
Hans beranjak dari duduknya, Ia menarik kemejanya kebawah, menegakkan kerahnnya, lalu menggulung lengan kemejanya menjadi 3/4, Hans begitu telaten merapikan kemeja yang di pakainya.
"Ayo aku antarkan pulang.....". Ucap Hansel setelah selesai merapikan bajunya.
"A....ayo....". Asya menjawab Hansel dengan gugup.
Asya masih terpaku, dalam bayangan nyata Hansel.
Hansel meninggalkan Asya di ruang keluarga, Ia tahu saat ini Asya sangat gugup, begitu juga dengan Hansel, jantungnya terasa berlarian di dalam tubuhnya, Asya berusaha keras menetralisir dirinya sendiri.
Hansel melangkah beberapa meter dari tempat Asya, ia bersandar dibalik dinding ruangan keluarga tempat Asya berada. Hansel hanya berpura-pura keluar dari ruangan itu.
Hans memasukkan tangganya ke dalam saku celananya.
ia menyandarkan kepalanya, mendongak ke langit-langit, ia tersenyum bahagia.
Jantungnya tak kalah beradu saat ini.
Ini adalah pengalaman pertamanya, menyentuh seorang gadis, menciumi bibir dan lehernya.
ahhhhhhhhgggggg.... Bukan *****, itu naluri..., naluri seorang laki-laki sejati.
Hans sudah cukup umur untuk mengetahui dan melakukan hal-hal seperti itu.
.........
Asya masih terpaku dalam duduknya.
"Dia benar-benar sudah gila....". Gumam Asya.
Asya merasa sulit sekali menelan salivanya, rasa Hans yang tertinggal di rongga mulutnya seakan tak ingin masuk begitu saja.
Asya merasa sangat malu, jika ada lubang kecil disini, pasti dia ingin masuk kedalam lubang itu saja, atau jika ia bisa menggunakan jurus menghilangnya, sudah pasti dia akan menghilang sejak tadi.
Asya bingung dengan sikap Hansel akhir-akhir ini. terkadang Hansel menjadi lembut, hangat dan mudah sekali tersenyum. terkadang Hansel juga masih saja cuek dan tidak perduli pada Asya. Apalagi dua kali Hansel menciumnya secara tiba-tiba.
Susah payah Asya menetralkan degup jantungnya, tak ada air disekitarnya, lehernya terasa tercekik oleh kehangatan Hans.
Rasa haus di kerongkongannya kian terasa, bahkan tubuhnya saat ini sedang panas oleh desiran-desiran aneh yang diciptakan oleh Hans dan belum pernah Asya rasakan sebelumnya.
.........
Asya bangkit dari duduknya, ia juga merapikan pakaiannya yang kusut dan berantakan akibat ulah Hans. Asya menutup kembali kepalanya dengan Hoodie, ia tak menutup lehernya dengan sapu tangan lagi, ia melupakan banyak tanda merah di lehernya.
Asya meraih tas disampingnya, buru-buru diserempangkan di kedua pundaknya.
Asya berjalan keluar dari ruang keluarga itu.
Asya melihat Hans tengah berdiri diruang tamu, kedua tangannya masih bersembunyi di dalam saku celana jinsnya.
Hans menoleh, saat Asya sudah berdiri beberapa meter darinya.
Hans tersenyum Hangat kearah Asya yang masih pucat pasi, Asya masih nampak gugup berhadapan dengan Hansel.
"Ayo....". Ajak Hans menggandeng tangan Asya.
Hans menggandeng Asya berjalan keluar dari rumah menuju halaman rumah mewah kediaman keluarga Wijaya.
Mobil Black Silver sudah terparkir di depan rumah mewah Hans. Sopir sudah memanaskan mobil saat Hans di dalam rumah. Hans membuka pintu samping kiri, mempersilahkan Asya masuk,
Hans menutup pintu mobilnya, kemudian berputar kesisi kanan mobil, masuk ke dalam mobil, dan Hans duduk dibelakang kemudi.
Hans menoleh kesamping, ia melihat Asya menunduk dan memainkan jari-jari telunjuknya. Hans tersenyum melihat tingkah Asya.
Asya yang biasanya bertingkah bar-bar, saat ini menurut saja dengan apa yang Hans katakan.
Hans mengendarai mobilnya meninggalkan rumah mewahnya. Disepanjang jalan Asya hanya terdiam, ia masih belum bisa mencerna hal-hal yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Hans.
__ADS_1
"Kita makan malam dulu ...". Hans memecah keheningan diantara mereka berdua.
Asya mengangkat wajahnya, berusaha menoleh kearah Hans.
"emmm... ga usah, langsung pulang saja... mama pasti sudah nunggu aku....". Bibir Asya terasa sangat berat hanya untuk menjawab ajakan Hansel.
"Kamu belum makan dari tadi...". Hansel memandang ke depan, kembali mengamati jalanan.
"Ga apa-apa, aku masih belum lapar kok...". Asya beralasan.
Ia hanya segera menghilang dari hadapan Hans.
Hans menghentikan mobilnya di sebuah kafe. Hans tidak menggubris penolakan Asya. Hans mengajak Asya turun dari mobil, dan mengajaknya memasuki Cafe.
