Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Seorang Laki-laki


__ADS_3

"Halo bibi Emy.... apakah Stella di sana". Danu menelpon kediaman Charles Wilson, ia sangat hafal suara wanita yang mengangkat telepon diserang sana. Itu adalah maid di rumah mewah Charles Wilson.


"Halo tuan muda... maaf tapi nona Stella tidak datang kemari..., apakah ada yang bisa saya bantu...". Bibi Emy merasa heran ketika suami nona mudanya itu mencari nonanya di rumah megah ini.


"ooooo... baiklah... jika ia kesana tolong katakan aku mencarinya....". Suara Danu terdengar kecewa, saat mengetahui istrinya tidak berada di kediaman Ayahnya.


"baik tuan muda... nanti jika nona Stella datang kesini akan saya sampaikan....". Bibi Emy meletakkan gagang teleponnya setelah Danu mengucapkan terimakasih kepadanya.


Setelah mengetahui Stella tak berada di rumah orang tuanya, perasaan Danu semakin kalut. Ia menyesali panggilan berkali-kali dari Stella yang ia abaikan. Saat ini Ia bingung harus mencari Stella kemana.


Secercah harapan terpancar di wajah Danu. Ia berlari ke arah lift, namun sialnya lift ini sedang meluncur ke lantai bawah. Ia berlari menuju tangga darurat, dengan cekatan Danu menuruni tangga yang memiliki ratusan anak tangga, karna apartemen Danu dan Stella terletak di lantai 13.


Danu tak merasakan lelah karena didalam hatinya hanya ada rasa cemas dengan keadaan Stella.


"Hosssshhhhh.... Hosssshhhhh....". Danu sampai di lobi apartemen dengan nafas tersengal-sengal.


"Ada yang bisa saya bantu tuan....". Seorang security di apartemen mewah itu terheran melihat kedatangan Danu Wijaya yang tergesa-gesa.


"Hai... Mark... apakah tadi anda melihat istri saya keluar dari apartemen....?". Danu berkacak pinggang dengan tubuh setengah membungkuk, ia mencoba menetralisir degup jantungnya yang terpompa cukup kencang.


"Istri anda.....". Seorang pria berbadan gempal dan tinggi, menyambut kedatangan Danu dengan heran. Pasalnya pengusaha muda, menantu dari Charles Wilson itu terlihat berantakan.


"O...ya... tadi siang aku melihatnya di papah oleh seorang laki-laki keluar dari apartemen... aku melihat sepertinya dia sedang lemah dan menahan sakit... ". Mark menceritakan apa yang ia lihat tadi siang.


"apakah istri Anda sedang sakit...?". Mark bertanya kepada Danu yang terpaku mendengar ceritanya.


"Iya... tadi pagi dia mengeluh sakit, tapi tidak separah itu...". Danu menjawab sambil berfikir tentang seseorang yang bersama istrinya.


"lalu apa kau mengenal laki-laki itu....". Danu bertanya pada Mark.


"Aku belum pernah melihatnya disini... aku kira itu saudaranya....". Ucap Mark


"Baiklah Mark... trimakasih....". Danu pergi dari hadapan Mark.


"Sama-sama tuan Danu...". Jawab Mark sebelum Danu beranjak dari tempatnya berdiri.


Danu Wijaya berjalan gontai tak tentu, menuju ke arah lift, macam-macam pikiran berkelebat di benaknya.

__ADS_1


"Stella pergi bersama laki-laki, siapa dia...


kemana sebenarnya dia pergi


apakah dia baik-baik saja...


oh... Tuhan... bagaimana ini....". Gumam Danu menyesal.


Danu Wijaya kembali ke kamar apartemennya, ia berjalan lunglai kearah lemari pendingin, membuka pintu kulkas, dan mengambil sebotol minuman dingin. menutup pintunya kembali dan Ia meneguk minumannya pelan, menghilangkan dahaga yang mendera di kerongkongannya.


Ia meletakkan botol diatas meja makan dihadapannya. Danu Wijaya kembali mengambil Handphone di saku jasnya.


"tuuuuuuttt..... tuuuuuuttt....". Terdengar nada menyambungkan dari panggilan telepon seluler Danu.


"Halo....". Suara laki-laki terdengar di sebrang sana, menjawab telepon Danu, tapi ia yakin itu bukan Charles ayah Stella, juga bukan Nicolas, ataupun Stuart kakak Stella.


