
Di atas kereta, pagi hari. Riana menggeliat, melepaskan diri sekuat tenaga dari cengkeraman kantuk yang seperti terus ingin mengungkungnya. Di sebelahnya, tampak Abhi yang sibuk membaca sesuatu di ponselnya. Abhi menyenggol lengan Riana, memintanya segera terjaga.
“Kenapa, Bhi?” tanyanya.
“Bangun, non, sedikit lagi Stasiun Tugu nih...” ucapnya.
“Oh, iya tah? Maaf ya, telat bangun aku...” ucap Riana seraya mengucek-ngucek matanya beberapa kali.
“Nggak papa, Ri, lagian, perjalanannya jauh juga kan kita ini...” Abhi tersenyum, lalu menutup ponselnya. Riana menggeliatkan tubuhnya sekali lagi. Dan ia baru sadar, bahwa ada sebuah jaket dengan wangi parfum yang sangat enak membungkus tubuhnya. Sepertinya ini sudah ada sejak semalam, dan ia benar-benar terbuai kenyamanan karena tidur menggunakan benda itu.
“Itu jaketku, maaf ya. Semalam kamu kedinginan kayaknya, jadi aku selimutin pake itu aja...” kata Abhi.
“Lho, nggak papa, aku yang ngerasa nggak enak nih jadinya, ngerepotin kamu... Tapi wangi parfumnya enak banget lho, Bhi, biasanya parfum cowok itu kebanyakan nyegrek ya, ini nggak, soft, kalem gitu...” kata Riana.
“Kamu suka tah?” tanya Abhi.
“Ya suka, jarang aja ada cowok pake parfum, terus kalem gitu...” kata Riana.
“Ini produknya adikku, dia jualan parfum online gitu, baik buat cewek maupun buat cowok ada semua...” jelas Abhi.
“Wah, asyik kayaknya tuh... Apa nama olshop-nya? Ada di IG gak?” tanya Riana bersemangat.
“Ada, IG-nya di Mayang Ristiana, cari aja disana...” kata Abhi. Secepat kilat, Riana mengambil ponselnya, dan men-skrol di akun instagram pribadinya, mencari akun atas nama Mayang Ristiana. Dan sesaat kemudian, matanya membulat sempurna.
“Lho... Ini kan?”
“Kenapa Ri?” Abhi heran.
“Ini mah murid aku, si Mamay, anak kelas 12 IPA 1... Sekolahnya di Pelita Bangsa kok, di bio IG-nya...”
“Lho, kamu ngajar disana ta?” Abhi ikutan kaget.
“Iyaa, aku guru kesenian disana...”
“Ya ampun, dunia sesempit itu ternyata. Lak mbulet ae tho awak dewe i...” Abhi tertawa.
“La iya, hadeeeh... Nek ngene ceritane ya tak japrine wae arek-e ngko... Yowes, ndang siap-siap yuk, dikit lagi sampe nih kita...” kata Riana. Abhi mengangguk. Ia segera mengambil tasnya di kompartemen di atas mereka, lalu disusul oleh Riana.
“Bisa ambilnya, Bhi?” tanya gadis itu seraya mengangkat ranselnya.
“Bisa dong, Cuma begini aja kok. Yuk...” Abhi segera menggenggam tangan Riana. Riana menyambutnya, dan mereka segera turun dari ular besi yang membawa mereka dari Jakarta sampai Jogja.
***
__ADS_1
“Horeeee, ketemu lagiiii!” seru Muara seraya menepuk keras-keras bahu dua anak manusia yang baru saja turun dari kereta.
“Alah, baru dateng udah kena KDRT ini kita... Yang lain dimana, Ra?” tanya Riana seraya balas memukul keras-keras bahu cowok itu.
“Mereka di hotel, tadi diajak jemput malah gak mau, pada mau tidur katanya, ya udah...” jawab Muara.
“Yeee, durhaka ya bocah... Ya udah yuk, langsung ke hotel aja, aku juga pengen istirahat nih, pengen mandi juga, lepek banget, harus keramas nih kayanya...” kata Riana seraya mengucek-ucek rambutnya yang digelung asal itu.
“Woi, diapakno karo Mas Abhi kamu, sampe harus keramas segala?” ledek Muara.
“Pikiranmu nang ndi wae cah, ora yooo... Yowes ndang ah, berat tau bawa-bawa ransel...” sungut Riana.
“Iyo, iyo, ndoro putri... Mobilnya di sebelah sana tuh, lumayan, dapet fasilitas lagi aku...” kata Muara. Riana segera menggandeng tangan Abhi, untuk meneruskan perjalanan mereka, menaiki mobil, lalu menuju hotel.
***
Riana menikmati nasi gudeg dengan sangat lahap. Di sebelahnya, ada Ganesh yang juga sedang makan. Dari ekspresinya, kita semua tau kalau dia sangat bahagia, karena bisa ketemu sama kakaknya lagi.
