MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 11, PERTEMUAN DAN CERITA MENEGANGKAN


__ADS_3

    “Ga-Ganesh?”


“Mbak... Sek talah. Iki aku mimpi tah gak i?” anak remaja laki-laki bernama Ganesh itu sedikit kebingungan. Ia mengenali suara itu, tapi ia enggan menebak. Ia takut salah.


“Dek... I-Ini mbak, dek, ini Mbak Riri...”


“Ya ALLAH iki temen tah? M-Mbak...” Ganesh mendekat, memeluk Riana begitu erat.


“Iya, bener, parfumnya sama...” kata Ganesh. Seandainya ini bukan tempat ramai, Riana pasti sudah menangis memeluk adiknya, adik yang terpisah lama darinya. Adik yang terpaksa ditinggalkannya, hanya karena keegoisannya. Seandainya dulu ia mau sedikit melunakkan hati, membawa Ganesh serta dalam pelariannya, pasti Ganesh tidak pernah menganggapnya seasing ini.


“Nanti kita ngobrol lagi ya mbak, aku nyari rombongan sekolahku dulu,” kata Ganesh.


“Seragamnya kayak gini semua kan? Mbak anter ya, mereka di sebelah sana tuh.” Tawar Riana seraya menunjuk barisan ketiga di belakangnya.


“Iya, boleh kok mbak,” jawab Ganesh. Maka seperti saat ia menggandeng Abhi tadi, iapun meraih tangan sang adik, dan membawanya ke rombongan sekolahnya.


“Lho Ganesh, tadi tak pikir kamu dimana, ketinggalan apa gimana, ternyata malah udah sampai duluan,” ucap salah satu temannya, ketika Ganesh datang dan berdiri di hadapannya.


“Tadi aku duluan kesini, takut ketelaten. Oh iya, kenalin, ini mbakku,” kata Ganesh seraya memperkenalkan Riana.


“Maksudmu mbak gebetan ta? Edian, baru sehari langsung oleh cewek lho!” seru temannya.


“Hush ngawur, ora, iki kakakku temen, kakakku kandung iki rek,” kata Ganesh.


“Oh ho oh ta? Sepurane mbak, aku Wisnu, temennya Ganesh,” katanya seraya hendak menjabat tangan Riana.


“Hoooop, ojok ndemak-ndemok, iki kakakku, jek segelan iki,” canda Ganesh. Riana menjitak kepala sang adik main-main. Sebenarnya Riana mau saja bergabung di mejanya sekumpulan anak SMA ini, tapi tidak bisa, semua harus duduk sesuai kelompoknya masing-masing jika ia merupakan peserta ber-regu, apabila perorangan, ya duduk sendiri-sendiri. Maka ketika Riana melihat bahwa acara akan segera dimulai, ia segera berpamitan dengan sang adik dan teman-temannya, lalu kembali ke kursinya.


***


Seminar kepenulisan yang diikutinya secara tidak sengaja berjalan sangat lancar. Dan Riana juga baru menyadari, siapa sosok Abhi itu sebenarnya ; ternyata Abhi adalah teman literasinya di facebook dan juga instagram (atas nama Narendra Abhimanyu). Kok bisa ya baru ketemu orangnya sekarang? Dan dia juga baru tau kalau Abhi ini tunanetra. Seharusnya ia sudah curiga kalau melihat setiap postingan cowok itu. Tapi dasarnya Riana gak peka, jadi ya udah aja.


Ketika acara selesai (dan Riana hendak keluar dari ballroom), suara seseorang yang memanggil membuatnya menghentikan langkah.


“R-Rey? Kamu...”


“Kamu kenapa ngancem Elsa?” tanyanya langsung. Riana kaget. Kenapa bisa ada Rey disini? Padahal tujuannya dia pergi kesini kan buat menghindari sosok Rey?


“Bener ya kata Elsa ternyata, kamu tuh emang cewek murahan. Kamu gak terima aku selingkuhin, tapi sekarang, tadi lebih tepatnya, kamu malah foto di pantai sama cowok lain...”


PLAKK! Sepenuh hatinya, sekuat tenaga, Riana menghadiahkan sebuah tamparan kepada Rey.


“Kamu...” yang tak terduga, Rey berani main kasar kepada Riana. Ia menarik keras-keras rambut gadis itu, mendorongnya hingga terjatuh.


“Berani kamu nampar aku sekarang, hah?”


“Kenapa aku harus takut?” Riana bangkit dari jatuhnya. Menatap balik mata pemuda yang telah berlaku kasar padanya itu dengan sikap menantang.


“Heh, kamu tuh harusnya sadar Riana, kalau bukan aku, siapa yang mau sama kamu? Kamu itu hidup nggak jelas, muka juga nggak cantik-cantik amat, sakit mental pula, memang ada yang mau sama kamu selain aku?”

__ADS_1


“Oh banyak mas!” seru Abhi yang muncul secara tiba-tiba, entah dari mana.


