
"Ting....". Suara khas dari dentingan lift yang sudah sampai di susunan ruangan, dari gedung bertingkat, menandakan si kotak besi berisi manusia didalamnya sudah sampai di lantai tujuan.
Pintu lift khusus untuk para elit persahaan telah terbuka, seseorang melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, didampingi oleh seorang lagi yang melangkah dibelakangnya. Derapan langkah kakinya begitu tegas, berat dan berwibawa.
Tubuhnya berjalan tegap dengan wajah kaku, khas orang dari kalangan suhu dingin. Bukan dari kutub Utara ataupun kutub selatan, namun orang-orang suhu dingin tanpa ekspresi dan introvert. Itu lah yang didapat dari sudut pandang orang-orang di sekitar Antonio Hansel Wijaya dan juga pandangan dari para pegawai yang melihat Direktur utamanya melontar di depan ruangan mereka.
Sang Direktur Muda itu sungguh tegas kepada setiap pekerjanya. Ia menerapkan disiplin tinggi, dan terkenal tepat waktu juga tepat janji. Sedikit saja melakukan kesalahan itu akan membuatnya tanpa pikir panjang mengeluarkan pegawainya karna dianggapnya tidak bertanggung jawab.
Hansel menuju lorong-lorong di lantai 25, tempat ruang kerjanya berada. Ruang kerja mewahnya berada di ujung dideretan ruang para direksi.
"Selamat pagi Tuan Antonio...,
selamat pagi Tuan Steve...". Hansel menghentikan langkahnya saat seorang wanita beranjak dari duduknya setelah melihat kedatangan Hansel di depan ruangan kantornya.
"Selamat pagi Clarissa.... ". Hansel membalas sambutan Clarissa, wanita cantik seusianya yang sejak lima belas menit yang lalu menunggunya didepan ruang kantor Hansel.
"Selamat Pagi nona Clarissa...". Jawab Steve hampir bersamaan dengan Hansel.
"Maaf Tuan Antonio..., Tuan Wijaya meminta anda untuk datang ke ruangannya...".
"Papa di sini....". Tanya Hansel pada Clarissa, sekretaris papanya.
Tuan Wijaya memang jarang datang ke kantor di New York, ia lebih suka berkantor di Boston mengawasi perusahaan barunya di bidang olah raga.
Boston adalah ibu kota dan kota terbesar di Massachusetts di Amerika Serikat; berdiri 1630 sebagai koloni utama Perusahaan Teluk Massachusetts. Boston juga adalah ibu kota dari wilayah tidak resmi New England. Kota ini salah satu kota tertua dan terkaya di A.S., dengan ekonomi berbasis di pendidikan, perawatan kesehatan, keuangan, dan teknologi tinggi. Nama julukannya termasuk "Beantown", "The Hub", dan "Atena Amerika", karena pengaruhnya terhadapa budaya, intelektual, dan politik.
"Benar Tuan Antonio... Tuan Wijaya menunggu anda di ruangannya...". Clarissa menjawab pertanyaan Hansel.
"Baik... sebentar lagi aku akan kesana....". Hansel menyanggupi mendatangi papanya yang sedang berkantor di perusahaan Wijaya Corp di New York.
"Baik tuan.... kalau begitu saya permisi... ". Clarissa berpamitan, kembali ke ruangan Tuan Wijaya tempatnya bekerja.
"Silahkan...". Hansel memberi jalan.
"Mari Tuan Steve....". Clarissa meberpamitan juga kepada Steve saat melewatinya.
Hansel melanjutkan langkahnya memasuki ruang kerjanya. Ia melangkah ke arah kursi kebesarannya. Ia mendudukkan diri di kursinya, berputar kearah Steve berdiri menunggu Hansel siap dibacakan jadwalnya hari ini.
"Apa saja Acara ku hari ini Steve...?". Hansel mengangkat wajahnya kearah Steve, menanyakan jadwalnya hari ini.
