MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 1, INSIDEN DI Kost


__ADS_3

“Ri... Ri buka pintunya, Ri!” gedoran kencang dan menggila di pintu sebuah kamar kost malah memaksa penghuninya menyetel volume musik heavy metal yang diputarnya dengan lebih keras.


“Ri... Riana, jangan nekat napa? Aduh!” seruan yang lain terdengar lagi, dan gedoran pintu semakin keras berbunyi. Beruntungnya, malam ini sedang tidak ada bapak dan ibu kos, mereka pulang ke Jawa untuk satu minggu kedepan. Gimana kalau mereka tau ada insiden maha heboh nyaris di waktu tengah malam seperti ini?


“Ra, gimana nih?” tanya seseorang. Gadis bernama Maura yang ada di sebelahnya juga jadi bingung. Ia garuk-garuk kepala sebentar, sambil tetap menatap cemas sekaligus penuh harap ke arah pintu kamar kost yang tertutup rapat itu.


“Telepon ke HP-nya aja, gue tau, yang dipake buat play musik itu kan hp-nya,” kata Maura.


“Bener juga lo... Sel, ini giliran lo!” seru seorang gadis kepada gadis lain yang baru keluar dari kamar seraya mengucek-ucek mata. Kayaknya dia udah tidur, tapi terus bangun karena ada suara-suara gaduh malam ini.


“Ada apa sih, MbakRa,Mbak Mi, kayaknya heboh banget...”


“Riana Sel, Riana...” kata Maura.


“Eh, Mbak Riri kenapa?” tanya gadis itu panik. Sepertinya, ia mulai sadar dengan situasi.


“Dia pulang-pulang langsung kunci kamar, terus setel musik keras banget, kalau gue sama Milia yang udah temenan bertahun-tahun sama Riana udah hafal banget, pasti lagi something tuh anak...”


“Something apa? Kalian ini ngomong apa sih?”


“Aduh Selena, cepetan lo ambil HP, terus telepon dia, sebelum semuanya makin parah!” seru Maura tak sabar. Dibentak begitu, Selena – yang tadinya masih setengah mengantuk – buru-buru ke kamarnya, mengambil ponsel dan segera menghubungi nomor telepon Riana. Maura dan Milia mendengar-dengarkan dari jarak yang agak jauh. Sesaat suara musik berganti ke suara notifikasi telepon. Dan sepertinya, penghuni kamar itu juga melakukan pergerakan, dan segera mengangkat panggilan tersebut.


“Halo...”


“Mbak Ri, ini Selena. Boleh dibuka pintunya?”


“Kenapa dek?”


“Buka aja mbak, aku mau main, mau ngopi film, kan mbak bilang mau minjamin HDD ke aku...”


“Iya sebentar, Sel...” Selena segera mematikan telepon, dan ia segera meng-kode Maura dan Milia untuk bersiap di posisinya. Dan begitu pintu dibuka...


“Masya ALLAH Rianaaaa!” Milia histeris. Ia menghambur dan memegang pergelangan tangan Riana yang terbalut perban setengah, setengahnya lagi dibiarkan terbuka dengan darah yang masih mengalir. Selena berlari menuju  kamarnya, mengambil kotak P 3 K. Sementara itu, Maura pergi ke bawah (dapur), berinisiatif menyediakan teh hangat. Milia menuntun Riana masuk kembali ke kamarnya, dan gadis itu bergidik kemudian, melihat pecahan cermin yang berserakan, bersiap melukai siapa saja yang tidak berhati-hati.


