
Pemandangan malam dari balkon lantai tiga ini, terlihat sungguh indah.
Asya memandang ke atas langit dengan taburan bintang-bintang yang bercahaya membelah langit.
Kemeriahan di halaman belakang dengan kerlap-kerlip lampu taman juga menambah keindahannya.
Senyum indah terpancar dari wajah Asya yang tengah menikmati hingar bingar malam perayaan akhir tahun ini.
Ia mengagumi saat-saat ini.
Waktu yang tidak pernah ia lewati semenjak sekolah SMA. Selama ini Asya hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja.
Perasaan takjub memenuhi hatinya yang kosong. Hari ini Asya bahagia, Banyak berkah yang sudah ia dapatkan.
Asya tersadar dari pikirnya yang melanglang jauh menerawang setiap keberuntungan yang ia dapat.
Asya merasa ada seseorang mendekat kearahnya, ia ingat Davin berjanji akan kembali setelah menjemput Betris.
"Davin...., Buruan sini, kembang apinya mau di.......". Ucap Asya sambil menoleh kebelakang.
Asya tak melanjutkan ucapannya, karena ia melihat seseorang yang berdiri di belakangnya bukanlah Davin, melainkan Hans yang sedari tadi sudah menarik diri dari teman-temannya.
Hans memilih menyendiri menikmati kekesalannya di balkon kamarnya.
Ia melihat Asya berdiri menikmati langit malam ketika Hans keluar dari kamar. Ia mendekat kearah Asya. Lama Asya tak juga menyadari kehadiran Hans. hingga asya menoleh mengira dirinya adalah Davin.
"Ini area pribadi...". Kata Hans Saat Asya sudah berbalik menghadapnya.
Hanya sebuah kata yang menusuk, terucap dari bibir Hans mewakili amarahnya yang ia tahan sedari tadi.
"maaf.... tapi Davin yang mengajakku kesini....". Ucap Asya terbata melihat aura dingin dan menyergap di mata Hans.
"Aku tidak tau ini tempat privasi mu... Aku permisi...". Asya berkata menahan kegugupannya, merasakan hawa dingin menyelimutinya.
Asya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan balkon. Ia merasa takut karna tanpa sengaja mengusik Hans. Ia cukup tahu batasan dirinya disini.
Asya melintas disamping Hans. Hans terus mengawasi setiap gerak-gerik Asya, seperti hendak menerkam mangsanya. Hans menarik lengan Asya tiba-tiba.
Tubuh Asya terhuyung, terjerembab ke arah Hans.
"ahhhh.....". Asya memekik terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Hans.
Kini Jarak diantara Hans dan Asya sangat dekat. Hans menghimpit asya di dinding. Nafasnya memburu, Hati Hans terbakar mengingat tentang kejadian tadi pagi di halaman sekolah. Ditambah lagi kata-kata Batris yang mengatakan asya sudah menjadi wanita sesungguhnya membuat hati Hans semakin marah.
Pikiran Hans tertutupi oleh kemarahan. Ia hanya ingin menghapus jejak Gading ditubuh Asya, di leher, dibibir dan entah di bagian mana lagi yang telah disentuh oleh gading yang menjadikan Asya menjadi wanita yang sesungguhnya seperti kata teman-temannya tadi.
Hans memandang tajam kearah manik mata Asya. Tatapannya seakan ingin merobek tubuh Asya dan menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
"Hans....". Gumam Asya bergetar dengan suara yang hampir tidak terdengar, terkecuali Hans yang hanya berjarak 5 centi darinya.
"Bukankah kamu sudah jadi wanita sesungguhnya...?". Tanya Hans dengan menekankan setiap ucapannya.
Asya mendelik tak mengerti apa yang diucapkan Hans.
"Lo mabuk ya...". Tanya Asya yang masih diliputi kebingungan dengan sikap Hans.
Sedetik kemudian Hans melihat ruam merah dileher asya yang ditutupi oleh rambutnya yang
tergerai. Matanya memanas melihat itu.
Hans tak dapat berpikir jernih. Ia tak dapat menahannya lagi.
"emmmmmmpppttttt......". Ucapan Asya menggulung di bibirnya saja tanpa bersuara.
Saat ini Hans tengah membungkam bibir Asya dengan bibirnya.
Asya meronta, berusaha melepaskan diri, namun mustahil baginya. Kemarahan Hans yang terlalu besar membuat kekuatannya berkali lipat menahan Asya dalam kungkungannya.
