Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Salep Gatal


__ADS_3

Panitia Perayaan akhir tahun yang diketuai Geo dan beranggotakan Dino, Davin, Betris, Chatrin, Asyakira, dan Hans sebagai tuan rumah dapat membuat acara yang sangat mengesankan. Meski tidak mewah bagi kalangan anak konglomerat, tapi acara yang berlangsung sungguh istimewa dan memberikan kesan mendalam.


Acara yang diramaikan dengan sajian life musik, dan hidangan terbaik dari The Delmonte mampu menciptakan pesta meriah tanpa adanya Drug ataupun pesta Se*, yang sedang marak dikalangan anak-anak remaja saat ini.


Sajian sun rise pagi ini menjadi penutup acara perayaan akhir tahun kelas Asya.


Saat Teman-teman yang lain sudah kembali ke Jakarta, geng Panitia ini masih berberes sisa acara tadi malam.


Setelah semua selesai, mereka melepas lelah dan menikmati sarapan yang bisa dikatakan juga sebagai makanan siang. Mereka baru bisa menikmati makan di pukul 10.


Dino, Geo, Davin, dan Betris menikmati ayam goreng yang dipenyet dalam balutan sambal terasi.



jajaran sayuran sebagai lalapan sangat cocok sebagai pelengkap menu makan kali ini.


"Sambelnya Bu Mina bener-bener mantul deh". Puji Batris pada Bu Mina yang sedang meletakkan secobek ayam penyet di meja makan.


"ah.... neng bisa saja....,". Bu Mina malu-malu.


"ini menu kesukaan Keluarga pak Wijaya, Kalau makan harus ada menu ayam penyet sambel terasi buatan ibu..... dan itu hukumnya wajib, Fardu ain neng.....". Bu Mina Membanggakan Masakannya.


"Kecuali Den Hansel... , suka ayamnya tapi ga mau sambelnya... dia ga bisa makan sambal neng...". Bu Mina menceritakan menu andalan di villa ini.


"Emang Hans sering kesini Bu...?". Tanya Dino menyela.


"Sering den, Kalau liburan pasti kesini.... tapi liburan belakangan ini jarang, paling juga tuan sama nyonya saja ...". Jawab Bu Mina yang masih menyiapkan lauk untuk Anak-anak lain yang belum sarapan.


"Emang kenapa Bu... Hansel Ga suka pedas ?". Betris bertanya lagi penasaran.


"Den Hansel itu kalau makan pedes langsung cegukan dan semua pada keluar..... Hi...hi...hi...". Bu Mina cekikikan membayangkan wajah Hans yang sedang kepedasan.


Kunyahan Asya melambat saat Bu Mina menceritakan tentang Hans. Ia ikut mendengarkan dengan seksama meski terlihat acuh dengan percakapan Betris dan Bu Mina.


"Iiiihhhh Bu Mina,.... apaan yang keluar....????". Batris menghadap Bu Mina bertanya lagi semakin penasaran.


"Itu Neng....". Jawab Bu Mina, ragu menjelaskan pada Batris.


"Itu apa Bu....". Batris mendesak jawaban Bu Mina.


"ini.... sama ini.... ". Bu Mina menyentuh hidung dan matanya menandakan jika Hans akan Ingusan dan menangis jika memakan sambal.


(kalau author sih bilangnya beleran 😂)

__ADS_1


"kiiiikkk....kikkkk....kik....". Bu Mina menahan tawanya.


"Ha....ha....ha.......". Seketika tawa di meja makan pecah karna cerita Bu Mina.


"ehemmmmm...... ehemmmmm......". Hans berdehem menyela tawa yang pecah diantara teman-temannya.


Hansel berjalan di separuh tangga saat Bu Mina menceritakan masakan supperrrtt lezatnya kepada Batris.


"Ihh panjang umur Aden mah... neng". Ujar Bu Mina pelan, dan masih saja tertawa-tawa kecil.


Batris menutupi mulutnya dengan pergelangan tangan kirinya yang masih bersih dari makanan. Karena memang Batris sedang memakan nasinya menggunakan tangan kanannya tanpa sendok seperti biasanya.


Hans melangkah mendekati meja makan. Ia melihat ke arah Bu Mina, sedangkan Bu Mina yang dipandang malah berpura-pura sibuk menata makanan di meja, sembari menahan tawanya.


Hans menarik satu kursi yang tersisa di dekat Geo.