“Ri, kenapa? Kenapa lagi sayang?” tanya Milia lembut. Setelah ia memastikan Riana duduk dengan tenang (dan jauh dari benda-benda yang berpotensi dijadikan senjata atau alat buat melanjutkan kegiatan ilegalnya), gadis itu segera pergi mengambil sapu dan pengki, membersihkan pecahan kaca yang berserakan di seluruh penjuru kamar. Hatinya selalu terasa remuk dan patah kalau menyaksikan sahabatnya seperti ini ; hancur, tak berdaya. Dan dia adalah orang yang paling tidak terima seandainya ada yang tega menyakiti Riana sedikit saja. Setelah kamar Riana cukup rapi (dan cukup manusiawi), kedua teman perempuannya, Maura dan Selena masuk ke dalam, membawa bawaannya masing-masing dan segera bertindak. Dengan hati-hati (dan sedikit mengabaikan rasa ngeri), Selena segera memegang tangan Riana, dan mengobatinya. Maura ketakutan bersama empat cangkir teh di atas baki yang dibawanya, sementara Milia, segera menyandarkan sapu dan pengki kembali ke tempatnya, setelah semuanya selesai.


“Sakit, Mbak Ri?” tanya Selena lembut. Riana hanya mengangguk. Air mata masih membanjiri pipinya, dan pandangannya... demi apa, pandangan itu kosong.


“Minum dulu tehnya, Ri,” ucap Maura seraya menyerahkan salah satu cangkir teh kepada Riana. Tangannya yang bebas dan tidak terluka menerima minuman itu, dan menghirupnya sedikit. Camomile memang selalu begitu ; aromanya menyenangkan sekaligus menenangkan.


“Sayang, lo udah siap cerita?” kini ganti Milia yang menjalankan tugasnya. Selena langsung meng-cut Milia.


“Jangan sekarang mbak, biarkan Mbak Riri tenang dulu, aku khawatir masih akan terjadi ledakan-ledakan, biarkan dia dan dirinya sendiri selesaikan ini dulu... Kita cukup melakukan apa yang harus kita lakukan,” jelas Selena. Milia dan Maura mengangguk-angguk, paham. Ada untungnya juga dia kost disini, ketemu sama Selena yang merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan psikologi. Selama ini, mereka menganggap Riana itu aneh, karena hobi bawa gunting, cutter, silet, peniti atau jarum kemana-mana. Mereka sama sekali buta tentang dunia psikologi – atau setidaknya, apa yang sebenarnya terjadi dengan kawan mereka, sampai akhirnya, dua tahun lalu, ketika mereka bertiga kost disini, dan Selena (salah satu penghuni kamar), keluar, dan langsung menjerit, menyebutkan satu istilah yang bikin baik Maura ataupun Milia bertanya-tanya.


“Ini kenapa peralatan Self Harm ada disini? Punya siapa?”


***


Riana, Maura dan Milia adalah tiga sahabat. Sama-sama gagal melanjutkan ke perguruan tinggi, menjadikan mereka kompak merantau dari desanya menuju Jakarta. Di antara mereka bertiga, Cuma Riana yang kerjaannya lumayan, sebagai penyanyi, dan sebagai guru kesenian di sebuah SMA swasta di kota ini. Kalau Maura, sebenernya pekerjaannya lumayan juga sih. Karena dia memiliki wajah yang cantik dan badan yang bagus, akhirnya, dia direkrut menjadi SPG (Sales Promotion Girl), produk-produk kecantikan dari salah satu brand ternama. Sedangkan Milia, karena dia orangnya lembut, penyabar, dan keibuan, akhirnya dia mendapat pekerjaan di salah satu pusat permainan/penitipan anak di sebuah pusat perbelanjaan. Tapi itu kalau weekend, kalau sehari-harinya, ia bekerja menjadi pelayan di sebuah restaurant cepat saji.

__ADS_1


Dari ketiga sahabat ini, sebenernya kehidupan Riana-lah yang bisa dibilang “berada”, pas SMA (mereka seangkatan), dia selalu bawa motor pergi dan pulang sekolah. Dan baik Milia ataupun Maura, keduanya sama-sama sering nebeng sama Riana. Pernah sekali waktu mereka bertiga sama-sama naik motor, dan Riana adalah pengemudinya (cenglu, bonceng telu alias boncengan bertiga), terus mereka malah ngusruk di semak-semak dekat gerbang menuju desa. Dari situ, Riana nggak berani lagi boncengan bertiga. Kalau mau nebeng, jadinya gantian, misal hari ini Maura, besoknya Milia.


