untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Setelah selesai mengerjakan tugas, Alaska sempat ketiduran di kamar Ceoli. Tapi ia langsung terbangun lagi saat mengingat Ezio belum pulang, dan benar saja Ezio belum pulang saat itu.


Pukul 12 malam, ezio belum kembali. Alaska sangat khawatir dengan Ezio. Sedari tadi ia mengirim pesan kepada Ezio, tapi tidak ada balasan dari Ezio.


Dret. . . dret. . .


ponsel Alaska berbunyi, ia pun langsung mengangkat telepon itu.


Pembicaraan lewat telepon


"Hallo ini siapa?" tanya Alaska, karena ada nomor baru yang menghubunginya.


"Apakah ini saudara dari tuan Ezio, atau istri dari tuan Ezio?" tanya seorang wanita. Alaska terdiam. sejenak ia tidak tau harus mengaku sebagai siapa.


"Saya saudaranya," ucap Alaska


"OOO baguslah buk, saya ingin mengabarkan bahwa tuan Ezio sedang berada di rumah sakit akibat kecelakaan," ucap wanita itu mengabarkan.


"Hah?" Alaska mulai gemetar.


"Iya buk, sekarang tuan Ezio sedang berada di rumah sakit tadika satu," ucap wanita itu.


"Ba. . . baik buk saya ke sana," Alaska terbata bata. Ia langsung mematikan ponselnya.


Pikirannya kacau, ia sangat khawatir dengan keselamatan Ezio. Alaska pun langsung berlari ke kamar untuk mengambil tasnya. Ceoli sudah tertidur begitu pun dengan bik Rumi.


Hanya ada aku yang masih menunggu kepulangan Ezio, aku mengabarkan berita tersebut kepada pak satpam. Pak satpam pun langsung menyuruh pak sopir untuk mengantarku ke sana.


Di dalam perjalanan aku tak bisa tenang, pikiran ku selalu mengatakan ada sesuatu yang buruk menimpa Ezio.


"Pak cepat ya," ucap Alaska panik

__ADS_1


"Baik non, sabar ya." Ucap pak sopir


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit, Alaska langsung berlari ke ruang UGD, tidak ada siapa siapa di sana. Tapi menit berikutnya ada seorang suster yang mendatangi Alaska.


"Apakah ini saudara tuan Ezio?" tanya suster itu


"Iya," ucap Alaska singkat. Suster itu pun langsung menuntut Alaska untuk masuk ke ruang UGD. Alaska sangat terkejut saat melihat tubuh Ezio di baluti dengan alat medis. Alaska pun langsung menutup mulutnya karena shok, tak terasa air matanya telah menetes ke pipinya.


"Yang sabar ya buk, para dokter akan memberikan yang terbaik buat Tuan Ezio. Dan ini ponsel tuan Ezio buk," ucap suster itu memberikan ponsel Ezio kepada Alaska. Ia pun langsung menerimanya.


Alaska duduk di kursi tunggu di ruangan itu, Alaska di izinkan untuk menemani Ezio tapi dari kejauhan. Jantung Alaska berdetak tak karuan, takut jika terjadi apa apa kepada Ezio.


Flashback on


Ezio mematikan ponselnya, ia tersenyum saat Alaska mengkhawatirkan dirinya.


"Dia malu malu," ucap Ezio tertawa sendiri. Ia masih di kantor, ada pekerjaan yang harus ia siapkan malam ini. Tapi mengingat wajah Alaska membuatnya tak fokus pada pekerjaannya.


Ezio sudah mencintai Alaska, ia yakin ini bukan perasaan biasa. Ia sudah menyadari tentang perasaannya kepada Alaska, tapi ia menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


Pukul 11 malam Ezio baru menyelesaikan pekerjaannya, ia hanya sendiri karena Fandi ada pekerjaan lain. Ia juga mengendarai mobil sendirian.


Ia kurang fokus saat mengendarai mobilnya, di dalam perjalanan ia sering menguap dan tidak fokus.