"Tuan Antonio..., pagi ini anda akan menemui tuan Wijaya, setelah itu anda ada rapat dengan bagian pemasaran jam 10.
Jam 1 anda ada acara makan siang dengan investor dari Dubai, nanti malam ada undangan ulang tahun dari Tuan Frank Adamson....". Steve membacakan jadwal kegiatan yang harus Hansel lakukan mulai dari pagi hingga malam nanti.
"lumayan padat...". Hansel mengangkat alisnya menelaah setiap jadwal panjangnya.
"Apa yang ingin anda berikan untuk hadiah ulang tahun tuan Frank...?". Steve mengingatkan Hansel yang belum menyiapkan hadiah untuk Frank Adamson, salah satu kliennya yang akan berulang tahun ke 51 tahun.
__ADS_1
"aturlah apa yang harus diberikan kepadanya...
aku akan datang, ikutlah denganku...!". Hansel memberikan tugasnya pada Steve untuk memilih hadiah yang akan di bawanya nanti malam ke pesta ulang tahun Tuan Frank.
"baik tuan.... ". Steve menurut.
"Aku akan pergi keruangan papa... tolong heandle dulu pekerjaan di sini...". Hansel beranjak dari duduknya.
"baik tuan....". Ucap Steve mengerti.
Hansel berdiri merapikan Jasnya yang sedikit berantakan, karna ia baru saja duduk bersandar di kursinya. Ia beranjak dari tempatnya berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang kerja Papanya yang berada di lantai 26.
"Tok...tok...tok...". Suara ketukan di permukaan pintu berbahan kayu menggema di ruangan Tuan Wijaya.
"Masuk....". Suara bariton menjawab dari balik pintu.
"Hai... Boy...". Tuan Wijaya merentangkan kedua lengannya, menyambut kedatangan Hansel .
"Bagaimana kabar mu....". Tanya tuan Wijaya yang sudah beberapa bulan ini tak bertemu dengan putra semata wayangnya itu.
"Selamat pagi Pa...". Hansel membalas pelukan papanya.
"aku baik-baik saja... bagaimana kabar Papa...". Kabar baiknya disampaikan Hansel disela pelukannya pada tuan Wijaya.
"Hai... ma....". Hansel menyapa wanita cantik yang duduk berhadapan dengan papanya, wanita itu sedang berdiri, gemas melihat ketampanan Hansel yang semakin bertambah dari Hari ke hari.
"Dasar anak nakal... apa kau tidak merindukan mama... kenapa tidak pernah mengunjungi mama...? apa kau tidak merindukan mama lagi...". Stella Wilson, wanita paruh baya yang cantik itu memeluk putranya dengan terus mengomelinya dalam pelukannya.
"kau selalu saja beralasan dengan pekerjaan mu...". Stella Wilson merajuk pada putranya.
"apa kau menunggu tidak ada pekerjaan baru akan mengunjungi mama...". Imbuh Stella yang merasa kesal, karna sudah hampir 8 bulan Hansel tidak mengunjunginya di Boston.
"Sudahlah sayang... dia sudah dewasa... jangan kau perlakukan dia seperti bayi...". Ucap Tuan Danu Wijaya melerai ibu dan anak yang tengah berdebat di depannya.
"Tentu saja dia tetap bayi kecilku Pa...". Stella Wilson selalu saja menganggap Hans masih bayi kecilnya dulu.
"Harusnya dia sudah memberikan kita bayi sebagai penerus keluarga Wijaya Ma....". Ucap tuan Danu Wijaya terkekeh mendengar penuturan istri tercintanya.
"Papa ini bicara apa...". kilah Hansel atas perkataan Papanya.
"Iya papa mu benar... seharusnya kau sudah memberikan kami bayi sebagai penerus mu..., lalu kapan itu masuk dalam list perencanaan mu Hans...?". Stella Wilson membenarkan.
