Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Wajah Malaikat


__ADS_3

~ The part of party ~


Hari cepat sekali berlalu. Waktu perayaan akhir tahun kelas Asya akan digelar nanti malam.


Pagi ini Geo dan teman-teman panitia akan bersiap siap berangkat dahulu dengan mobil Hans. Sedangkan siang nanti, teman-teman sekelasnya akan menyusul dengan mobil lain.


"Hei... bro....". sapa Dino yang baru saja datang bersama Davin.


"Hai... mana Hans ?". Tanya Geo


"Bentar lagi nyusul....!". Ucap Davin menjawab pertanyaan Geo.


Tak selang beberapa lama, Chat dan Betris nampak datang juga disekolah.


"Pak Martin.... di mana, Geo ...? ". Tanya Betris yang baru datang menanyakan wali kelasnya.


"Ada tu lagi nyiapin barangnya yang mau dibawa...". Jawab Geo.


Sedang Chat menjawabnya dengan anggukan kepala.


Mobil Hans sudah sampai di halaman sekolah. Hans turun dari mobilnya menghampiri teman-temannya.


"Gimana udah siap semua...?". Tanya pak Martin.


"kita cek dulu pak.... ". jawab Geo.


"Gue, Hans, Davin, Dino, Chat, Betris......, siapa lagi yaaaa ??". Gumam Geo merasa ada yang kurang.


Hans memasang mata elangnya, mencari mangsa yang diincarnya. Memperhatikan satu persatu temannya.


Hans tak menemukan Momoginya.


"Hufttt....". Hans membuang nafasnya kasar.


Ia merasa kesal, pasalnya gadis bar-barnya belum juga nampak batang hidungnya.


"Asyakira belum datang kayaknya....". celetuk Betris.


"Okelah... kita tunggu beberapa menit lagi". Kata pak Martin memberi kesempatan.


.......


.......


.......


Setelah lima belas menit berlalu ada sebuah mobil memasuki halaman sekolah. Hans menegakkan kepalanya. Hans memperhatikan Mobil itu dari dalam mobil, ia tahu mobil itu milik siapa.


Ia dapat melihat dua orang yang tengah duduk di dalamnya meski terlihat samar-samar karna warna kaca mobilnya dibuat hitam oleh si pemilik.


"Kamu kenapa Sya...". Tanya Gading yang melihat Asya terus saja menggaruk leher dan tengkuknya. Sesekali Asya juga menggaruk bagian dadanya dengan malu-malu karna ada Gilang disisinya.


"Saya ga tahu mas... rasanya leherku gatal sekali....". Jawab Asya yang masih menggaruki badannya.


"Coba sini aku lihat....". Gilang berkata sambil mendekat dan mengangkat tangannya ke bagian leher Asya.


Asya kaget dengan sentuhan gading yang tiba-tiba. Asya menjadi salah tingkah, merasa rikuh dengan perlakuan Gading kepadanya. Ia tidak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya.


"Ehhh... mas...". Pekik Asya menghindar.


"Aku cuma mau memeriksanya... ga akan macam-macam...". Lanjut gading membuat Asya tersipu malu, karna ketahuan berfikir yang tidak-tidak.


Gading memeriksa leher Asya. Ia melihat dengan seksama. Gading sedikit membuka lipatan kaos di bagian leher Asya.


"Wah Sya... sepertinya kamu kena ulat bulu deh...!". Kata Gading setelah melihat leher Asya yang dipenuhi bentolan merah.


"Pakai ini....". Gading memberikan minyak kayu putih yang diambilnya dari dashboard pada Asya

__ADS_1


"Pantesan gatel banget mas....". ungkap Asya dengan senyum canggungnya.


Asya mengoleskan minyak kayu putih di leher dan tengkuknya. Gading hanya memperhatikan Asya. Ia segera memalingkan wajahnya ketika Asya membuka sedikit bagian kerahnya.


"sudah mas... terimakasih". Asya mengembalikan minyak kayu putih pada Gading


Gading kembali melihat kearah Asya, sedikit melirik bagian leher Asya yang dipenuhi bentolan.


"sama-sama...". jawab gading


"oo iya mas, Asya turun dulu.... trimakasih mas Gading sudah mengantar Asya, kalau enggak pasti Asya sudah terlambat...". ucap Asya berterimakasih.


"Aku hanya kebetulan lewat dan lihat kamu dipinggir jalan. Aku pikir kamu pasti nunggu aku.... eh nunggu angkot....". Kata Gading bercanda.


"He...he...he... mas Gading bisa aja". Ujar Asya menimpali candaan Gading.


Asya membuka pintu mobil dan menutupnya kembali. Asya melambaikan tangan dari luar dan menganggukan kepalanya pada Gading. Asya tersenyum lebar mengantar kepergian Gading.


Asya berjalan menghampiri teman-temannya. Asya masih berfikir kenapa bisa ia terkena ulat bulu ???....


Mungkin saja Asya terkena ulat bulu saat menunggu angkot yang tak kunjung datang.


...~ Flash Back On ~...


Pagi itu Asya hendak pergi ke sekolahnya. Asya sudah berjanji akan berkumpul di sekolah untuk berangkat ke Bogor bersama panitia yang lain.


Lama sekali Asya berdiri menunggu angkot, tapi tak satupun yang lewat. Untung saja ada Gading yang melintas di jalan dimana Asya berdiri menunggu angkot.


Gading menghentikan mobilnya yang dikendarainya dan menurunkan kaca mobilnya.


