Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Sebuah Ucapan Selamat Tinggal


__ADS_3

Pagi yang hangat hari ini mengganti malam yang dingin, Asyakira Azkara Atmaja masih nyenyak dalam buaian mimpi, Tidur meringkuk memeluk guling kesayangannya, sebuah teman tidur yang Asya punya, sejak Asya masih kecil.


Balutan selimut bulu bergambar salah satu tokoh film kartun berkepala plontos dan ditandai dengan panah coklat di kepalanya, menjadi salah satu film kartun favorit Asya menghangatkan Asya disetiap malam.


Kamar Asya masih gelap meski matahari sudah tinggi. Lampu tidur yang menyala memberi kesan hari masih gelap. Sungguh tidur Asya sangat nyenyak, nampaknya senyum Hans tadi malam adalah pengantar tidur paling ampuh.


Biasanya ketika pagi datang, Asya sudah terbangun dari tidurnya, bergegas membatu mama Rosila menyelesaikan pekerjaannya, dan buru-buru berangkat ke sekolah.


Tapi hari ini Asya seperti tak ingin bangun dari tidurnya, Asya memeluk erat Guling usang kesayangannya, menciuminya lembut, dan mendekapnya dengan sayang. Seolah ada seseorang yang sedang menemaninya tidur.


.........


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan, Mama Rosi yang baru pulang mengantarkan pesanan Ayam bakar ke rumah Bu Murni belum juga melihat Asya bangun dari tidurnya, ia melihat kamar Asya masih tertutup, Padahal hari ini, Asya mempunyai acara cap tiga jari di Sekolah.


Mama Rosi melangkah ke kamar Asya. Memastikan Asya masih berada di dalam kamar.


"Tok...tok...tok...". Mama Rosi mengetuk pintu kamar Asya.


"Sya... bangun sudah siang....". Mama Rosi memanggil-manggil Asya dari balik pintu.


"Tok...tok...tok...". Mama Rosi mengetuk pintu Kamar Asya lagi, setelah beberapa saat menunggu namun belum juga ada jawaban dari Asya.


Mama Rosi menarik heandle pintu kebawah, tapi pintu kamar Asya tidak terbuka.


Asya mengunci pintu kamarnya. Mama Rosi mengerutkan alisnya.


"tumben dikunci....". gumam mama Rosi.


"Tok...tok...tok...".


"Sya.... bangun, hari ini ada cap tiga jari di sekolah.....". Mama Rosi meninggikan suaranya agar Asya bangun.


Asya menggeliat, mendengar kegaduhaan diluar kamarnya, tidurnya terganggu dengan teriakan mama Rosi yang semakin keras membangunkannya.


"iya ma..... Asya sudah bangun....". Asya berbicara sedikit berteriak, menjawab panggilan mama Rosi.


"Cepat bangun... kamu kan ada acara cap tiga jari hari ini....". Mama Rosi mengingatkan jadwal Asya.


"iya ma.... ". Asya mengerjapkan matanya berusaha membuka kelopak matanya yang terasa begitu berat.


Asya terlalu lelah setelah beberapa hari sibuk mempersiapkan acara pesta perayaan akhir tahun kelasnya


"Duh... iya hari ini ada jadwal kesekolah..., kenapa bisa kesiangan sih....". Asya menepuk jidatnya karna lupa dengan kegiatannya hari ini.


Asya beranjak dari tempat tidurnya. Ia merapikan letak bantalnya, menarik seprei agar rapi kembali, lalu melipat slimutnya dan di gelar di bagian ujung kasurnya.


Setelah kasurnya sudah rapi, Asya berjalan menuju gantungan letak handuknya berada. Menarik handuk warna ungu digantungkan dan membawanya masuk ke kamar mandi yang terletak di samping dapur rumahnya.


Mama Rosila sedang membereskan barang-barang di dapur yang dipergunakan untuk memasak ayam bakar tadi pagi.


Setelah beberapa menit, Asya nampak keluar kamar mandi, ia langsung masuk ke kamarnya lagi untuk berganti baju.



siang ini Asya akan kesekolah untuk cap tiga jari. Meski sudah siang ia tetap berangkat karna ini. memang penting baginya.


Asya mengenakan celana jeans, yang dipadukan dengan kaos merah yang dibalut dengan jaket berbahan jeans, Asya menggerai rambutnya untuk menutupi lehernya.

__ADS_1


Asya membawa tas selempang untuk meletakkan beberapa barang kecil yang ia bawa.


.........


"Sarapan dulu Sya....". Mama Rosila menghentikan langkah Asya yang tergesa-gesa.


"nanti saja ma... sudah kesiangan....". Asya mencium pipi kanan dan pipi kiri mamanya sebelum berangkat.


"kamu tu... tumben bangun siang....". Mama Rosi mengomel.


"Asya capek.... berangkat dulu ya ma...". Asya menjawab mamanya sambil berlalu begitu saja meninggalkan mama Rosi di meja makan.


Asya meninggalkan rumah, mencari angkot untuk menuju sekolahnya.


.........


Asya baru tiba di sekolah sekitar pukul 11 siang, terlihat sekolah sudah cukup sepi karna ini memang bukan hari efektif sekolah, tentu saja teman-temannya yang lain sudah cap tiga jari pagi tadi.


Asya menuju ruang tata usaha untuk cap tiga jari.


Ada beberapa teman asya yang sedang mengantri untuk cap tiga jari. Setelah dua orang didepan Asya selesai kini giliran Asya.


Petugas tata usaha menyerahkan selembar ijazah. Asya menempelkan jari telunjuk, jari tengah dan jari manisnya di bak stempel warna ungu.


