Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Penasaran


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu lakukan....". Hans bertanya pada Asya.


Asya masih terpaku dengan pandangannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan....". Hans bertanya lagi.


"oh...ini....". Asya terhenyak.


Asya kembali berdiri tegak dan menggenggam sapu tangannya.


Hans melihat sapu tangan digenggaman Asya. Hans mengambilnya begitu saja. Asya terkejut mendapati sapu tangan tak lagi di tangannya.


"ehhh.... balikin Hans....". Asya berusaha merebut sapu tangannya kembali.


"Katakan dulu, untuk apa sapu tangan ini..?". Tanya Hans menyelidik


Hans sudah memendam rasa penasarannya sedari tadi di Villa.


"Emmm....., untuk menutupi gatal....". Kilah Asya.


Hans mengerutkan dahinya, tak percaya.


Ia melangkah maju mendekati Asya. Asya melangkah mundur menghindari tabrakan dengan tubuh Hans yang terus maju kearahnya.


Jantung Asya kembali berpacu. Ia sangat gugup. Ia masih takut Hans akan mengulangi ciumannya seperti tadi malam.


Tubuh Asya limbung terjatuh, dan terduduk di Sofa, karena Kaki Asya menabrak sofa.


Hans semakin mudah mendekati Asya karna Asya sudah terpojok.


Hans duduk di hadapan Asya. Jarak mereka sangat dekat.


Tangan Hans terulur begitu saja menuju leher jenjang Asya.


Tubuh Asya mematung tak bergerak menerima sentuhan Hans. Sepertinya paru-parunya berhenti memompa udara.


Hans membuka Hoodie Asyakira. Ia melihat bagian leher Asya.


"ini.....". Mata Hans melebar.


Hans menatap manik mata Asya. Hans ikut terpaku setelah melihat tanda merah kehitaman di leher putih mulus itu.


Hans menelan salivanya. Ia mengingatnya.


Tadi malam ia terlalu dibutakan oleh amarah.


keinginannya untuk menghapus jejak Gading ditubuh Asya, membuat Hans mencium Asya secara paksa, dan ia juga ingat, Setelah Asya menamparnya ia kembali menciumi bibir ranum Asya dan menyesapi leher itu hingga menggigit lehernya.


"Lepas.....". Asya mendorong tubuh Hans.


"Maaf....". Ucap Hans.


Hans mengurai genggaman tangannya di Hoodie Asya.


"emmmm.... apa itu karena tadi malam....?". Hans memberanikan dirinya bertanya.


Wajah Asya memerah mendengar pertanyaan Hansel. Ia sangat gugup dan juga marah mengingat kejadian tadi malam.


"ini... tentu saja tidak...". Ucap Asya berbohong.

__ADS_1


"Lalu apa apa benar ini karna ulat bulu??? ulat bulu mana yang meninggalkan bekas gigitan sampai seperti ini...?". Tanya Hans menyudutkan Asya.


"Tentu saja ada ulat bulu yang tidak tahu malu....". Jawab Saya sambil mendorong dada Hansel agar menjauh dari tubuhnya.


"oooo Jadi tadi ada ulat bulu tidak tahu malu yang melakukannya kemarin....?". Tanya Hans sinis.


"Enak saja... kamu itu memang tidak tahu malu,...". Ucap Asya marah


"Kamu itu ulat bulunya....


bisa-bisanya mengambil ciuman pertamaku tanpa ijin,....


dan kamu bilang itu bukan yang pertama....? Cih dasar tidak tahu diri...". Teriak Asya marah.


Sedangkan Hans yang mendengarnya tersenyum penuh arti. Ia merasa sangat bahagia, Hatinya dipenuhi bintang karena mengetahui jika ia adalah orang yang pertama mengambil ciuman Asya.


"ooo.... jadi benar, aku adalah orang pertama yang mencium kamu....,". Ucap Hans bangga.


" Bukannya pagi itu Gading sudah menciummu, sebelum berangkat ke puncak....". Hans memancing Asya.


"Enak saja... Kamu pikir aku cewek apaan????". Jawab Asya bersungut-sungut.


"lalu apa yang kamu lakukan didalam mobil dengannya...." Tanya Hans menyelidik.


"Dia sedang membantuku memeriksa leherku...". Jawab Asya ketus


"Apa.... Jadi dia melihat lehermu....,? membukanya....?". Tanya Hans sambil menunjuk leher Asya.


"Tentu saja...". Asya menjawabnya apa adanya.


Tiba-tiba Hans menubruk tubuh Asya, membuat tubuh Asya terlentang di Sofa. Hans menghimpit tubuh Asya.


"Hans....". Asya memanggil Hansel lirih.


Hans tak menggubris panggilan Asya.


Hans mendekatkan wajahnya ke wajah Asya.


Nafasnya berhembus lembut menerpa wajah Asya, dadanya berdegup karna jantungnya yang mulai berdetak tak beraturan.


Hans memandang manik mata Asya dalam-dalam.


Hans mengecup bibir Asya lembut, ia menyesapnya, menikmati bibir ranum Asya.


