MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 3, TENTANG NICO DAN RIRI


__ADS_3

-POV AUTHOR


Secepat luruhnya tubuh Riana, secepat itu juga Nico menangkapnya. Kotak kue pemberian Riana ditaruhnya sembarang di atas meja. Yang terpenting baginya sekarang adalah menolong gadis itu yang kelihatannya shock berat.


“Ri... Riana... Aduh gimana nih? Carissaaaa!” jeritnya kalap. Seorang gadis ber-rambut panjang dan mengenakan apron berwarna hijau keluar dari balik sebuah ruangan. Gadis itu – mungkin yang bernama Carissa, melebarkan matanya begitu melihat siapa yang ada di dalam bopongan Nico.


“Mas Nico, ini Mbak Riri kenapa?” tanyanya.


“Gak usah banyak tanya, ini, anterin kuenya ke Rey, gue mau bawa Riana ke atas dulu, ke private room...”


“Ta-Tapi kenapa? Ini kue dari Mbak Riri kan?” Carissa heran.


“Nanti aja nanyanya, udah kasihin cepet!” seru Nico tak sabar. Usai perintahnya tadi (dan tanpa menunggu respond dari Carissa), ia segera melanjutkan langkahnya, menaiki tangga darurat, menuju private room, tempat para karyawan biasanya beristirahat.


***


“Lho Mas Nico, ini Mbak Riana kan? Kenapa mas?” tanya Alit, ssalah satu karyawan bagian dapur yang kebetulan sedang lepas tugas hari ini.


“Nanti tak jelasin, Alit. Tapi aku minta air hangat, ambilin sekarang yaa kalau bisa,” kata Nico.


“Oh iya mas, sebentar...” Alit langsung berlari ke pantry yang memang cukup dekat dari sana, sementara Nico segera membaringkan Riana di atas sebuah sofa panjang.


“Ada yang punya minyak kayu putih gak?” tanyanya setengah berteriak. Salah satu karyawan wanitanya yang juga sedang lepas tugas segera menghampiri Nico dan memberikan botol minyak kayu putih itu kepadanya.


“Ri, bangun, Ri...” ucap Nico  seraya mengusapkan minyak kayu putih itu ke hidung Riana.


***


Carissa menyusul ke atas. Di belakangnya ada Rahma, Ica, Diana dan Fita. Mereka semua adalah karyawan Nico yang juga mengenal baik Riana.


“Udah sadar mas, Mbak Ri-nya?” tanya Carissa.


“Belum-belum. Kalian ngapain kesini semua? Di bawah siapa yang jaga?” tanya Nico balik.


“Pestanya udah selesai, mas, tapi Mas Rey masih di bawah, dia bingung sama kotak kue di meja, itu dari siapa katanya,” kata Rahma.


“Itu dari Riri... Mana itu anak? Biar gue yang ngomong, kalau perlu, gue hajar sekalian!” seru Nico geram.

__ADS_1


“Mas-mas, sabar, jangan gegabah... Udah mas fokus sama Mbak Ri aja, aku nanti turun sama anak-anak buat kasih tau Mas Rey, lagian dia juga nunggu di bbawah itu...”


“Terus fungsinya kalian semua naik ke sini tuh apa? Kan Carissa udah gue bilangin tadi kalau itu kue dari Riana,” kata Nico emosi.


“Sudah-sudah, Mas Nico, nggak usah emosi. Udah Diana, Rahma, sama yang lain, kita turun aja yuk, nggak bisa juga kita disini, nanti malah kacau semua, biarin Mbak Riana tenang dulu,” kata Alit menengahi suasana yang hampir memanas. Mereka semua mengangguk. Lalu sesuai instruksi Alit, akhirnya, semua turun ke bawah, menyisakan Nico yang khawatir, dan Riana yang masih tidak sadarkan diri.


“Riri... Riana please bangun dong, gue takut nih...” lirih Nico seraya mengguncang pelan tubuh Riana. Tak berselang lama, Riana membuka matanya, dan dia kebingungan.


“I-Ini dimana?” tanyanya.


“Lo masih di cafe, Ri, sama gue...” jawab Nico. Riana memejamkan matanya, mencoba mengingat-ingat peristiwa terakhir yang dialaminya sebelum dia berada di sini. Dan begitu ia mengingat semuanya, air matanya turun tanpa permisi, tanpa seizinnya.


“Sabar, Ri...” kata Nico prihatin. Ia mengusap puncak kepala gadis itu. Sebenarnya apa sih yang terjadi di ruang pesta tadi, sebelum akhirnya Riana tidak sadarkan diri?


