
Yes! Rangkaian kompetisi sudah selesai! Kini saatnya semuanya memanjakan diri dengan kegiatan menyenangkan versi masing-masing. Riana sedang duduk di sebuah sofa panjang. Di sekelilingnya, ada rekan-rekannya sesama guru yang juga membawa perwakilan siswa-siswi mereka untuk tampil dan berlomba dalam kegiatan ini.
“Kamu, serius masih dua puluh satu tahun?” tanya Pak Roni, seorang guru SMA dari Jogja.
“Nggih pak, serius...” jawab Riana sopan seraya menundukkan pandangannya. Dia cukup rikuh berada di keramaian seperti ini, tapi ia harus sabar menunggu, karena anak-anaknya sedang diwawancara oleh salah satu media lokal Malang.
“Dan kamu belum kuliah? Tapi kok bisa ngajar di sekolah itu? Bukannya itu salah satu SMA swasta terbaik di kota kamu?” tanya Bu Celine, salah satu guru tari asal Surabaya.
“Iya bu, nggak tau kenapa saya bisa nyangkut ngajar disana, mungkin memang rezekinya,” jawab Riana seraya tersenyum. Jujur, sebenernya dia mulai risih ditanya hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya sebegai guru. Bberuntung, tiba-tiba, Muara datang dan mengajaknya berbicara.
“Ri, itu temen-temen media mau ketemu kamu, anak-anakmu juga masih disana, tuh,” kata Muara seraya menunjuk deretan sofa di sebelah utara ruangan.
“A-Aku? S-Sekarang?” Riana mendadak meremas ujung bajunya, ia mulai cemas.
“Iya, Ri. Tenang ya, everything okay. Yuk,” ajak Muara. Riana akhirnya mengangguk, meskipun terpattah-patah. Dan dengan gerakan lambat, akhirnya iya mengikuti Muara ke tempat anak-anak muridnya.
“Bilang sama aku, disana tadi kamu juga gak begitu nyaman, kan?” tanya Muara seraya setengah berbisik.
“Iya sih... Tapi ketemu wartawan juga bukan sesuatu yang baik buat aku sekarang...” jawab Riana.
“Aku tau, tapi percaya deh, semua akan baik-baik aja. Yuk,” kata Muara meyakinkan. Riana mengangguk, pasrah.
***
Ballroom hotel, lagi. Sekarang adalah panggung bebas, dimana siapa saja bisa mengisi, dan mempertunjukkan bakatnya, sambil menunggu pengumuman. Riana duduk di baris tengah, bersama anak-anaknya, dan Abhi yang ternyata juga masih sama, masih lebih banyak diam, seperti beberapa hari lalu saat Riana memperhatikannya.
“Bhi...” panggilan Riana itu sukses menggugah Abhi dari alam pikirannya, sehingga ia menoleh kepada gadis itu.
“Ya, Ri? Kenapa?”
“Kamu tu lho yang kenapa, beberapa hari ini tak perhatikan kok diem aja, sih?” tanya Riana.
“Aku nggak papa, Ri, paling Cuma capek,” jawab Abhi pelan.
“Mas! Mas Abhi!” seru Ganesh seraya berlari-lari bersama Wisnu. Riana kaget. Ini anak tuyul dua kenapa lagi pake acara lari-larian segala?
“Kamu kenapa Nesh? Ini juga, kenapa Wisnu ikut-ikutan lari?”
“Nyari Mas Abhi, kok. Ayok mas, jadi nggak?” tanya Ganesh.
“Kolab sama band-mu ta? Ya jadi lah, ayok...” kata Abhi.
“Yuk, naik, sekarang giliran kita,” kata Ganesh. Abhi mengiyakan. Dengan digandeng Wisnu, mereka semua naik ke atas panggung.
“Lagu ini aku persembahkan special buat seseorang yang selalu special di hati ini juga. Tapi entah, dia tau atau enggak.” Ucap Abhi, sesaat setelah dia berada di posisinya. Ganesh merasakan tangannya yang berkeringat di atas tuts keyboard-nya. Hari inikah semuanya akan disegerakan?
“Tapi nggak papa, mau dia tau, atau enggak pun, aku gak peduli, karena aku akan tetap menyanyikan lagu ini buat dia.” Kata Abhi lagi. Intro-pun dimulai, dan sebuah lagu yang sangat galau itupun terlantunkan perlahan.