"Mama... tapi aku belum menikah... mana mungkin bisa memiliki bayi...?,
kalian berdua ini ada-ada saja....". Hansel merasa jengah dengan mamanya yang selalu saja meminta hal-hal aneh darinya.
"Kalau begitu cepatlah menikah Hans..., kau sudah cukup umur untuk menikah...". salah satu permintaan mama Hansel yang tengah diutarakan.
__ADS_1
"aku belum siap menikah ma... ". Jawab Hansel mantab.
"lalu kapan kau akan siap... ?". Tanya Stella Wilson.
"apa kalian ingin bertemu karna mau membahas ini ?....". Hansel duduk di sofa ruang kerja tuan Wijaya, menyandarkan tubuhnya untuk mengurangi beban berat dari pertanyaan mamanya kali ini.
"tentu saja tidak Hans....". Tuan Danu Wijaya mulai memahami jika Hans tengah terpojok.
"Hans... Sabtu ini pulanglah, akan ada makan malam keluarga di rumah..., Mama mu menyempatkan kesini karna ingin mengatakannya langsung kepadamu... dia terlalu bersemangat, jadi jangan terlalu kau pikirkan....". Tuan Wijaya memberitahukan acara makan malam yang akan dilaksanakan di Boston Sabtu depan.
"Ok... pa akan ku usahakan pulang Sabtu ini...". Hans menyanggupi kedua orang tuanya agar berhenti mencecar dengan permintaan-permintaan aneh lainnya.
"Bagaimana Proyek barumu dengan Tuan Charles...?". Tuan Wijaya mengalihkan pembicaraan, saat melirik istrinya mengambil tempat duduk di samping Hans di sofa.
"Kami sudah menemukan kesepakatan, dan akan memulainya pembangunan apartemen itu secepatnya... bulan ini akan diadakan survei lokasi untuk memastikan seberapa sesuai perencanaan dengan aplikasinya nanti...". Hansel menjawab pertanyaan ayahnya yang sedang duduk kembali di kursi kerjanya.
"bagus... aku percaya kau mampu melakukannya...". ucap tuan Wijaya.
"Apa kau akan ke Indonesia Hans...?". Mama Hansel menyela pembicaraan ayah dan anak.
"Entahlah Ma... banyak sekali pekerjaan ku di sini... kemungkinan Steve akan pergi mensurveinya...". Jawab Hans.
"Aku tidak setuju Hans... ini proyek pertama Mu yang akan diluncurkan di luar Amerika... kau harus memastikan semua sesuai dengan rencana dan pengerjaannya tepat sasaran... itu bisa kau lakukan jika kau sendiri yang mensurveinya...". Ucap Tuan Wijaya kepada Hans.
"jika kau ke Indonesia... bukankah itu kabar gembira bagi nenek dan kakek Mu... kau sudah sangat lama tidak ke Indonesia... ". Imbuh Stella Wilson membenarkan.
"Jangan katakan itu pada kakek Ma... atau dia akan menyuruh ku ke Indonesia sekarang juga...". Hans takut tidak bisa beralasan pada permintaan kakeknya.
"Tentu saja tidak, mama sudah hafal dengan sifat kakekmu... apalagi dia sangat merindukanmu boy..., sudah empat tahun kau tidak mengunjungi mereka...". ucap Stella Wilson.
"Setiap kali telepon mereka selalu saja marah-marah... mereka berpikir jika mama menahan mu disini, agar tidak pulang ke Indonesia... agar mama tidak jauh-jauh dari mu....". Stella Wilson terkadang kesal pada ayah dan ibunya, padahal selama di Amerika Hans tidak pernah tinggal bersama mereka. Hansel lebih memilih tinggal di apartemen.
.........
...~ Next Episode ~...
.......
.......
.......
Trimakasih sudah berkunjung ๐
jangan lupa dukung author terus yaaaccchhh
๐๐๐๐โ๏ธ๐ฏ๐นโ๐ฅ
__ADS_1
Salam manis dari author amatiran ๐คญ๐คญ
.........