Mentari Pagi Itu

Mentari Pagi Itu
Ujian Akhir


__ADS_3

Pagi ini Ujian Kelulusan akan digelar di Sekolah SMA Bina Bangsa. Begitu juga dengan semua Sekolah Menengah atas di seluruh Indonesia, juga melaksanakan ujian tahap akhir.


Siswa-siswi SMA Bina bangsa sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk menghadapi ujian hari ini. Mulai dengan bimbel, Les prifat, dan juga pelajaran tambahan disekolah diambil, agar mendapatkan nilai yang tertinggi di Ujian Nasional. Tentu saja agar mudah masuk di perguruan tinggi yang diidamkan.


Hal ini juga membuat para pelajar bahkan orang tua menghalalkan segala cara untuk mencapai nilai tertinggi dan tempat yang terbaik.


Bagi Asya, ini tentu saja tidak berlaku.


Meski akan menghadapi ujian, Asya masih saja sibuk bekerja di toko kue dan Cafe The Delmonte.


Semakin mendekati waktu ujian, The Delmonte semakin ramai oleh pengunjung. Belum lagi pesanan kue untuk acara ulang tahun dan tasyakuran, turut menuntut Asya tetap profesional bekerja meski sedang ujian.


Ia lebih memilih bekerja, dari pada belajar untuk menghadapi Ujian Nasional. Mencari rupiah menurut Asya adalah yang utama. Meski tak dapat dipungkiri Asya juga mengkhawatirkan nilai ujiannya. Namun nilai baik atau buruk untuk Asya tak akan jadi soal. Toh Dia juga tidak akan melanjutkan kuliahnya. Pikir Asya....


Mama Rosi terus mendorong Asya untuk melanjutkan kuliahnya. Ia mendesak Asya agar mau menerima beasiswa dari Bu Arum atau mencari beasiswa prestasi untuk dirinya. Mama Rosi sangat yakin jika Asya mampu memperoleh beasiswa prestasi.


Sedangkan Asya hanya pasrah, enggan berfikir yang terlalu rumit. Baginya hidup tanpa ayah dan bayangan kehidupan keluarganya yang seperti roller coaster itu seperti bayangan buruk.


Bagaimana tidak. Hidup Asya dan keluarganya yang dulunya bergelimang harta, dalam sekejap berubah menjadi gelandangan. jangankan rumah, untuk makan saja ia sudah kesulitan. Kerugian yang ditanggung ayahnya belum mampu ditutupi.


Ia harus rela pergi dari rumahnya, karna rumah yang ia tempati disita oleh Bank.


.........


~ Flash Back On ~


Entah kesalahan apa yang dilakukan pak Surya Atmaja pada proyek pembangunan Mall yang digadang terbesar di Jakarta, sehingga semua hartanya habis tersita untuk menutupi kerugiannya.



Lima tahun yang lalu keluarga pak Surya Atmaja dipaksa keluar dari rumahnya yang besar dan mewah seperti istana.


Tak banyak barang yang bisa mereka bawa, hanya beberapa pakaian. Karna barang mewah yang ada didalamnya, juga termasuk menjadi barang sitaan.


Mata mama Rosila membasah karena air terus saja merembes di sudut matanya. Ia menahan kuat isak tangisnya agar tak menambah beban bagi Pak Surya. Hatinya teramat pilu membayangkan nasib putra putrinya.


Saat itu Asya masih duduk di kelas VIII, sedangkan Arsya masih bersekolah di TK, harus ikut menanggung derita keluarga.


Beberapa tas dan kardus berisi baju dan barang yang boleh dimiliki keluarga Atmaja sudah terjajar rapi di halaman rumah.


Pak Surya hanya diam. Tentu saja hatinya bergejolak.


Hanya kata "maaf...." yang diucapkannya. Guratan kesedihan dan penyesalan jelas terlihat diwajahnya.


Mama Rosila berusaha menghibur Pak Surya.


"Tidak apa-apa Yah..., kita bisa mulai dari awal lagi. Ucap mama Rosi mengusap bahu pak Surya.


Pak Surya menoleh memandang wajah mama Rosi. Berusaha tersenyum ditengah kepedihannya.


