Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Beban Berat


__ADS_3

Hansel adalah putra satu-satunya dari Putri bungsu keluarga Charles Wilson, Namun diantara cucu-cucu dari ke empat putra putri Charles Wilson, dialah yang paling dekat dengan kakek dan neneknya, karna sedari kecil Hansel lebih sering tinggal bersama kakek dan neneknya saat kedua orang tuanya tinggal di Amerika mengurus bisnis kakeknya.


Stella, mama Hansel masih membujuk Hans agar mau pergi ke Indonesia dan menemui ayah serta ibunya yang tinggal di puncak Bogor. Stella sendiri sangat jarang menemui orang tuanya, karna harus mendampingi suaminya tinggal di Boston.


"Ayolah Hans... jika kau ke Indonesia pasti kakek dan nenek mu akan senang dan berhenti meneror mama...". Stella mengeluarkan jurus memelasnya, agar Hansel mau menuruti keinginannya.


"Baiklah ma akan aku pertimbangankan terlebih dulu..., pekerjaanku sangat banyak dan mendesak... jika aku tinggalkan ke Indonesia maka aku tidak yakin bisa berjalan dengan baik di sini...". Hansel melancarkan alasan-alasan yang bisa membuatnya tidak pergi ke Indonesia.


"ada Papa mu di sini.. juga ada Steve yang membantumu... apa kau lupa Thomas juga sudah ikut membantu di Wijaya Corp sejak sebulan lalu....". Mama Hansel bersikukuh.


Thomas adalah sepupu Hansel, putra dari pamannya Matheo Wilson. Thomas membantu mengurus Wijaya Corp atas permintaan Danu Wijaya, meski papa Thomas juga memiliki perusahaan namun ia lebih memilih bekerja di perusahaan Wijaya sambil belajar kepada pamannya tersebut yang sudah terkenal sangat ahli dalam bidang bisnis sehingga bisa menguasai bisnis di dunia.


"baiklah...baiklah... akan aku pertimbangkan...". Akhirnya Hansel menyerah memberikan alasan pada mamanya, wanita cantik yang sudah berumur separuh abad itu memang ahli dalam menaklukkan hati kedua laki-laki nya itu.


"Berarti kau sudah setuju ...". Wajah mama Hansel berbinar, menganggap putra semata wayangnya itu sudah setuju.


"Ma... aku bilang aku akan mempertimbangkan dulu...". Hans mulai mendengus ke arah mamanya.


Sesaat kebisuan hadir diantara mereka, situasinya cukup panas, semua bersikukuh dengan pemikirannya sendiri.


Sebenarnya Hans sangat sulit mencari celah untuk menolak keinginan mamanya.


Hans masih berdiam diri di atas sofa, sedangkan tangannya memainkan bolpoint yang diambil dari saku jasnya. Hansel tak merespon ucapan mamanya.


Pikirannya melayang kedalam angan-angannya.


Indonesian menjadi daftar tempat yang tidak ingin dia kunjungi. Hans belum bisa melawan rasa penyesalannya. Terlalu banyak berandai-andai.


Seandainya saja waktu dapat ia putar kembali ke masa ia baru lulus dari SMA, seandainya ia tidak pergi, seandainya ia mengatakannya waktu itu.... seandainya dan seandainya yang tidak berujung.


"Hans.... papa ingin membicarakan sesuatu dengan mu...". Tuan Danu Wijaya mengembalikan fokus Hans pada dirinya.


"apa itu pa...?". Tanya Hans.


"kau tahu, Bramantyo yang menjabat CEO di perusahaan kita Brilian Corp....". Hans mengingat nama yang baru saja di sebutkan oleh papanya. Sedetik kemudian ia mengingat nama itu adalah sahabat papanya sejak kecil, yang menjabat sebagai CEO di perusahaan briliant Corp, perusahaan papanya di Indonesia.


Bramantyo juga menjadi salah satu pemegang saham di sana.


"Ya aku ingat....". Hansel menemukan memorinya tentang Bramantyo.

__ADS_1


"dia meninggal dunia dua Minggu yang lalu... Belum ada pengganti untuknya di sana... dan dewan direksi memintaku untuk menunjuk Putraku, yaitu kau agar mau menggantikannya menjabat sebagai CEO di Briliant Crop....."


"Aku rasa kamu juga sudah mampu menangani perusahaan di sana... kamu sudah lulus tes jabatan, saat menjabat sebagai Direktur Utama di Wijaya Corporation ini selama 2 tahun...".


"Papa yakin... kamu bisa membawa Perusahaan kita di Indonesia semakin maju dan berkembang di berbagai sektor....".


"Ingatlah.... di sana banyak karyawan dan juga pekerja yang bergantung kepada perusahaan kita....


bukan hanya untuk memperkaya diri...


tapi kita juga harus menciptakan lapangan pekerjaan untuk banyak orang...".


