
Asya masih berdiri dibawah rindangnya pohon taman monumen Patirtan, dengan perasaan gamang dan terkejut dengan apa yang baru saja Ia dengar dari teman sekelasnya itu.
Baru juga dua bulan dia memulai sekolahnya di kelas dua SMA, namun ada kejutan yang tak kalah besar dari yang ia bayangkan.
Harapannya memiliki kekasih Laki-laki yang keren, macho, dan berprestasi seperti impiannya, sekejap lenyap dihadapkan dengan pernyataan cinta teman sekelasnya itu.
Apakah Asya memang tak menarik bagi laki-laki ??
Ataukah dia terlalu menarik bagi orang lain ???
Sampai teman perempuannya pun jatuh hati padanya.
seketika Ia kalut dengan berbagai pertanyaan yang bercokol di kepalanya.
ada perasaan takut, jijik, dan sedikit bangga dengan pesonanya.
Dalam sekejap Asya kembali dari angan-angannya ke dunia yang sesungguhnya.
"Sya maafin aku, aku cuma pingin ngomong yang sebenarnya sama kamu, aku sudah ga tahan memendam ini sendiri". Tajuk Cath dengan wajah memelas dan bola mata yang mulai nanar, melihat Asya berdiri semakin menjauh darinya.
"Stop...!". Teriak Asya saat Cath melangkah maju mendekatinya.
"Please Sya, dengerin Aku dulu ". Mohon Cath semakin mengiba.
"Lu.... omong kosong aja Cath..!". Ucap Asya semakin marah.
"Aku beneran Asya....,
tapi aku ngerti kalau kamu ga bisa, aku cuma mau mengungkapkan perasaanku saja". Tutur Cath menjelaskan pada Asya disela tangisnya.
"Aku mohon jangan menjauh...,
aku bisa kok nahan diri aku Sya. Tapi please..., jangan bilang kesiapa-siapa...
cukup cuma kamu aja...
aku ngumpulin semua keberanian aku buat bilang gini Sya". Imbuh Chat meyakinkan Asya yang masih berdiri mematung.
"Lu ga waras Cath !". Sarkas Asya
Tetasan air merembes dari sudut mata Chat mendengar ucapan Asya.
"Biar Gue jadi-jadian, tapi gue normal Chat, gue tau jalan yang lurus, kagak belok..". Terang Asya sedikit meninggi nada bicaranya, menyadari dirinya jauh dari kesan feminim.
"Gua masih suka pisang Ambon". lanjut Asya sembari bergidik membayangkan dirinya dan Chat.
"Gue normal, gue maunya sama cowok, bukannya sama...... ". Asya tak melanjutkan kata-katanya, ketika mata Asya berpapasan dengan mata Chat yang sudah dibanjiri air mata.
Terbesit perasaan iba di hati Asya melihat Chat seperti menahan perasaannya yang sudah pasti sedang hancur.
"Hufffftttt.....". Asya membuang nafas besar sebelum Ia melanjutkan kata-katanya.
"Chat...! ".Panggil Asya pada teman sekelasnya itu yang tengah tertunduk lesu menyembunyikan air matanya.
__ADS_1
"Chat, lu cantik.... anak orang berada..., lu juga lumayan berprestasi...., kenapa lu kayak gini???". Tanya Asya sedikit melunak.
Berbeda dengan Chat yang tak mengucap sepatah katapun, karna lehernya terasa tercekat dengan kata-kata Asya.
"Lu tau banget....,
gue seratus persen anggap Lo temen.
Emang gua tomboy, tapi gua normal Chat... ". Lanjut Asya
"Lu bisa dapat cowok yang keren, bukan kayak gini Chat !". Imbuh Asya.
Perlahan Chatrin mengangkat wajahnya, memandang wajah Asya yang berusaha meyakinkan Chat agar kembali pada jalannya.
"Jangan paksa aku Sya !". Pinta Chat.
Mendengar permintaan Chatrin, Asya menjadi diam seribu bahasa.
Sejenak Ia berfikir, apakah makhluk seksi didepannya ini adalah sisa sisa dari kaum nabi Luth... oh tidak mereka memang para penyuka anggar, apakah dia kanibal ????.
tanpa sadar Asya menepuk keningnya dengan telapak tangannya, mendengar pikiran-pikirannya menjelajah liar.
"Ok Chat..., gua ga akan maksa elo buat kembali kejalur lurus, kalo elo emang suka belok". Ucap Asya dengan sedikit melemah.
"Tapi yang harus Lo ingat..., bukan gua pasangan Lo...,
gua normal, suka sama pisang Ambon, bukan sama jeruk...". Tandas Asya dengan penuh penekanan.
mumpung Lo masih belia". ucap Asya menasehati Chat.