Mama Rosi tahu betul, jika suami yang dicintainya itu kini juga sama menderitanya seperti dia. Bahkan mungkin lebih menderita. Ia merasa gagal menjadi Kepala keluarga yang harus melindungi Istri dan anak-anaknya.


.........


"Pak.... Bu... mari ikut saya....". Ajak Bu Mariam, Asisten rumah tangga di keluarga asya yang sudah mengabdi pada keluarga Atmaja lebih dari 30 Tahun.


Sejak ia masih muda, Bu Mariam dibawa Pak Atmaja ke rumah besar bak istana itu.


karena rasa terimakasihnya, Bu Mariam memohon kepada pak Surya dan keluarga agar mau tinggal di rumahnya selama belum mempunyai tempat tinggal.


"Rumah saya memang tidak besar, tapi kita bisa tinggal di sana bersama-sama Nyonya....". Bujuk Bu Mariam sambil mengelus punggung Mama Rosi yang tengah menahan tangisnya.


"Maafkan kami Bu... Kami akan merepotkan ibu...". Ucap mama Rosi menyambut ajakan Bu Mariam.


"Kami tidak masalah, besar atau kecil tempat kami tinggal, asal kami bisa berteduh bersama-sama". Mama Rosi melanjutkan ucapannya sambil memegang tangan Bu Mariam.


"Saya tidak merasa direpotkan Nyonya... keluarga Atmaja sudah membuat saya menjadi bagian dari keluarga ini. Jadi saya juga punya kewajiban untuk melindungi sesama anggota keluarga Atmaja ini, nyonya....". Ucap Bu Mariam menitihkan air mata yang sudah tidak dapat ditahannya.


"Baik Bu, Kami akan ikut kerumah ibu...". Kata mama Rosi berikutnya.


Asya dan keluarganya mengikuti Bu Mariam pulang kerumahnya.


Rumah sederhana dengan 3 kamar yang berada di pinggiran kota, yang didapat dari hasil bekerja di rumah keluarga Atmaja.

__ADS_1


Rumah ini sebelumnya ditempati Mina anak Bu Mariam dengan pak Warno.


Pak Warno dulu bekerja sebagai supir di keluarga Atmaja, sebelum beliau meninggal di usia yang masih tergolong muda.


Setelah Mina menikah, Mina ikut suaminya tinggal di Solo, sehingga rumah ini kosong tak berpenghuni.


Hanya sesekali Bu Mariam mengunjungi rumah ini, membersihkan dan melepas rindu pada pak Warno serta Mina putrinya.


.........


Selama beberapa bulan Pak Surya dan keluarganya tinggal di rumah Bu Mariam istri dari mendiang supir keluarga Atmaja.


Setelah menderita kerugian besar dan kehilangan perusahaan dan hartanya, Pak Surya jatuh sakit.


Tak lama kemudian, Beliau meninggal dunia saat Asya masih duduk di bangku kelas IX.


Sama di saat ujian seperti sekarang ini. Asya kehilangan ayah yang dicintainya.


Ujian Hidupnya terasa lebih berat dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan di soal ujian itu.


Asya berusaha pasrah, Ia belum tahu, tujuan hidupnya akan kemana. Ia merasa terlalu belia untuk memikirkan hal rumit semacam ini.


~ Flash Back Off ~


.........


Pagi ini Asya sudah menapakkan kakinya dihalaman sekolah.


Ia bergegas menuju ruang ujiannya. Ia memasuki ruang 23. Ia mencari mejanya.


Di Meja 10 tempat ia duduk.


Asya mengeluarkan peralatan tulisnya setelah mendudukkan dirinya.


Ia menunggu beberapa saat sebelum Ujian dimulai.


Asya mulai meneliti satu persatu temannya. Melihat siapa saja yang ada di kelasnya. Asya menoleh ke kanan, ada Dino terlihat duduk di kursi no 12.


"O...k...e...". Balas Asya dengan gerakan bibir diperjelas, karena tak mengeluarkan suaranya.


Asya menoleh kesisi lain,


Asya melihat Hans disebelah kirinya. Tepat disisinya, Antonio Hansel Wijaya duduk.


"Haiii.... Hans...". Sapa Asya menggoda Hans.


Hans hanya menoleh, memandang Asya tanpa arti. Ia menampilkan wajah datar tanpa ekspresinya.