Asya mendelik, menerima ciuman Hans yang tiba-tiba.


"emmmmmmppptttt.....". Asya meronta mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Hans tak mau kalah. Ia terus menekan tengkuk Asya. Meraup Bibir Asya lebih dalam. Asya tak membalasnya. Hans semakin memperdalam ciumannya. Hans melum** bibir Asya sedikit kasar. Sengatan hasrat kian menjalar di sekujur tubuhnya. Ia tak mampu lagi menahan Hasratnya.


Hans seakan ingin mengatakan perasaannya pada Asya melalui ciumannya.


Asya mendorong dada Hans, namun hasilnya tetap nihil.


Asya merasakan bibirnya terus dilum** dan dikul** oleh Hans. Sentuhan bibir Hans semakin lama semakin menghanyutkan. Asya merasakan desiran aneh itu kembali menjalar di seluruh tubuhnya, melemaskan otot-otot dan sendi Asya.


Asya tak lagi meronta, Ia mulai terbawa arus deras cium** Hansel yang memabukkan. Ciuman kemarahan karna tidak rela tubuh gadis yang dicintainya itu dilihat laki-laki lain membuat Hansel menggila.


Mata Hans tertutup, merasakan glayeran aneh disekujur tubuhnya.

__ADS_1


Gadis didekapannya ini sungguh mampu membuatnya bertekuk lutut bahkan hanya dengan bibirnya, bisa membuatnya candu.


"hhhh....hhhhh....hhhh...". Hans mengatur nafasnya yang telah terkuras habis di paru-parunya.


Asya yang masih dibawahnya, juga berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Hans menyingkirkan rambut Asya yang tergerai di wajahnya, menyelipkan diantara daun telinga Asya.


Asya beringsut mendapatkan sentuhan jemari Hansel di telinganya. Gelayeran itu menghantam Asya lagi.


Hansel memandang wajah Asya yang memerah. Hansel yakin Asya pasti malu memandangnya saat ini. Hans memiringkan wajahnya, mendekati bibir Asya dan kembali melum** bibir Asya dengan penuh perasaan.


Tidak ada perlawanan dari Asya. Asya menggenggam erat kemeja Hansel, ia turut terlarut dalam kenikmatan yang baru pertama ia rasakan dari sentuhan seorang laki-laki.


Naluri Hansel membawa Tangannya menelusup masuk memasuki Hoodie Asya, Ia menyusuri lekuk perut Asya, terus naik semakin keatas. Hans menemukan bagian gundukan Asya.


Hans membelai bagian kiri dan kanan bergantian.


Nafasnya semakin memburu, Hans memperdalam cium**nya yang semakin menuntut. Tangannya tak tinggal diam, Hans meremas gundukan kenyal Asya. Meski Hans tak melihatnya Hans tau jika bagian Asya itu cukup besar, Sangat pas ditangan Hans yang juga besar.


"ehhhhmmmmmmmpp........". Sebuah ******* lolos dari bibir Asya.


Hans tersenyum girang ditengah ciumannya. Ia menang, Asya sudah terbawa ciumannya kali ini. Hans terus melanjutkan *******nya, menyesapi bibir itu tak bosan-bosan.


Hans melepaskan ciumannya. Hans tersenyum hangat memandang Asya yang terengah. ia bahagia, ia memandang lekat wajah Asya yang memerah, matanya terpejam menikmati sentuhan Hans, ia mengusap bibir Asya yang bengkak dan ia merasakan desakan dada Asya naik turun yang tengah berpacu dengan hasratnya.


Hans mencium Asya lagi. Kembali menikmati bibir ranum Asya yang sudah memerah, Hans menyusuri Leher Asya yang sedikit tertutup Hoodie. ia menciumi leher jenjang Asya, meninggalkan beberapa jejak kepemilikannya di sana.


Hans menghentikan ciumannya. Ia beranjak dari tubuh Asya. Ia merubah posisinya menjadi duduk. Ia tak ingin bertindak lebih jauh. Jika ia lanjutkan, bisa-bisa dia akan menyeret Asya pada kenikmatan lebih dalam, dan ini belum saatnya.


Asya masih terengah-engah, berbaring di sofa.


Tubuhnya lunglai kehilangan banyak tenaga. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti ia telah berlari ribuan kilo.


Asya berusaha menetralkan dirinya sendiri.


Asya membuka matanya perlahan. Matanya langsung memandang wajah Hansel yang tersenyum hangat padanya. Asya dibuat salah tingkah hanya dengan senyum Hansel.


"Ayo.... aku antarkan pulang....". Ucap Hans sambil membantu Asya duduk kembali.


Asya menganggukan kepalanya pelan.


Asya masih dibawah pengaruh sihir cinta Hans, Asya menuruti saja setiap kata-kata yang diucapkan Hans.


.......


.......


.......


...~ Next Episode ~...


.........


Terimakasih sudah berkunjung


Dukung author terus yaaaccchhhj......


πŸ’₯βœοΈπŸ‘πŸŒΉβ˜•πŸŽΆπŸŽΆπŸ’―

__ADS_1


.........


__ADS_2