***


-FLASHBACK


-POV NICO


Lahir dan tumbuh hingga remaja di New York (karena ayahku orang sana, lalu menikah dengan ibuku yang merupakan orang Indonesia), membuat aku mengalami “culture shock”, ketika kami sekeluarga harus terpaksa pindah ke negara ibu ini karena permasalahan ekonomi, krisis dan kebangkrutan besar-besaran yang dialami keluarga kami pada waktu itu.


Usiaku kira-kira sekitar enam belas tahun, ketika pada akhirnya aku menginjakkan kaki di negara indah tempat ibuku lahir ini. Ketika aku pertama kali masuk SMA, aku benar-benar merasa kaget, shock, dan hampir trauma. Kenapa? Karena aku melihat tatapan siswi-siswi SMA yang aneh kepadaku, seolah-olah mereka lapar dan melihat sebuah kue lezat di atas piring raksasa di hadapan mereka. Mereka seperti begitu menginginkan aku. Bahkan ada yang sampai mepet-mepet segala dan berusaha mengajakku berbicara. Aku saja kepusingan pada saat itu, karena belum ada satupun kata dalam bahasa indonesia yang aku kuasai dengan baik. Ibu juga tidak pernah mengajarkanku soal bahasa negara ini, hidup ibu lebih hedon, lebih ‘American style’ dari siapapun, termasuk ayah. Jadi sehari-hari di rumah, kami hanya memakai bahasa Inggris, padahal ibu lahir dan besar di Malang, Jawa Timur, sebelum akhirnya pindah ke Amerika dan menjadi model disana.


“Ya ampun onnok bule nyasar rek!” teriakan cempreng seorang gadis menghentikan aktifitas gadis-gadis lain yang merubungku seperti barisan semut yang bertemu gula. Oh my god, siapapun dia, aku harus berterima kasih padanya, karena aku bisa terbebas dari makhluk-makhluk ajaib itu meski hanya sebentar. Gadis-gadis aneh itu menyingkir satu-persatu, menyisakan aku dan si suara cempreng tadi.


“Hi, are you new here?” sapanya dengan bahasa inggris dan pengucapan yang fasih dan enak didengar.


“Yes, I’m a new student here,” jawabku.


“In which class?” tanyanya lagi. Aku segera menyerahkan kertas denah sekolah tersebut dan memintanya mencari namaku, serta letak kelas. X-IPS 3 kalau tidak salah.


“Oh, we’re classmate... Follow me, don’t worry, I will protect you from the strange people here,” candanya. Aku mengangguk, tersenyum, kemudian menyambut uluran tangannya. Entah mengapa, dengan gadis berrambut panjang ini, aku tidak merasa takut, justru aku begitu  mempercayainya.


***


Riana, nama gadis itu. Aku membaca name tag di seragamnya saja, tidak berani menanyakannya secara langsung. Waktu itu di kelas pertama adalah pelajaran kesenian, dan semua siswa diminta untuk melakukan pertunjukan bakat, bukan di kelas, melainkan di ruang kesenian yang ternyata berada satu lantai di atas deretan ruang kelas, dekat ruang komputer, perpustakaan, dan lab praktikum kimia untuk anak IPA. Saat tiba di giliran Riana, aku melihat gadis itu berjalan begitu anggunn menuju ke depan keyboard, dan ia menyanyikan sebuah lagu yang begitu merdu ; lagu berbahasa Indonesia, tapi aku suka. Progresi cord-nya sangat tidak biasa, mungkin terdengar aneh di telinga orang awam, tapi bagi telinga penikmat musik dan atau seni sepertiku itu adalah cord yang sangat enak.

__ADS_1


“Who is singer of that  song?” tanyaku, sesaat setelah Riana turun dari atas panggung.


“Oh, Hi, Nicolas. It’s sing by Kahitna, a popular old pop group in Indonesia. Kahitna has a good and really genius keyboardist, arranger, composer, and song writer. His name is Yovie Widianto...” hari itu, usai jam pelajaran pertama hingga berakhirnya bel istirahat, aku terikut dalam antusiasme gadis itu – Riana, yang menceritakan tentang musik dan musisi faforitnya.


***


Semenjak hari itu, hati ini miliknya. Eh, salah, itu sih lirik lagu Kahitna yang pertama kali kudengar dari bibir manis Riana di hari pertama sekolah. Baik, aku ulangi. Semenjak hari itu, aku dan Riana semakin dekat. Gadis itu membantuku banyak hal, dari mulai belajar Bahasa Indonesia (dan Bahasa Jawa), sampai menerangkan pelajaran juga. Riana itu tipikal gadis yang sabar meskipun kadang-kadang dia bar-bar, apa lagi kalau di tangannya sudah ada bola basket. Hmm, sadis tapi manis, itu dia Riana. Ngomong-ngomong, gadis itu juga jago karate, lho.