“Belahan jiwa
Dekatlah kepadaku
__ADS_1
Ku ingin engkau tahu
Ku mengagumimu
Engkau dan aku
Bagaikan doa yang mengikat
Dalam setiap langkahku
Namamu ku sebut
Ku jatuh
Ku jatuh kembali padamu
Ku lepas semua raguku
Hatiku
Hatiku jatuh kepadamu
Sungguh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu
Kau nyali terakhirku
Hu hu hu
Ku jatuh
Ku jatuh kembali padamu
Ku lepas semua raguku
Hatiku
Hatiku jatuh kepadamu
Sungguh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu
Kau nyali terakhirku ho
Kau nyali terakhirku” Lagu berjudul Nyali Terakhir dari Glenn Fredly itu berhasil dibawakan begitu apik dengan ******* yang pas oleh Abhi. Tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi. Usai Abhi merampungkan lagunya, ia terjatuh, lalu tidak sadarkan diri. Semua orang panik. Crew di panggung, temen-temen band-nya Ganesh, bahkan Riana juga. Ia segera berlari dari kursinya, guna memanggil team medis untuk segera menolong Abhi.
***
Sudah satu jam berlalu, tapi Abhi belum kunjung membuka matanya. Pengumuman lomba sebentar lagi akan segera dimulai. Riana sudah mendengar dari team medis, bahwa rencananya, Abhi akan dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Riana resah. Ia tak fokus, pikirannya terbagi atas banyak hal. Riana masih merasa shock atas insiden Abhi yang pingsan secara tiba-tiba. Dia sudah tau harus pergi ke rumah sakit mana, tapi ia harus menunda keinginannya dulu, karena murid-muridnya disini sedang membutuhkannya, dan mereka juga cemas akan hasil akhir yang didapat setelah pertempuran mati-matian selama beberapa hari ini.
“Dan, peraih terbaik pertama pada cabang Band Festifal Pekan Budaya Pelajar adalah... Nomor 002, atas nama Simple Band, asal sekolah dari SMA Pelita Bangsa!” Riana tenggelam di antara gemuruh tepuk tangan, dan keenam anak remaja yang memeluknya dari berbagai arah.
__ADS_1
“Ibu, we did it, kita berhasil!” seru Saras kegirangan seraya tetap memeluk Riana. Riana mengusap air mata harunya yang menetes. Tak disangka, ia telah melakukan semua yang terbaik dalam melatih anak-anaknya, dan semuanya tidak berakhir sia-sia, terbukti dengan pencapaiannya sekarang, sebagai peraih juara pertama dalam Festival Pekan Budaya Pelajar tahun ini. Dan bukan Cuma dia seorang yang bangga atas pencapaian yang diraih oleh sekolahnya, tapi juga Pak Catur selaku pelatih teater kelompok dan monolog, karena kedua cabang itu juga mendapatkan hasil terbaik, meskipun belum jadi juara pertama.
“Saya bilang juga apa, muasuuuk Mbak Riana, mesti josss iki hasile!” kata Pak Catur seraya menepuk-nepuk bangga pundak Riana.
“Alhamdulillah, terima kasih pak. Kemenangan ini terjadi juga atas kerja sama semuanya...” kata Riana.
“Tapi tanpa pelatih kita yang the best, kita nggak akan bisa bergerak kemana-mana, kan? We love you, Ibu Rianaaa!” kata Saras lagi, seraya tetap memeluk Riana, enggak lepas-lepas. Memang, Saras ini ekspresif anaknya, dan karena sikapnya yang begini ; ekspresif dan cenderung ceplas-ceplos, dia bisa mudah dicintai dan dijauhi dalam waktu bersamaan, karena saking ekspresifnya, dia bisa ngomongin apa aja yang ada di pikirannya langsung di detik yang sama, tanpa ingat kalau dia perlu menyaringnya dulu.
“Iya-iya, Saras, tapi dilepas dulu dong ini, ibu jadi kayak punya tempurung kayak kura-kura nih kalau kamu nempel terus begini...” Riana tertawa, seraya mengacak sayang rambut Saras.
“Oiyaaa, lupa bu, maaf,” Saras meringis, lalu melepaskan diri dari pelukan Riana. Usai mereka foto-foto mengabadikan moment kemenangan mereka, Muara datang dan menarik tangan Riana, membawanya ke sudut ruangan yang agak sepi.
“Kenapa, Ra?”
“Kamu ke rumah sakit, sekarang, Abhi cari kamu soalnya. Biar aku yang anter,” kata Muara.
“Harus sekarang?” Riana bingung.
“Iya, lagian, aku harus kasih tau sesuatu juga ke kamu, dan ini penting...” kata Muara lagi.
“Hah? Ada apa sih? Ini serius ya kayaknya? Kenapa sih Ra? Ada apa?” tanya Riana yang mulai panik.
