Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Tersihir


__ADS_3

Siang ini di pukul 1 Siang lebih 10 menit, Asya dan teman-temannya bertolak ke Jakarta. Disepanjang perjalanan, mereka melakukan obrolan ringan tentang masa depan mereka.


Mereka saling bertukar cerita tentang cita-citanya kelak.


Mereka berjanji akan bertemu lagi setelah menyelesaikan kuliah dan mendapatkan karir yang dimimpikan.


Setelah ini, mereka pasti akan sangat jarang bertemu. Mengingat diantara mereka banyak yang akan melanjutkan kuliahnya keluar negri.


Seperti Batris yang bercita-cita menjadi model internasional. Ia juga akan pergi jauh, terbang ke Paris untuk sekolah model.


Tawa riuh bergema di dalam mobil. Mereka masih asik bercengkrama, menikmati sisa-sisa waktu kebersamaan.


Hanya Asya yang berdiam diri. Ia sedang memandang keluar jendela. Ia melihat jajaran pohon yang berbaris rapi. Menikmati hamparan gunung yang terpampang indah.


"Sya... kamu kenapa... dari tadi diem aja...??". Chatrin bertanya seraya memegang lengan kiri Asya.


"Ga apa apa kok... lagi liat di luar aja... sayang dilewatkan...". Asya menjawab pertanyaan Chat seadanya.


Hans melirik Asya dari kaca spion di depannya.


Ia memandangi wajah Asya yang tak bersemangat. Entahlah... apa yang sebenarnya terjadi pada Asya,


"Apa dia masih marah karna kejadian tadi malam....". Hans membatin.


Hans tak melepaskan pandangannya dari Asya.


Hari ini Hans ingin memuaskan dirinya memandangi Asya. Karna setelah hari ini, ia tidak akan pernah bertemu Asya lagi.


Hans menyusuri pandangan manik mata Asya yang sedang memandang ke luar jendela mobil. Hans menolehkan kepalanya ke sebelah kiri. Ia melihat alam lepas. Pikirannya juga melayang tak tentu arah.


Dia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Dia juga berjanji pada dirinya sendiri.


Entah keyakinan dan janji apa yang Hans buat.


.........


"Sya... Lo jadi lanjut kuliah kan...". Davin bertanya pada Asya yang masih asik melihat keluar.


Asya menoleh kearah Davin. Ia mengembangkan senyumnya.


"iya....". Asya menjawab mantab


"beneran Sya...?". Chat merasa tak yakin.


"iya bener Chat...". Asya mengulangi jawabannya.


"kamu jadi ambil beasiswa yang dikasi sama Bu Arum...?". Tanya Chat.


Ia ingat Asya pernah bercerita tentang Beasiswa yang akan diberikan Bos Asya itu.


"enggak....". Jawab Asya tersenyum jahil.


"Trus... kamu membiayai kuliahmu sendiri...?". Chat menekuk mimik wajahnya merasa iba.

__ADS_1


Ia tahu bagaimana Asya berkerja keras untuk membiayai sekolah dan kehidupannya.


"Enggak juga...". Senyum Asya masih menggembang indah diwajahnya.


"Terus.... ". Ucap Chat menuntut jawaban dari Asya.


"Sekolah mengajukan beasiswa prestasi untuk Ku... Jadi aku bisa melanjutkan kuliah tanpa harus memikirkan biaya pendaftaran sampai biaya pendidikannya....". Asya membagi senyumnya saat menceritakan tentang beasiswa yang ia dapatkan.


"Waowwww.... kamu bener-bener hebat Sya..., Aku yakin kamu bisa... Kamu selalu jadi juara umum di sekolah...". ucap Geo memberi semangat.


"Semoga saja ....". Doa Asya.


"Dimana kampus rekomendasinya...???". Tanya Dino Berikutnya.


"Salah satu Universitas negeri di Jakarta.....". Asya berbangga memamerkan Calon kampusnya...


"O... ya.... wah keren...". Betris bersorak.


"kamu layak mendapatkannya Sya...". Puji Davin


Mereka semua bangga pada Asya. Teman sekelas mereka yang tomboy itu dapat melanjutkan kuliah dengan bekal kepandaiannya. Asya memang tidak pernah absen dari rangking satu di sekolahnya. Meski ia tergolong anak yang kebal dengan segala peraturan, namun ia membayarnya dengan prestasi yang membanggakan.


Hans tersenyum simpul, di balik tubuh yang membelakangi Asya, Ia duduk di kursi Bagian depan, tepat didepan Asya.


Hans juga tak kalah bangga pada Asya. Gadis yang dicintainya itu bisa melanjutkan kuliahnya. Sebelum Hans tau Asya mendapatkan beasiswa sekolah, Hans juga merasa khawatir jika Asya tidak melanjutkan kuliahnya.