"Butuh tumpangan nona manis....". ucap Gading dari dalam mobil.


"Mas Gading....". gumam Asya terkejut melihat seseorang yang ia kenal ada di dalam mobil hitam yang tiba-tiba berhenti di depannya.


"Mau kemana ayo aku antar....". Ucap Gading menawarkan tumpangan.


"Ayo naik Aku anterin....". Gading menawarkan tumpangan kepada Asya.


Dengan segera Asya menaiki mobil Gading, dan Gading melajukan mobilnya mengantarkan Asya ke sekolah.


...~ Flash Back Off ~...


Saat Gading dan Asya tiba di halaman Sekolah, dari kejauhan Hans sudah menatap elang ke arah mobil Gading berhenti.


Saat itu Hans tengah duduk di dalam mobilnya. Dari dalam mobil Hans terus memperhatikan Asya. Ia baru saja melihat adegan-adegan di dalam mobil hitam milik Gading itu.


Tangannya mengepal, hatinya memanas dan entah bagaimana perasaannya kini kian tak tergambar.


Sedangkan di luar, Geo dan teman-temannya sudah selesai memasukan barang-barang bawaan di mobil pak Martin. Kini semua memasuki mobil Hans untuk segera berangkat menuju Puncak Bogor.


Mobil dengan kapasitas 8 orang ini akan membawa Hans dan teman-temannya ke puncak Bogor.


Suara riuh di belakang Hans tak membuat hatinya mendingin.


Apa lagi disaat ia mendengar tawa Asya. Sepertinya ada batu yang sedang menghantam dadanya, rasanya kian sesak.


.......


.......


.......


Perjalanan kali ini cukup lancar. Jalanan terlihat sepi meski di pagi hari. Mungkin karena bukan musim liburan jadi tidak ada banyak kendaraan. Seandainya ini musim liburan sudah dipastikan mereka tidak akan melewati perjalanan yang mudah.


Mereka berangkat dari sekolah pukul 09.30 dari Jakarta. Lewat Tol dalam kota, lalu menuju tol Jagorawi. Disepanjang perjalanan juga sangat lengang.


Selama di perjalanan Hans hanya diam menutupi kegusarannya. sedangkan teman-teman di belakangnya tengah bersendau gurau.

__ADS_1


"Sya... aku lihat tadi kamu turun dari mobil..., dianterin siapa Sya...". Tanya Chat penasaran dan merasa cemburu pada Asya.


"Ya.... dianterin mas masnya donk.....". Goda Dino dari belakang.


"mas... mas... mas... mas...". Gumam Asya mengulang ucapannya sambil memanyunkan bibirnya.


"Namanya mas Gading...!". Ceteluk Asya.


"Cie... mas Gading..... ". Betris menggoda Asya.


Mereka masih terus saja menggoda Asya dengan mas mas barunya.


Hans melirik Asya dari sepion di depannya.


Sebenarnya Asya duduk di jok belakang Hans. jadi mudah saja bagi Hans mengintip apa yang dilakukan Asya.


Sudah cukup lama perjalanan ini mereka lalui.


Mereka tiba di gerbang tol Ciawi pukul 10.15.


Hawa sejuk sudah menyeruak, mendekap jiwa-jiwa yang panas di dalam mobil.


Puncak Bogor semakin dekat. Pemandangan indah sudah terhampar di depan mata.


20 menit kemudian. Mereka tiba di pelataran Villa Hans. Satu persatu dari mereka menuruni mobil tumpangan mereka.


Asya berdiri merenggangkan ototnya setelah dua jam melalui perjalan dari Jakarta ke puncak.


Asya mengagumi keindahan villa ini. Asri, bersih dan indah juga mewah.


Villa ini memang pantas dimiliki keluarga Hans yang kaya raya. Keluarga Wijaya memang termasuk jajaran keluarga kaya dengan berbagai lini usaha.


Sudah dipastikan Hans akan menjadi penerus selanjutnya kerajaan bisnis ayahnya.



Asya mengingat, dulu ia juga memiliki villa di puncak. tapi juga sudah menjadi aset sitaan bank. Mungkin Asya dan Arsya juga akan menjadi penerus perusahaan ayahnya, seandainya saja perusahaan itu masih ada.


Pikiran Asya sedikit berandai-andai.


"Selamat datang Tuan muda...". Sambut seorang laki-laki paruh baya kepada Hans.


"ohhh iya pak, terimakasih...". Jawab Hans tersentak.


Ia sedang asik memperhatikan Asya yang berdiri mematung menatap kearah villanya. Menerawang apa yang sedang dipikirkan oleh Asya.


"Bagaimana kabar bapak..?". Tanya Hans pada lelaki itu.


"Baik tuan muda.... Sudah lama tidak bertemu tuan muda semakin gagah dan ganteng..., apa masih suka menangis". Bisik lelaki itu mendekati Hans.


"Pak Kardi bisa saja... ". ucap Hans dengan malu-malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Disisi lain, Asya tercengang, ia membuka matanya lebar-lebar dan sedikit menarik kepalanya kebelakang, melihat Hans ternyata bisa sehangat itu pada orang lain. Wajahnya berseri. Ketampanannya naik 10 level, tidak naik 100 level bahkan. wajahnya seperti Wajah malaikat.


...~ Next episode ~...


.........


Trimakasih sudah mampir 🙏


jangan lupa tinggalkan jejak 💥


berikan like 👍


dan juga vote 💯


.........

__ADS_1


__ADS_2