“Nanti aku kasih tau, sekarang ayo ikut dulu...” kata Muara. Riana mengangguk. Ia begitu penasaran dengan apa yang hendak disampaikan oleh Muara.
***
Riana menatap brankar yang terdapat satu sosok di atasnya dalam diam. Sosok itu adalah yang sudah mengisi hari-harinya beberapa bulan terakhir, sosok itu adalah sahabatnya, bersama Ganesh, Wisnu, juga Muara. Rasanya sulit dipercaya, kemarin-kemarin mereka masih berjalan bersama, tertawa, dan bersenang-senang. Tapi kenapa sekarang? Ah... Riana mendesah. Kabar ini begitu mendadak. Semua begitu tiba-tiba. Dengan ekspresi dan perasaan hancur, Muara memberi tahunya sesuatu yang sungguh tak pernah ingin dia dengar, baik saat ini ataupun mungkin nanti.
“Abhi kena leukimia, Ri, sudah stadium tiga...” Riana mengusap tangan yang menempel erat di samping tubuh si empunya. Ia memandangi wajah itu, dan matanya yang terpejam. Hatinya sakit sekali, ia telah memikirkan banyak kemungkinan, termasuk, kemungkinan akan kehilangan. Satu dari sekian banyak takdir hidup buruk yang tidak pernah dia inginkan.
“Riana...” pemilik tubuh itu kini berbicara. Matanya membuka, tapi tak tampak apa-apa olehnya, kecuali satu ; ia merasakan kini tangannya tengah digenggam oleh seseorang.
“Kenapa Bhi? Kenapa harus ada cerita ini di antara kita? Dan rahasia ini...”
“Soal itu nggak penting, Riana. Yang lebih penting adalah soal hatiku yang terus-terusan berdetak untuk kamu. Maaf, Ri, aku telah menodai persahabatan kita, aku mencintaimu...” ucap Abhi perlahan. Riana membiarkan air matanya turun begitu saja. Ia mengerti kini, tentang semuanya ; termasuk tentang apa yang pernah dipercakapkannya di bandara sebelum keberangkatan mereka ke Kota Malang ini.
“Entah ya Ri. Dan kembali di tahun ini, aku jatuh cinta lagi sama seorang perempuan. Tapi kayaknya sekali lagi takdir belum berpihak padaku. Cuma masalahnya... Kenapa aku harus selalu dipertemukan terus sama dia, ya?”
“Jadi... Perempuan yang kamu maksud pada ceritamu di bandara tempo hari itu... Aku?” lirih Riana. Dan anggukan pelan Abhi membuat air mata gadis itu mengalir semakin deras.
“Sekarang semua terserah kamu. Yang penting aku udah katakan semuanya, walaupun secara nggak langsung, malah pake lagu. Hahaha, kayak ABG banget ya?” Abhi mencoba tersenyum, ini adalah usaha terbesarnya, menampakkan diri bahwa dia benar-benar tegar, walaupun, justru semua terasa sebaliknya.
“Abhi... Maaf... Perasaan kita nggak sama...” Riana tidak sanggup lagi. Air matanya mengalir semakin deras. Ia menyayangi Abhi, itu sudah pasti, semua tau dia sayang, dia peduli. Tapi hanya sebatas sebagai sahabat, hanya itu. Untuk selebihnya, ia tidak berani, karena traumanya belum lagi hilang atas insiden pengkhianatan yang menimpanya kemarin.
“Aku tau... Dan aku gak peduli, yang penting aku udah ngomong. Dan kamu... Kamu nyali terakhirku, Riana. Tapi kurasa, kamu memang gak perlu bersanding sama aku, karena disana, di luar, di suatu tempat paling dekat dengan hidup kamu, ada seseorang yang jauh lebih layak untuk bersanding dengan kamu, dan dia bakal menjaga kamu juga, melindungi kamu dari berbagai hal. Yang jelas, dia lebih sempurna dari aku...”
“Berhenti bicara tentang kesempurnaan, Abhi, nggak ada yang betul-betul sempurna di dunia ini. Yang ada Cuma siapa yang tetap bertahan menjadi orang baik dan kuat, sekalipun dunia selalu menipunya, sekalipun takdir selalu bercanda dengan cara yang buruk kepadanya...” ucap Riana.
“Tapi, soal sosok seseorang yang akan melanjutkan perjuangan aku buat menjaga kamu, itu serius, itu beneran, Ri...”
“Memangnya siapa dia?” tanya Riana. Ia tidak penasaran, hanya saja, ia ingin Abhi terus berbicara apa saja kepadanya, ia belum rela kalau ia akan kehilangan pria ini, cepat atau lambat, karena penyakitnya.
__ADS_1
“Muara...”
(TBC).