Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Jika Waktunya Tiba


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing. Sinar mentari mulai membelah malam menggantikannya dengan pagi.


Mentari yang baru menapaki langit pagi itu teramat cantik untuk dilewatkan. Cahaya langit berbias jingga, berbaur dengan warna awan kelabu menjadikan perpaduan warna yang indah melukis langit pagi ini.


Udara pagi di puncak Bogor terasa dingin menusuk tulang. Meski sudah menggunakan Jaket bulu yang tebal dan topi rajut untuk menutupi telinga,serta menggunakan sarung tangan. masih saja hawa dingin merangkul erat sampai ketulang-tulang. Sedingin apapun itu tak akan mengurangi minat untuk menikmati keindahan sun rise yang ditunggu-tunggu sedari malam.



Asya dan teman-temannya bangun sebelum fajar menyingsing.


Mereka semua keluar dari Villa dan menuju halaman belakang yang terhampar jajaran pegunungan yang berbaris rapi.


Matahari yang sudah mulai naik memberikan nuansa indah dan hangat.


Semua orang sedang sibuk mengabadikan moment-moment ini di Smartphone masing-masing.


Dino, Davin, Geo, Candra, Batris dan Chat sedang mengangkat tangannya tinggi-tinggi, menyambut sang mentari yang sudah merangkak lebih tinggi menyapa seisi bumi.



.........


"Indahkan Sya....". Tunjuk Chat yang girang melihat pancaran sinar matahari di ufuk timur.


"Bangettt....". Imbuh Asya dengan senyumnya yang tertutup jaket tebalnya.


Semua nampak berbahagia. Sungguh perayaan akhir tahun yang sangat istimewa. Apalagi kegiatan kali ini ditutup dengan menikmati sun rise bersama-sama.


.........


Mereka semua kembali ke villa, setelah puas menikmati keindahan sun rise di puncak.


Mereka melanjutkan aktivitasnya dengan membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang dan mengemasnya di dalam tas masing-masing.


pagi ini rombongan yang siswa-siswi yang lain akan kembali ke Jakarta bersama pak Riyan.


Setelah semua selesai berberes, mereka menikmati sarapan pagi di sekitaran tenda. Menu ala pedesaan, menjadi menu sarapan pagi ini.


Hidangan Ayam Goreng, tempe penyet, sambal dengan berbagai lalapan ludes habis disantap oleh mereka. Kesederhanaan yang tergambar menjadi istimewa dan mewah karna semua dilakukan dengan suka cita dan bersama-sama.


Batris dan Chat membantu pak Kardi dan istrinya menyiapkan makanan teman-temannya. Asya dan Dino juga masih saja sibuk mengkordinir tempat pesta yang sedang dirapikan oleh EO. mereka belum sarapan, masih menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Pagi ini Hans belum menampakkan batang hidungnya. Entah kemana anak itu, dan apa yang sedang ia lakukan... semua seakan melupakan sosok Hans si tuan rumah yang pergi entah kemana.


"Lo liat Hans ga Vin...?". Tanya Dino mencari keberadaan Hans.


"Dari semalam Gua belum lihat dia Din...!". Jawab Davin yang sedang mengemasi barang-barang hiasan Pesta.


"Coba Lo cek di kamarnya... mungkin masih tidur tu anak....". Ungkap Davin menebak keberadaan Hans.


"oke deh..., gua lihat dulu...". Dino berbalik dari hadapan Davin dan bergegas naik ke lantai tiga ke kamar Hans.

__ADS_1


"tok...tok..tok...." Dino mengetuk pintu kamar Hans.


Tak ada jawaban


"tok...tok..tok...." Dino mengetuk pintu kamar Hans lagi.


Namun tak juga ada suara.


Dino membuka pintu kamar Hans, ia melihat Hans masih bergumul dengan selimutnya. Dino masuk ke kamar Hans.


"Hans...Uda siang Lo ga bangun....". kata Dino membangunkan Hans dengan suaranya yang keras.


"Hans.... Hansel.....". Dino memanggil manggil dan mengoyangkan bahu Hansel yang masih tak terbangun dari tidurnya.


"ahhhhhhhhgggggg....". Hans menggeliat merasa terganggu dengan suara Dino.


"Ah... Lo ganggu aja..., gua baru tidur ni tadi". Gumam Hans pada Dino.


