
~ Flash Back Off ~
Kembali di awal cerita saat Chatrin menarik Asya masuk ke dalam kelas.
Chat mengajak Asya duduk di kursi di dalam kelasnya. Tepat di sudut ruangan, Asya menempati kursi kedua dari depan. Di belakang Asya ada Chatrin yang memang selalu mengekor kemana pun Asya pergi.
"Hari ini kita mulai tray out... kamu sudah belajar Sya...??". Tanya Chat Khawatir.
"Ga sempet Chat, aku capek sekali. Tadi malam aku pulang larut, karna banyak pesanan..". Lanjut Asya menjawab pertanyaan Chat.
Sekarang Asya memang sudah bisa menerima pertemanan dengan Chat. Semenjak Chat meminta maaf pada Asya waktu itu, Chat menunjukan kesungguhannya, menjalin hubungan yang lebih sehat dengan Asya.
Chatrin tetap saja perhatian, namun cukup sebagai seorang sahabat.
Asya melirik Hans yang duduk di seberangnya. Hans hanya diam memainkan smartphone keluaran terbaru yang dimilikinya.
Asya selalu saja kesulitan membangun komunikasi dengan Hans. Padahal teman dekat Hans, Dino dan Davin juga bisa dekat dengan Asya. Tapi Hans seperti tak tersentuh oleh Asya. Hans selalu menjaga jarak dengan Asya, bahkan ketika sesekali Asya melihat ke arah Hans dan melemparkan senyum padanya, cepat cepat Hans membuang muka, membuat Asya semakin jengkel kepada sikap Hans yang dianggapnya meremehkan Asya.
Meski sudah hampir dua tahun menjadi teman sekelas Asha, tak pernah sekalipun Hans Berbincang dengan Asya.
"Dasar..... Rayap ". Maki Asya dalam hati, melihat sikap Hans yang selalu saja acuh.
.........
Hari sudah berganti siang. Jam pulang sekolah telah berdering. Pak Faishal Guru Matematika Asya segera membereskan buku materi di meja dan bergegas keluar dari kelas.
Teman-teman Asya seakan ingin berlomba dengan pak Faishal untuk keluar dari ruang kelas XII IPS 3, sehingga membuat pak Faisal seperti ratu lebah yang dikelilingi oleh lebah-lebah pekerja, keluar bersama dari pintu kelas yang sudah terbuka sedari tadi.
Asya masih sibuk merapikan buku-bukunya, tak banyak buku yang dibawa, karna tas Asya sudah cukup penuh dengan baju ganti Asya.
"Sya... kamu mau langsung kerja... ". Tanya Davin dari belakang Hans.
"Ho...oh....". Jawab Asya tanpa menoleh pada Davin.
Asya pergi tanpa permisi, ia segera keluar dari kelasnya. ia tak ingin datang di The Delmonte terlambat hanya gara-gara mendengar ocehan anak-anak konglomerat itu.
"Nongkrong dulu yuk... ". ajak Dino kepada kedua sahabatnya Hans dan Davin.
"Ayooo...". Jawab Davin bersemangat.
"Aku ikut....". Teriak Chatrin buru-buru karna ia tahu kemana teman-temannya akan nongkrong.
Asya sudah meninggalkan kelas sejak ia menjawab pertanyaan Davin. Ia menuju ke Toilet yang berada di bagian depan sekolah. Sebelum ia pergi ke toko kue tempat ia bekerja, Asya mengganti seragamnya dengan baju bebas miliknya.
Asya Azkara Atmaja 18 Tahun
Asya keluar dari kamar mandi sudah berganti baju bersiap menuju tempat kerjanya. Asya mengenakan Hoodie hitam dengan lengan berwarna kuning.
Kali ini rambutnya dibiarkan tergerai, hanya ditutupi dengan topi yang dibalik kebelakang. Sungguh penampilannya sangat tomboy. Tak heran jika teman-temannya tidak menganggap Asya anak sebagai seorang anak perempuan.
__ADS_1
Asya berjalan kaki dari sekolah ke The Delmonte, karna jarak dari sekolah ke toko kue cukup dekat, Asya memilih berjalan kaki untuk menghemat pengeluarannya.
.........
Di The Delmonte
Asya sedang sibuk menyiapkan pesanan pelanggan di kitchen. Membantu bagian dapur yang memang sedang kekurangan tenaga karna ada dua pegawai yang tidak masuk. Namun bagi Asya tak menjadi masalah selagi Asya dapat mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Asya menyajikan pesanan di meja 2, tempat Davin, Dino, Chatrin dan Hans duduk.
Terlihat Davin dan Chat yang sedang berhadapan, Chat duduk di kursi, sedangkan Davin sedang menelfon entah siapa.
Chatrin dan Davin
Dino menampakan deretan giginya yang rapi melihat kedatangan Asya membawa pesanan mereka.
Hans duduk diam meneguk segelas jus kesukaannya.