Hans memilih Cafe bernuansa klasik, dengan desain interior yang memanfaatkan kayu-kayu palet, serta Hiasan lampu-lampu dop menambah kesan eksotis. Meja Kayu yang berisi dua Kursi kayu yang di cat warna aslinya, yang terletak di sebelah kanan ruangan, dipilih Hans sebagai tempat duduknya bersama Asya.
Hans menarik kursi yang akan didudukinya dan memberikan kode kepada Asya mempersilahkan Asya duduk. Asya mengikuti Hans, menarik kursinya dan ikut duduk bersama Hans.
Tak lama kemudian, Seorang pelayan datang menghampiri Hans dan Asya, membawa buku menu.
"Silahkan.....". Waiters perempuan menyodorkan buku menunya.
Hans dan juga Asya menerima buku menu, membukanya, membaca setiap menu yang tercantum dibuku. Asya melihat-lihat menu yang ada, beberapa menu memang terlihat lezat menggiurkan.
"Kruuuuugggggkkkkk.....".
Suara cancing didalam perut Asya seketika bersorak setelah Asya melihat-lihat menu yang ada.
"perut ini.... memalukan sekali....". Asya bergumam diantara pandangan malunya kepada Hans yang menyadari suara alam perut Asya.
Hans menahan tawanya. Ia tahu Asya sangat lapar, mereka terakhir makan pada pukul 10 pagi tadi, setelah selesai berberes.
"Jadi pilih apa Sya...". Hans menanyakan makanan yang Asya inginkan.
"oke.....".
"Dua chicken Fujita, satu milk shake, satu Flavoured soda...". Hans menyebutkan menu yang dipilihnya.
Hans mengembalikan Buku menu kepada waiters, setelah waiters selesai mencatat pesanan Hans.
"Baik kakak...., pesanannya Dua chicken Fujita, dua satu milk shake, satu Flavoured soda...". Waiters membacakan ulang pesannya.
"iya...". Jawab Hans singkat.
"Kami akan segera menyiapkan, mohon tunggu sebentar...".
Keheningan melanda dua orang ini. Hans tidak tahu harus memulai bicara tentang apa. Begitupun dengan Asya, Ia canggung dengan keadaan ini.
Setelah 10 menit berlalu, pesanan mereka sudah datang.
Seorang waiters menata makanan dan minuman di meja mereka.
Aroma Dua piring chicken Fujita ini sungguh menggoyang bulu-bulu hidung Asya, cacing-caring di dalam perut Asya semakin meronta meminta jatah makan hari ini.
Segelas coklat milkshake kesukaan Asya.
Segelas Flavoured soda pesanan Hans.
.........
Asya dan Hans mulai makan, keduanya menikmati makan malam kali ini, dalam keheningan dan tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka memilih untuk mencecap setiap rasa yang lewat di lidah masing-masing.
__ADS_1
Suapan demi suapan mereka masukan kedalam mulut mereka, rasa lapar dan juga canggung menjadi lauk terenak saat ini.
Setelah selesai makan Hans Meminta bill pada waiters, Hans mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya. Setelah menyelesaikan pembayaran Hans mengajak Asya meninggalkan Cafe.
Hans melajukan mobilnya kembali mengantarkan Asya pulang kerumahnya.
seharusnya Asya sudah kembali sejak tadi, namun Hans masih menahan Asya.
Hans sudah sampai di Gang depan rumah Asya. Mobil Hans berhenti disisi jalan.
Asya belum juga turun, ia masih terdiam, seperti hendak mengatakan sesuatu yang masih tertahan.
"Trimakasih untuk makan malamnya....". Asya membuka percakapan
"Sama-sama...". Jawab Hans dengan senyum hangatnya.
Keheningan menghampiri mereka lagi, keduanya tengah gugup.
"Hans...". Asya memanggil lirih.
"Sya....". Panggil Hans bersamaan
"Kamu dulu...". Asya mempersilahkan Hans bicara.
"Kamu saja dulu....". Hans mempersilahkan Asya berbicara terlebih dulu.
"Emmm............. kenapa kamu .....". Asya memberanikan diri bertanya, meski ragu-ragu.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan siapapun... aku tidak ingin ada siapapun yang menyentuhmu...
kuliah lah dengan baik...
kembalikan apa yang menjadi milikmu...". Hans spontan menjawab sebelum Asya selesai bertanya.
"ehhm..emmm...". Asya mengangguk sangat pelan mencoba memahami perkataan Hans.
"Masuklah... sudah malam...". Suruh Hans
"Cepat istirahat....". ucap Hans menghadapkan tubuhnya kearah Asya.
"Baik....". Asya mengiyakan
"Sya.....". Hans memanggil Asya yang akan keluar dari mobil setelah menggambil tasnya.
"Hemm....". Asya mendongak menjawab panggilan Hans.
"Selamat malam...., Mimpilah yang indah....". Ucap Hans, setelah terdiam seperti hendak mengatakan sesuatu namun tidak jadi.
"Selamat malam...., terimakasih Hans....". Ucap Asya dengan senyum manisnya yang tulus.
Asya keluar dari mobil Hans.
Memasuki halaman rumahnya, dan melambaikan tangannya kearah Hans. Hans melajukan kembali mobilnya meninggalkan rumah Asya.
.......
.......
.......
...~ Next Episode ~...
.........
Terimakasih sudah berkunjung
jangan lupa tinggalkan jejak kalian
dukung author terus yaaaccchhhj ๐โ๏ธ๐๐ฏ๐นโ
__ADS_1