Hans merubah posisinya duduk bersandar di kepala ranjang.


"Lo kenapa.... tadi malam gua juga ga lihat Lo di acara...". Dino duduk di ujung ranjang.


"gua....". Hans terbata, bingung mencari alasan atas ketidak hadirannya tadi malam.


"gua dikamar aja....". Dino mengerutkan alisnya mendengar jawaban Hans.


"Din...Lo jadi berangkat kapan....?". Hans menanyakan keberangkatan Dino ke Australia.


"Lo gimana... Jadi nyusul om sama Tante ke Amerika...?. Dino balik bertanya kepada Hans.


"sepertinya....". Jawab Hans singkat.


"kapan Lo berangkat.....?". Dino kembali bertanya sambil membaringkan tubuhnya di kasur empuk Hans.


"Besok....". Jawab Hans tak kalah singkat.


"gila Lo....". Dino menoleh seketika mendengar jawaban Hans yang tiba-tiba akan pergi melanjutkan kuliahnya ke Amerika besok.


"Bukan gua.... Bokap gua yang gila....". Hans menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidurnya.


"tadi malam papa telpon dan bilang kalau harus secepatnya kesana.... Darwin sudah sampe di Jakarta... Gua bakal balik sama Darwin....". Hans berucap sambil membuka kelambu kamarnya dan melihat ke luar jendela.


Dino masih memperhatikan pergerakan Hans. Ia melihat kegundahan di wajah Hans.


"ada sesuatu yang terjadi...?". tanya Dino menebak.


Hans masih terdiam, tak menjawab pertanyaan Dino. Ia mengingat Asya, jika ia pergi maka tidak akan pernah melihat Asya.


Gadis itu yang tadi malam telah dicium paksa olehnya adalah gadis yang ia cintai diam-diam.


Hans tidak pernah menunjukan apa lagi mengatakan kepada Asya.

__ADS_1


Hans seperti tidak rela pergi darinya. Tapi Hans juga tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Ia tidak tahu apakah Asya juga mempunyai perasaan yang sama. Selama ini Hans menyembunyikan perasaannya dalam-dalam.


Hans hanya memperhatikan Asya dari jauh. membantu kesulitan Asya tanpa ada yang mengetahui, memperhatikan Asya dan melindunginya dalam kesenyapan.


Sampai malam dimana Asya hampir saja terkena masalah dengan orang mabuk waktu itu Hans sedang membuntutinya dari The Delmonte seperti biasanya.


Selama ini Hans selalu menyempatkan waktu untuk membuntuti Asya saat Asya pulang dari The Delmonte untuk memastikan Asya pulang dengan selamat sampai rumahnya.


Hans juga mengetahui bagaimana perhatian Chat pada Asya adalah bentuk cinta Chat yang termasuk Club' pelangi itu.


Gadis itu benar-benar menyita perhatiannya sejak duduk di bangku kelas X SMA. Gadis yang dengan gayanya yang polos dan tingkahnya yang bar-bar itu, mampu menghangatkan hatinya selama ini.


Hans hanya tidak mampu untuk mengatakannya.


Dia tak cukup berani menghadapi Asya, atau mungkin Hans tak berani menghadapi perasaannya sendiri.


"Ga ada Din..... Gua akan berangkat besok....". Jawab Hans Melihat Dino penasaran menunggu jawabannya.


Dino berdiri menghampiri Hans


"Gua tau Lo pasti nyari jalan yang terbaik....". Ucap Dino sambil menepuk pundak kiri Hans.


Hans menoleh kearah Dino tanpa berkata-kata.


"yuk turun.... Lo dicariin yang lain, temen-temen dah mau balik ke Jakarta". Dino melangkah keluar kamar Hans.


"Huffttttt....". Hans membuang nafasnya kasar.


"ini jalan yang bisa gua ambil, gua tahu bukan sekarang. jika waktunya tiba gua yakin itu yang terbaik....


gua harus yakin semua ini juga terbaik buat dia...


setidaknya gua tenang karna gua tahu dia juga bakal lanjut kuliah....


gua juga akan berusaha.....". Hans terus berdiskusi dengan pikirannya sendiri.


.......


.......


.......


...Next Episode...


.......


.............


.......


Trimakasih sudah mampir ☺️

__ADS_1


Semoga suka dengan cerita Ini 🌹🌹🌹


__ADS_2