
Jalanan menuju ke kontrakan Asya sudah nampak sepi.
Ada beberapa mobil berjajar rapi, di depan sebuah rumah makan khas tanah Padang.
Asya hanya menoleh ke arah tempat makan itu, mengintip betapa ramainya orang makan ditengah malam seperti ini.
Entah mengapa, sepulang kerja Asya tidak mencari angkot untuk pulang. Ia malah berjalan kaki. Ia ingin melihat suasana malam yang sering terlewatkan olehnya. Ia terlalu sibuk bekerja, sehingga melewatkan sebagian dari hidupnya.
Asya sudah hampir sampai di gang masuk rumahnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat dua orang menghadang langkahnya.
"Heiii... kok anak cewek malam-malam jalan sendiri...?. Tanya seorang pria mengenakan kaos biru tua dengan cara bicaranya yang tidak jelas. Ditangannya terlihat memegang sebotol minuman berbentuk pipih.
Asya kaget, melihat dua orang yang tiba-tiba berdiri didepannya.
"Bagi kita uang ....., sini.... ! ". Teriak seorang lagi yang juga sama beraroma alkohol.
Laki-laki ini lebih terlihat garang. Apalagi rambutnya yang dikuncir satu itu terlihat berbeda dengan warna kecoklatan.
Aroma alkohol tercium menyengat di hidung Asya.
Ia hanya mengerutkan alisnya, Melihat dua orang yang bahkan berdiri saja tidak bisa tegak.
Mereka seakan mendengar musik dangdut yang terus saja membuat badan kedua orang yang entah datang dari mana, bergoyang limbung ke kiri dan ke kanan.
"Alah om... berdiri aja udah ga bisa tegak, masih juga mau malak....! ". Celetuk Asya sedikit bergetar memberanikan diri melawan dua pria berbadan besar.
"Apa Lo bilang kagak bisa berdiri.... ?". Menekankan pertanyaannya yang memang sudah kabur berlarian tak jelas.
"Jon... elu kali' yang ga bisa berdiri... ?". Tanya Lelaki yang berambut panjang dikuncir ekor kuda.
"Sekate-kate Lo bilang kagak bisa berdiri....
nih udah upacara dari tadi.....". Laki laki berbaju biru melanjutkan racauannya sambil melirik kebagian bawahnya.
Sedangkan Asya hanya menepuk jidatnya mendengar dua orang didepannya yang memainkan adegan mesra khas orang mabuk.
(klo orang mabukkan adegan mesranya kagak jelas yeeeeeee....? πππ).
"Om jadi malak ga sih". Tanya Asya membuyarkan racauan dua orang itu yang tidak jelas.
Asya dibuat jengkel dengan tingkah konyol kedua orang mabuk itu, yang hendak membuka resletingnya karna ingin memperlihatkan pisang Ambon yang katanya sedang upacara.
(Orang waras juga langsung mabok seketika liat itu πππ. POV Authorπ€)
"Apa dia gila malah minta dipalak...!!". Gumam seorang laki-laki yang bersembunyi agak jauh dari tempat Asya berdiri.
Laki-laki itu hendak melangkahkan kakinya, keluar dari persembunyiannya, ketika melihat dua orang mabuk itu hendak membuka resletingnya. Tapi ia urungkan karna Asya masih terlihat bisa menguasai keadaan.
"Ya... udah deh mending Om..om pergi aja, aku mau pulang... ". Ucap Asya sambil mengembangkan lengannya agar dua orang itu menyingkir.
"awas sana.....". Lanjut Asya sambil berjalan meninggalkan dua orang mabuk itu.
"heii...kurang ajar...... main pergi aja...". Ucap orang mabuk berambut kuncir sambil menarik tas Asya, sehingga Asya tertarik kembali berdiri di tempatnya semula.
Sontak Asya terkejut dan berteriak.
"aaaaa..... lepas....". Asya meronta, minta dilepaskan.
"sini'in dulu uang Lo....". Minta pria berkuncir itu dengan kasar.
Nada bicaranya sudah mulai meninggi. Badan Asya semakin gemetaran, menahan takut.
Meski bagaimanapun Asya tidak dapat menebak, apa yang akan dilakukan dua orang mabuk ini. Bisa saja mereka melakukan hal-hal yang diluar dugaan Asya.
