
Mentari pagi itu bersinar cukup cerah, udara hangat mengantarkan langkah kaki seorang gadis belia, berusia 18 tahun dan masih duduk di bangku kelas 3 SMA.
Putri pertama dari pasangan Tuan Surya Atmaja dan Nyonya Rosila ini, membuka hari-harinya dengan senyum dan kejahilan kepada adik satu-satunya.
Arsya Putra Atmaja, anak kedua di keluarga Atmaja, baru saja naik ke kelas 4 Sekolah Dasar.
Anak laki-laki yang ketampanannya sudah mulai terukir di usianya yang masih ke sepuluh tahun.
Jarak usia keduanya memang lumayan jauh, karna dulu Asya mengira bahwa dirinya akan menjadi anak tunggal. Ternyata disaat ulang tahunnya yang ke sembilan ia mendapat hadiah seorang adik yang manis.
.........
Pagi hari Asya Azkara Atmaja,,,
Dengan penampilan seorang remaja putri yang membuat orang harus berkata yaaaaccchhh...... “biasa saja”.
Rambutnya yang dikuncir ekor kuda, dan gestur tubuh yang lebih dominan macho, membuat gadis ini terkesan tomboy.
Meski demikian, Ia memiliki Sikap yang Care kepada semua orang membuatnya disukai banyak temannya.
Disaat semua teman-temannya di sekolah elit itu bergelimang kemewahan, Asya menjalani kehidupannya dengan serba terbatas. Keadaan ekonomi keluarganya membuat ia harus jauh dari kecukupan dan kemewahan.
Dengan kehidupannya yang berada dalam keterbatasan, namun Asya diberikan kelebihan berupa otak yang cerdas dan bisa dibilang briliant.
Asya tak perlu repot-repot belajar untuk sekedar mendapatkan nilai 100 di setiap ulangannya
Asya... ya... begitulah Ia dipanggil.
Asya selalu siap membantu teman-temannya, Ia termasuk anak yang ringan tangan bahkan ketika ujian, ia siap membantu teman-temannya yang malas sekali belajar.
Ia memiliki meski berbagai cara jitu untuk menembus pertahanan pengawas ujian sekolah.
itulah yang membuat teman-temannya sangat menyukai Asya.
Asyakira Azkara Atmaja, tanpa polesan bedak di wajah, dan juga tanpa sapuan lip balm di bibir layaknya anak gadis lain,
Dengan santainya ia mengenakan seragam yang bagian atasnya dikeluarkan bagian bawahnya. kemeja putih itu jarang sekali di rapikan seperti pelajar teladan lainnya.
Asya mengenakan rok abu-abu selutut dengan kaos kaki yang hampir tak terlihat dari mata kakinya.
Selalu saja tidak mengindahkan kerapian yang diajarkan oleh Waka Keputrian disekolah. Namun hal itu tidak dapat menyembunyikan betapa manisnya wajah Asya meski hanya berpenampilan acak-acakan dan seadanya.
Sepatu Kets putih yang hampir setiap pekan membuat Ia harus terjaring razia oleh Waka kesiswaan, namun juga tak membuatnya jera dengan berbagai hukuman yang harus diterima.
mulai dari skot jump, lari memutari halaman sekolah, sampai disita sepatunya. Tetap saja Asya akan mengenakan sepatunya lagi setelah diambil dari kantor Waka Keputrian.
Alasannya bukan karna sangat menyukai sepatunya, tapi karna hanya itu satu-satunya sepatu yang ia punya, itupun hasil dari kerja paruh waktu setelah pulang sekolah.
Pagi ini seperti hari hari biasanya, Asya sudah berada di halaman sekolah. Dengan menenteng tas warna abu-abu di punggung, yang Ia beli di Toko ATK dari gaji pertamanya bekerja sebagai penjaga Toko Kue.
.........
Sekolah SMA Bina Bangsa Nusantara...
Sebuah Senyum merekah menyambut Asya dari kejauhan.
“Selamat pagi Asya sayang.... “. Sambut Cathrina teman sekelas sekaligus sahabat Asya semenjak duduk di kelas 2.
__ADS_1
“Pagi Cath”. Balas Asya dengan senyum jahilnya.
Cathrin menyambar lengan Asya dan menariknya berjalan ke Kelas.
“bujuuuu.... Pelan Cath !!!”. Pekik Asya yang merasa badannya limbung Karena tarikan Cathrina.
“Aku dah kangen sama kamu Sayang ! “. Ucap Cath sambil memandang wajah Asya tanpa berkedip.
“Woy... Sadar... Kesambet Lu yachh...”. Teriak Asya sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Cath.
“Terserah kamu Sya, yang penting aku bisa liat wajah mu lagi”. Sambung Cath yang tak memperdulikan penolakan Asya.
Gadis seusia Asya ini sepertinya sangat mengagumi Asya hingga apapun yang dilakukan Asya membuatnya terpukau.
Ya... Cath adalah teman sekelas Asya yang mulai dekat dengan Asya sejak duduk di Kelas 2.
Asya sudah terbiasa dengan perilaku Cath yang diluar batas, karna Asya tahu bagaimana Cath sebenarnya.
Asya menganggap temannya itu sebagai Gadis jadi-jadian. Ia selalu menampakkan rasa cintanya pada Asya.
Asya paham betul sahabatnya itu menaruh hati padanya semenjak mereka pertama bertemu. Namun Asya masih normal.
Meski penampakannya jauh dari kata feminim.
