
.........
Pagi ini, Setelah pulang dari kegiatan Study Tour, Asya pulang ke rumah sederhananya.
Tas abu-abu masih bertengger setia di punggungnya.
Tidak seperti teman-temannya yang membawa banyak oleh-oleh, Asya hanya memasukan sebuah buku catatan dan juga dompet di tasnya. Isinyapun tak sebanyak isi dompet teman-temannya, karna Ia hanya membawa 2 lembar seratus ribuan sisa membayar uang study tour tempo hari.
"Selamat pagi Mama.....". Sapa Asya yang baru memasuki rumahnya dengan senyum seceria mungkin.
"Selamat pagi Asya....". Sambut Rosila, mama Asya.
Wanita berambut pendek dengan kulit putih selalu siap setiap pagi, menemani pagi putra putrinya, menyayanginya dan menjaganya sepeninggal ayah Asya dan Arsya.
yachh... Asya menuruni kecantikan ibunya, wanita keturunan Jerman yang menikah dengan Pria Indonesia, dan Asya mewarisi keuletan dan keteguhan ayahnya ketika menjalani sesuatu.
"Selamat pagi kak Asya cantik...". sambut Arsya Atmaja yang diam-diam merindukan kakaknya setelah tiga hari ditinggal Study Tour.
"pagi juga bocil...". Goda Asya sambil mengacak rambut Arsya.
"mana oleh-olehnya...". Tanya Ar dengan senyum jahilnya.
"kagak ada....". jawab Asya sambil mendekati Ar, mengambil makanan Ar.
"Idih tangannya cibi marukochannnnnn....". teriak Arsya, geram dengan tingkah kakaknya yang pergi sambil menyebet roti dari tangan Arsya.
Ar memang sering memanggil kakaknya dengan nama salah satu karakter film kartun Jepang itu. Menurutnya Asya dan Maruko sama -sama pembuat masalah.
"emmmmmm...... enaknya......". Goda Asya yang menikmati roti kesukaan Arsya dengan paksa.
"sudah... sudah... mama buatkan lagi Ar, biarkan kakak mu memakannya... hanya sebuah roti...". mama melerai Asya dan Ar yang akan memulai pertarungan sengitnya di meja makan seperti pagi-pagi sebelumnya.
Dengan sigap Mama Rosila membuatkan roti dengan lapisan selai coklat kacang kesukaan Ar, kemudian menyajikannya kembali di piring Ar.
.........
Asya begitu lega bisa melihat kasur kesayangannya. Meski hanya berukuran 180 x 100 Cm, namun kasur ini yang selalu menemani Asya disaat terlelahnya. Tidak empuk memang, tapi cukuplah untuk menjadi sandaran lelahnya.
"ahhhhhh......". Asya menjatuhkan badannya yang masih memakai seragam lengkap ke kasur kecilnya.
"capek sekali, rasanya badanku pegal-pegal.... Tidur saja sebentar sebelum jam kerja masuk". Gumam Asya sambil memejamkan matanya.
Asya merasa lelah dan mengantuk. sepanjang perjalanan Ia hanya pura-pura tidur, memikirkan hal yang tidak-tidak.
Bagaimana mungkin benar-benar ada jeruk makan jeruk???.
Bahkan selama ini dia hanya tau berita-berita pergaulan bebas dari temannya yang suka bergosip, tapi kali ini, dia menjadi incaran jeruk limau... "ohhhh tidak... ". pekik Asya dalam hatinya.
Tidak mungkin terjadi, Ailen teman perempuannya yang duduk di belakang Asya selalu mengatakan jika pisang Ambon pacarnya adalah yang terlezat...
awalnya dia berfikir itu adalah pisang Ambon sebenarnya, sebelum Asya tau dengan mata kepalanya sendiri ketika Ailen tengah menikmati pisang Ambon pacarnya di Cafe tempat mereka nongkrong.
Ailen dan Friendly kekasihnya memang menganut gaya pacaran yang bebas. Dua anak blasteran itu bahkan tak ingat jika mereka tinggal di negara timur.
Pikirannya terlalu rumit mengingat hal itu.
Asya terdiam, menatap langit-langit dan masih sibuk dengan pemikirannya.
"Apakah aku memang tak menarik???.... sama sekali !!!!". Pikir Asya, meyakinkan dirinya sendiri.
"kenapa sampai 18 tahun aku masih saja belum punya kekasih ???".
__ADS_1
"kenapa malah ondel-ondel itu yang ingin aku menjadi kekasihnya".
"Bagaimana caranya melakukannya ........ ?????". gumam Asya dalam hati yang kembali bermunculan pikiran-pikiran aneh tentang kaum belok.
"mereka saja menganggap aku bukan anak perempuan...., !". Arsya mengingat setiap perkataan Dino dan Davin.
"apa se tidak cantik itu aku ini...???? ". Makin bermunculan pertanyaan-pertanyaan konyol dipikiran Asya yang meragukan dirinya.
Pikiran-pikiran itu tak hentinya terngiang di kepala Asya, hingga Asya tertidur karna lelahnya.
.........
Jam di dinding sudah menunjukan pukul 10.30. Sudah tiga jam lebih Asya membaringkan tubuhnya di kamar.
"Sya... Sya .... bangun". Panggil mamanya sambil menggoyangkan badan Asya.
"ehhmmmm....". Asya menggeliat terbangun dari tidurnya.
