MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 32, HARI-HARI TERINDAH


__ADS_3

Sebulan telah berlalu pasca kegiatan Festival Pekan Budaya Pelajar. Riana ada di sekolah, kini sedang mengajar, tepatnya, ia baru saja menerima lembar ulangan harian siswa-siswinya, dan akan diperiksanya nanti di ruang guru.


“Nah anak-anak, waktunya sudah habis ya,


Ini sudah kumpul semua kan jawabannya?” tanya Riana, seraya matanya memindai ke seluruh ruangan kelas.


“Sudah, buuu,” jawab semua murid kompak.


“Ya sudah, ibu tinggal dulu. Kalian jangan ribut sendiri ya, dengar, kelas sebelah lagi ada penjelasan materi juga.” Kata Riana seraya menunjuk jendela kelas sebelah yang bersisian langsung dengan jendela kelasnya saat ini.


“Iya buuu,” jawab semuanya sekali lagi. Riana mengangguk. Dan dengan langkah pelan, ia meninggalkan kelas.


***


[Hi] satu pesan masuk dari Abhi, ketika Riana baru saja selesai dengan lembar jawaban ke-15 dari kelasnya tadi. Ia masih harus memeriksa delapan belas lembar jawaban lagi, tapi, ia bisa membalas chat Abhi dulu sebentar.


[Hi, Abhi...] Abhi is typing.


[Lagi ngajar ya?]


[Enggak, Cuma lagi koreksi ulangan anak2. Kamu dimana, Bhi?]


[Aku juga di sekolah, habis ngajar praktek hehehe. Jangan lupa nanti siang, temenin, bisa kan? Aku tadinya mau ngajak volunteer, eh tapi penuh, pada gak bisa...]


[Iya, beres, jam satu, kan? Tak jmput nti...] jawab Riana lagi. Dia nggak bermaksud membalas pesan Abhi dengan singkat, tapi ada rekan guru yang memanggilnya, jadi dia harus stop chat dulu.

__ADS_1


***


“Gimana? Seneng gak?” tanya Riana, sesaat setelah dia dan Abhi sampai di sebuah cafe, usai kegiatan siang tadi.


“Seneng kok, Ri. Makasih ya, udah mau nemenin...” ucap Abhi pelan.


“Iya, sama-sama. Kapanpun kamu butuh temen, bilang aku ya.” Kata Riana seraya mengambil daftar menu, bersiap memesan sesuatu untuk mereka.


“Kamu mau pesan apa, Bhi?” tanya Riana sembari melihat-lihat daftar menu.


“Samain sama kamu aja...” kata Abhi seraya menyandarkan kepalanya di atas meja.


“Lho, kamu kenapa, Bhi?” tanya Riana khawatir.


“Aku pusing Ri, pusing banget...” Abhi menjawab pelan.


“Hey, jangan khawatir, biasa aja... Kita makan dulu disini, nanti, aku pulang naik taxi online aja, ya, oke?”


“Big no!” seru Riana.


“Kenapa?” Abhi heran.


“Kondisi kamu gak memungkinkan untuk pulang sendirian, Abhi. Biar aku anter ya?” ucap Riana lembut.


“Tapi rumahku sama kost kamu kan gak searah, Ri, apa gak jadi dua kali muter nanti?” tanya Abhi.

__ADS_1


“Nggak masalah, Bhi, yang penting selama perjalanan, kamu ada pendampingnya. Ya udah, kita pesen pasta aja ya, habis makan, aku anter kamu pulang,” kata Riana. Abhi mengangguk, lalu tersenyum. Syukurlah, semua tetap sama, kecuali mungkin perasaan Riana padanya, yang hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak pernah lebih. Tapi mungkin, satu-satunya hal yang bisa ia syukuri adalah, sikap Riana tidak pernah berubah padanya, usai pengakuan itu.


***


Hari-hari selanjutnya juga begitu, Abhi pergi, dan Riana menemaninya. Ia tak tahu, kenapa ia tetap melakukan itu, walaupun ia tidak mencintai Abhi melebihi perasaannya sebagai seorang sahabat. Bahkan saking seringnya Riana sebaik itu – membantu, menemani kemana-mana, Abhi pernah marah besar, sangat besar. Rasanya itu benar-benar puncak tertinggi dari letusan bara emosi yang sudah ia simpan begitu rapat selama ini.


