
“Ibu Riana, mau kemana?” sapa salah seorang guru, ketika Riana baru saja mematikan laptopnya. Ini hari Jumat, Friday dalam bahasa inggris. Atau kebanyakan orang mengganti/mempelesetkannya menjadi freeday, alias hari bebas menuju weekend.
“Ini mau pulang, bu. Kebetulan pekerjaan sudah beres semua,” jawab Riana sopan seraya memasukkan laptop beserta charger dan perintilannya kembali ke dalam tas.
“Oh, begitu. Tapi sepertinya ibu gak bisa pulang cepat deh, soalnya anak-anak band ibu (Saras CS), sedang menanti bersama seseorang di kantin sekolah,” ucap ibu guru itu lagi.
“Hah? Saras CS? Menanti saya dengan siapa?” Riana heran.
“Aduh, kurang tau ya bu, tapi kayaknya bapak-bapak gitu, tampilannya perlente, kayak business man gitu...”
“Walah, ya sudah saya cek deh bu, terima kasih ya infonya,” kata Riana.
“Iya bu, sama-sama,” jawab guru itu. Riana segera berlalu menuju kantin, seperti apa yang dikatakan oleh rekan gurunya tadi. Ia harus tahu dengan pasti, dengan siapa Saras CS tengah menunggunya disana. Apa jangan-jangan itu ayahnya? Tapi untuk apa juga datang ke mari? Apa beliau ingin memaksanya pulang dan meneruskan menekan dengan ambisinya yang sangat kuat itu? Tidak! Tidak mungkin! Dan sebaiknya memang Riana tidak terlalu banyak bermain-main dengan imajinasi dan halusinasi, mending dia memastikan sendiri.
***
Riana kebingungan menatap sosok lelaki necis yang duduk bersama-sama dengan Saras, Andre, Riza dan Rachel. Siapa lelaki itu? Itu bukan ayahnya. Lalu, apa tujuannya datang kemari dan menunggunya?
“Pe-Permisi...” meskipun gugup setengah mati, tapi Riana harus memaksakan diri. Masalahnya, dia begitu penasaran dengan maksud dan tujuan lelaki asing ini yang ingin menemuinya.
“Nah, itu dia pak, Bu Riana sudah datang. Itu guru yang melatih dan membimbing kami di Pekan Budaya Pelajar kemarin,” kata Saras.
__ADS_1
“Lho, hi, Riana, sini!” sambut lelaki itu ramah. Riana bingung, karena dia sama sekali tidak mengenal siapa dan darimana lelaki ini, dan kenapa juga dia bisa begitu akrab dengaqn Saras CS.
“Bu Riri, nggak usah takut, ini Pak Dimas, salah satu juri band di FPBP, juga juri di Star Online Competition yang kita ikuti,” jelas Saras. Riana manggut-manggut, tapi ia tak berbicara sepatah katapun. Benaknya masih sibuk mencerna berbagai hal, baik yang tertangkap matanya, maupun yang dijelaskan oleh keempat anak muridnya ini.
“Kalian menunggu saya disini? Ada apa ya?” tanya Riana akhirnya.
“Bukan kami yang menunggu ibu, tapi Pak Dimas. Nanti ibu bisa ngobrol sama beliau langsung, kami hanya pengantar,” jawab Rachel.
“Oh, begitu... Ya sudah, terima kasih ya anak-anak, sudah mau menemani tamu ibu disini. Ngomong-ngomong, kalian tidak pulang? Sudah jam segini lho,” kata Riana seraya menunjuk arloji pada pergelangan tangannya.
“Ini mau kok bu, tapi nggak langsung pulang sih kayanya, mau main dulu,” Riza meringis.
“Huh, dasar. Ya sudah, tapi PR-PR-nya jangan lupa dikerjain... Dari kelas ibu kemarin ada gak?” tanya Riana pura-pura galak.
“Iya. Pokoknya kalian jangan lupa sama tugas dan tanggung jawab kalian sebagai siswa SMA, ya.” Pesan Riana.
