
"Dor....dor....dor....dor....dor....". Gemuruh suara Kembang api yang saling bersahutan.
Hans mengangkat wajahnya memandang ke langit yang terang oleh cahaya kembang api.
Hatinya bergemuruh, bertautan dengan gelegar kembang api yang menyala.
Asya meninggalkan Hans sendiri dan berjalan menghampiri Davin.
"Sya... yuk kita lihat....". Ajak Davin.
"Enggak deh aku capek...". Asya melihat Davin sekejap dan menolak ajakan Davin, lalu pergi meninggalkan Davin yang tengah heran melihat Asya terburu-buru pergi.
Asya bergegas turun dari lantai tiga, ia sudah tak ingin lagi menikmati pesta malam ini. Ia memilih kembali ke kamarnya untuk menenangkan dirinya.
Asya masuk kedalam kamar, mengunci pintunya dan Asya berlari kecil menuju ranjang. Ia duduk ditepi ranjang.
Jantung Asya masih berpacu sangat cepat. Asya memegangi dadanya yang masih berdegup tak beraturan. Tangannya bergerak keatas, Ia menyentuh bibirnya dengan jemari lentiknya.
Kejadian tadi masih terus terngiang dipikiran Asya.
"*H*ans menciumku....? dia mengambil ciuman pertamaku...???? " gumam Asya mengulang ingatannya ke-kejadian beberapa menit yang lalu.
"sialan...sialan... Dammmmm......daammm". Tangan Asya memukul kasur beberapa kali.
"berani-beraninya dia melakukan itu...!". Gumam Asya lagi bersungut-sungut.
Asya menggosok bibirnya dengan telapak tangannya begitu saja. Ia merasa geram dengan tingkah Hans yang tanpa ijin mengambil ciuman pertamanya.
.........
Ditempat lain.
Hans masih berdiri di Balkon. Kembang api sudah tidak lagi memancarkan cahaya dan bergemuruh. Ia masih mematung ditempatnya berdiri.
Hans tersenyum simpul mengingat kejadian tadi. Hans masih mencecap rasa bibir Asya yang tertinggal di bibirnya.
Rasanya masih sangat nyata. Ia sama sekali tidak menyangka akan memberikan ciuman pertamanya untuk Asya, dan Ia mengambil ciuman Asya secara paksa.
"Beraninya dia menamparku....!". Gumam Hans sambil mengusap pipinya yang menjadi sasaran Asya.
Tentu pipinya tak sesakit itu. Rasa bahagia yang memenuhi hatinya mampu meluruhkan sakit karna tamparan Asya.
Hans terus saja mempertahankan senyumnya. Hari ini adalah pesta akhir tahun sekolah yang terbaik baginya.
...~...
Hingar Bingar dihalaman belakang masih terus berlanjut hingga tengah malam.
Mereka benar-benar merayakan kelulusan mereka dengan sangat baik. Sesuai perjanjian No Drug No ***.
Mereka hanya menikmati aneka minuman ringan dari The Delmonte. Juga menikmati berbagai makanan dan kue yang tak kalah lezat.
Beberapa anak ada yang bermain Kartu, dan beberapa yang lain menikmati sajian life musik di pinggiran kolam.
Ada juga yang sudah memasuki tenda, dan melakukan pesta BBQ di sekitar tenda-tenda berdiri.
Chatrin, Betris dan Geo duduk didekat kolam menikmati sajian life musik.
__ADS_1
"Vin Asya mana...?? ". Tanya Chat pada Davin yang melihat Davin datang tanpa Asya.
"Asya kembali ke kamarnya....". Jawab Davin sampe singkat.
"Bukannya tadi kamu bilang mau lihat Kembang api dari balkon sama dia...?". Tanya Chat heran.
"Iya... tadinya seperti itu..., tapi saat aku kembali dan mengajaknya, dia ga mau....". Ucap Davin menjelaskan.
"Lo ga apa-apain dia kan Dav...!". Tanya Betris curiga.
"Emang Gua apain...?.... mana berani gua Sama dia... bisa bisa jadi bakpau Gua....". Ucap Davin.
Chat dan Betris saling pandang.
Mata Chat seakan bertanya "kenapa dengan Asya"....
Betris mengangkat kedua pundaknya menandakan tak tahu apa-apa. Mereka kembali menikmati suasana malam ini.
.........
Waktu sudah menunjukan pukul 00.30, sajian life musik sudah berakhir. Diantara mereka banyak yang sudah beralih ke tenda tempat mereka beristirahat. Mereka tidak ingin tidur larut, karna tak ingin melewatkan sun set besok pagi.