Ezio benar benar tak tahan dengan rasa kantuknya, saat di lampu merah tiba tiba Ezio menerobos karena tak melihat bahwa warna lampu berubah menjadi merah.


Alhasil mobil besar dari arah selatan melaju dengan kencang, mobil besar itu langsung menginjak rm dengan mendadak. Tapi nasi sudah menjadi bubur, mobil itu pun langsung menabrak mobil Ezio.


Brak. . . !!!!


Suara yang sangat nyaring ketika didengar, semua orang berteriak menyaksikan kejadian itu Pandangan Ezio mulai mulai gelap, ia tak memakai sabuk pengaman membuat kepalanya terbentuk keras ke arah setir mobil. Mobil Ezio terseret beberapa meter, sampai sampai mobil itu jatuh dalam keadaan miring.

__ADS_1


Ezio memegangi kepalanya, terasa sakit, darah segar mengalir dari kepalanya, saat melihat darah yang banyak membuat Ezio semakin pusing.


"Alaska, tunggu aku pulang," ucap Ezio. Ia pun langsung tak sadarkan diri. Hanya kata kat itu yang terakhir keluar dari mulutnya.


Semua orang di sana langsung mendekat ke arah mobil Ezio, dengan cepat Ezio pun di bawa ke rumah sakit terdekat.


flashback off


Tangis Alaska semakin pecah saat melihat ponsel Ezio. Kontak Alaska di beri nama Alaska dengan tanda love di belakang namanya. Ia semakin sedih saat melihat galeri Ezio di penuhi Poto Poto dirinya, banyak sekali Poto yang di ambil secara sembunyi sembunyi.


Alaska menghapus air matanya, ia pun mencoba menghubungi mama Ezio lewat ponsel milik Ezio.


Tak butuh waktu lama mama Ezio langsung mengangkat telepon tersebut. Dengan hati hati Alaska pun mengabarkan bahwa Ezio sedang di rumah sakit. Terdengar mama Ezio sangat shok mendengarnya. Ponsel itu pun langsung di matikan oleh mana Ezio.


"Tuan, bangun. Aku di sini menunggu mu," ucap Alaska lirih. Tak lama kemudian dokter menyuruh Alaska untuk keluar sebentar, karena dokter akan memeriksa Ezio.


Dengan langkah yang berat, Alaska pun langsung keluar dari ruangan tersebut. Ia menunggu di depan UGD.


Alaska melihat ke arah sekitar, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Keadaan saat itu sangat sepi, hanya ada Alaska dan pak sopir di sana. Tadi ya Alaska menyuruh pak sopir untuk pulang, tapi pak sopir menolak, ia mau menemani Alaska di sini.


Tak lama kemudian mama Ezio pun datang, Alaska langsung memeluk mama Ezio. Tangis mama Ezio pecah saat di pelukan Alaska.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya mama Ezio saat kami sudah duduk di kursi. Aku pun langsung menceritakan kejadian tadi, ku tak tau pasti apa penyebab Ezio kecelakaan. Aku mengatakan mendapat kabar dari suster yang ada di rumah sakit ini.


Mama Ezio pun kembali menangis, ia masih shok dengan berita tersebut. Alaska menyuruh mama Ezio untuk istirahat, tapi ia langsung menolak. Ia ingin menunggu putranya sampai bangun. Lama menunggu dokter itu belum keluar dari UGD. Alaska sangat khawatir.


Waktu menunjukkan pukul 4 pagi, dokter itu belum keluar. Alaska dan mam Ezio masih setia menunggu Ezio di sana. Mereka di naga oleh beberapa bodyguard mama Ezio.


Terima kasih udah mampir di novel author semoga ceritanya menarik perhatian teman teman ya 🤗


Jangan lupa untuk like vote dan komen ya biar author nya tambah semangat ni wkwkkwkw 🥴

__ADS_1


_Happy reading_


__ADS_2