Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Hal Bodoh


__ADS_3

Mentari pagi itu bersinar sangat cerah. Sama cerahnya dengan hati Asya dan teman-temannya. Setelah menyelesaikan ujian nasional, mereka seperti terbebas dari momok mengerikan.


Tidak ada kegiatan pembelajaran disekolah.


Hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Memang sesekali para siswa pergi ke sekolah untuk melakukan registrasi dan persiapan Ujian masuk Perguruan Tinggi.


Dari kabar yang beredar, Dino akan melanjutkan kuliahnya di Australi.


Sedangkan Davin melanjutkan kuliahnya di Singapura, agar lebih dekat dengan orang tuanya yang memang bermukim di Singapura, membangun perusahaan keluarga di sana.


Ailen Keisya teman tercantik dikelas Asya enggan melanjutkan kuliah. Ia lebih memilih menikah muda. Hal yang jarang dilakukan di masa sekarang, dimana anak muda lebih suka meniti karir, memperoleh gelar setinggi-tingginya dan mengumpulkan banyak laba dari usahanya.


Namun pikiran Ailen hanya berkutat dengan menikah muda dan memiliki banyak anak.


Cathrin akan melanjutkan kuliahnya di Universitas Negri di Ibu kota. Ia berasal dari keluarga kaya, dan ayahnya mempunyai jabatan. Tentu saja ia akan sangat mudah masuk di perguruan tinggi pilihannya, meski nilainya tak sebagus Asya.


Asya belum mendengar berita tentang rayap kesayangannya.


Upsss... sejak kapan rayap itu jadi kesayangan Asya. Tentu saja sejak rayap itu menarik Asya dan mengajaknya berlari dari dua orang yang tengah mabuk dan mengganggu Asya. Maklum saja apapun berita tentang Hans sungguh rapat tertutup, Senyap seperti peringainya.


.........


Pagi ini Asya di undang ke kantor yayasan SMA Bina Bangsa.


Bapak Hariyono, yang menjabat sebagai ketua yayasan sekaligus teman dari mendiang ayah Asya, mempersilahkan Asya masuk setelah mendengar Asya mengetuk pintu.


"Silahkan masuk nak...". Perintah Pak Hariyono.


"Baik pak... trimakasih....". Balas Asya sopan.


"Bagaimana keadaan mu Asya...? ". pak Hariyono bertanya kepada Asya.


"Baik pak...". Jawab Asya.


"Panggil Om saja, kita hanya berdua...". Pinta pak Hariyono


"oke om...". Asya menurut pada sahabat ayahnya itu.


"Bagaimana keadaan mama mu...? ". Tanya pak Hari.


"Baik juga om....". Jawab Asya dibubuhi dengan senyum manisnya.


Pak Hari melangkah kearah Asya. Ia duduk kursi tamu, tepat berhadapan dengan Asya.


"Begini Sya... ada yang ingin om bicarakan dengan mu". ucap pak Hari memulai perbincangan.


Asya menganggukan kepalanya pelan. Penasaran dengan topik pembicaraannya kali ini dengan ketua yayasan sekaligus sahabat ayahnya ini.


"Sya... Kamu harus melanjutkan kuliah ". Ucap Pak Hariyono tanpa basa-basi.


"Tapi om...". Sanggah Asya mengangkat kepalanya dan membelalakkan matanya merasa terkejut.


"Asya tidak bisa om. Asya tidak punya uang untuk mendaftar. Asya kasihan sama mama kalau Asya harus membebani mama dengan biaya kuliah Asya. sedangkan Ar akan masuk SMP...". Ucap Asya jujur


"Gaji Asya hanya cukup untuk menambah kebutuhan dirumah dan membeli kebutuhan Asya sendiri...". Terang Asya berikutnya.


Pak Hari menyambut kejujuran Asya dengan senyum yang berkarisma.


"Asya...., Dengarkan om baik-baik...". ucap pak Hari dengan lembut.


"Om sudah mengajukan kamu menjadi mahasiswa jalur prestasi. Selama kamu menjadi siswa disini, kamu selalu juara satu. Nilai kamu juga bagus.


Om mempunyai teman di sana. Dia sudah menguruskan administrasi mu....

__ADS_1


Semua sudah beres, dan kamu tinggal masuk.....


Untuk Pendaftarannya tidak udah dipikirkan. Biar om Hari yang menanggung....."


"Kamu ini putri dari sahabat om, sudah om anggap seperti putri om sendiri, tentu saja om ingin kamu mendapat yang terbaik". Pak Hariyono menjelaskan maksudnya pada Asya panjang lebar.


Mata Asya berbinar memandang pak Hariono. Sungguh tidak disangkanya, ia bisa melanjutkan kuliah.


Pastilah ini berkat kebaikan ayahnya dulu kepada teman-temannya. Sehingga kini Asya juga menikmati hasil dari kebaikan ayahnya.


"Trimakasih om... Asya tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Sesungguhnya Asya ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi melihat keadaan kami.... ". Asya tak melanjutkan ceritanya.


Pak Hari tau betul bagaimana keadaan keluarga Atmaja saat ini. Ia dan teman-teman ayah Asya yang berprofesi sebagai pengacara, pengusaha dan juga polisi, masih berusaha membantu mencari titik terang kasus proyek ayah Asya tanpa sepengetahuan Asya dan keluarganya. Pak Hari dan teman-temannya ingin membalas budi kebaikan Surya Atmaja sahabat mereka semenjak kecil.


