MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 33, SELAMAT JALAN, ABHI


__ADS_3

Hari senin adalah hari sibuk, bagi siapapun juga, pelajar, mahasiswa, tak terkecuali para pekerja, seperti Riana. Bayangkan saja, pagi ini pun ia sudah disambut dengan tugas administrasi yang menumpuk, begitu ia memasuki ruang guru untuk meletakkan tasnya.


“Pantes selama di perjalanan saya tadi, perasaan saya gak enak. Ternyata, ini tho yang sudah menanti saya di ruangan?” Riana tertawa, menatap tumpukan file di atas meja kerjanya.


“Hari senin, hari kerja berat mbak, semangat wes,” ucap Pak Catur seraya menyeruput kopinya.


“Nggih, pak, semangat juga buat bapak kalau begitu,” kata Riana seraya mulai menyalakan laptop-nya. Baru saja ia membuka lembar kerja word untuk memulai aktifitasnya, tiba-tiba ada chat masuk di aplikasi WhatsApp-nya. Dengan cepat, Riana membuka pesan chat tersebut.


[Assalamu’alaikum bu, ini saya Mayang dari kelas XII-Ipa3. Hari ini ibu ada jadwal di kelas kami, di jam pertama. Terima kasih, bu...] Oh. Oke, sebelum ia bertempur dengan tugas administrasi yang memusingkan kepala, sebaiknya ia siap-siap untuk segera ke lantai 3, karena akan mengajar di jam pertama di hari ini.


“Mau kemana, mbak?” tanya Pak Catur.


“Ngajar, pak, saya ngisi jam pertama kelas tiga hari ini. Saya duluan pak, permisi...” kata Riana sopan. Pak Catur hanya mengangguk. Dan langkah-langkah pelan Riana menggema di ruangan itu, ia keluar, menuju kelas yang harus diajarnya pagi ini.


***


“Jadi, anak-anak, apresiasi seni itu adalah...” Riana begitu asyik menjelaskan materi yang ada di buku seraya menulis sesuatu di papan tulis. Hari ini alhamdulillah, kelas bisa dikondisikan, nggak pake ada drama ribut-ribut khas anak remaja yang bikin sakit kepala. Semua anak begitu patuh mencatat materi yang tersaji di papan tulis. Sesekali, Riana juga mengadakan diskusi kecil dengan para siswa-siswinya. Saking asyiknya pembahasan terkait materi mereka, tak terasa sudah setengah jam berlalu dari jam pelajaran mereka. Di tengah-tengah diskusi yang seru, tiba-tiba HP salah satu siswa berbunyi, menarik perhatian sekelas, termasuk juga Riana.


“Siapa lupa matikan nada dering ponsel saat di kelas?” tanya Riana tegas. Matanya juga memindai seisi kelas.


“Saya Mayang, bu, tapi maaf, ini telepon dari rumah sakit bu. Boleh diangkat kah?” tanya Mayang seraya berdiri dan menunjukkan ponselnya kepada Riana.


“Silakan, Mayang. Tapi, kamu tau, tidak ada dispensasi untuk kesalahan yang sama yang dilakukan berulang-ulang.” Kata Riana dingin. Siswi bernama Mayang itu mengangguk, lalu dengan tergesa ia keluar kelas dan menjawab panggilan telepon tersebut. Riana tidak ambil pusing, maka segera saja ia melanjutkan materi tadi.


***


“Aaaaa, nggaaaaak! Ini nggak mungkin kaaaan? Mas Abhiiiii!” jeritan histeris Mayang kontan menghentikan sejenak aktifitas dari ruang-ruang kelas di sekitarnya.  Riana kaget. Jantungnya seperti ditarik keluar secara paksa. Ada apa dengan Abhi? Kenapa Mayang bisa menjerit sekeras itu?