"Hiii.... ngeriiiii.... ". Asya bergidik .
"aku ga ada uang omm.....". Kata Asya menolak keinginan kedua pria tersebut dengan bergidik.
Asya terus saja meronta, memukulkan tangannya ke segala arah. Namun mustahil baginya melawan dua orang yang sedang mabuk.
__ADS_1
Kata orang, seseorang yang terkena pengaruh alkohol bisa kehilangan dirinya, menjadi lebih kuat dan sedikit gila. Mungkin inilah salah satu buktinya.
Kedua lelaki itu terus memaksa Asya. Mencari cari uang di saku Hoodie Asya.
Asya terus berusaha meronta, menyelamatkan aset berharganya dari jamahan pemburu liar.
"Bug...bug...".
"grakkkkk.....". Tiba-tiba dua lelaki itu tersungkur di kanan dan di kiri Asya.
Seseorang menarik tangan Asya, mengajaknya berlari sekencang-kencangnya, agar cepat menjauh dari dua orang mabuk itu.
Tubuh Asya tertarik ikut berlari, Ia tak tahu akan dibawa kemana.
Asya masih melihat kebelakang, kearah dua orang laki-laki itu yang masih terkapar di tengah jalan.
Sesaat kemudian Asya menoleh kedepan, melihat seseorang yang tiba-tiba menariknya dan mengajaknya berlari.
Nafasnya kian memburu, dadanya turun naik karna merasa sudah tidak ada oksigen diudara yang ia hirup.
Asya menyipitkan matanya, meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang ia lihat.
Ia mengingat bentuk tubuh siapa ini yang ada di depannya ini. Aroma parfum laki-laki ini pernah ia cium beberapa waktu yang lalu saat Asya tidak sengaja menabraknya dari belakang dan Memeluk tubuh padat berisi yang menampakkan otot yang baru saja terbentuk tanpa permisi.
Asya dan laki-laki itu masih terus berlari hingga cukup jauh dari tempat kedua laki-laki mabuk tersebut.
"Hosshhh.....Hosssshhhhh.....". Suara Nafas Asya yang sudah memaksa melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu.
Asya menaikakan telapak tangannya tanda cukup berlarinya. Ia sudah tidak bisa berkata-kata, nafasnya tersengal kehabisan pasokan oksigen. ia masih sibuk berburu oksigen.
"He eh........heee...ehhhh.....hehh..ehhh...". Suara nafas lelaki yang menarik Asya tak kalah memburu, merasakan pengapnya udara disekitarnya.
"udah larinya..... A...ku.. Capek...". Ucap Asya sambil membungkuk memegang lututnya.
Asya melihat kearah seseorang itu yang juga membungkuk dan memegangi lututnya.
"Loo... gila ya... ga buruan lari.....". Ucap Seseorang yang masih tersengal nafasnya. Ia merasa jengkel karna Asya tidak bergegas lari, malah bersikap santai pada orang yang akan memalaknya.
Ia malah terheran dengan apa yang dikatakan seseorang itu. Menyadarkan dirinya sendiri, bahwa seseorang yang menarik dan mengajaknya berlari itu adalah Hans.
iya... Hans yang selama hampir dua tahun ini seperti menganggap Asya tidak ada. Tapi hari ini, Dia menyelamatkan Asya dari dua orang mabuk, menariknya berlari dan mengucapkan sesuatu padanya. Hatinya lebih terkejut melihat kenyataan di depan matanya ini, dari pada rasa terkejutnya karna dipalak dua orang mabuk.
"He.... hee... hee...heee". Asya memaksakan tawanya dengan menarik sudut bibir atasnya. Sehingga terlihat semakin aneh wajah Asya yang dibanjiri keringat seperti air bekas mandi.
"Wah.... selain gila sepertinya Lo bisu....". Lanjut Hans karna tak mendengar jawaban Asya. Malah melihat tawa Asya yang mengerikan.
Sontak Asya berdiri tegak menghadap Hans.
Berkacak pinggang dan bibirnya komat Kamit membacakan mantra penangkal kesombongan Hans.
"Dasar Rayap....". Maki Asya yang merasa sebal dengan kata-kata Hans.