Hans merasa tenang, setelah ini Ia juga akan melanjutkan kuliah jauh dari Asya.


.........


Jalanan lumayan sepi hari ini, mobil yang mereka tumpangi bisa melaju kencang berpacu dengan waktu menuju ke Ibu Kota tercinta.


Batris yang pertama kali turun. Rumahnya paling dekat dari perjalanan pulang. Kemudian Dino dan Geo, disusul Chatrin yang meminta diturunkan di salah satu Mall untuk menemui kakaknya di Butik.


Tersisa Asya dan Davin. Rumah Davin berdekatan dengan komplek rumah Hans. Ia meminta diantarkan dulu. Davin turun di depan sebuah rumah mewah.


Davin turun dari mobil dan berpamitan pada Hans dan Asya. Davin melambaikan tangannya berterimakasih pada Hans.


Hanya tinggal Asya yang belum diantarkan.


Mobil Hans meninggalkan kediaman Davin. Mobilnya kembali menyusuri jalanan. Mobil itu Memasuki sebuah rumah mewah lagi. Asya tak tahu kemana ia dibawa oleh Hans.


Supir Hans turun dari mobil, diikuti Hans yang turun dari sisi kiri.


"Duuukk...". Hans menutup pintu mobilnya.


Asya hanya melihat Hans yang sedang berbicara dengan supirnya dari dalam mobil.


"Turunlah....". Hans membuka Pintu mobil disisi Asya dan menyuruhnya keluar.


"Ma...mau kemana....". Tanya Asya gugup.


Asya tak kunjung turun meski Hans menungguinya. Asya merasa ragu, karna ia tak tahu ini rumah siapa.


"Sreetttttt.....". Hans menarik Asya keluar begitu saja.

__ADS_1


"Eh...tunggu... ini rumah siapa...". tanya Asya panik.


Hans terus menarik tangan Asya mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Hans masih tak berucap sepatah katapun. Mereka berdua berhenti di sebuah ruang keluarga.


"Tunggu di sini...". Suruh Hans pada Asya.


Asya menurut saja pada Hans. Otaknya tidak bisa berfikir, berdekatan dengan Hans masih membuatnya gugup. Ditambah lagi rasa malunya karna kejadian tadi malam masih membuatnya sangat malu.


Hans meninggalkan Asya naik ke lantai atas.


Asya duduk di sofa bundar didekatnya. Asya mengalihkan perhatiannya dengan melihat-lihat ke sekelilingnya yang dipenuhi dengan barang mewah.



Asya mengagumi setiap benda di ruangan ini. Saat ini Asya sedang berada disebuah rumah megah, di ruang keluarga ini saja sudah kelihatan sangat mewah.


Keberadaan furniture mahal, dan gantungan lampu kristal diatasnya membuat ruangan ini benar-benar bagus. ditambah Nuansa abu-abu yang dipilih untuk mewarnai ruangan ini menambah kesan sangat mewah.


Asya tak berani menyentuh perabotan yang ada di sana. Ia hanya mengaguminya dari jarak yang dekat, itu sudah cukup baginya.


Asya menoleh kesebuah jendela besar, ia melihat hamparan taman dibaliknya. Sepertinya hijaunya dedaunan membuat dirinya sedikit rileks.


"Kenapa tiba-tiba main tarik saja...". Gumam Asya pada dirinya sendiri sambil memegangi pergelangan tangannya.


"Dasar Rayap...., awas saja akan ku patahkan tanganmu yang lancang menarik ku....". Asha marah pada bayangan Hans


Asya merapikan kembali Pakaiannya yang berantakan. Ia meraba sapu tangan di lehernya.


Asya melepaskan sapu tangannya karna ia akan membetulkan ikatan sapu tangannya yang berantakan. Asya kesulitan membetulkan posisi sapu tangannya karna tak ada kaca untuk melihat pantulan dirinya.


"Ahhh.... kenapa pakek jatuh sih...". Asya mengomel pada dirinya sendiri.


Asya membungkuk hendak mengambil sapu tangannya. Gerakannya terhenti saat melihat dua telapak kaki berpijak dihadapannya.


Asya mengangkat wajahnya.



Asya melihat Hans sedang memandang kearahnya dan tersenyum hangat.


Dalam beberapa menit Asya tersihir dengan wajah tampan itu. Wajahnya terlihat segar, senyumnya menawan dan ah... wangi tubuh itu.. Asya masih mengingatnya. Tadi malam ia juga menghirup aroma parfum ini sangat dalam.


.......


.......


.......


...~ Next Episode ~...


.........


Terimakasih sudah berkunjung


jangan lupa tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1


Kasih Author semangat ya....πŸ™πŸ™β˜ΊοΈ


.........


__ADS_2