Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Sayang Sekali....


__ADS_3

~ New York Di malam hari ~



Matahari siang di kota New York mulai kembali ke peraduannya, berganti dengan malam. Mega-mega berwarna jingga menjadi hiasan langit, menyusup diantara langit siang dan malam.


Cahaya matahari yang menyeruak panas menyengat, redup dikala senja, berganti dengan lampu-lampu yang terpancar dari setiap sudut kota New York.


Ketika malam semakin larut, aktifitas masyarakat di New York semakin bergeliat. Kota yang tak pernah tidur di dunia ini menyimpan berbagai keindahan dimalam hari.


Malam ini Hans akan pergi menemui teman-temannya di tempat biasa mereka bertemu dan menghabiskan malam.


Hollerhorn distilling adalah bar yang menjadi tempat Hans dan kawan-kawannya bertemu.



Hollerhorn distilling adalah bar terkenal di new York, dulu saat kuliah teman-teman Hans yang memperkenalkan ia dengan gemerlap dunia malam. Di negara barat, Bar merupakan tempat yang sah-sah saja dikunjungi, tentu saja untuk seseorang yang sudah mencapai usia 17 tahun


Di sana seorang anak yang berusia 17 tahun dianggap sudah dewasa dan bisa bertanggung jawab atas hidup nya sendiri. Sedari kecil anak-anak Amerika mendapatkan pendidikan yang mandiri dan pengetahuan tentang kehidupan yang bebas juga sudah didapatkan agar mereka dapat menjaga dirinya kelak jika sudah dewasa. Pendidikan **** diberikan kepada anak sejak dini, sehingga **** di negara barat ini bukanlah hal yang tabu.


Gaya hidup dan pergaulan anak-anak muda di Amerika sangatlah bebas, itu sudah menjadi hal yang lumrah.


Jangan menganggap budaya Amerika itu buruk. Mereka punya persepsi sendiri mengenai standar kesopanan. Semisal, di Indonesia seorang gadis berjalan memakai tanktop dan merokok di lingkungan masyarakat akan di anggap tak sopan, tapi di Amerika hal itu tetap di anggap sopan asal si gadis tidak melakukan hal yang merugikan orang lain.


Meski mereka hidup secara individual, namun mereka adalah warga yang solid kepada sesama manusia.


.........


"Hi... Hansel....". Seorang yang berdiri di belakang meja bartender berkepala plontos dan mengenakan baju serta aksesoris yang nyentrik menyapa Hansel yang sedang mengambil duduk di kursi yang ada dihadapannya.


"Hi... Jors....". Hansel membalas sapaan Lelaki bartender yang bernama Jors.


"Bagaimana kabarmu... Hansel...?". Jors menyapa Hans sambil mengocok dan menggoyang gelas dengan aksi juglingnya yang cekatan, meracik minuman yang akan disajikan kepada pengunjung Bar.


"Aku baik-baik saja...". Ucap Hansel memperhatikan gerakan Jors yang lincah.


"Bagaimana kabarmu? nampaknya kau semakin gila jors...!". Hansel memperhatikan penampilan Jors dari ujung kaki hingga ujung kepalanya yang mengkilap.


"Oh... my Gosh... ini bukan gila Hans ini stile...". Jors berkilah.


"ok..ok... aku rasa stile mu sangat buruk akhir-akhir ini... apa kau sedang patah hati...?". Hansel menilai penampilan Jors yang memakai celana jeans yang dipadukan dengan kaos hitam. Anehnya Jors mengenakan jas dari kain percah. Penampilannya semakin aneh dengan beberapa kalung berbentuk bola-bola kecil yang bertengger di lehernya. Apalagi ditambah dengan kalung rantai membuat Jors terlihat seperti toko aksesoris berjalan.


"itu tidak mungkin Hans... aku orang yang anti patah hati....". Jors menolak patah hati. ia memang orang yang selalu ceria, dan sepanjang kesendiriannya ia bahagia. Ia sudah banyak melihat orang patah hati yang datang ke Hollerhorn distilling, itu membuatnya enggan untuk menjalin hubungan percintaan.