Tinggal beberapa orang yang masih menikmati malam dengan bermain gitar.
Chatrin dan Batris juga kembali ke kamar mereka.
Chat membuka pintunya pelan, Ia mengintip kedalam, memastikan Asya berada di dalam, seperti pemikirannya sejak tadi.
"huffftyy....". Chat bernafas lega.
Chat dan Batris masuk kedalam kamar. Mereka berdua melihat tubuh Asya sudah berbalut selimut, Asya sudah tertidur pulas.
Asya sudah mengganti bajunya dengan baju santai, Ia belum benar-benar tidur. Ia hanya mencoba menutupi kekesalannya saat ini. Ia malas jika harus meladeni kedua temannya ini yang pasti akan banyak bertanya macam-macam setelah Asya menghilang dari pesta.
Chat beranjak ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Sedangkan Batris sedang menghapus make up nya didepan meja rias.
...~...
Di Kamar Hans
Hans tengah berada di atas ranjang besarnya. Tubuhnya bersandar di kepala Ranjang, kaki kirinya ditekuk bersendekuh sebagai tumpuan tangan kirinya, sedangkan kaki kanannya dibiarkan selonjoran.
Hans juga sudah mengganti Jasnya dengan kaos oblong Putih dan boxer hitam sejak kembali kekamarnya tadi. Ia sudah tak tertarik dengan hiruk pikuk yang terjadi di Villanya itu.
Hans ingin sendiri menikmati kegilaan yang baru saja ia lakukan.
Rasa kantuk tak juga datang meski waktu sebentar lagi akan berubah menjadi fajar.
Hans masih saja membuka matanya lebar-lebar.
Ia masih berfikir bagaiman ia harus bersikap pada Asya setelah ini.
"Apa momogi akan marah padaku....??
pasti iya, gadis itu pendendam dan bar-bar...
bagaimana bisa seorang gadis menampar sekeras itu....?
__ADS_1
apa di keturunan Hulk...?
tangannya sungguh kuat....".
macam-macam pertanyaan dan pemikiran muncul membayangi malam Hans.
"Dasar momogi... awas saja jika setelah ini kamu masih berani dekat dengan cowok lain...". Gumam Hans melanjutkan pemikirannya yang terus traveling.
"Drrrrttt....drrrrttt...." Hp Hans bergetar menyadarkan Hans dari lamunannya.
Hans mengambil HP disebelahnya. Ia melihat layar ponselnya.
" Papa....". Batin Hans setelah melihat siapa yang menelepon nya di tengah malam seperti ini.
Hans segera menggeser tombol hijau berlogo gagang telepon.
"Halo, pa....". Sambut Hans kepada seseorang di sebrang sana.
"Halo Hans... Bagaimana kabarmu....". Tanya papa Hans di sebrang telepon.
"Hans baik pa, bagaimana papa dan mama di sana? ". Tanya Hans bergantian.
"Papa dan mama juga baik.... Bagaimana pestamu apakah berjalan dengan lancar...?. Jawab Pak Wijaya papa Hans.
"Iya pa semua berjalan lancar....". Ucap Hans.
"Baiklah kalau begitu.... pesta akhir tahun mu sudah selesai, maka secepatnya kamu akan menyusul kami ke Amerika. Darwin sudah menyiapkan semua keperluan mu, Kamu hanya tinggal berangkat". Pak Wijaya mengutarakan niatnya menelpon Hans.
"Baik pa....". Jawab Hans dengan berat hati
"Pa....". Panggil Hans pada Pak Wijaya ragu.
"Apa Hans boleh kuliah di Indonesia saja....?". Tanya Hans.
"OOO...tidak Hans... kita sudah membahasnya, kamu harus kuliah di Amerika dan belajar bisnis di sini. kamu adalah pewaris papa , kamu harus segera belajar untuk mengambil alih perusahan papa". Ucap Pak Wijaya tak merestui.
"Jangan buang-buang waktu dengan hal yang tidak berguna.... , Besok Darwin akan mengantarkan berkasmu ke Jakarta. Segeralah persipakan dirimu dan ikutlah dia kembali....". Tukas pak Wijaya.
"Tidurlah... besok akan jadi hari yang panjang untukmu...". Kata Pak Wijaya mengakhiri pembicaraannya.
Hans meletakkan HPnya. Ia terdiam memikirkan sesuatu entah apa itu.....
.......
.......
.......
Terimakasih sudah berkunjung
Jangan lupa terus dukung author ya....
semangat.... semangat.... semangat....
buat kalian yang membaca
dan juga buat aku yang menulis☺️
__ADS_1