“Anak-anak, ayo kita keluar sekarang, kita tenangkan dulu Mayang,” kata Riana seraya buru-buru menutup buku paketnya. Anak-anak mengangguk tanpa suara. Lalu dengan mengeluarkan suara yang sedikit gaduh, mereka satu kelas pergi keluar, menemui Mayang yang luar biasa kacau di dekat balkon, yang ternyata juga sudah ditenangkan oleh teman-teman dan guru-guru dari kelas lain.


“Bu Hana, Bu Sinta, ada apa ini?” tanya Riana seraya menghampiri Mayang yang sedang bersandar di pagar balkon seraya menangis.


“Kakaknya meninggal, bu, Narendra, yang ngajar di SMA Harapan...” JGER! Berita itu seakan-akan meruntuhkan separuh kesadaran Riana. Ia ingin mendengar sekali lagi semuanya ; memastikan bahwa berita itu mungkin salah, bahwa apa yang disampaikan itu pasti tidak benar.


“Bu... Bu... Bu Riri...” seorang siswa mengguncang-guncang lengan Riana. Riana yang segera sadar langsung mengambil tindakan cepat.

__ADS_1


“Ya sudah, salah satu dari kalian umumkan berita duka cita ini ya, saya akan langsung mengantar Mayang. Nanti saya kabari dimana kalian harus bertakziah. Saya permisi dulu, semuanya. Ayo, May...” kata Riana pelan seraya menggandeng tangan Mayang. Mayang mengangguk tanpa suara. Bahkan ia juga tetap diam saat Riana mengajaknya ke parkiran motor, terus keluar sekolah untuk menuju rumah sakit.


***


“Mbak... Mbak gak becanda kan? Serius lah mbak!” seru Ganesh yang nyaris menangis di seberang telepon.


“Mbak serius Ganesh, ini mbak ada di rumah duka sekarang...”


“Ya ALLAH, Mas Abhi!” akhirnya Ganesh menangis, menambah sedih hati Riana. Mayang juga masih bersamanya. Gadis itu berkali-kali pingsan, sehingga Riana perlu menemaninya dan menjaganya.


“May, ini makan dulu...” kata Riana lembut seraya membawakan nasi goreng ke kamar Mayang. Mayang masih berbaring, menatap malas Riana dan nampan makanan yang dibawanya.


“May gak laper, mbak,” ucapnya.


“Mayang, jangan begini sayang, mbak paham kok apa yang kamu rasain, tapi makan dikit aja ya, dari siang, kamu gak makan apa-apa lho...” bujuk Riana, seraya tetap memegang nampan makanannya. Meskipun berat, akhirnya Mayang mengangguk juga. Lagian, dia kasihan dan nggak enak juga, karena Riana masih ada di rumahnya, bahkan ketika waktu sudah beranjak naik menuju malam.


“Mbak, katanya Saras CS masih di sekolah, rapat. Dia bakal kesini nanti. Mau May bilangin suruh ambil tas mbak nggak? Di ruang guru, kan?” tanya Mayang seraya menyantap nasi gorengnya perlahan.


“Lah itu anak empat masih di sekolah? Ngapain?” Riana heran.


“Latihan buat bikin video cover, kayaknya mereka mau jadi wakil sekolah lagi buat kompetisi band online yang diadakan sama... Aduh apa ya? Lupa aku, tapi katanya gitu,” jelas Mayang.


“Lho gak usah mbak, kan ada bibik?” cegah Mayang.


“Bibik lagi tak suruh makan, kasian dari tadi dia kerja terus. Bentar ya, May...” kata Riana. Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Riana kembali ke dapur dan segera mengeksekusi yang harus dirapikan. Sambil lanjut makan, Mayang mengusap foto Abhi yang ada di galeri ponselnya. Ia mengusap layar ponsel itu, seraya matanya kembali berkaca-kaca.


“Pantes, mas, kamu begitu jatuh cinta sama Mbak Riana, karena dia emang layak untuk dicintai, bahkan sangat layak. Sayang ya kalian gak jodoh...” bisiknya. Tapi dia tidak boleh berlarut-larut. Sesuai perintah Riana, ia harus menyelesaikan makannya.