Asya mengangkat jarinya dan memindahkan diatas lembaran ijazahnya.


"Selesai.....". Asya mengangkat jarinya dan tersenyum ke arah petugas tata usaha yang membantu Asya.


Asya menarik dua lembar tisu, menyapukan di tiga jarinya untuk membersihkan sisa tinta di jari-jarinya.


Asya meninggalkan ruang kantor tata usaha, sesampainya didepan koridor ia melihat Dino dan Davin. Mereka berdua nampak fresh dengan balutan baju kasual.


"iya Sya... kita baru datang, tadi pagi masih mengurusi berkas kuliah kita....". Dino dan Davin menghentikan langkahnya, berdiri berhadapan dengan Asya yang baru saja keluar dari ruang tata usaha.


"OOO... cuma berdua....". Asya menyelidik satu orang yang tak nampak bersama mereka saat ini.


Dino dan Davin saling berhadapan. Dino menaikan kedua alisnya mencoba mencerna pertanyaan Asya.


"Kita berdua saja, Hans sudah lebih dulu berangkat tadi pagi.....". Davi menyadari siapa yang sedang dicari Asya.


"berangkat...????". Asya tak mengerti maksud dari keberangkatan Hans. Asya meminta jawaban dari pernyataan Davin.


"Hans berangkat ke Amerika pagi tadi...". Davin menjelaskan tentang keberangkatan Hans ke Amerika pagi ini. Hans sudah pergi dari Indonesia menuju kediaman keluarganya, dimana ayah ibu dan neneknya tinggal di kota Los Angeles


"kenapa ke Amerika...??". Nada bicara Asya melemah, seperti ada bagian yang hilang dari dirinya. Mungkin separuh dari jiwanya telah terbang, berada jauh darinya.


"Hans melanjutkan kuliahnya di Harvard...,


papanya mengharuskan dia melanjutkan kuliah bisnis di sana, Sebenarnya tepat setelah ujian dia harus pergi, tapi Hans meminta setelah acara pesta perayaan akhir tahun kelas kita...". Davin menjelaskan alasan Hans melanjutkan pendidikan sesuai kemauan papanya.


"apa dia akan lama di sana ?". Asya mulai merasa resah.


"Kemungkinan... karna saat Hans mulai kuliahnya, dia juga akan mulai belajar mengelola perusahaan papanya...


Nantinya Hans akan melanjutkan bisnis yang dibangun papanya yang berpusat di Los Angeles dan juga ada di beberapa negara, termasuk yang ada di Indonesia...


Semua ini papanya yang mengatur...,

__ADS_1


kamu tahu sendiri, Hans adalah anak satu-satunya, jadi sudah pasti papanya sangat bergantung padanya". Asya terdiam, mimik mukanya berubah lesu, berbanding terbalik saat ia baru datang di sekolah.


Asya mulai memahami posisi Hans saat ini. Ternyata banyak sekali tuntutan dalam hidupnya.


"keluarganya tinggal di Los Angeles dan Hans akan tinggal Cambridge... bukankah itu cukup dekat, karna keluarga dari ibunya tinggal di sana ?? ". Dino ikut bertanya


"iya... Mereka semua ada di sana, jadi Hans tidak akan sendiri...". Davin menyakinkan pernyataannya.


Siapa yang tidak ingin tinggal di kota besar yang menjadi pusat bisnis dunia. Kota yang Jumlah individu dengan kekayaan bersih USD 5 juta atau lebih: 120.605 orang. Kota yang besar dan juga mewah, memang cocok ditinggali keluarga Hans yang tergolong jajaran orang terkaya.


Asya masih setia mendengarkan penjelasan-penjelasan Davin. Ia hanya diam, pikirannya berkecamuk, ada rasa marah, sedih dan juga kehilangan.


Dino dan Davin meninggalkan Asya di Koridor, karna mereka juga harus bergegas melakukan cap tiga jari di ruang tata usaha.


Asya menepi, memilih duduk di selasar Sekolah. Mata Asya mulai berembun, ada rasa tidak rela di hatinya


"*jadi... tadi malam adalah ucapan selamat tinggal ?..


apakah itu juga ciuman selamat tinggal...?


kau benar-benar brengsek Hans...


meninggalkan bekasnya disini, tapi kau malah menghilang begitu saja ...


Setidaknya ucapkanlah selamat tinggal yang benar...


awas saja, jika suatu saat bertemu lagi, pasti akan ku patahkan tanganmu yang sudah berani-beraninya menyentuh tubuhku...


akan ku sumpal bibirmu yang kurang ajar itu dengan sapu tangan ku, dan akan aku*......". Asya bergumul dengan hatinya sendiri, Ia tak bisa melanjutkan umpatannya, butiran air mata begitu saja keluar tanpa permisi.


Asya mengusap kasar air matanya yang jatuh, ia menolak bersedih karna Hans begitu saja pergi meninggalkannya.


Asya marah, tapi karna apa?


Dia juga tidak pernah ada hubungan apapun dengan Hans, mereka hanya berteman, teman sekelas...


Asya juga marah...


kenapa Hans tiba-tiba menciumnya,


bahkan bekas cupangannya masih jelas terlihat di lehernya yang ditutupinya dengan jaket dan rambut yang dibiarkan terurai, agar tidak ada orang yang melihatnya.


.......


.......


.......


...~ Next Episode ~...


.........


Trimakasih sudah berkunjung...


jangan lupa tinggalkan jejak kalian 💥


kasi komen yang membangun ya... biar outhor bisa berkembang

__ADS_1


Semangat semua ...


🙏💥🌹💯✍️😘


__ADS_2