Asya masih memilih jalur lurus.
Asya mengetahui jika Cath adalah salah satu anggota club’ Pelangi semenjak Cath menyatakan perasaannya setahun lalu tepat di acara Outing Class.
.........
~ Flash Back On ~
Sepanjang perjalanan Cath menunjukkan perhatiannya pada Asya.
Chat memberikan camilan, minuman, ia juga menyiapkan makanan untuk Asya.
Asya menganggap perlakuan Chat itu karna rasa persahabatan yang kental diantara meraka. Tak terbesit pemikiran aneh dengan segala tingkah Cath.
Sesampainya di tempat penelitian, Asya yang sedang fokus meneliti monumen bersejarah yang dikunjunginya bersama teman-teman satu jurusannya itu, tampak antusias mencatat setiap hasil penemuannya.
Segala hipotesa dan analisanya dicatat dibuku catatan yang dibawanya sejak turun dari Bus Sekolah.
Setelah beberapa waktu ia menyusuri setiap jengkal peninggalan sejarah itu Asya duduk dibawah pohon di taman sekitaran monumen untuk melepas lelahnya.
Ia sedang menikmati angin segar yang berhembus menyapanya ditengah teriknya matahari.
Asya memejamkan matanya sambil bersandar di badan pohon yang besar.
“Sya...”. Panggil Cath pada Asya sambil memberikan sebotol teh.
“Terimakasih Cath.. tahu saja kalau aku haus...“. Ucap Asya dibarengi dengan senyum termanisnya.
Mata Cath berbinar melihat senyum Asya, seperti ada ribuan bintang yang berjatuhan di wajah Asya yang menurut Chat sangat mempesona.
Asya meneguk minuman dingin pemberian Chatrin. Minuman rasa Teh melati itu memberikan rasa segar di tenggorokannya.
“Sya... Indah banget ya tempat ini... “. Cath mengagumi monumen patirtan yang sedang dikunjunginya itu.
__ADS_1
“Iya Chat, pasti Para putri dulu cantik-cantik ya... Sampai dibuatkan kolam khusus untuk mandi supaya kecantikannya terjaga”. Tambah Asya mengagumi.
“Seandainya Aku salah satu dari putri itu Cath....”. Lanjut Asya sambil membayangkan dirinya menjadi putri cantik, lemah lembut dan semuanya serba dilayani. Pastilah Ia tak perlu bekerja keras hanya sekedar untuk melanjutkan sekolahnya.
“Kamu meskipun ga jadi Putri masih tetep yang paling cantik Sya..”. Cathrina memuji kecantikan Asya yang terpendam jauh diantara sikap cueknya pada penampilan.
Asya menoleh mendengar ucapan Cath, sedang tanggan Cath menggenggam telapak tangan Asya.
“Kamu tetep tercantik buat aku Sya, “. Imbuh Cath meyakinkan Asya
Bagi Chatrin Asya bukan hanya cantik di wajahnya, namun Asya juga memiliki hati yang teramat cantik.
“Ah... Kamu Cath bukan masalah cantiknya, tapi betapa enaknya apa-apa dilayani”. Jawab Asya sambil terkekeh.
“Tapi kamu emang cantik Sya, dan aku sangat suka sama kamu !”. Lanjut Cath
“Trimakasih Cath, aku juga suka sama kamu”. Jawab Asya sambil menggenggam kedua tangan Cath.
“Sungguh Sya kamu suka aku???”. Pekik Cath mendengar ungkapan Asya.
“Iya, aku juga suka kamu”. Ulang Asya
“trimakasih selalu ada untuk ku, kamu memang teman yang terbaik Cath”. Lanjut Asya.
Namun wajah Cath berubah kecewa, mendengar pernyataan Asya yang hanya menganggap teman.
Yachh... Bagaimana lagi, Asya masih cukup waras melihat Cath adalah seorang gadis sama sepertinya, meski sedikit manja dan terkadang berlebihan perhatiannya pada Asya.
“Aku menyukai kamu Sya, menyukai kamu sebagai kekasih!!!”. Ucap Cath dengan penuh penekanan.
Seketika senyum Asya memudar, garis wajahnya berubah menjadi pias.
“kamu ngomong apa sih Cath???”. Ucap Asya dengan penuh tanda tanya.
“aku menyukai kamu, Sya sebagai kekasihku, aku mencintai kamu Sya, bukan sebagai teman”. Imbuh Cath semakin mengencangkan telapak tangannya yang mendekap telapak tangan Asya.
Seketika Asya menyibak tangan Cath,
“Lu gila Yach.!!!”. Ucap Asya dengan nada meninggi, terkejut mendengar penuturan Cath. Cara bicaranya berubah menjadi sarkas.
“Aku serius Sya, sejak kita jadi teman sekelas”. Ucap Cath dengan wajah memelas, melihat Asya yang mulai berdiri sedikit menjauh dari Cath.
Perasaan Asya mulai campur aduk. Terkejut, tidak percaya, dan merasa mustahil jika teman sekelasnya itu, yang selalu memberikan perhatian lebih, yang selalu membantu tugasnya, yang selalu ada untuknya mengungkapkan perasaan cintanya sebagai seorang kekasih.
Mungkin tak masalah seandainya Cath adalah laki-laki, tapi ini???
Cath adalah teman perempuan Asya.
.........
...~ Next Episode ~...
.......
.......
__ADS_1
.......
Karya Pertama Outhor 🌹👍🎶😍💯☕