***


[Kita baru sampai Jakarta, besok kita takziahnya, ya.] Riana membaca pesan itu yang datang dari Muara. Dia berangkat ke Jakarta bersama Wisnu dan juga Ganesh. Riana hanya sempat membalas dengan kata “oke”, sebelum akhirnya ia merebahkan badan di atas tempat tidur. Dia nggak pulang ke kost malam ini, ia tidur di rumah Mayang, menjaga gadis itu, yang kedua orang tuanya juga baru datang besok dari Australia. Sementara Mayang disini juga hanya tinggal bersama satu orang ART dan neneknya yang bernama Oma Rosa. Oma Rosa baik, ia begitu baik saat menyambut Riana, bahkan ia juga yang menyarankan Riana untuk menginap disitu. Langkah kaki yang pelan di depan pintu sedikit mengusik ketenangan malam itu. Riana duduk kembali, dan mendengar-dengarkan.


Rumah ini besar – terlampau besar jika hanya ditinggali oleh tiga orang. Terlebih bangunannya masih begitu klasik, style khas rumah-rumah zaman Belanda dulu. Riana masih fokus mendengarkan. Langkah kaki itu begitu pelan dan teratur, dan suaranya, percaya atau tidak, semakin mendekat ke kamar tempat Riana berada saat ini. Sumpah... Riana berdo’a serius dalam hatinya ; siapapun ini nanti yang datang, hantu jenis apapun dia, semoga dia tidak mengganggunya.


“Belum tidur, Nak Riana?” Riana terkejut, nyaris melompat dari atas tempat tidur. Tapi ketakutannya sirna sudah, begitu melihat Oma Rosa berdiri di hadapannya seraya memegang sebuah nampan di tangannya.

__ADS_1


“Be... Belum, oma,” jawab Riana seraya berusaha menormalkan detak jantungnya.


“Tidak usah takut, rumah ini memang besar, tapi tidak angker,” ucap wanita ningrat aristokrat itu seraya tersenyum. Riana hanya sempat menganggukkan kepala. Rasa sungkannya terhadap wanita terhormat itu membuatnya lebih banyak mendengarkan, dan sedikit berbicara.


“Ini, ada susu cokelat. Tadi oma buat dua, satunya untuk Mayang. Kebiasaannya sejak kecil bersama Abhi, kalau tidak bisa tidur, suka minta dibuatkan susu cokelat. Sekarang, Abhi tidak ada. Dan susu cokelat ini, oma buat untuk wanita yang sangat dicintainya,” ucap Oma Rosa pelan. Kristal bening itu kembali jatuh, jatuh dan menyentuh pipi keriput itu, lalu hilang bersama senyum meneduhkan yang tadi menghiasi wajah tua itu. Riana juga merasakan bahwa matanya berembun lagi. Tanpa sadar, ia juga menangis, dan ikut mengucapkan nama Abhi.


“Oma tahu, oma tidak perlu menyesali apapun. Memang sudah begini takdir yang harus terjadi. Walaupun kalian tidak berjodoh, tapi oma begitu bahagia melihat Abhi bahagia saat menghabiskan waktu dengan kamu, pulang dari suatu tempat, dan menceritakan semua yang terjadi dengan detail, apa saja yang terjadi selama dia berada disana. Bahkan ia mengingat dengan sangat baik dan sempurna bagaimana ketika kamu tersenyum, tertawa, bahkan bersedih, walaupun dia tidak pernah melihat itu semua langsung dengan matanya. Dan kamu tahu, Abhi tidak salah. Ia mengatakan kepada oma dan Mayang, tentang betapa cantiknya kamu. Dan benar, kamu cantik, Riana. Kamu sangat cantik...”


“Ma-Maafkan saya, oma...” isak yang tertahan itu akhirnya lolos juga. Riana tidak tahu apa kesalahannya, tapi, kepergian Abhi itu kiranya telah menyakiti banyak orang, termasuk dirinya sendiri.