Semakin lama, kami semakin dekat, hingga pada akhirnya, kami tiba di hari yang sangat kubenci ketika itu ; hari kelulusan, dan hari perpisahan sekolah.


“I have to go now,” ucapnya malam itu, di taman kota, tempat kita berjanji untuk bertemu.


“Kenapa, Ri?” tanyaku lirih. Sungguh, ada beban tak terlihat serasa menindih dadaku, rasanya sangat menyakitkan, membuatku hampir kesulitan untuk mengambil napas.


“Kalau aku terus disini, papa akan terus menekan dan mencecarku, memintaku menjadi seorang artist. Iya aku cinta seni, aku mencintai dunia intertain, tapi aku tidak ingin menjalaninya dengan paksaan,” jawab Riana. Aku tercekat. Kulihat setitik buliran bening itu lolos dari mata Riana. Aku buru-buru menangkup wajahnya, mengusap kristal bening itu. Aku tidak ingin melihat cantikku itu menangis, sumpah demi apapun.


“don’t cry, my dear,” lirihku.


“Thanks for everything, Nicolas. Tapi aku akan pergi besok, kalau kamu mau, kamu bisa antar aku naik kereta. Aku pergi tidak sendirian, aku pergi bersama Maura dan juga Milia...” jelas Riana.


“Aku... Aku gak bisa terima keputusan ini, honestly,” kataku kemudian setelah hening yang menjeda dan terasa menyiksa. Aku melihat tatapan Riana yang mengarah langsung tepat ke mataku. Oh Tuhan, tatapan itu... Tatapan itu... Sungguh, biarkan aku yang terluka, berikan aku rasa sakit itu, tukarlah posisiku dengan Riana, karena aku tidak sanggup melihat pancaran terluka – tidak, sangat terluka di mata sebening telaga itu.


“I have something for you,” Riana memecah kesunyian seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


“What’s that?” tanyaku nyaris tanpa semangat.


“Bukalah,” pintanya. Air matanya masih mengalir diam-diam, dan ia seperti menolak menghapusnya. Aku membenci pemandangan itu, jadi aku memilih membuka kado yang diberikannya padaku. Setelah aku merobek bungkusnya, terlihatlah sebuah kotak kaca kecil, berisi potret  kami waktu main-main ke sebuah pusat permainan yang cukup terkenal di kota ini, beberapa hari setelah ujian nasional. Dalam potret itu aku tertawa bahagia seraya memegang gula kapas besar berwarna merah, dan Riana berekspresi serupa dengan gula kapas besar pink-nya. Di atas kotak kecil itu ada sebuah kaca yang memungkinkan orang melihat potret di dalamnya tanpa harus menggeser tutup kotaknya. Tapi, sepertinya aku ingin melihat ke dalam kotak itu secara langsung, karena aku tergelitik dengan sesuatu yang menyembul di dalamnya. Perlahan aku menggeser tutup kotaknya, dan sesuatu seperti kalung langsung terjatuh dari dalamnya, juga rangkaian bunga mawar yang sepertinya tersusun dari rangkaian roncean manik-manik, cantik sekali. Tapi aku lebih penasaran dengan kalung itu, maka aku segera menguraikannya, dan sekali lagi aku tercekat, melihat tanda yang begitu familiar, tanda yang begitu tak asing.


“Aku tau kita berada pada frekuensi rasa yang sama, tapi aku sadar, kita juga berbeda. Saat sedang bersamamu, aku sering kali berpikir bahwa perbedaan itu tidak begitu berarti, seandainya tidak ada dari kita yang tidak mau peduli. Tapi jelas, itu sebuah kesalahan, karena biar bagaimanapun, yang kita lawan adalah restu Tuhan. Jadi...”


“Aku mengerti, Ri, aku mengerti...” lirihku. Dengan hati-hati, aku menyimpan kotak pemberian gadis itu ke dalam ransel. Lalu aku memeluknya ; memeluk saja, sebagai tanda perpisahan.


“I will miss you...” bisikku.


“Me too... Kamu tau, berpisah denganmu itu adalah hal yang sangat sulit, nomor dua, setelah kepergian ibuku,” ucapnya. Aku mengangguk, paham. Dan kami menghabiskan malam itu dengan berbincang-bincang banyak hal. Aku ingin memiliki waktunya sebanyak mungkin malam ini, sebelum semuanya berakhir, hanya kurang dari beberapa jam lagi.


(TBC)

__ADS_1


__ADS_2