"iya ma... sebentar lagi, Asya belum waktunya bekerja". rengek Asya yang memutar tubuhnya menjadi tengkurap, enggan bangun dari tidurnya.
"Sya... ada Chatrin di depan mencarimu... ayo bangun dulu". Ucap mama Rosila membangunkan Asya.
"Chatrin....!". Asya membuka matanya sedikit.
"iya Chatrin..., teman mu... sepertinya dia sedang tidak baik Sya, cepat keluarlah...". Pinta mama.
"ogah ah ma..., bilang aja Asya ga ada. Asya males ketemu dia". Jawab Asya menolak.
"kamu kenapa sih Sya???..., ga baik kayak gitu, kalau ada masalah selesaikan baik-baik. Kalian kan teman, kenapa harus begini???...,
ayo bangun dulu, temui dia !". suruh mama sambil menarik tangan Asya agar anak gadisnya itu mau bangun dari tidurnya.
"iya...iya... ma...iya... Asya temuin dia...". Asya berdiri, lalu berjalan keluar kamarnya.
.........
Chatrin memandang Asya yang berdiri di pintu dengan sikap yang tetap cuek dan malas melihat keberadaan Chat.
.........
"ngapain Lo ????". Tanya Asya dengan ketus.
"Sorry Sya aku ganggu kamu, tapi biarkan aku menjelaskan semuanya supaya tidak semakin buruk kayak gini ...". Cath memohon kepada Asya dengan setulus hati.
Asya terdiam sejenak. Menimbang perkataan Chat.
"Cepetan... gua mau kerja...". ucap Asya memberi kesempatan pada Cath, melihat kesungguhan hati Cath.
"Sya....". Chat ragu memulai pembicaraan. Sedangkan Asya di depannya memasang wajah malas meladeni Chatrina.
"Sya... kamu harus denger ini baik-baik...
aku memang sangat menyukai kamu,
bahkan menginginkanmu menjadi pasanganku, kekasihku...". Chat mulai berbicara sedangkan Asya hanya mengerutkan alisnya mendengar penuturan Chat, tapi tetap diam menunggu Chat melanjutkan pembicaraannya.
"Kamu ga bisa ngelarang aku untuk tidak menyukai kamu Sya...,
kamu juga tidak berhak menyuruh aku berhenti untuk menyukai mu...
__ADS_1
sepenuhnya itu hak aku". Suara Chatrin bergetar.
"kamu boleh nolak aku karna itu adalah hak kamu, tapi aku mohon sama kamu Sya...,
jangan menjauh dari aku". Chat kembali memohon pada Asya karna permintaannya kemarin tak dijawab oleh Asya, bahkan Asya meninggalkannya begitu saja di bawah rindangnya pohon.
Asya masih berdiri mematung, mencerna setiap ucapan Chatrin.
"Aku tahu aku salah Sya, tapi ini pilihan aku. Urusan ku dengan Tuhan biar aku yang menanggung". Chatrin melanjutkan penjelasannya.
"Sya, aku mau kita tetap seperti sebelumnya. Aku ga akan ganggu kamu dengan perasaanku, aku mau kita tetap jadi teman Sya...". Chatrin semakin memohon kepada Asya.
"Aku juga ga mau punya perasaan kayak gini Sya, aku ga mau jadi begini... tapi .... ". Kata-kata Chat terhenti mengingat pahitnya kenangan yang mendorong dia tidak mempercayai laki-laki manapun.
Tangisnya pecah, menyayat hati Asya.
Hati Asya tergetar melihat Chatrin menangis tergugu. Hatinya melunak, mencoba memahami apa yang dirasakan oleh Chatrin.
"huffttttt.....". Asya membuang nafasnya kasar.
"Chat, aku tau itu hak kamu tapi ingat itu ga baik.
Berubahlah....,
aku ga akan mengatakan kepada siapapun, kamu bisa percaya sama aku". ucap Asya mencoba menenangkan tangis Chatrin, ia tak mau membiarkan Mama Rosila mendengar percakapan mereka.
"kita bisa berteman seperti sebelumnya, dan aku ga akan memberi tahukan kepada siapapun. Tapi tolong, hentikan kekonyolanmu, aku ga suka". Lanjut Asya mengajukan persyaratan pada Chatrin.
mendengar kata-kata Asya, seketika wajah Chatrin menjadi sumringah. Serasa beban berat sedari kemarin luluh lantah dengan kata-kata Asya.
"Sungguh... Sya ???? bener.... !". pekik Chat tak percaya.
"iyaaaaa.....". Jawab Asya malas menanggapi Chat.
"trimakasih Sya... trimakasih....". Chat melompat memeluk Asya kegirangan.
Namun dengan cepat Asya menampik pelukan Chatrin karna masih merasa risih dan geli ketika mengingat Chatrin menyatakan perasaan padanya.
Asya memutar bola matanya, terheran melihat betapa bahagianya Chat.
Sedangkan Chat yang hatinya sungguh merasa lega, tak hentinya mengucapkan terimakasih dengan derai air matanya yang mematikan siapapun yang melihatnya.
Asya berusaha memahami posisi dan keadaan Chatrin tapi Asya tidak bisa menerima perasaan Chatrin.
Dalam diam dia berjanji akan membantu Chat untuk kembali kepada jalan yang semestinya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...~ next part ~...