“Sebenernya apa mau kamu, Riana?” jeritnya tak terkendali.


“Mak-Maksud kamu?”


“Kenapa kamu terus disini? Kenapa kamu gak mau pergi? Kalau kamu gak punya perasaan yang sama sama aku, kenapa kamu masih disini? Kenapaaaa?”


“Abhi cukup!” pada akhirnya, Riana menjerit juga. Hatinya begitu terluka atas sikap Abhi saat ini.


“Apa aku salah kalau aku hanya bisa menyayangimu dengan konteks yang berbeda? Apakah ini salahku kalau aku tidak punya rasa yang sama dengan kamu? Aku tidak pernah tahu Abhi, kalau kedekatan kita justru pada akhirnya menyakiti kamu. Sungguh aku minta maaf untuk itu. Tapi Bhi, kalau aku ada disini sekarang, sama sekali bukan ingin menyakiti kamu, atau menambah luka di hati kamu. Kamu sahabat aku, orang yang ngajarin aku banyak hal tentang hidup. Tapi kalau dengan adanya aku sekarang justru kamu gak nyaman, kamu emosi terus, kamu marah terus, oke, aku akan coba buat pergi dari kamu. Siapa tau, semuanya bisa membaik. Permisi, Abhi...” dan pada akhirnya, pertengkaran mereka malam itu diakhiri dengan Riana yang tergesa pulang ke kost-nya, sambil menangis. Dan pertengkaran itu juga pada akhirnya disaksikan oleh Mayang, yang merupakan adik dari Abhi, sekaligus murid Riana di sekolah.


“Hey, Bhi, kenapa bengong? Lama ya nunggu aku? Oh iya, ini helm-nya dipake dulu,” kata Riana ceria seraya menyerahkan sebuah helm kepada Abhi.


“Mmm... Aku Cuma lagi mikir, kok,” kata Abhi seraya memakai helm dan naik ke atas boncengan.


“Mikir apa?” tanya Riana seraya menjalankan motornya perlahan, meninggalkan cafe.


“Mmm... Gimana ya? Rasanya aku akan menyesal seumur hidup kalau aku kehilangan sahabat seperti kamu, Riana. Kamu tau, betapa aku ngerasa jahat banget setelah bikin kamu nangis waktu itu, Mayang juga datang ke kamarku, ganti nangis plus marah-marah sama aku, dia bilang, aku gak bersyukur banget, pake acara bikin kamu nangis segala,, nyakitin kamu dan segala macam. Dan sepeninggal dia yang marah-marah dari kamarku, terus aku mikir... Iya juga ya? Kenapa aku terus menghakimi kamu hanya karena perasaan sepihak yang tak terbalas ini, padahal, bukan mau kamu juga untuk berada di situasi kayak gitu kan, terlebih, kamu masih tetap baik selama ini sama aku. Jujur sih awalnya, aku mikir kamu Cuma kasihan doang sama aku...”


“Heh, apaan kamu itu? Kenapa aku harus kasihan? Gak ada satu hal pun yang bisa bikin kamu masuk katagori dikasihani, kamu sama aja kok sama temen-temen aku yang lain. Seandainyapun (maaf), kondisi kamu nggak tunanetra, aku akan tetap se-care ini sama kamu mungkin, dengan catatan, kalau sikapmu masih sopan sih. Kalau kamunya tetiba jadi bar-bar dan kurang ajar, mungkin beda cerita,” ucap Riana. Abhi tertawa, mengelus bahu Riana. Sejak hari itu, dan saat ini, persepsinya tentang Riana sudah total berubah. Okelah, perasaannya mungkin masih sama, tapi tentang tuduhan-tuduhannya yang tak berdasar kepada gadis itu harus dimusnahkan sudah. Karena pada kenyataannya, Riana memang benar-benar orang yang baik. Dan satu yang pasti, setiap hari bersama gadis itu, adalah hari-hari yang indah untuk Abhi. Ini adalah hari-hari yang akan bisa dikenang olehnya, seandainya waktu itu telah tiba.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2