Hans menci** asya semakin dalam. Melu*** bibir Asya tanpa ampun. Tangan kirinya menahan posisi Asya didinding sedangkan tangan kanannya menelusup masuk dibelakang leher Asya.
Jemarinya meraih tengkuk Asya, meraup bibir Asya semakin dalam seakan kedekatannya dengan Asya yang tanpa batas ini masih saja kurang memuaskan hasratnya. Hasrat untuk menghapus semua jejak yang ditinggalkan Gading di tubuh gadis yang diam diam ia cintai ini, entah sejak kapan rasa cinta itu mulai membelenggunya.
Hans terus saja melum***, menghisap, dan mencecap bibir Asya. Ia melepaskan pangutannya saat dirasa asya terengah kehabisan nafas.
Asya menampar pipi Hans sesaat setelah ia dilepaskan oleh Hans.
Wajah Hans terlempar ke kiri karna tamparan Asya yang keras.
Hans semakin geram dengan tingkah Asya.
"kamu membiarkan orang lain melakukannya... berarti aku juga boleh.... ". Ucap Hans semakin marah.
Asya semakin tidak mengerti dengan apa yang Hans katakan.
Hans menarik tubuh Asya tanpa aba-aba, kembali mendekatkan tubuh Asya pada tubuhnya.
Kalai ini Hans mengunci tangan Asya diatas kepalanya. Asya kembali memberontak.
Hans kembali menci*m Asya dengan kasar.
Menyesap bibir ranum itu tanpa ampun.
Merasa Asya tak membalas ciumannya, Hans menggigit bib** bawah Asya agar terbuka.
Hans berhasil, Asya membuka bibirnya karna merasa kelu. Kini Hans bermain-main dengan lidah Asya. Hans sudah terbakar oleh nafsunya, terbakar oleh cemburunya, dan semua itu menutup akal pikiran Hans.
__ADS_1
Asya tak lagi melawan, Asya sudah tak punya lagi tenaga. Tubuhnya terlalu lemas menahan gejolak dirinya.
Ia merasakan desiran-desiran aneh disekujur tubuhnya. Bahkan hingga usianya 18 tahun Asya belum pernah merasakan sensasi yang dapat melemahkan setiap sendinya.
Asya hanya dapat menurut dengan apa yang dilakukan Hans. Ciuman Hans sungguh memabukan, dan bibir Asya sudah meracuni seluruh tubuh Hans.
Ciuman Hans kini sudah berubah lebih lembut. Ia melum** bibir Asya dengan penuh perasaan.
Menyesap bibir ranum itu dengan lembut, menautkan lidahnya dengan lidah Asya yang masih kaku.
Setelah puas bermain dengan bibir Asya, Hans menuruni leher jenjang Asya. Ia mengendus wangi tubuh Asya, menghirup dalam-dalam aroma wangi Asya yang selama ini melayang-layang di benaknya.
Kelelakiannya kian meronta menuntut Hans melakukan lebih.
"ehhhmmmmm....". Sebuah ******* lolos dari bibir Asya.
Hans mengecup leher Asya lembut dan menghanyutkan. ******* Asya berpacu dengan hasratnya. Hans memberikan gigitan-gigitan kecil dileher Asya.
"awww.....". Pekik Asya merasa sakit.
Hans tersadar oleh pekikan Asya. Ia menghentikan ciumannya. Hans menatap wajah Asya, yang merah, tak kalah merahnya dengan wajah Hans. Nafas kedua orang ini kian memburu, berebut oksigen untuk mengisi paru-paru mereka.
Asya terpaku memandang Hans yang sedang mematung memandangi wajah Asya.
"bibirnya manis sekali...., bibirnya semakin menarik.... ohh tidak yang benar saja aku ingin merasakannya lagi.....". Gumam Hans dalam hati saat melihat bibir Asya yang sudah bengkak karna ulahnya.
Hans terus saja memandangi wajah Asya tanpa kata. Begitu juga dengan Asya yang terpaku. Lidahnya terpasung diantara ciuman Hans. Rasanya masih membekas dan nyata.
"Sya.....". Suara Davin memanggil Asya.
Asya tersentak, Ia mendorong tubuh Hans agar menjauh darinya. Asya berlari kearah Davin meninggalkan Hans.
Hans tetap berdiri diam ditempatnya, masih sibuk dengan semua pemikirannya yang berkecamuk.
"Dav, aku di sini....". Teriak Asya sambil berlari kecil kearah Davin yang hendak masuk ke Balkon.
.......
.......
.......
...~ Next Episode ~...
Terimakasih sudah mampir ☺️
Jangan lupa menyemangati Author ya.... 😘
__ADS_1
.........