“Cuma manusia-manusia special yang bisa menghargai dan mengetahui letak special-nya Mbak Riana, yang jelas, itu bukan sampean...”


“Wow! Kamu turun pasaran, Ri, dari cowok ganteng perfect sempurna kayak aku, jadi ke cowok buta macam dia ini?” Rey merendahkan.


“Rey Faris Saputra, yang ada masalah itu kita, kamu gak perlu bawa-bawa orang lain yang gak ada hubungannya sama sekali...”


“Kalau nggak ada hubungannya sama sekali, ngapain kamu foto sama dia?”


“Lho, ya suka-suka aku lah, kamu aja selingkuh berbulan-bulan aku gak tau, ini, baru bikin foto persahabatan aja udah heboh...”


“Kamu udah bener-bener berani ya?” Rey hendak melayangkan tangannya lagi, ingin menyakiti Riana sekali lagi, tapi keburu ditahan.


“Jangan beraninya sama perempuan,” kata Abhi seraya mencengkeram tangan Rey.


“Oh, jadi gue harus berani sama lo ya, cowok buta? Okay!” dan perkelahian di antara mereka pun tidak terhindarkan. Riana segera mendekati mereka, bermaksud memisahkan. Tapi Abhi mengusirnya, seolah mengisyaratkan kalau ia akan baik-baik saja. Tapi  Riana tidak tinggal diam. Dalam kalutnya, dalam paniknya, ia memanggil beberapa petugas hotel untuk mengamankan Rey yang telah membuat keributan di ballroom.


“Sebentar mbak, kami hubungi manager hotel ini dulu,” ucap salah satu security disana. Sementara itu, security yang lain segera pergi ke ballroom yang dimaksud untuk menghentikan perkelahian yang terjadi.


***


“Ya ampun Riana, lo kenapa pelipisnya luka?” tanya seseorang. Riana harus terpaksa kaget lagi, karena ia mengenal sosok yang berdiri di hadapannya, sosok yang juga sedang menatapnya dengan panik.


“Kak Mario?”


“Ya ampun, gue perlu menghubungi Nico nggak nih? Karena kan elo diarahinnya kesini sama dia, gue kaget lo dapet tindak kekerasan kayak gini!” seru cowok bernama Mario itu.


“Ya ngerti sih, tapi gue udah janji, kalau ada hal tak terduga terjadi sama lo, gue harus bilang sama dia... Aduh kacau banget sih...” Mario mengacak rambutnya, frustasi.


“Bang Mar, mending mbaknya kita bawa ke ruangan dulu aja, biar diobati pelipisnya, itu berdarah lho...” usul salah satu pegawai hotel.


“Ho oh bener, ya ayok deh, kita bawa...” kata Mario lemah. Dia manager baru di hotel ini, kurang lebih baru menjabat selama dua bulan. Kok ya moro-moro alias tiba-tiba langsung dihadapkan pada kasus yang berpotensi viral semacam ini?


“Eh, Abhi gimana?” tanya Riana khawatir.


“Insya ALLAH aman Ri, security pasti sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik... Yuk ke ruangan dulu, insya allah semua aman,” kata Mario. Riana mengangguk, lalu ia mengikuti langkah Mario dan salah satu pegawai hotel.


***


Di dalam ruangan, seorang laki-laki (sepertinya sebaya Riana), sedang bersiap-siap, dan ia terkejut melihat Mario datang dengan wajah panik.


“Ngopo Mas Yo?” tanyanya.


“Anu, ada insiden dikit... Awakmu ngisi nang lounge tah?” tanya Mario.


“Ho oh mas, saiki kan jadwalku. Lho... Iku mbak-e ngopo?” tanyanya heran.


“Yo kui, korban insiden kui mau... Yo wes good luck, Muara.” Kata Mario.

__ADS_1


“Nggih, suwun mas. Aku kesana ya,” pamitnya. Mario mengangguk. Ia mengembalikan perhatiannya kepada Riana dan pelipisnya yang terluka.


***


Di lounge, Riana menikmati alunan musik dengan kepala bergoyang ke kanan dan ke kiri. Di depannya ada sebuah sloki berisi minuman red wine. Ini sudah slokinya yang kedua. Riana benar-benar kalut. Ia mencoba bercermin dengan bantuan cermin kecil yang biasa dibawanya. Pelipisnya berdarah, dan kini terbalut perban. Tapi, sakit pada luka di pelipisnya itu tidak seberapa, dibandingkan sakit pada hatinya yang dipermalukan secara tidak terduga oleh mantan kekasihnya di ballroom tadi.


“Aaaaaaa!” Riana berteriak. Tapi tidak ada yang mendengar, jelas saja, karena teriakannya telah terredam oleh dentuman musik yang mengisi separuh atmosfer Lounge Lova Hotel.