"Halo... siapa ini....? mana Stella....?". Emosi telah menguasai hati dan pikiran Danu, rasa cemasnya membuat akal sehatnya dilupakan dalam sekejap.


"maaf tuan Danu Wijaya dengarkan aku dulu....". Laki-laki itu menjawab pertanyaannya dengan tenang bahkan terdengar sangat santai. Jelas, Danu Wijaya tidak mengenal suara itu, pria itu menggunakan bahasa Inggris gaya orang Amerika latin. Tapi laki-laki itu memanggil nama lengkapnya dengan baik.


"Siapa kau... kenapa kau tahu siapa aku...". Danu Wijaya menaikkan nada bicaranya.


"Baiklah aku akan kesana....". Danu Wijaya menutup telponnya begitu saja. Ia menyabet kunci mobil yang ada di atas meja makan, lalu berhambur keluar Apartemennya.


Danu melajukan Mobil membelah kota New York yang ramai.


Mobil Danu Wijaya sampai di lobi rumah sakit yang memiliki reputasi baik dalam menangani setiap pasiennya. Rumah sakit itu lebih mirip seperti hotel berbintang. Bangunannya sangat megah dihiasi dengan lampu-lampu indah di pintu masuknya serta bangunan yang hampir semuanya berwarna putih itu terlihat begitu mewah.



Danu Wijaya memberhentikan mobilnya diarea parkir, ia berlari ke menuju Resepsionis rumah sakit, ia menanyakan kepada wanita cantik berbaju putih di belakang meja itu dimana kamar istrinya berada.


Danu Wijaya bergegas menuju ruangan operasi.


Saat mendengar Ruang Operasi, sebenarnya Danu tak sanggup lagi untuk berdiri, sendi-sendinya terasa lemas, ia tak ingin lagi berfikir buruk, meski kenyataan pahit sudah berada di depan matanya.


Setelah menaiki lift, ia sampai di depan ruangan dimana Stella melakukan operasi.

__ADS_1


Danu Wijaya berdiri terpaku memandang pintu kamar operasi yang masih tertutup, matanya terasa panas seakan ingin mengalirkan kesejukan dari sudutnya. Tenggorokannya tercekat saat akan memanggil nama Stella yang mungkin saat ini tengah berjuang di dalam sana.


"Rupanya kau melewatkan saat-saat penting dalam hidupnya Tuan Danu Wijaya....". Suara bariton itu tiba-tiba saja menggema di depan ruang operasi.


Danu Wijaya mengerutkan dahinya, ia tak mengenali suara ini, tapi ia tahu suara ini sama dengan suara pria yang mengangkat panggilannya di Handphone Stella tadi.


Danu Wijaya memutar tubuhnya kebelakang, ia melihat laki-laki yang setinggi hampir seperti dirinya, berkulit kecoklatan dengan mata coklat dan wajah yang lumayan tampan.


"Kau mengenalku...?". Danu Wijaya menyatukan alisnya.


"Ha... ha.... ha...". Tawa menggema keseluruh penjuru ruangan.


"Tentu saja... Siapa yang tidak mengenal pengusaha muda yang tengah menjadi sorotan...., menantu kesayangan Charles Wilson... ". Ucap lelaki disela tawanya yang menggelegar.


"Pantas saja Charles Wilson menjadikanmu menantu kesayangannya... ternyata kau memang bisa diandalkan untuk mengurus perusahaan..."


"sepertinya pekerjaan dan kedudukan mu saat ini bisa membuat mu lupa kepada istrimu....". Mendengar ucapan lelaki yang berdiri di hadapannya, Danu merasa dihantam batu besar di hatinya


"aku tidak melupakannya....". Ucap Danu tak kalah tegas.


"tentu saja kau tidak melupakannya....


tapi kau meninggalkan nya.....


kau tahu.... sedikit saja aku terlambat pasti nyawanya tidak akan tertolong...". Ucapan pria itu membuat mata Danu membola. Danu terkejut sekali dengan kata-kata pria yang sama sekali tidak ia kenal. Bagaimana mungkin nyawa Stella dalam bahaya.


.........


...~ Next Episode ~...


.......


.......


.......


terimakasih sudah berkunjung 🙏

__ADS_1


jangan lupa dukung author terus yaaaccchhh


dan ramaikan lapak author dengan komentar kalian semua...🤭 biar author ga kesepian☺️


__ADS_2