"Wahhhh.... balik mode off nih rayap....". Batin Asya melihat Hans menjadi orang yang sama seperti biasanya, berbeda dengan malam tadi yang begitu cerewet terhadapnya.


Asya menyebikkan bibirnya, merasa sebal pada Hans.


Hans tersenyum simpul melihat mimik wajah Asya. ia menyembunyikan dengan segera berpaling dari pandangan Asya.


Hal ini sering Hans lalukan ketika melihat tingkah konyol Asya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Asya. Hans terlalu jaim bersikap manis di depan Asya


Ujian akan dimulai. Lembar soal dan jawaban sudah dibagikan oleh pengawas ruang.


Para siswa sudah menerima lembar ujiannya.


Sesegera mungkin Asya membaca baris demi baris peraturan ujian yang tercantum.



"yang dilarangkan memberikan jawaban ...., tapi aku tidak memberikan jawaban ujian ini, mereka yang meminta kok....". Gumam Asya menyangkal setiap peraturan yang tertulis.


Asya menggerakkan alisnya naik turun.


Ia mulai membaca satu persatu soal yang tertuang dalam lembar pertanyaan. Tanpa menunggu lama, Asya mulai mengerjakannya soal ujian dengan teliti.


Sudah habis lembar pertama dikerjakan, ia melanjutkan lembar-lembar berikutnya.


Waktu masih bejalan 55 menit. Masih ada sisa waktu 35 menit.

__ADS_1


Jawaban Asya sudah selesai dikerjakan.


Ia menoleh kesisi kanannya. Ia melirik Dino dan kawan-kawan sudah bersiap menerima jawaban dari Asya.


Asya menegakkan pandangannya. Senyumnya menggantung di wajah cantiknya. Jemari tangannya sudah bersiap memberikan kode jawaban ujian pada teman-temannya.


Mereka tau betul, sandi sandi yang digunakan Asya, karna mereka ikut menentukan sandi nomer soal dan jawaban bersama-sama setiap ujian berlangsung.


Jauh-jauh hari mereka sudah sering latihan kerja sama. Mereka tak kalah dengan pada sindikat penjual jawaban dan joki jawaban ujian.


(hayooo ngaku siapa yang suka contekan waktu ujian....🤭)


Asya masih memperhatikan Pengawas ruang yang duduk mengisi administrasi kehadiran peserta ujian.


Asya bersikap tenang, ia memperhatikan setiap gerakan pengawas. Sedangkan Dino dan teman-temannya masih fokus melihat kode-kode yang diberikan Asya melalui jari lentiknya.


Asya mengibaskan rambutnya kesamping, tanda tugasnya sudah selesai.


Ia menoleh ke arah Hans.


Ia melihat Hans masih serius mengerjakan ujiannya.


yacchhh.... seperti biasa, Hans selalu santai di keadaan apapun. Kecuali mimik wajahnya tadi malam saat berlari bersama Asya. Itu adalah mimik Wajah termanusiawi menurut Asya.


Bel tanda berakhirnya waktu ujian berakhir sudah berbunyi.


Asya dan teman-temannya mengumpulkan lembar pertanyaan dan jawabannya pada pengawas ruang.


Setelah usai Asya melangkahkan kakinya keluar kelas.



Asya duduk di selasar sekolah.


Bercengkrama bersama teman-temannya sebelum Ia beranjak pulang.


Terdengar suara gaduh teman-teman Asya yang saling mengkoreksi jawaban ujian mereka. Memperdebatkan jawaban yang benar dan salah, salah satu diantara mereka bersikukuh dengan argumennya, seolah jawabannya yang paling benar.


(Kebiasaanya Author...😂, gimana sama reader....)


Asya tidak peduli dengan kegiatan seperti itu. Baginya setelah jawabannya diserahkan, maka tidak perlu difikirkan. anggap saja seperti sampah yang harus segera di singkirkan, bukan dikenang....


(Dari pada pusiiiiiiing.... 🥴).


.


.


.


.


.


...~ Next Episode ~...


Terimakasih sudah berkunjung...


jangan lupa tinggalkan jejak 💥


Vote 💯


dan likenya👍


🤭


.


.


.


{Mathor }

__ADS_1


__ADS_2