Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Mengeluarkan Semua Beban


__ADS_3

"Aku tidak suka kamu dekat dengan siapapun...


aku tidak ingin ada siapapun yang menyentuhmu...


kuliah lah dengan baik...


kembalikan apa yang menjadi milikmu...". Kata-kata Hans terus terngiang begitu saja di telinga Asya, pikirannya melayang pada pertemuan terakhirnya dengan Hans tadi malam.


"Apa sebenarnya Hans tau siapa aku...?. Asya mencoba mencerna perkataan Hans.


Memang tak banyak yang tahu tentang siapa diri Asya yang sebenarnya. Asya selalu menutupi jati dirinya dari siapapun, ia juga tak pernah berusaha memberitahukan kepada orang lain bahwa dia adalah putri dari keluarga Atmaja. Seorang pengusaha sukses, yang pernah jaya di berbagai lini usaha. Sejak bencana buruk terjadi di keluarganya, Asya menutup rapat-rapat semua informasi tentangnya, ia mau orang lain mengenalnya sebagai Asyakira Azkara. Ia ingin hidup tenang dengan mama dan adiknya sepeninggal ayah tercintanya.


"Apa yang harus aku kembalikan...?, milik ku??? apa itu...?". Asya mencoba mengingat apa arti dari sesuatu miliknya, Apakah harta kekayaannya, perusahaan ayahnya atau keluarganya...


Namun Asya yang saat peristiwa kebangkrutan keluarga Atmaja masih berusia 14 tahun, tak merasa memiliki semua itu, yang ia tahu semua aset keluarganya dan perusahaan ayahnya sudah habis karna kegagalan proyek ayahnya, sehingga saat ini ia harus hidup kekurangan bersama mama dan Arsya adiknya.


"*kuliah yang benar....


ahhhhhh.... yang benar saja....


Lama-lama dia sudah seperti emak-emak cerewet...


memang selama ini, aku tidak benar-benar sekolah*..... ". Asya mengomeli dirinya sendiri yang tengah duduk di kursi selasar sekolah SMA Bina Bangsa.


Perasaannya masih berkecamuk, Mencari alasan yang sesungguhnya dari rasa gusar yang kini sedang melanda dirinya.


"lalu apa mau mu sebenarnya Hans... dasar brengs*k...". Asya mengumpati Hans di dalam hatinya.


Rasa sesak di dalam dada Asya kian terasa berat, bukan karna ia menderita asma, namun karna ada rasa kehilangan yang besar. Belum juga terjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tingkah gila Hans akhir-akhir ini, malah begitu saja Hans pergi meninggalkannya.!ru


"Huffftttt....". Asya mengeluarkan beban yang mengganjal di hatinya, Nafas besar itu menjadi perantara kemarahan dan kekecewaannya saat ini.


.........


"Sya... kamu belum pulang...?". Dino yang baru selesai cap tiga jari keluar dari ruang tata usaha, menghampiri Asya yang duduk di kursi selasar sekolah sendirian, menatap kosong taman di hadapannya.


"ehhh.... sebentar lagi.... Sama nunggu kalian....". Asya membalas pandangan Dino yang mempertanyakan keberadaan dirinya. Senyum Asya dipaksakan untuk menghangatkan suasana diantara mereka.

__ADS_1


"Kamu berangkat kapan Din ? ". Asya bergeser dari tempatnya duduk memberi ruang pada Dino dan Davin, mempersilahkan mereka duduk di sebelahnya, lalu menanyakan keberangkatan Dino ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya di sana.


"Aku berangkat dua hari lagi Sya...". Dino mengambil tempat duduk di samping Asya, sambil menjawab pertanyaan Asya.


"kamu gimana Vin...?". Asya menoleh ke samping kanannya, tempat Davin duduk.


"Aku seminggu lagi, nunggu pemberkasannya selesai....". Senyum Davin mengiringi jawaban pertanyaan Asya, sedikit menenangkan.


"Wahhh.... kalian semua akan pergi ya....". Asya memandang nanar kedepan. Rasa kehilangan itu muncul kembali. Setidaknya selama bersama teman-temannya ini, Asya selalu merasa tenang dan nyaman. Meski mereka semua berasal dari keluarga kaya, namun mereka selalu menghormati Asya dan tidak pernah menanyakan asal usul Asya.


"Pas nanti wisuda pasti sangat sepi tanpa kalian...". Asya memandang kosong meratapi kehampaan dalam dirinya saat ini.