“Sek talah, kalau si Riana itu orang berada, kenapa dia nggak kuliah? Kenapa ikut  merantau sama teman-temannya?” Hih, bentar  napa, aku belom selesai cerita, jangan di- cut dulu.


Riana itu nggak diizinkan kuliah sama orang tuanya (dalam hal ini, ayahnya, karena ibunya sudah meninggal sejak beberapa tahun yang lalu). Ayahnya Riana lebih pengen dia jadi artist dan menghasilkan uang secara cepat, menurutnya, jadi artist itu lebih menguntungkan, dan seterusnya, dan seterusnya. Riana tidak mau begitu. Menurutnya, jadi apapun dia nanti, pendidikan tetap yang terpenting. Jadi karena jengah dan selalu tidak cocok dengan sang ayah, Riana mengalah, ia pergi dari kota kelahirannya, dan bersama kedua sahabat perempuannya, mereka bertiga mengepakkan sayap-sayap kecil itu, di belantara luas Jakarta, hingga detik ini.


Lalu bagaimana pertemuan mereka dengan Selena? Begini ceritanya. Ini terjadi ketika mereka sampai di Jakarta, dan kesulitan mencari kos-kosan. Untungnya Milia punya om dan tante yang tinggal di Jakarta, jadi mereka menumpang selama seminggu disana, sambil tetap cari-cari kost. Oh ya, biarpun numpang, mereka tetep bantu-bantu disana kok, jadi nggak di-julid-in. Kebetulan tantenya Milia punya usaha cake resort dan toko bunga. Jadi selama seminggu disana, mereka ikut bantu-bantu, kerjain apa aja yang mereka bisa. Singkat cerita, berdasarkan rekomendasi kakak sepupunya Milia (anaknya si om dan tante tadi), mereka mendapatkan tempat kost khusus perempuan yang letaknya cukup strategis, kemana-mana dekat, kecuali ke Gurun Sahara (ya iyalah!). “Kost Srikandi”, itulah nama tempat kost-nya. Dari plang di depan yang dibaca, ketiga perempuan itu merasa takjub sekaligus penasaran. Sebenarnya ini tempat kost macam apa? Kok namanya anti mainstream begini?


Pemilik kost ini adalah Ibu Dian dan Pak Fakhry. Pasutri ini membuka tempat kost sudah sejak empat tahun lamanya. Dua puluh tahun hidup ber-rumah tangga tanpa anak, membuat mereka berdua sangat kesepian, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk membuka kost putri ini. Sebenarnya, ada keinginan dari Pak Fakhry untuk membuka kost bebas saja, soalnya kalau dia buka kost putri... Nanti Putri-nya tinggal dimana? *nggak dong, bukan itu yang jadi soal. Maksudnya, biar peminatnya lebih banyak nantinya, nggak Cuma menjangkau satu pangsa pasar saja. Tapi Bu Dian tidak setuju, soalnya katanya, kelakuan anak konda eh, anak muda zaman sekarang tuh aneh-aneh, bisa kacau kalau dicampur aduk jadi satu, lalu disajikan selagi hangat kayak bubur ayam. Hingga akhirnya, diambil jalan tengah untuk membuat dua lokal kos-kosan, yang satu untuk putri, yang satu untuk putra. Itu sebabnya kenapa rumah kost putri ini dinamai “Kost Srikandi”, karena tempat kost putra-nya dinamai “Kost Arjuna”.


Bu Dian dan Pak Fakhry adalah sosok pasutri yang ramah, terlihat cepat akrab sama anak-anak yang kost disana. Jadi setelah mendapat kesan pertama sebaik itu, ketiga gadis tersebut segera menyetujui kesepakatan harga sewa kamar kost dan melihat-lihat lokasi. Dan ketika akhirnya hari pindahan itu datang, ketika ketiga gadis itu sedang asyik ngangkat-ngangkat barang, datanglah seorang gadis berkepang dua dengan ransel super besar yang ada di gendonngannya. Kalau dilihat dari penampakannya, sepertinya dia sebuah eh, seorang mahasiswi.


“Penghuni baru, mbak?” sapanya ramah.