"Silahkan.... ". Ucap Asya sambil menata pesanan teman-temannya dimeja.
"Selamat menikmati bro....". Lanjut Asya kemudian.
"Thank's... Sya... ". ucap Dino dan Chat bersamaan.
Asya hanya melirik Hans yang duduk diam. Hans yang merasa Asya sedang memperhatikannya, mengalihkan pandangannya keluar Jendela Toko Kue yang setahun terakhir ini menjelma menjadi Toko Kue dan Cafe.
Semenjak Dino mengetahui Asya bekerja di Cafe ini, Ia selalu mengajak teman-temannya nongkrong di sini. Yaaaa... hitung-hitung menemani Asya bekerja.
Asya kembali pada kesibukannya.
Kini ia berjaga di Meja kasir, tempat biasanya Asya melayani pelanggannya.
"Sya... sudah makan siang ?". Tanya Gading mengagetkan Asya yang sedang asik membuka HP bututnya
.
"Ehhh... mas Gading.... sudah mas...". Jawab asa terbata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gading masih terus saja mengajak Asya berbicara. Menanyakan ini itu yang mungkin hanya terkesan basa-basi saja.
Terkadang Asya merasa risih dengan perhatian Gading, tapi tetap saja gading selalu memberi perhatian lebih pada Asya.
Hal ini wajar saja terjadi. Semenjak Asya bekerja paruh waktu di The Delmonte, Asya cukup dekat dengan Bu Arum. Wanita yang menurut Asya selalu lemah lembut dan penyayang, juga tidak membeda-bedakan meski Asya hanya seorang pegawainya saja.
Bu Arum selalu menghormati Asya, mengingatkan Asya agar tetap semangat sekolah sampai ia lulus. Bahkan Bu Arum menawari Asya untuk membiayai kuliah Asya, karna Bu Arum tau Asya anak yang cerdas. Bu Arum selalu menceritakan tentang Asya, ketika Gading masih kuliah di Singapura mengambil jurusan management. Sejak pertama bertemu dengan Asya, Gading sudah merasa dekat karena setiap kali telepon Bu Arum pasti menyisipkan Asya di setiap ceritanya.
__ADS_1
Di kejauhan, Hans terus saja menatap dua orang yang sedang asyik mengobrol. Tak terdengar apa yang sedang mereka bicarakan. Hanya terlihat senyum Asya yang merekah, memandang wajah Gading yang berdiri membelakangi Hans.
Hal itu semakin membuat Hans merasa nyeri di dadanya. Hans meneguk sisa jus di gelas dengan sekali tegukan. Berharap rasa panas yang menjalar ke kerongkongannya dapat segera reda.
Hans melihat kedekatan Asya dengan Gading yang terus saja bercanda, bahkan Gading mengacak kepala Asya yang mengenakan topi Cafe dengan tangannya.
Ada perasaan yang mengganjal, sebesar batu gunung merapi yang berguguran ketika erupsi mungkin.... !
Hans berdiri, melangkah ke arah toilet The Delmonte. Ia ingin mendinginkan wajahnya dengan air.
Hans membasuh mukanya kasar, mengusapkan air beberapa kali. Dadanya masih terasa panas. tenggorokannya tercekat, dan matanya memerah melihat Asya dan Gilang sedekat itu.
Hans membasuh lagi wajahnya beberapa kali, berharap panas tubuhnya dapat menurun.
Hans kembali ke tempat duduknya, setelah merasa lebih tenang. Tentu saja tak akan setenang biasanya. Wajahnya nampak semakin kaku dari biasanya.
Beberapa saat kemudian Hans dan teman-temannya pulang dari The Delmonte, setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan.
"Sya... kita pulang dulu ya... sudah sore.... kamu semangat terus..". Kata Chatrin menyemangati Asya.
"Beres ...". Jawab Asya mengacungkan jempolnya.
Mereka meninggalkan The Delmonte setelah berpamitan kepada Asya yang sedang bertugas di meja kasir.
.........
Waktu Sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Asya dan pegawai lainnya merapikan The Delmonte bersiap-siap pulang. .
Asya yang bekerja mulai pukul satu siang, selalu pulang setelah The Delmonte tutup pukul sepuluh malam.
Dari hasil pekerjaannya ini, Asya dapat membantu kebutuhan mama dan Ar, adik kecilnya yang sudah hampir masuk SMP.
Upah Mama Rosi sebagai tukang setrika baju, tidak cukup untuk membayar uang kontrakan dan sekolah Ar, apalagi dengan semua kebutuhan di ibu kota yang semuanya serba mahal.
Asya tak perlu memikirkan uang sekolahnya, karna ia mendapatkan beasiswa. Ia cukup menyisihkan untuk uang saku dan ongkos transportnya.
.......
.......
.......
.......
.......
...~ Next Part ~...
.......
__ADS_1
.......
...semangat......!!!😘😘😘😘...