"Iya... nampaknya kau sudah punya anti virus untuk patah hati mu....". Sindir Hans melirik kalung-kalung aneh milih Jors.


"mungkin kau yang masih saja patah hati...". Jors berbalik menyerang Hansel.


"Tidak mungkin....". Hansel mencebikan bibirnya.


"kau mau mencoba minuman baru ku...". Jors menunjukan sebotol minuman yang menjadi salah satu bahan racikan minuman barunya.

__ADS_1



"Trimakasih... Aku mau segelas cocktail saja...". Hansel menolak.


"What....kau tidak pernah berubah, kau sudah dewasa cobalah minuman beralkohol lainnya, seperti bir, rum, Tequila...


ada banyak minuman di sini...


Jika hanya memesan cocktail seharusnya ke Cafe saja... dasar pecundang...". Jors mengejek Hansel yang selalu saja memesan Cocktail ketika datang ke Hollerhorn distilling.


"Tidak, aku tidak tidak bisa minum Jors... kau tau itu kan bodoh...". Hansel mengingatkan Jors bahwa ia termasuk orang yang tidak tahan dengan minuman beralkohol.


"ya tentu saja... kau akan menjadi lebih bodoh dan sangat bodoh melebihi diriku saat kau mabuk dan aku melihatnya empat tahun lalu saat kau patah hati...". Jors terkekeh mengingat kegilaan Hansel empat tahun lalu.


"Apa kau masih saja belum melupakan gadismu itu...". Tanya Jors ingin tahu.


"sudahlah jangan banyak membual... buatkan cocktail untuk ku....". Hansel mengalihkan pembicaraan mereka, tak ingin menjawab pertanyaan Jors.


"Sepertinya kau masih mengingatnya ... dasar payah...". Tebak Jors karna Hans menolak menjawab pertanyaannya.


"kau itu masih muda, kaya, tampan dan juga gagah, akan banyak wanita yang datang kepadamu bahkan menghangatkan mu setiap malam...". Jors menyayangkan sikap Hansel yang selalu menjauhi wanita.


"Jika aku jadi dirimu pasti akan ku kencani semua wanita di New York ini....". Jors berandai-andai.


"Kau lihat... Temanmu Stuart bahkan sudah membawa dua wanita malam ini untuk menemaninya...". Hansel menoleh kearah teman lelakinya yang baru keluar dari salah satu ruangan di Bar didampingi dua wanita cantik dan seksi.


"oooya... jadi Stuart sudah di sini...?". Hansel tak heran dengan temannya itu. Stuart memang selalu menggandeng wanita disetiap malamnya.


"Ayolah Jors... ". Hansel merasa jengah dengan sindiran Jors. Hansel merasa miliknya baik-baik saja. 6 Tahun yang lalu pisang Ambon nya bisa upacara dengan baik hanya dengan melihat gadis bar-bar itu. Tapi entahlah sekarang sepertinya dia tak ingin merespon siapapun. Hanya bayangan dan kenangan panasnya bersama gadis bar-barnya itu yang bisa membuatnya tegap berdiri upacara.


"Cocktail mu dengan kadar 40 persen...". Segelas Cocktail disodorkan Jors ke hadapan Hansel.


"Thanks... Jors...". Hansel meraih minuman berwarna biru dihiasi dengan api diatasnya.



Jors memicingkan matanya, ketika melihat Hans memutar-mutar gelasnya, Hans belum juga mencicipi minumannya.


Jors tersenyum jahil kearah Hansel.


"Hey ... Hans.... Mungkin gadismu benar meninggalkanmu, karna kau tak bisa memberikan kehangatan untuknya... Servismu terlalu buruk kawan.... lihatlah... minuman itu ingin sekali kau menyesapnya tapi kau hanya memutar-mutar nya....". Jors terbahak diakhir ucapannya.


