Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Perjaka Tua


__ADS_3

~ flash back off ~


Dadu Wijaya menatap nanar Istri tercintanya. Stella mengusap punggung tangannya lembut, seperti memberikan dukungan padanya. Ada Godam besar yang saat ini menghantam dada Danu Wijaya.


"Ayolah sayang... semua sudah berlalu.... ". Ucap Stella meyakinkan Danu Wijaya.


Kening Hansel berkerut melihat tingkah kedua orang tuanya itu.


"Ada apa ma... ". Hansel bertanya curiga.


"Bukan apa-apa sayang itu karna papa mu terlalu mencintai ku dan juga mencintai mu....". Jawab Stella sambil mengeringkan matanya pada Danu Wijaya.


Danu mendekap tangan Stella hangat, menyatukan empat telapak tangan yang enggan terpisah meski sudah hampir 28 tahun bersama.


"Kalian ini,.... seperti remaja yang baru puber saja.....". Kata Hans mencibir kedua orang tuanya yang selalu mempertontonkan keromantisan di depannya.


"Apa...?.... Puber....?...". Ucap Stella ternganga.


"Sudahlah sayang, itu karna dia belum tahu rasanya jatuh cinta... ". ucap Danu Wijaya.


"Sepertinya kau harus segera mencarikan dia pendamping...., coba kau Carikan salah satu putri dari teman-teman mu, mungkin saja ada yang bisa menjinakkannya....., kalau kau tak cepat mencarikannya, bisa-bisa dia jadi perjaka tua.....". Danu Wijaya membalas cibiran Hans.


"YACHHHH... aku rasa begitu sayang..., entah gadis mana yang akan tahan dengan salju seperti dia.... ha....ha..a.ha....ha...a.". Sambung Stella membombardir Hansel yang selalu mengelak untuk dijodohkan.


Wajah Hans bersemu merah, merasa kedua orang tuanya sedang mempermainkannya.


"Memang apa salahnya perjaka tua?..., pasti gadis-gadis itu akan mengantri untuk menikah dengan ku....". Ucap Hans berkilah.


"Iya tentu saja, itu mereka lakukan sebelum mengetahui sifat mu.... setelah mereka tahu, pasti mereka akan meninggalkanmu....". Ejek Danu Wijaya.


"Kenapa....? aku lebih tampan dan gagah dari pada Papa, kalau papa bisa mendapatkan mama, pasti aku bisa mendapatkan gadis yang lebih cantik dari mama....". Balas Hans menyombongkan diri.


"Ouuuuhh..... sayang...., bayi besarku.... ada yang kau tidak punya....". Stella tersenyum mengejek pada Hansel.


"apa yang aku tidak punya....?". Hansel bertanya-tanya.

__ADS_1


"Aku memiliki semua apa yang papa miliki...!". Hans meyakinkan jika ia memiliki segalanya, tampan, kaya, mapan kecuali kekasih... yachhh mungkin itu maksud Stella.


"Kau....!". Stella menggantung ucapannya.


Wajah Hans menegang, penasaran dengan maksud mama tercintanya itu.


"Kau itu tidak romantis, kaku... seperti kanebo kering....,". Ucap Stella. menilai putra satu-satunya.


"Gadis mana yang akan tahan denganmu, jika kau terus seperti itu..., belajarlah romantis dari papamu, agar kau bisa mendapatkan seorang gadis di sampingmu....". Stella menasehati putranya.


"Ada.... ada seseorang yang akan tahan dan bahkan akan sangat menyukai sifat ku... dan juga mam, aku ini sangat romantis....". Balas Hans berkilah.


"Oke... kalau begitu... bawa gadis itu pada kami.... kami ingin tahu gadis seperti apa yang akan tahan dengan mu itu....". Ucap Danu Wijaya disela tawanya.


"Baik...". Ucap Hans, sambil menarik bagian bawah jasnya untuk menghilangkan kegugupannya.


Dia sedang berfikir, gadis mana yang ia maksud. Apakah gadis yang selalu menari-nari dipikirannya dan memenuhi hatinya. Tapi itu tak mungkin, bagaimana akan membawa gadis itu kehadapan kedua orang tuanya ini, sedangkan gadis itu entah di mana saat ini.


"Baiklah pa... ma... sepertinya aku harus pergi, aku harus menghadiri sebuah pertemuan... ". Hans mengakhiri obrolannya dengan kedua orang tuanya.


"Pulanglah ke rumah akhir pekan nanti boy.... kita bisa bermain catur berdua... sudah lama kita tidak bermain....". Ucap Danu Wijaya sambil memeluk putra semata wayangnya.


"akan aku usahakan pa... ma....". Hans menyanggupi.


Hans berjalan menuju pintu. Ia keluar dari ruangan Papanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang selalu saja mengantri untuk diselesaikan.


Stella melihat punggung putranya sudah tak terlihat, menghilang dibalik pintu. Ada perasaan gusar yang menyelimuti hatinya.


"Sayang... apa kau lihat... dia masih saja tidak merespon sindiran kita...". ucap Stella cemas.


"Itu karna dia tidak mencoba membuka hatinya...". Danu Wijaya mengiyakan ucapan Stella.


"bagaimana kanebo kering itu akan mbuka hatinya, jika kau terus menyibukkan dia dengan semua bisnismu...". Stella mengibaskan. tangan Danu Wijaya karena merasa kesal pada suaminya yang selalu saja mendikte putranya untuk melakukan semua pekerjaan.


"ya...ya... itu salahku... aku hanya ingin dia sukses di dunia bisnis..., kalau aku tidak mengajarinya sejak awal, lalu siapa yang akan meneruskan perusahaan ayah dan , sedangkan dia adalah harapan kita satu-satunya...". Danu Wijaya mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"apakah gadis itu masih belum ditemukan?". Tanya Danu Wijaya pada istri cantiknya.


"Sudah.... Davin yang memberikan kabar waktu itu....". Jawab Stella sambil merapikan dasi suaminya.


"apa kau lupa, empat tahun lalu Davin memberikan informasi jika gadis itu menikah secara dengan lelaki seumuran mu,...". ucap Stella mengingatkan Danu.


"apa...?". ucap Danu memekik, tak percaya.


"bukankah Davin mengatakan jika gadis itu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya...?". Danu Wijaya melanjutkan pertanyaannya.


"aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya..., Hans menutup mulutnya rapat-rapat... dan ketika aku bertanya padanya, pasti dia akan mengalihkan pembicaraan...". Ucap Stella melemah mengingat putranya masih saja belum bisa meninggalkan cerita lama itu.


"aku rasa itu adalah salahku... karna itu dia melampiaskannya pada pekerjaannya....". Ucap Danu Wijaya merasa bersalah.


"Itu karna kita belum mengetahui apa yang terjadi...". Ucap Stella mencairkan suasana.


Stella Wilson mengusap lengan suaminya lembut dan menampilkan senyum harap pada Danu Wijaya.


"Kita lihat saja bagaimana maunya, aku ingin putra kita tidak bahagia sayang.... biarkan dia mencari apa yang dia mau, selama itu benar, Mari kita mendukungnya... dia sudah bekerja keras selama ini... dia juga sudah menunjukan kemampuannya pada mu". Ucap Stella pada Danu.


"Aku mengerti... aku tidak akan memaksanya....". Ucap Danu yang mulai memahami putranya.


"Trimakasih sayang....". Ucap Stella, lega.


...~ Next Episode ~...


.......


.......


.......


Terimakasih sudah berkunjung


jangan lupa untuk meninggalkan jejak

__ADS_1


👍🗣️☕❤️


__ADS_2