“Tidak ada yang salah padamu, cucuku. Kamu telah begitu baik dengan tetap menemani Abhi setelah ia mengungkapkan perasaannya padamu. Kalian memang tidak berjodoh. Kepergian Abhi itu bukan salahmu. Sekarang, ayo, diminum susunya. Ini sudah malam, dan kamu harus tidur...” perintah Oma Rosa seraya meletakkan nampan itu di atas meja kecil samping tempat tidur. Riana mengangguk pelan, lalu menyeka air matanya yang terus saja tumpah membanjiri wajahnya.


“Setelah semua ini, tetaplah main ke mari ya, dan jadilah kakak perempuan yang baik untuk Mayang. Dia begitu menyayangi kamu,” ucap Oma Rosa lagi.


“Insya ALLAH, oma...” kata Riana. Oma Rosa tersenyum, lalu mengelus pundak Riana.


“Oma pamit dulu, selamat malam, Riana...”


“Malam, oma...” dan langkah-langkah pelan itu kembali terdengar, bersamaan dengan pintu jati berukir indah yang ikut tertutup perlahan. Riana mengambil gelas berisi susu cokelat itu, dan menyesapnya perlahan. Ia menikmati rasa pahit dan manis yang berpadu pada minuman cokelat itu. Rasa-rasanya, tidak jauh beda dengan hidupnya. Ada manis, ada pahit, ada senang, ada sedih, ada yang datang, dan ada yang pergi. Empat tahun lalu ibunya, sekarang Abhi, sahabatnya. Kehilangan-kehilangan itu kiranya telah mengajarkan Riana untuk menjadi semakin kuat dan tangguh. Tapi, mengapa yang ia rasakan justru adalah sebaliknya? Ia kalah, lalu lemah.


Riana mengambil ponselnya yang sudah terisi penuh. Sambil tetap menikmati susu cokelat buatan Oma Rosa, ia membuka-buka galeri, dan melihat ratusan foto dan video disana. Kini ia tahu, mengapa semua orang rajin sekali mengabadikan potret apapun dengan kamera, alasannya hanya satu, agar ketika semua yang tampak mata itu telah hilang, kita masih dapat mengenang. Asyik skroling HP, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah video. Disana ada Ganesh, Wisnu, juga Abhi. Itu video terakhir waktu mereka berada di Malang.


“Ku jatuh


Ku jatuh kembali padamu


Hanya denganmu


Ku lepas semua raguku


Hatiku


Hatiku jatuh kepadamu


Sungguh semangatku jatuh dan jatuh kepadamu

__ADS_1


Kau nyali terakhirku,” lagu itu lagi. Nyali Terakhir, Glenn Fredly. Lagu itu juga yang membawa Riana pada situasi rumit, dimana akhirnya ia tahu bahwa Abhi menyimpan perasaan yang lebih padanya. Riana menangis lagi. ALLAH... Jalan mana yang sebenarnya tepat untukku? Takdir yang mana yang sebenarnya kau gariskan untukku? Mengapa hanya ada air mata dalam setiap rangkaian kisah hidupku? Astaghfirullah! Riana menepuk keningnya sendiri. Pikiran macam apa yang barusan lewat di kepalanya? Ish, sudahlah, semakin malam, pikirannya semakin kacau. Sebaiknya ia tidur saja, karena besok masih akan banyak pelayat yang akan datang ke rumah duka, dan ia harus membantu, karena tidak ada sanak famili yang tinggal di dekat-dekat rumah ini. Dan untuk Abhi, selamat jalan, tenanglah kamu dalam istirahat panjang itu. Dan terima kasih telah mengajarkan kita semua tentang makna cinta yang sesungguhnya. Bahwa cinta yang baik adalah cinta yang tidak menyakiti siapapun, bentuk cinta paling tulus adalah saat kita menyebut namanya dalam waktu-waktu krusial di sepertiga malam itu, dan bentuk cinta yang paling pasti dan tak bisa terganti adalah cinta kita kepada sang maha cinta, sang maha segalanya. Selamat jalan, Abhi, dan terima kasih.


(TBC).


__ADS_2