“Siap, bu guru cantik. Ya sudah, kami berangkat ya bu, assalamu’alaikum,” pamit mereka semua, seraya satu-persatu menyalami tangan Riana.
“Iya, waalaikum salam. Hati-hati yaa...”
***
__ADS_1
Disini, di sebuah restaurant di lantai dua sebuah pusat perbelanjaan. Riana dan lelaki itu – Pak Dimas, menyepakati untuk melanjutkan obrolan mereka di tempat ini. Lebih private, katanya. Tadinya, Pak Dimas bermaksud “mbarengi”, alias memberikan tumpangan kepada Riana dengan mobil mewahnya. Tapi Riana menolak dengan beragam alasan, yang sebenarnya aadalah demi menjaga kehormatan dirinya sendiri, juga kehormatan Pak Dimas. Masalahnya, apa kata orang nanti kalau gadis muda seperti Riana tiba-tiba pergi berduaan dan satu kendaraan dengan lelaki setengah abad seperti Pak Dimas? Maka dia putuskan untuk mengekori mobil Pak Dimas bersama motornya, ke tempat yang sudah disepakati ini.
“Kamu mau pesan apa, Riana? Santai saja. Kita disini bicara sambil makan siang...” kata Pak Dimas mencoba mencairkan suasana.
“Nggak usah pak, terima kasih. Bapak duluan saja,” jawab Riana sopan.
“Saya pesankan gurame asam-manis ya, katanya itu menu terenak disini. Sebentar...” kata Pak Dimas seraya memanggil salah seorang pelayan. Akhirnya, mereka telah memutuskan untuk memesan dua gurame asam manis beserta nasinya, dan dua gelas orange juice sebagai pelengkap. Setelah pelayan tersebut menerima pesanan mereka dan berlalu pergi, Riana segera menanyakan apa yang mengganjal di benaknya sejak tadi, tentang kedatangan Pak Dimas yang begitu tiba-tiba ini.
“Mmm... Jadi, sebenarnya ada apa ya pak?” tanya Riana mengawali.
“Maksud kamu?” tanya Pak Dimas balik.
“Kenapa tiba-tiba bapak ke tempat kerja saya, lalu mengajak saya kesini. Apa bapak butuh bantuan?” tanya Riana.
“Tidak, Riana. Saya hanya ingin bercerita... Perkenalkan sebelumnya, nama saya Dimas Pramudya, panggil saja saya Pak Dimas, atau Pak Pram, senyaman kamu. Dan benar kata anak-anak tadi, saya adalah salah satu juri FPBP tahun ini, juga juri Star Competition yang mereka ikuti. Saya begitu penasaran dengan sosok kamu sebagai guru muda yang membantu kesuksesan anak-anak itu. Lagi pula, saya sudah terkoneksi dengan kamu, bahkan jauh sebelum kedua event itu yang akhirnya membawa saya kesini, dan lalu bertemu dengan kamu.” Jelas Pak Dimas. Riana manggut-manggut, sedikit memahami penjelasan Pak Dimas barusan. Tapi dia masih bingung, bagaimana cara menghubungkannya, untuk mencapai inti dari cerita tadi.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya, pak?” tanya Riana akhirnya.
“Iya pernah, empat bulan lalu, di TPU Tanah Kusir...” Riana menjengit kaget. Bukan karena nama TPU-nya, tapi tentang empat bulan lalu, dan peristiwa yang terjadi kala itu, di tempat tersebut. Empat bulan lalu, di TPU Tanah Kusir, tempat terakhir dari perjalanan seseorang...”
“Elsa Pramudita, tentu kamu ingat dengan nama itu, bukan?” tanya Pak Dimas. Riana membulatkan matanya. Elsa Pramudita? Lalu... Apa hubungan antara empat bulan lalu, TPU Tanah Kusir, Elsa, dan kedatangan bapak-bapak perlente ini sekarang?
__ADS_1
“Saya hadir disana, di pemakaman itu. Saya... Saya ayahnya Elsa.”
(TBC).