Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
HOODIE DAN SAPU TANGAN


__ADS_3

...***...


Asya sedang berada di kamar mandi kamarnya. Dia sedang melihat dirinya di pantulan cermin. Ia sedang gusar memandangi tanda merah di lehernya.


Kemarin Dia tak ambil pusing dengan ruam merah di lehernya itu, karna memang dia tahu itu gatal terkena ulat bulu, namun saat ini terpampang jelas jika itu bukanlah gatal karna ulat lagi, ulat mana yang akan menggigit manusia sampai sehitam itu. Bukankah itu sangat jelas, membekas lingkaran yang menghitam dan bulat seperti cap bibir.


Sudah pasti itu adalah bekas cupangan.


Tidak mungkin lagi Dia mengatakan jika itu ruam merah karna ulat, kemarin Chat dan Batris sudah melihatnya, jika hari ini mereka melihat bekas merah ini tak lagi sama dengan kemarin. Mereka sangat paham dengan hal-hal seperti ini. pasti nanti mereka akan banyak bertanya dan tak akan memberikan dia ampun, memberondong dengan berbagai pertanyaan gila karna pemikiran mereka sendiri. Apa lagi tiba-tiba Asya juga menghilang saat pesta tengah berlangsung.


“Duh….. gimana nih cara menghilangkannya….???. Asya menggosok-gosok lehernya kasar


“Sial banget sih aku…..”. Asya masih saja komat kamit di depan kaca.


“Ga mungkin kan aku terus pakai jaket bulu waktu pulang ke Jakarta….!”. gumam Asya sebal.


“Huffftttt…..”. Asya mulai kehabisan akal.


Asya melirik kearah tasnya. Ia berjalan mendekati tasnya dan mengeluarkan beberapa barang dari sana. ia melihat-lihat apa yang bisa ia gunakan untuk menutupi lehernya.


“ahhh… ga ada apa-apa… “. Asya meletakkan tasnya di atas ranjang.


“pakai apa donk…, apa biarin aja biar yang lain tahu…”. Asya mulai kehabisan akal.


“Kalau mereka tanya… gimana donk…?”. Asya ragu.


“Biarin aja ahh… gua bilang aja ini akibat perbuatan Hans….., ”. Asya mengepalkan tangannya ke depan dadanya menyemangati dirinya sendiri.


“Tapi mereka ga akan percaya sama aku.....


mereka lebih percaya sama rayap itu……..”. Semangat Asya pupus lagi.


“ahhhhhh…..”. asya mengacak rambutnya jengkel.


“ya udah deh..... aku pakek hoodie saja….".


"apa ditambah sapu tangan aja ya biar ga kelihatan….”. Batin Asya setelah tak sengaja melihat sapu tangan di meja rias.


Asya akhirnya memutuskan untuk menutupi Lehernya.


Asya mulai mengenakan Hoodienya. ia melihat ke arah cermin. Ia masih bisa melihat jejak cupangan itu dengan jelas.


Asya mengambil sapu tangan tipisnya di meja rias depannya. Dilebarkannya sapu tangan itu, lalu dibentuknya menjadi segi tiga.


Asya melilitkan sapu tangan itu ke bagian lehernya kemudian menutup kepalanya dengan topi hoodienya.


“Nah,…. lumayan ga kelihatan…. “. Senyum Asya mengembang setelah melihat lehernya tertutup rapi oleh saputangan dan hoodie.


“Sudah ah…., aku nunggu mereka didepan saja…”.

__ADS_1


Asya mengemasi barang-barangnya, dan memasukannya kedalam tas. Asya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, mencari-cari barang yang sekiranya masih tertinggal. Setelah dirasa cukup, Asya meninggalkan kamar membawa serta tasnya.


.......


.......


.......


Di ruang tamu, teman-teman Asya juga sedang berkemas, bersiap untuk pulang ke Jakarta.


Geo dan Batris memasukan barangnya ke mobil Hans yang digunakan untuk berangkat ke Puncak tempo hari.


Dino sudah duduk manis di Sofa ruang tamu Bersama Davin, memainkan smart phone di tangannya.