"Syaaa....". Panggil Chatrin yang masih sulit untuk berbicara, lidahnya kelu meski hanya sekedar menyebutkan nama Asya.
Ia masih belum bisa menerima, teman sekelasnya yang tomboy itu, yang dia kira memiliki haluan belok yang sama, ternyata masih lurus.
harapan besarnya pupus ditengah jalan. Ia sangat berharap perasaannya dibalas oleh Asya. Namun Semua tak sesuai dengan angannya.
"Lo punya orang tua Chat, gua yakin mereka bakal kecewa kalo Lo kayak gini". imbuh Asya
"Udah ah Chat...., balik kejalan Lo, ke kodrat Lo, jangan aneh-aneh. Gua ga nyuruh apa lagi maksa Lo berubah sekarang, tapi gua harap Lo bisa berubah sedikit demi sedikit.....
kalo Lo masih pingin temenan sama gua...". Asya menekankan kalimat terakhirnya.
Tubuh Chatrin menggigil mendengar penuturan Asya.
Benar apa yang dikatakan Asya, tapi Chat sama sekali tidak bisa mengingkari hatinya.
Air matanya pecah tanpa permisi, ketika melihat Asya berlalu begitu saja meninggalkannya dibawah pohon rindang ditengah taman yang dipenuhi bunga kertas beraneka warna.
Langkah kaki Asya terlihat lebih lebar dan terburu-buru, agar cepat bergegas menjauh dari Chatrin.
hal yang paling tidak pernah disangka olehnya.
Ternyata semua perhatian dan bantuan Chatrin selama ini, bukan karna Chatrin menyayanginya sebagai teman tapi sebagai kekasih...
__ADS_1
"Shittt....". Umpat Asya mengingat perlakuan Chat selama ini, membuat bulu kuduknya berdiri.
Langkahnya terhenti di sudut taman, Asya duduk di bangku taman untuk menenangkan hatinya yang masih bergejolak.
"Sya Kamu kenapa ?". Tanya Dino yang tiba-tiba muncul di samping Asya.
"ehh...". Asya terkaget karna kemunculan Dino yang tidak ia ketahui.
"Sialan Lo Din, ngagetin aja". ucap Asya sambil memegang dadanya yang terasa kencang berdetak.
"Kamu aja yang terlalu serius... lagian dibawah pohon pakek ngelamun...". Ledek Dino yang melihat wajah Asya Pucat pasi.
"Udah lah Din jangan godain Asya, dia lagi ga mood tu... ". Tambah Davin melerai Asya dan Dino.
"Geseran Sya... ! ". Pinta Davin
Tanpa bantahan Asya bergeser dari duduknya. Bergeser mendekat ke Dino yang duduk disebelah kirinya.
" Duduk sini Hans...!". Ajak Davin kepada Hans, teman sekelas Asya yang terkenal paling irit bicara.
Di bangku kayu itu Dino, Asya, Davin, dan Hans duduk bersama memandangi teman-teman sekelasnya yang masih lalu lalang menikmati situs bersejarah tempat para putri kerajaan mandi. Diantara Mereka juga banyak mengabadikan momen itu dengan berfoto Selfi.
"Sreetttttt....". Dino mengeluarkan Smartphon dari saku baju seragamnya.
"Hayyyy... hadap sini donk....!". Dino memerintah Asya, Davin, dan Hans menghadap ke kamera HP nya.
"cklik... cklik...cklik...". Terdengar suara kamera Smart Phon Dino dengan sigap mengambil gambar kebersamaan mereka.
"Sya senyum dikit Napa, manyun aja Lo ". Pinta Dino yang melihat wajah Asya masih ditekuk-tekuk kayak kanebo kering.
"hiiiii......". Asya menampilkan giginya yang berjajar rapi dengan sangat terpaksa, sehingga senyum itu malah terlihat aneh.
Dino tetap mengambil foto dengan berbagai pose dari teman-temannya.
"hahaha....haaa.....". Dino tertawa lepas setelah melihat hasil fotonya
" Lo jelek banget Sya...". imbuh Dino yang masih belum bisa berhenti tertawa.
"Lu tu Din ngerjain Asya aja... ". Davin mencoba melerai Dino dan Asya.
"Habis... nih anak... kagak ada cantik-cantiknya, ngidam anak cowok kali Mak lu pas hamil Lo Sya....". Ledek Dino pada Asya yang memang selalu bergaya seperti anak laki-laki dari pada bertingkah manis seperti anak perempuan lainnya.
Mereka masih saja tertawa sambil melihat Asya yang mengangkat sudut bibir atas bagian kanan karena merasa jengkel ke dua kalinya.
...~ next part ya.... ~...
.......
.......
.......
Terimakasih sudah berkunjung πβΊοΈππ
__ADS_1