Hans mengangkat wajahnya dan melirik seseorang yang sedang asik menikmati ayam penyet buatan Bu Mina tanpa bersuara sedari tadi.


"Ini Den Ayam spesial buat Aden....". Bu Mina menyuguhkan Ayam penyet dengan sambat tomat tanpa cabai kehadapan Hans.


"Terimakasih Bu,,,". Hans mengambil Cobek berisi ayam, mendekatkan kearahnya.


Hans mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sesekali ia melirik kearah Asya. Diperhatikannya wajah gadis dihadapannya itu masih saja menunduk. Asya tak bergeming dengan keberadaan Hans dihadapannya.


"Sial.... kenapa juga tu rayap duduk didepan gua....!". Gerutu Asya dalam hatinya. Meski tak melihat di depannya, Asya tahu jika Hans duduk di sana.


"Apa Asya ga lihat aku.... atau ga mau lihat aku....". pikir Hans yang tak melihat respon Asya.


Asya sedikit menggerakkan bola matanya kedepan. Ia melihat Hans sekilas. Sedetik kemudian Asya kembali merunduk menikmati makanannya.


"Rasanya tu mata pingin banget gua colok....". Asya merasa risih, karna Hans terus menatap kearahnya.


"Sya ni buat Lo....". Chat yang baru saja datang menyodorkan kantong kresek kepada Asya.


"Apaan ini Chat.... ". Asya mendongakkan wajahnya bertanya ke pada Chatrin.


"Tu... salep buat gatal dileher Lo...". Jawab Chat sambil menarik kursi disebelah Asya.


Hans Mengangkat wajahnya seketika mendengar ucapan Chatrin.


"gatal...? dileher....?.... ulat bulu....???". Pertanyaan yang muncul dibenak Hansel.


Sedangkan Asya gelagaban menanggapi Chat. Ia menghentikan makannya.

__ADS_1


Asya menyegir kuda, menerima bungkusan dari Chat.


"Buruan obati Sya... dari pada nanti makin parah tu gatal....". Chat menyuruh Asya mengobati gatal di lehernya.


"emang non Asya kenapa....?". Bu Mina bertanya kepada Chatrin yang datang ke ruang makan membawa salep Gatal untuk Asya.


"Itu Bu.... kemarin sebelum berangkat ke sini Asya kena Ulat bulu di lehernya, jadi deh merah dan gatel-gatel di lehernya....". Batris bercerita kepada Bu Mina.


"Wah kalau itu mah ga usah pakai salep non...., pakai rambut aja digosokin di bagian yang gatel... dijamin langsung ilang gatelnya....". Bu Mina memberikan kiat sederhananya.


"Tu Sya... buruan gosok pakai rambut Lo... apa mau pakai rambut gua....". Ucap Batris menawarkan.


"Ga...gak.... usah deh aku gosok sendiri aja...". Asya cepat-cepat menolak tawaran Batris.


Asya kembali fokus pada makanannya. Ia berusaha menutupi tubuhnya yang sedang bergetar dengan melahap makanannya cepat-cepat.


Kemarin mungkin lehernya memang memerah karena ulat bulu. Tapi kali ini, merah di lehernya bukan lagi karna ulat bulu, tapi karna ulat berkepala rayap.


(Coba bayangkan 😂😂😂😂)


Pagi ini saat Asya sedang mandi, ia mendapati beberapa bekas merah kehitam-hitaman dilehernya. Ia yakin itu adalah akibat perbuatan Hans semalam. Ia ingat betul Hans menggigiti dan menyesap dalam-dalam leher jenjangnya itu.


Asya ingat Arti kata cupangan seperti yang dibisikkan Batris kepadanya saat di pesta. Ia sungguh kesal kepada Hans. Bisa-bisanya Hans melakukan ini kepadanya.


Asya bingung bagaimana menutupi mahakarya Hans itu. Ia tidak ingin teman-temannya melihat karya Hans di lehernya itu. Sudah pasti Ia akan sangat malu kepada teman-temannya yang selalu saja mengata-ngatainya tak jelas. Asya bingung bagaimana cara menutupinya.


Asya mendapatkan ide saat membuka tasnya. Ia akan menggunakan Jaket bulunya untuk menutupi lehernya. Setidaknya ia akan selamat pagi ini.


.......


.......


.......


...~ Next Episode ~...


.........


Terimakasih sudah berkunjung


Yuk kasi Semangat buat author 👍💥💯😍


.........

__ADS_1


__ADS_2