Pak Martin sudah tak lagi Bersama mereka, karna pak martin ikut pulang tadi pagi Bersama rombongan pak Riyan. Ia beralasan ingin cepat kembali karna Anak sedang sakit dan menunggunya.


.........


“Sya…Sudah selesai berkemas…”. Davin bertanya kepada Asya saat Asya meletakkan tasnya di Sofa.


“Sudah….”. Jawab Asya singkat.


Dino melirik kearah Asya yang baru saja duduk di sofa depannya.


“Lo… masih dingin Sya…”. Tanya Dino heran melihat Asya memakai Hoodie dan memasangkan topi hoodienya.


“emmmm…. iya gua masih kedinginan….”. Asya menjawabnya, gugup.


Hans berjalan kembali. baru beberapa langkah ia dipanggil dari arah belakang.


“Hans ni kaos lo… yang kemarin di pinjam Matheo…”. Chat memberikan Kaos kepada Hans yang sedang berhenti di depannya.


Hans memutar badannya. Melihat kearah Chat.


Chat menyerahkan Kaos Hans ditangan Hans, sebelum Hans berkata apapun.


Kemudian Chat mendahului langkah Hans menuju Ruang tamu.


Hans menyusul langkah Chat, Hans meletakkan kaos yang diberikan Chat di atas meja.


Ia melirik kearah Asya. Hans mengerutkan dahinya, Ia melihat Asya mengenakan Sapu tangan di lehernya. Hans mulai memutar otaknya bertanya-tanya, kenapa Asya sangat aneh hari ini.


Chat menoleh kearah Asya yang ada di sampingnya.


“Sya uda kamu obati apa belum…”. Tanya Chat.


“U… Udah… kok…”. Asya menjawab Chat terbata.


Asya terpaksa berbohong, mengatakan sudah mengobati gatalnya, Asya tak ingin menjadi semakin runyam urusannya.

__ADS_1


Asya menjadi salah tingkah, apa lagi saat ini ada Hans dihadapannya. Ia sulit menyembunyikan kegugupannya.


“Lihat….”. Chatrin menjulurkan tangannya hendak membuka topi hoodie Asya.


“kenapa lo pakek ini…..”. Chatrin heran melihat Asya mengenakan sapu tangan di leher. Chat akan menariknya.


“jangan….”. pekik Asya melarang.


Asya buru buru menampik tangan Chat.


“itu buat nutupi salepnya biar ga nempel kemana-mana….”. Asya beralasan.


“ooooo… baguslah…”. Chatrin percaya saja dengan ucapan Asya.


Hans melihat perubahan wajah Asya yang berubah pucat, ia yakin Asya pasti berbohong. Hans semakin penasaran.


“Pasti ada yang disembunyikan oleh Asya… “. Pikir Hans.


Geo dan Batris memasuki ruang tamu.


“udah siap belum….”. Tanya Geo yang melangkah ke arah teman-temannya berada.


“kalau uda….. kita jalan yuk….”. ajak Geo bergegas.


“Ayoo…... ". Asya berdiri menyambut ajakan Geo.


Asya menoleh mengelilingi teman-temannya.


"biar ga kemalaman dijalan…”. Ucap Asya bersemangat. Padahal ia beralasan. Asya hanya ingin cepat pergi dari situasi yang mendebarkan ini.


“Ya uda… ayo….”. Jawab teman-temannya serempak.


Mereka bertujuh beranjak dari duduknya, berjalan keluar Bersama-sama, membawa barang bawaan masing-masing. Pak Kardi dan Bu Mina mengantarkan mereka hingga halaman depan.


Asya, Batris, dan chat berpamitan kepada bu Mina. Mencium punggung tangan bu Mina bergantian.


Davin, Hans, Dino dan Geo berpamitan kepada pak Kardi dan Bu Mina juga.


Mereka masuk kedalam mobil bergantian. Asya yang masuk terakhir menutup pintu mobil. Pak Kardi dan bu Mina melambaikan tangan dari luar, dan mereka membalas lambaian tangannya dari dalam sembari mengucapkan terima kasih.


...~ Next Episode ~...


.


.


.


Terimakasih sudah berkunjung

__ADS_1


jangan lupa dukung terus Author ya....


🙏🙏✍️✍️


__ADS_2