"Om tahu bagaimana keadaanmu, karna itu om ingin kamu masuk dengan jalur beasiswa ". Ucap pak Hari meyakinkan Asya.


"Om juga akan memberikan beasiswa untuk adikmu Arsya, dia juga anak yang berprestasi sama sepertimu..... Wahhh Rupanya kepandaian ayahmu menurun pada kalian berdua....". Pak Hari muji mendiang ayah Asya dan tersenyum ketika mengenangnya.


"Asya tau... ayah memang orang terjenius om...". Timpal Asya dengan bibir bergetar menahan tangis sedangkan wajahnya memancarkan senyum bangga pada ayahnya.


"Jika ayahmu masih ada, pasti dia juga ingin kamu melanjutkan kuliahmu.


Karena itu, berusahalah nak, jangan kecewakan Surya". Pinta pak Hariyono dengan tatapan teduh.


"Ehhmmmm....baik". Asya menganggukan kepalanya yang menunduk menahan air mata rindunya.


"Kalau kamu tidak mau menerima bantuan om ini, maka om akan sangat malu pada Ayahmu. Om tidak akan bisa mengangkat kepala om ketika nanti bertemu dengan ayahmu...". ucap pak Hari yang masih duduk berhadapan dengan Asya dengan suara parau.


Asya berfikir sejenak.


"Baiklah om..., Asya mau melanjutkan kuliah dan Asya juga mau Ar mendapatkan beasiswa yang om berikan. Kami tidak akan mengecewakan Ayah....". ucap Asya menerima, Asya tak bisa menahan Air matanya yang tiba-tiba merembes tanpa permisi.


"Bagus.... lakukan yang terbaik. Buat ayahmu dan om bangga... om percaya padamu Sya....". Pak Hari memberikan semangat pada Asya.


.........


Asya Beranjak dari kantor ketua yayasan Sekolahnya.


Wajahnya berbinar, namun wajahnya juga masih sembab. Matanya pun masih memerah.


Itu terjadi karna pak Hari mengajak Asya bernostalgia mengenang ayahnya.


Asya melihat berkas ditangannya.


Berkas Mahasiswa Perguruan Tinggi Negri Di Ibu kota.


Ia sangat terharu. Ia akan melanjutkan kuliahnya. Meski tidak keluar negri seperti teman-temannya. Tapi Kampusnya adalah yang terbaik dari yang terbaik di Negaranya. Ia sangat bangga.


Ucapan terimakasih berkali-kali ia ucapkan pada Tuhan, juga pada ayahnya


.......


.......


.......


Asya memasuki ruang kelas setelah pertemuan ya dengan pak Hariyono telah selesai.


"Sya....". Panggil Chat tercengang melihat wajah Asya yang sembab.


"ada apa....". jawab Asya berlagak ketus.


"Kamu habis dari mana? ngapain kok pada bengkak tu mata ? habis nangis ya... ???. Ucap Chat mencerca Asya dengan pertanyaan.

__ADS_1


Seketika Hans menoleh Mendengar pertanyaan terakhir Chat jika Asya menangis.


Hans mengerutkan alisnya, ada gurat kecemasan dan tanya diwajahnya.


Asya melihat Hans sekilas. Ia tahu Hans sedang melihat kearahnya dan Chat.


"ah... enggak ... cuma kena debu aja... terus aku kucek, jadi merah deh... ". Asya menyangkal pertanyaan Chat.


Hans tidak begitu saja mempercayai ucapan Asya. Terlihat sangat jelas jika wajahnya masih sembab.


Wajahnya yang putih tak bisa menyimpan warna merah yang hinggap di hidung dan matanya.


"ya sudah..., kalau begitu aku mau ke kantin dulu memesan makan siang, jangan lupa segera susul aku setelah mengisi data di kelas... Kita makan siang bersama-sama". ajak Chat sambil memegangi lengan Asya masih merasa cemas.


"Hans... kita duluan ya...". Pamit Dino.


"Sya kita duluan....". Pamit Davin pada Asya


Mereka bertiga pergi meninggalkan Asya dan Hans yang masih sibuk mengisi data kelulusan.


Hans sengaja mengulur waktu saat menuliskan datanya, karna tahu Asya belum kembali ke kelas setelah di panggil ke ruang Ketua Yayasan.


Asya mengeluarkan bolpointnya, mengisikan datanya pada lembaran yang sudah ia terima.


"Hal bodoh apa lagi yang kamu lakukan....?.


Tanya Hans tiba-tiba.


Sontak Asya menoleh heran pada Hans, sekalinya berbicara malah keluar kata-kata pedas.


Asya menunjuki dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, tepat di depan hidungnya.


"gue..... hal bodoh... ". Asya mengulangi pertanyaan Hans.


Mata Asya membulat dan sudut bibir atas bagian kirinya diangkat, kebiasaan khas Asya menandakan jika saat ini ia sangat sebal kepada seseorang dihadapannya ini....


.......


.......


.......


.......


...~ NextEpisode ~...


.......


.......


Terimakasih sudah mampir


jangan lupa tinggalkan jejak kalian 💥


Like 👍


dan votenya yachhh...


😘😘


.........


.

__ADS_1


__ADS_2