"Itu berarti aku harus meninggalkan Amerika...?


Dan aku harus tinggal di Indonesia....". Keputusan papanya kali ini membuatnya terkejut.


Selama ini Papa dan Mamanya ingin Hans dekat dengan mereka, namun kali ini mereka ingin Hans, kembali ke Indonesia bahkan mungkin tinggal di sana jauh dari kedua orang tuanya.


"Hans... dulu kami mengkhawatirkan mu karna kau masih kecil, lagi pula kau adalah anak kami satu-satunya... jadi pantaslah kami mengkhawatirkan mu, tapi sekarang kau sudah dewasa....,


dan juga kau tahu kan, kakek nenekmu membutuhkan mu berada dekat dengan mereka...". Mama Hansel mengelus pundak putranya itu sambil mengatakan permintaannya dengan memelas.


Hansel berfikir sejenak.


"Baiklah aku akan pergi ke Indonesia, tapi tidak sekarang... Beri aku waktu untuk menyelesaikan tugas ku di sini .... dan semua pekerjaanku akan ku serahkan kepada Thomas, setidaknya sebelum aku pergi dia harus mengetahui apa saja yang harus dia kerjakan,.... Jadi jika nanti aku berada di Indonesia Aku tidak memikirkan pekerjaanku di sini....". Hansel akhirnya menyerah dengan berat Hati.


Nampaknya ia harus berdamai dengan dirinya sendiri.


"Baik kalau itu mau mu...


lakukanlah... tapi jangan berlama-lama... kekosongan jabatan CEO Di perusahaan kita di Indonesia sangat tidak menguntungkan semua pihak...


Setiap keputusan yang diambil harusnya dilakukan dengan cepat....


Akan ada banyak hal yang terbengkalai


Kau paling tahu akan hal itu Hans...". Hans sangat tahu, bahwa sebenarnya dia tidak memiliki dirinya seutuhnya.


Sejak kecil kakeknya mendidiknya agar bisa menjadi penerus perusahaan keluarganya. Meski keluarganya tidak pernah memaksakan Hans harus mau melakukan semua hal, tetap saja ia harus melakukannya demi keluarganya.

__ADS_1


"Papa mempercayakan semuanya kepadamu...". Rasa percaya dan harapan papanya sebenarnya adalah beban terberat baginya.


"Aku akan berusaha yang terbaik….". Ucap Hans memandang papanya yang tengah menatapnya lembut.


"Oh ya Hans… Apa kau menghadiri pesta nanti malam...". Mama Hans menepuk punggung Hans pelan, bertanya pada putranya yang masih terpaku dengan dirinya sendiri.


"ya... sepertinya begitu ma.... tadi aku sudah menyuruh Steve menyiapkan hadiah untuknya, tapi aku bingung harus memberikan apa...". Hans memang tidak mengetahui karakter Frank Adamson, ia jarang sekali berinteraksi dengan lelaki 51 tahun itu di dunia bisnis.


"Kau harus datang Hans...


di sana akan hadir para pengusaha dari seluruh dunia karena hari ini adalah hari ulang tahun pengusaha yang paling disegani di seluruh dunia....


aku rasa itu akan sangat baik bagi karirmu nanti...".


"kau tak perlu bingung dengan apa yang harus kau bawa... dia akan menerima apa saja yang kau berikan, jika itu bagus maka dia akan melelangnya...". Ucap Danu Wijaya. Dari nada bicaranya terdengar sedikit mencibir kebiasaan Frank Adamson.


"Aku pernah mendengar ia melelang berbagai hadiahnya pemberian teman-temannya... kemudian ia akan menyumbangkan hasilnya ke panti asuhan dan dinas sosial agar lebih bermanfaat....". Hansel mengatakan hal yang ia tahu tentang seseorang yang belum ia kenal yang mengundangnya ke pesta ulang tahunnya nanti malam.


"Tentu saja.... dia sangat baik Hans, ia dermawan...


Dia menjadi penyandang dana di setiap kegiatan sosial, karna itu banyak kalangan membicarakannya, semua itu karna kebaikannya...". Mama Hans bersemangat dan juga berbinar saat menceritakan sekelumit sifat Frank Adamson kepada putranya.


Berbeda dengan mama Hansel yang terlihat bangga kepada Frank Adamson, justru papanya terlihat sangat kesal, saat mamanya menceritakan tentang Frank Adamson.


Sebuah pertanyaan yang terbesit di benak Hansel, melihat sikap Papanya yang tidak biasa.


.........


...~ Next Episode ~...


.......


.......


.......


Terimakasih sudah berkunjung 🙏


yuk komen biar author semangat terus nulisnya...🤭

__ADS_1


🌹☕💯✍️👍😍


__ADS_2