"Bukankah selama ini Dia yang gila dan bisu...kenapa malah sekarang bilang aku gila?? bilang aku bisu...?.... dasar lu bule rayap.... ". maki Asya dalam hati, karna ia merasa kerongkongannya tercekat.
Asya terus saja komat Kamit, menggigit bibir bawahnya dan mengerucutkan bibirnya begitu saja.
(kalau kata orang Jawa, it is Njedir...π€).
Asya membuang wajahnya sebal.
"Sudahlah.... Aku memang gila, berlari di tengah malam dengan mu...". Ucap Asya pasrah, namun dengan perasaannya yang sangat kesal.
"Kenapa jalan kaki ?
kenapa ga naik angkot atau taksi ?
kenapa pulang sendiri ? ....". Tanya Hans dengan buru-buru... memberondong Asya dengan pertanyaannya sebelum Asya sempat menjawab sepatah katapun.
Asya semakin terkejut melihat Hans Menjadi sangat cerewet hari ini.
Ia mendekati Hans, nafasnya sudah sedikit teratur. Asya menempelkan telapak tangannya di kening Hans, dan sesaat kemudian Asya juga menempelkan telapak tangannya di keningnya.
__ADS_1
"wah...dingin ...". gumam Asya dalam hati.
Asya memegang kedua lengan Hans membolak-balikan tubuh Hans.
Asya menelitinya seolah mencari sesuatu yang aneh pada Hans.
Ia sangat terkejut dengan sikap Hans. Ia berfikir mungkin orang didepannya ini bukan Hans, mungkin saudara kembarnya, adiknya, kakaknya atau... hantunya Hans...
Asya bergidik ngeri dengan pemikirannya sendiri.
"Apaan sih.....". Tolak Hans dengan menggerakkan lengannya agar tanggan Asya terguncang.
Ia bingung dengan sikap Asya.
"heee .. he..he..... kamu Hans ?". Tanya Asya nyengir.
"Oh... ternyata Lo juga bodoh... ". Hardik Hans sambil memutar badannya melanjutkan jalannya.
Asya menyusul langkah Hans dengan berlari kecil, setelah ia sadar dari imajinasinya.
"Makasih....". Jawab Asya sambil membetulkan topinya.
Hans mengantar Asya sampai didepan rumahnya.
Memastikan Asya sampai dirumah dengan selamat.
Tidak ada percakapan disepanjang jalan.
karna Asya hanya terus mengucapkan terimakasih, sampai Hans bosan mendengarnya.
Hans menoleh kesamping membuang muka dari Asya. Ia tak bisa menahan senyumnya melihat tingkah konyol Asya yang terus mengucapkan terimakasih dan berlari kecil mengimbangi langkah jalannya.
" Masuklah....". Ucap Hans mempersilahkan Asya masih dengan sikap jaimnya.
" Cepat istirahat, ini sudah malam, besok kita akan ujian.... ". Lanjut Hans memperingati Asya.
Asya masih merasa aneh dengan sikap Hans.
Ia tak menjawab apapun yang Hans katakan. Asya sedikit memiringkan kepalanya ke kanan dan menganggukkan pelan berkali-kali. Masih saja merasa tidak yakin jika orang yang ada di hadapannya ini adalah Hans.
Asya melangkahkan kakinya ke halaman rumahnya. Mengetuk pintu beberapa kali, sebelum mama Rosi membukakan pintu.
Hans meninggalkan halaman rumah Asya setelah melihat Asya masuk dan menutup kembali pintu rumahnya.
Hans menelfon supirnya agar menyusulnya di lokasi yang sudah Ia kirimkan melalui aplikasi pesan berlogo bulat berwarna hijau.
Sedangkan setelah memasuki rumah, Asya langsung memberikan ciuman selamat malam di pipi mama Rosi. Ia segera berlari ke kamarnya, menutup pintu kamar cepat-cepat dan berdiri bersandar di pintu.
Asya menepuk pipinya dan mencubit tangannya, meyakinkan dirinya jika tadi, Ia memang bersama Hans.
.
.
.
.
.
.
...~ Next Episode ~...
.
.
Trimakasih Sudah Berkunjung.
jangan lupa tinggalkan jejak kepemilikan kalian yachhhh. ππππ
__ADS_1
.