“Iya dek, eh, mbak... Gimana nih manggilnya?” balas Milia. Dia juga orangnya cepet akrab, jadi Selena (nama gadis mahasiswi itu), tersenyum dan menatap matanya.


“Panggil Selena aja mbak, nggak papa. Butuh bantuan kah?”


“Oh nama kamu Selena tah? Nggak usah Sel, udah sebentar lagi selesai kok, kamu juga kayanya baru pulang kan. Sekolah?” tanya Milia lagi.


“Dari kampus mbakk. Ya udah saya ke kamar sebentar ya, kalau butuh bantuan, ketuk aja, kamar saya di lorong sebelah sana, dekat kamar mandi utama. Permisi mbak...” kata Selena sopan. Milia dan kedua sahabatnya mengangguk. Mereka kembali melanjutkan beres-beres barang.


***


Sore harinya, ketika mereka sudah asyik beristirahat di kamar masing-masing, mereka mendengar suara Selena yang bernyanyi-nyanyi riang, sedang berjalan di lorong menuju kamarnya. Kelihatannya, ia juga membawa sesuatu di tangannya. Tapi, tatapannya terhenti, ketika ia melihat ada sebuah kotak kardus tergeletak di depan tangga, dengan posisi yang setengah terbuka. Penasaran, gadis itu mendekati dan ia terkejut ketika melihat isi dari kotak kardus mungil itu ; ada gunting, pisau cutter, jarum, dan lain-lain, pokoknya serem deh.


“Ini kenapa peralatan Self Harm ada disini? Punya siapa?”


“Anu, mbak, saya nemuin ini, punya siapa ya kira-kira? Apa ini punya salah satu dari kalian bertiga?” tanya Selena seraya mengangkat kardus itu tinggi-tinggi.


“Oh ini punya Riana, kayaknya.” Jawab Milia.


“Oh begitu. Mohon maaf, Mbak Riana milih kamar yang sebelah mana ya?” tanya Selena lagi.


“Itu, yang dekat balkon...” jawab Milia.


“Oh, okay, makasih ya mbak, saya antarkan dulu, takutnya mbaknya nyariin barang ini...”


“Silakan, Sel, aku juga mau lanjut ngamar nih, masih pegel, habis ngangkat-ngangkat barang...” kata Milia seraya meringis.


“Monggo, mbak. Oiya, ini, tadi saya habis beli nasi bungkus dan gorengan di depan, diterima ya mbak, anggaplah sebagai tanda perkenalan,” kata Selena seraya menyerahkan bungkusan itu ke tangan Milia.


“Ya ampun, seriusan, Sel? Kamu baik sekali, terima kasih ya...” kata Milia seraya menerima bungkusan itu dengan satu tangannya yang bebas, karena tangan satunya memegang pakaian kotor.


“Sama-sama, mbak. Kalau mbak yang satunya, siapa ya namanya?” tanya Selena lagi.


“Oh, itu Maura, kamarnya di sana tuh yang paling depan. Oiya, aku Milia, Sel, perasan Cuma aku yang belum memperkenalkan diri ya...” kata Milia seraya tertawa.


“Namaku Milia, itu yang rambutnya sebahu, namanya Maura, dan yang rambutnya sepinggang, namanya Riana. Kami pendatang disini, kami asli dari Malang...”

__ADS_1


“Oalah malang to, mbak? Aku ya dari surabaya...” kata Selena antusias.


“Lah iyo, ketemu dulur ndek kene jebule... Yo wes ngono iku pokoke...” kata Milia, yang mendadak menggunakan bahasa ibu alias bahasa daerahnya, Bahasa Jawa.


“Oalah iyooo, iyo. Yo wes iki tak terke nang sebelah sek yo panganan karo barange...” kata Selena.


“Iyo wes, kono, Sel, aku tak ngamar disek... Suwun yo iki,” kata Milia seraya mengangkat bungkusan nasi dan gorengannya.