“Mbak, sering-sering ketemu kayak gini ya, terus terang, aku happy...” kata Ganesh seraya menyeruput teh manis hangat yang ada di depannya.
“Insya ALLAH dek, tapi ketemuannya nomaden gini gak papa tah?” tanya Riana.
“Asalkan sama mbak, ketemu di Planet Mars juga aku gak papa kok, yang penting mbak nggak pergi lagi...” Ganesh tersenyum. Riana mengelus sayang puncak kepala sang adik. Ia tidak pernah menyadari sebelumnya, bahwa keputusan gegabahnya tiga tahun lalu itu ternyata telah merubah banyak hal. Seandainya tidak ada sosial media, seandainya tidak ada berbagai peristiwa, sepertinya kecil harapan untuknya dipertemukan kembali dengan sang adik yang sangat-sangat dicintainya tersebut.
“Iya nggak papa Ra, lagian kayaknya kami siang ini ada agenda berdua ya, Riana mau makan eskrim gelato di daerah Kaliurang sana...” kata Abhi.
“Meloooooooookkkk!” seru Wisnu dan Ganesh kompak.
“Kami tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang hanya berdua, tanpa kami,” kata Ganesh dengan mimik wajah yang lucu, dan itu tidak bisa tidak membuat Riana tertawa, dan menjitak kepalanya.
“Iya-iya, kita pergi berempat nanti,” katanya. Muara Cuma tersenyum. Ngeliat mereka berempat begini, entah kenapa jadi kayak ngeliat keluarga bahagia berisi ibu, ayah, dan dua orang anak ya? Adakah nmasadepan seperti ini yang diimpikannya? Lalu, siapa perempuan yang akan jadi ibu dari anak-anaknya kelak? Riana, kah? Eh hus, mikir apa sih! Udah ah, yuk, kita lanjutin aja ngintip kegiatan mereka jalan-jalan di Jogja.
***
“Walaupun seribu bulan
Meskipun sejuta malam menunggu
Aku kan setia menanti dirimu
Cinta kamu sampai mati
Mengapa engkau tinggalkan?
__ADS_1
Mengapa engkau lupakan?
Kisah yang indah bagaikan mimpi-mimpi
Sampai daun berguguran
Sampai rambutku memutih
Takkan ada yang sanggup mengubah hati
Walaupun seribu bulan
Meskipun sejuta malam menunggu
Aku kan setia menanti dirimu
Cinta kamu sampai mati” Lagu Seribu Bulan Sejuta Malam yang dibawakan oleh para pengamen nyentrik khas Jogja itu begitu menghanyutkan Riana pada suasana. Malioboro, malam hari. Dan pada akhirnya, dia Cuma jalan-jalan berdua saja dengan Muara, karena Abhi, Wisnu dan Ganesh memilih pergi ke Taman Budaya, karena ada festival dan pertunjukan teater boneka disana. Di warung lesehan yang mereka singgahi kini, ada pengamen yang sedang menghibur para pengunjung, dan lagunya ya itu tadi, Kahitna.
“Mas, sini!” seru Riana. Keempat pengamen itu saling lirik, heran. Mbak tadi manggil mereka apa bukan?
“Hey, mas, sini, kok malah bengong?” Riana melambaikan tangannya tepat ke arah para pengamen tadi.
“Oh, nggih mbak, beneran manggil kami tho ternyata...”
“Iya, saya bajak kalian disini...” kata Riana seraya mengeluarkan beberapa lembar dua puluh ribuan.
“Nyanyiin lagu Kahitna buat kita ya...” pintanya.
“Wo siap, mbak!” seru keempat pengamen itu seraya menyambut sumringah lembaran uang itu. Riana tersenyum, dan kembali asyik menikmati makanannya bersama Muara.
“Ngeliat pengamen disini tuh beda ya sama pengamen di tempat lain...” komentar Muara seraya membersihkan tangannya. Mereka sudah selesai makan, dan penngamen itu akhirnya membubarkan diri usai melantunkan lagu terakhir (masih dari Kahitna), yang berjudul “Cantik”, dan membuat Riana tersipu-sipu sepanjang lagu.
“Iya, makanya aku berani kayak tadi ke mereka karena aku mengapresiasi mereka sih...” kata Riana.
“Mau naik becak gak?” tawar Muara.
“Ini jam berapa? Nanti kemaleman kita balik, besok kamu ngisi acara kan?” tanya Riana.
“Baru jam sebelas kok, naik becak juga paling sebentar. Ayolah, mumpung lagi disini,” tawar Muara. Riana menimbang-nimbang sebentar. Dan demi melihat wajah imut Muara yang penuh harap, akhirnya gadis itu merasa tidak tega.
“Ya udah, yuk, naik becaknya...”
“Yeeeey, ayok, sebelah sana!” seru Muara seraya mengajak Riana ke pangkalan becak terdekat. Aduh, senangnya ya mereka berdua. Jadi pengen ikut liburan juga aku tuh.
__ADS_1
(TBC).