“Bila cinta memang harus memilih


Katakanlah pasti kepadaku


Dia atau daku kasih


Dapatkan cintamu


Takkan kuingkari kenyataan yang ada


Dan bila kita memang harus berpisah


Oh kekasihku


Biarkan daku dengan cintaku


Dengan jalanku


Kan kuukir manis kenangan kasih kita” lagu Merenda Kasih milik Kahitna itu sukses dibawakan (dan sampai ke hati), oleh cowok yang asyik bernyanyi seraya memainkan pianonya di atas panggung. Dengan matanya yang memerah akibat efek wine yang diminumnya, Riana menatap cowok itu yang seperti tak peduli, terlalu asyik bernyanyi. Cakep juga ya? Tapi... Bukannya itu sosok yang tadi dia lihat di ruangannya Mario? Dan kalau tidak salah ingat... Siapa ya tadi namanya? Tapi, Riana tidak bisa mengingat lagi. Otaknya mendadak beku setelah ia menenggak wine lebih dari empat sloki. Ia segera ambruk dari kursinya, setelah lagu “Tanpa Cinta” milik Yovie & Nuno mulai mengisi relung ruang lounge.


***


“Eh, sopo iku nang ngisore mejo?” suara seseorang tiba-tiba terdengar – nyaris berteriak, begitu ia turun dari atas panggung. Ini  sudah jam dua dini hari, lounge sudah sepi, sudah tidak ada yang makan dan minum lagi. Efek berbagai jenis minuman yang tersedia (dari Sherry, wine, sampai champagne), kiranya membuat semua pengunjung memilih kembali ke kamar mereka dan melakukan sesuatu yang iya-iya (mungkin).


“Ndi? Opo iyo onok uwong nang ngisor mejo?” tanya yang lain sambil ikut turun panggung juga.


“La kae,” tunjuk yang tadi. Muara turun paling terakhir, dan dengan penasaran, ia mengikuti kemana arah teman-teman band-nya berkumpul, dan heboh akan sesuatu.


“Masya ALLAH, ini bukan mbak yang tadi ada di ruangan Mas Yo, ya?” tanyanya.


“Kon eruh, Ra?” tanya yang pertama melihat tadi.


“Yo eruh, mau aku ketemu sebelum kesini... Saiki yoopo? Kok iso onok nang ngisor mejo i lho?” Muara garuk-garuk kepala. Teman-temannya angkat bahu, mereka sama tidak tahunya. Muara memindai sekitar dengan matanya. Lalu sloki-sloki kosong itu, juga beberapa botol red wine, mungkin adalah jawaban dari penampakan ajaib yang mereka temukan usai manggung malam ini.


***


Muara misuh-misuh di antara pintu lift yang sepertinya masih akan lama terbuka. Bisa-bisanya teman-teman band-nya meninggalkannya seorang diri disini, bersama gadis mabuk yang teler di bawah meja lounge gara-gara beberapa sloki wine. Dan akhirnya denting yang ditunggu itu terdengar juga ; pintu lift terbuka. Sambil sedikit keberatan dengan gadis teler di bopongan, Muara memasuki pintu lift, dan membiarkannya menutup sempurna di belakangnya. Sambil menunggu lift membawanya ke lantai 5, ia mencoba mengingat-ingat nama gadis itu. Siapa tadi? Riana? Manis ya namanya. Cantik juga orangnya. Tapi kenapa dia harus meracuni dirinya sendiri dengan menenggak wine sebanyak itu? Masalah sebesar apa yang kini tengah membebani gadis cantik itu sampai ia berbuat sesuatu yang cukup konyol di lounge tadi?


***


“Selamat tidur, mbak. Semoga besok kamu bisa lebih bahagia lagi. Jangan minum wine banyak-banyak, nggak baik buat kesehatan. Kalau perlu, nggak usah minum gitu-gitu sekalian. Lagian, cantik-cantik kok mabukan... Wes mbak, bahagia nanti pasti dateng buatmu...” ucap Muara panjang-lebar seraya membaringkan Riana di atas tempat tidur kamar hotel. Tak lupa, diselimutinya juga tubuh gadis itu. Satu hal yang membuat cowok itu sedikit bersyukur adalah, pakaian yang dikenakan Riana cukup sopan, tidak kurang bahan seperti gadis-gadis kebanyakan kalau main ke lounge ; setidaknya, itu berdasarkan pengalamannya saja, yang sering melihat banyak wanita (terutama bule), kalau main ke lounge tuh gayanya seperti apa.

__ADS_1


“Selamat tidur, mbak. Mimpi indah,” ucap Muara sekali lagi. Dan entah dia dapat keberanian dari mana, tiba-tiba saja, ia ingin sekali mengusap rambut panjang gadis itu, yang terjuntai menutupi satu sisi wajah cantiknya. Dengan gerakan hati-hati, Muara kembali ke tempat gadis itu. Mengusap singkat rambut panjang itu, lalu merapikannya. Menurutnya, sayang jika wajah cantik cenderung imut-imut itu Cuma terlihat separuh bagian saja. Ish, dasaar, modus lu, Ra. Udah minggat sana, ngapain di kamar cewek tengah malam gitu? Bisa bahaya ntar.


(TBC).


__ADS_2