“Yo, podo-podo mbak,”


***


Semenjak hari itulah keempat perempuan itu menjadi dekat hingga saat ini. Banyak hal yang menghubungkan mereka, yang membuat mereka terlihat cocok. Dari mulai mereka yang sama-sama perantau, sampai mereka yang sama-saama penggiat literasi. Selena lebih muda dua tahun dari mereka, maka mereka sudah menganggap gadis itu sebagai adik.


***


“Mbak Ri, sekarang istirahat ya. Sudah makan belum?” tanya Selena, usai ia membalut luka-luka di tangan Riana. Riana mengganti jawaban dengan gelengan kepala.


“Mau makan nggak mbak? Aku buatin sesuatu, mbak suka sama nasi gorenng buatan aku,  kan?” tawar Selena.


“Pergi!” seru Riana datar.


“Iya mbak, iya. Kami pergi. Tapi kalau mbak lapar, telepon aku ya...” kata Selena seraya memberi kode kapada dua perempuan yang masih mematung kebingungan di sana. Riana mengacuhkan segala bentuk perhatian Selena itu, ia mengambil HP-nya dan kembali memutar musik. Kali ini dengan volume yang wajar, karena sudah malam.


“Selamat beristirahat, Mbak Riri...” kata Selena seraya menyelimuti tubuh Riana yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Setelah itu, mereka semua membereskan barang-barang bawaan dan keluar dari dalam kamar tersebut. Selena mengatur suhu AC di kamar itu agar sesuai, setelahnya, baru ia menyusul Milia dan Maura keluar ruangan.


“Sel, serius lo mau begadang buat Riana?” tanya Maura seraya mencuci cangkir-cangkir teh di dapur bawah. Sementara itu, Milia malah menyeduh mie instant, karena dia mau nonton drakor marathon malam ini, mumpung besok libur.


“Insya ALLAH iya, mbak, sekalian aku ngerjain tugas akhirku, biar cepet beres.” Jawab Selena.


“Betah lo ngadepin arca hidup begitu?” komentar Maura.


“Betah lah mbak, psikolog adalah teman untuk mereka-mereka yang tertekan,” jawab Selena.


“Lo kenapa buru-buru pengen kelarin tugas akhir dan wisuda?” tanya Maura.


“Biar bisa langsung ambil kuliah profesi mbak, biar bisa praktik... Makin cepet bisa bantu orang, makin bahagia aku... Masalahnya kalau diperhatiin gitu, makin lama, makin banyak orang-orang yang sering melakukan self-harm...” jelas Selena.


“Lo sendiri apa pernah kayak gitu?” tanya Milia hati-hati.


“Pernah, dan sampai sekarang...”


“Haaaah?” kedua gadis itu sukses melongo. Bahkan tangan Milia yang mau menyentuh rak mangkuk pun tergantung di udara, saking kagetnya.


“Dokter aja masih butuh dokter yang lain kalau dia sakit kan, nggak ada dokter yang bisa nyembuhin dirinya sendiri, gitupun dengan psikolog, ahli jiwa... Semua yang ada di dunia ini saling berhubungan, dan saling ketergantungan...” kata Selena bijak.


“Iya sih, Sel, lo bener. Ya udah, good luck yaa, kita sebagai mbak lo disini Cuma bisa do’ain... Bener gak, Ra?” tanya Milia yang kini sudah berhasil mengambil mangkuk dari rak.


“Setuju... Kita itu saudara disini, Sel, jadi kalau lo ada apa-apa ngomong aja ke kita...” kata Maura.

__ADS_1


“Iya mbakkuuu, wes tenang ae nek masalah iku... Yo wes aku naik yaa,” pamit Selena. Maura dan Milia Cuma mengangguk. Sesampai di atas, sebelum ke kamarnya, Selena mengintip sebentar ke kamar Riana. Syukurlah, gadis itu masih tertidur dengan begitu tenangnya. Entah kenapa, Selena selalu sedih saat melihat mbaknya yang satu itu itu berada dalam posisi begini. Mungkin saja ini juga efek karena ia teringat dengan masa lalunya sendiri, masa lalu yang mempertemukan dan memperkenalkannya dengan dunia psikologi yang rumit.


(TBC).


__ADS_2