"Tenang Sya.... kita masih bisa chatingan... nanti kalau pas liburan pasti kita nyariin kamu....". Dino mengusap pundak Asya, menghibur hati sahabatnya itu yang saat ini sedang terlihat gundah dan bersedih. Air muka Asya terlihat muram tak secerah biasanya.


Davin yang ada di samping kanan Asya juga turut menepuk punggung Asya memberikan rasa nyaman kepada sahabatnya itu. Davin tak berkata apapun ia tahu betapa besar rasa kehilangan Asya saat ini, bukan hanya karna akan berpisah jauh dengan dirinya ataupun Dino, tapi sebenarnya rasa kehilangan itu ditujukan untuk Hansel, saudara sepupunya.


Asya merasakan perhatian besar dari kedua sahabatnya ini, mereka sangat tulus, Asya menjadi sedikit terhibur dengan kehadiran mereka.


Meski tak bisa berlama-lama bersama mereka, setidaknya Dino dan Davin mengucapkan selamat tinggal yang lebih pantas pada Asya sebelum mereka melanjutkan pendidikan di luar negri.


.........


Perjalanan yang dilalui dalam beberapa menit itu berhenti setelah sampai di depan rumah Asya. Rumah petak sederhana, namun terlihat rapi dan asri dengan beberapa tanaman di halaman depan.


Asya turun dari mobil Davin, menutup pintu belakang mobil dengan pelan. Asya melangkah kearah pintu depan, membungkukkan badannya, dan mengucapkan terimakasih kepada Dino dan Davin.


Klakson yang berbunyi 2 kali, menjadi simbol berpamitan dari kedua sahabatnya itu. Asya memperhatikan mobil Davin yang tengah melaju pelan, hingga tak lagi terlihat di jalan rumahnya.


Asya berjalan gontai memasuki rumah, tak banyak suara yang ia buat. Saat ini Asya sedang malas. Asya melongok ke sekeliling ruangan, ia tak melihat mama ataupun adiknya berada di rumah.


Asya melanjutkan langkahnya menuju kamar, tempat ternyaman baginya dan juga tempat menyimpan semua keluh kesahnya selama tiga tahun ini.


Asya membuka jaket Levis berwarna biru yang melekat ditubuhnya. Asya menggantung jaketnya di hanger, dan diletakkan di gantungan baju di kamarnya. Tas selempang yang dikenakannya juga di gantung di sebelah jaketnya.


Asya melangkah menuju ranjang kecilnya. Ia duduk diujung kasur, menghela nafas panjang yang amat berat dirasakannya, Asya menghempaskan separuh tubuhnya di atas ranjang, menatap kosong langit-langit kamar yang berwarna putih.


Asya mengangkat handphonenya, menyalakan fitur kamera, memilih kamera depan dan diarahkannya kebagian lehernya. Asya melirik ke arah layar handphone, Asya ingin melihat jejak Hans yang tertinggal di tubuhnya.

__ADS_1


Masih jelas terlihat, warna merah kehitaman yang ada hampir di seluruh leher kanan dan kirinya, ia tak bisa menghitungnya, entah berapa kali Hans meninggalkan jejaknya di sana.


Handphone ditangan Asya dihempaskan begitu saja berbarengan dengan tangan lengan kanan dan kirinya bersamaan jatuh di atas kasur.


Asya merasa kesal pada Hansel yang meninggalkan jejak cium**nya di lehernya.


"apa mau mu sebenarnya rayap bod**...???". Asya mendengus dalam hatinya


"Apa mungkin kita akan bertemu lagi Hans...?,


kenapa pergi begitu saja...


seharusnya beri aku penjelasan dulu....


kenapa seenaknya saja datang dan pergi...". Cairan bening menetes begitu saja di sudut mata Asya.


Butiran dari luapan amarah, sakit hati, kekecewaan dan juga rasa kehilangan, membaur menjadi satu menciptakan tetesan air mata dari dalam hati Asya.


Air mata Asya semakin deras mengalir, tak lagi dapat menahan dan membendung perasaannya.


Asya mengeluarkan semua beban yang dipendamnya selama ini .


Beban yang ditutupinya canda tawa dan sikap tak pedulinya, kini tak lagi mampu menutupi rasa sakitnya. Asya melepaskan semuanya dengan air mata. Suara tangisnya tak terdengar, hanya dinding-dinding kamar yang menjadi saksi, betapa rapuhnya ia saat ini.


.......


.......


.......


...~ Next Episode ~...


.........


Terimakasih sudah berkunjung


jangan lupa tinggalkan jejak kalian

__ADS_1


Like, vote dan koment yang membangun ya biar author juga makin sangat nulisnya


Salam sayang ☺️


__ADS_2