"aku tak ingin api ini menghangatkan mulutku atau bahkan membakar ku bodoh....". Hans memutar bola matanya jengah.


Hansel sangat hafal dengan sikap Jors, selama di New York ia selalu ke Hollerhorn distilling sejak saat itu Hans mengenal Jors, sehingga ia tak pernah sakit hati dengan candaan Jors. meski begitu Jors adalah orang yang baik meski terkadang menyebalkan bagi Hans.


"Ada apa dengan mu Hansel... apa si bodoh ini mengganggumu terus...". Tanya Briyan yang baru datang dan mengambil duduk di samping kiri Hansel, saat mendengar Jors sedang menggoda Hansel.


"siapa yang mengganggunya... aku hanya menghiburnya....". Jors berkilah.


"Sepertinya kau harus mengikuti sarannya Hans supaya dia berhenti menertawakan mu...

__ADS_1


buktikan jika kau memang berfungsi....". Ucap Briyan ikut menggoda Hansel.


"Kalian berdua sama saja... sama gilanya...". Hansel bergidik, mendengar ucapan dua orang di hadapannya itu.


Mereka terus saja menggoda Hans, itu sering mereka lakukan karna mereka tahu Hans tidak pernah mau berdekatan dengan wanita manapun apalagi menyentuh wanita-wanita yang ditemuinya.


"Hai sayang.... apa kau mau aku menemanimu malam ini....???". Seorang wanita berpakaian sangat minim dan memiliki tubuh seksi mendekat ke arah Hans, membelai pipi Hans dari samping.


"Aku tidak butuh teman...". Ucap Hans ketus.


"kau jangan mengganggunya, dia tidak akan tertarik padamu Maria...". Jors mencegah wanita itu mendekati Hansel.


"Dia tidak berfungsi.....". Maria mendekatkan telinganya kearah Jors saat Jors membisikan sesuatu.


"sayang sekali kau sangat tampan... kau mau aku membantumu membangunkannya... akan ku pastikan dia akan menjadi singa lapar ketika melihat ku.....". Bukannya pergi, wanita itu malah mengalungkan kedua lengannya ke leher Hansel. Berbicara manja dan mendesah, menggoda kelelakian Hans.


"brengsek... apa yang kau katakan padanya Jors....". Hansel melepaskan lengan tangan Maria yang tertaut dilehernya sambil mengumpati Jors.


"tidak ada.... aku hanya mengatakan yang sebenarnya ...". Jors kembali terkekeh.


"Sexy.... sepertinya lelaki di sana lebih tertarik kepadamu... pergilah... ". Briyan mengalihkan perhatian Maria.


Maria menyerah dengan Hansel. Ia melihat kearah lelaki yang di tunjukan oleh Briyan. Maria meninggalkan Hansel dan Briyan menuju lelaki yang berada di lantai dansa.




"Apa Stuart belum datang...?". Briyan menanyakan satu temannya yang tak nampak olehnya.


"Jors bilang dia sedang membakar ranjang dengan wanita-wanita di Club ini...". Hans menjawab pertanyaan Briyan sambil menyesap Cocktail nya.


"kebiasaannya tidak pernah berubah, dia memang tidak bisa melewati malam tanpa berolahraga....". Ujar Briyan yang sudah tahu kebiasaan Stuart. Mereka sudah bersama selama 6 tahun, waktu yang cukup untuk mengetahui satu sama lain.


"karna hanya itu olahraga yang bisa dia lakukan....". Hansel menyetujui ucapan Briyan.


.........


...~ Next episode ~...


.......


.......


.......


Terimakasih sudah berkunjung ๐Ÿ™


Jangan lupa terus dukung author ya....


๐Ÿ™โœ๏ธ๐Ÿ’ฏ๐ŸŒนโ˜•๐Ÿ‘๐Ÿ’ฅ

__ADS_1


Salam sayang dari Author amatiran ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2