
-STILL POV NICO
-STILL FLASHBACK
Setahun pasca kelulusan SMA. Dalam satu kali 365 hari itu aku merasakan hidup yang benar-benar hampa, tanpa Riana. Sekarang aku sudah pindah ke Jakarta. Jakarta... Itu adalah nama kota tujuan Riana, saat ia mengatakan kemana hendak pergi. Berarti, di ibu kota Indonesia inilah aku bisa mencari gadis itu. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin meminta kunci hatiku yang masih dipegang olehnya, aku ingin ada yang bisa membukanya selain dirinya. Terlalu sakit untukku berharap sendirian begini ; terlalu sakit rasanya untuk tetap mencintai seseorang yang bukan ditakdirkan untuk kita. Andai pun ada bentuk cinta yang lain, kurasa logikaku masih sangat sulit menerima itu. Jadi, kalau sekarang aku harus bertemu dengan Riana, aku hanya ingin meminta kunci hatiku darinya.
Ayah dan ibuku kembali lagi ke Amerika, setelah aku selesai sekolah SMA. Mereka mengajakku ikut serta kesana, sekalian melanjutkan kuliah. Tapi aku tidak mau. Aku sudah terlanjur betah disini, di Indonesia. Meskipun aku tidak lahir di negara ini, tapi aku tetap mencintainya, karena sebagian darahku adalah berasal dari sini, dari negara berlambang burung garuda yang kaya.
“Pulanglah,” bujuk ibuku sembari menikmati makan malam waktu itu. Omong-omong, beliau sendiri pada akhirnya mau mengajakku berbicara dengan Bahasa Indonesia, setelah tiga tahun kami sekeluarga tinggal disini. Kau tau apa alasannya? Itu karena aku sempat mogok berbicara seminggu dengannya, hanya karena ia masih mengajakku berbicara dengan bahasa Inggris, bukan bahasa asli negara ini. Ibuku adalah orang yang paling tidak bisa diabaikan, apa lagi oleh diriku yang merupakan anak satu-satunya. Segala cara dia sudah coba, dari mulai membelikanku gitar akustik baru (kau ingat, aku suka seni, apapun, termasuk musik), sampai mengantarkanku susu cokelat panas setiap malam, yang hanya kuterima dalam mode diam. Tapi ada satu malam dimana aku seperti menantikan segala rutinitas itu ; ibu mengetuk pintu kamar (dan lalu membukanya sendiri), menaruh nampan berisi gelas susu di meja – kadang-kadang ditambah sedikit camilan, entah cheesecake, entah biskuit gandum - mengusap rambutku, lalu pergi lagi keluar, tentu masih tanpa sepatah katapun dariku. Jujur, aku mengabaikan semua pertanyaannya, tapi tidak dengan susu cokelat dan camilan-camilannya, karena itu benar-benar enak, menjadi penyemangat dikala aku sudah mulai bbosan belajar.
Suatu malam, aku mengintip dengan cemas dari balik pintu. Jam sudah berdentang nyaris sepuluh kali, dan cuaca juga sedang hujan. Tapi kok ibu belum datang dengan bawaannya yang biasa? Apa ibu belum pulang bekerja? Tapi kurasa tadi sudah, saat aku bbertanya pada asisten rumah tangga yang sedang mempersiapkan nampan makanan, entah untuk siapa.
“Ini untuk nyonya Aline, tuan muda. Beliau bilang sedang tidak enak badan hari ini...” aku hanya membulatkan bibirku, lalu melanjutkan acara makan malam itu tanpa rasa khawatir sama sekali. Tapi apa iya ibu sakit? Jangan-jangan sakitnya parah sampai tidak bisa kesini dan menemuiku.
Ti-Tidak... Aku mulai diserang khawatir. Ibu kenapa?
***
Aku berjalan sendirian di lorong rumah, berniat mendatangi kamar ibu. Rasanya aku keterlaluan kali ini, mendiamkan wanita tersayangku itu sudah hampir seminggu lebih. Jadi, dengan niat meminta maaf, aku memutuskan untuk mendatangi kamarnya.
“Mom...” aku mengetuk pelan pintu kamarnya, dan memanggil kemudian. Tidak ada jawaban. Tapi rasanya pintu ini tidak dikunci – hanya tertutup separuh, karena aku bisa merasakan hembusan AC dari dalam sana.
__ADS_1
“Mom...” sekali lagi aku mengetuk pintu kamar itu, dan masih tidak ada jawaban. Ibuku kenapa? Dengan sedikit penasaran, aku membuka perlahan pintu tersebut. Benar, ternyata tidak dikunci. Aku melangkah pelan-pelan, memasuki kamar kedua orang tuaku – yang sekarang Cuma ada ibu disana, karena ayahku masih di kantornya. Aku menyalakan lampu, dan melihat ibu yang seluruh tubuhnya tertutup selimut.
“Mom... Are you ok?” tanyaku. Tidak ada jawaban. Kusingkap selimut yang menutupi tubuh ibuku, dan aku melihat pergelangan tangannya yang terbalut perban semua.
“Mom!” seruku panik. Ternyata ibuku bukan sedang tertidur, tapi tidak sadarkan diri. Dengan super panik aku berjalan cepat memanggil ART di rumah, lalu menelepon dokter darurat untuk segera ke rumah. Kurasa tidak akan ada waktu kalau kita harus ke rumah sakit. Belum mengurus administrasinya. Oh Tuhan... Ada apa ini?
***
“Nyonya Alina ternyata memiliki riwayat kesehatan mental yang buruk, dia punya riwayat depresi. Dan mungkin, tekanan itu datang lagi, jadi...” Aku mengusap kasar wajahku, aku sulit mencerna dan mempercayai penjelasan dokter itu. Beruntung tak lama kemudian, Aunty Verro – sahabat ibuku, datang. Ibu pernah cerita, ia adalah seorang psikolog.
“Ikut tante sebentar, Nic,” pintanya sesaat setelah dokter dari IGD keluar dari rumah. Ibuku sudah stabil, sedang tertidur sekarang. Ayahku juga baru saja pulang, dan ia begitu panik mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya. Ayahku memang begitu, sepertinya, ia sudah bucin sejak dini dengan ibu.
***
“Ibumu akan baik-baik saja, Nico. Sekarang, ikut tante dulu, tante ingin bercerita suatu hal padamu.” Ucapnya coba menenangkan. Aku mengangguk dengan setengah enggan, lalu Aunty Verro membawaku menuju mobilnya, entah, aku akan dibawanya kemana.
***
“Ini rumah lama ibumu, Nico...” kata Aunty Verro, sesaat setelah mobil berhenti di kawasan sebuah pedesaan, dengan perkebunan apel yang tampak memanjakan mata dengan warna hijaunya.
“Yang mana?” tanyaku seraya celingukan kesana-kemari. Kalau ini rumah lama ibuku, berarti ini adalah rumah kakek-nenekku juga.
__ADS_1
“Dulu, Nico. Sekarang sudah tidak ada lagi rumahnya, mungkin Om Roy dan Tante Susi sudah menjual rumah disini, mereka ikut tantemu yang lain, ke Jakarta. Ibumu punya banyak saudara, tapi beliau enggan bertemu, karena hal-hal buruk yang dialaminya selama masih tinggal di rumah besar milik Om Roy, ayahnya. Tante dititipi sesuatu sama ibumu, karena ia sering mengeluh tentang ketidak sukaan kamu saat diajak berbicara Bahasa Inggris dengannya setiap hari...”
“Karena ini Indonesia, tante, sudah seharusnya kita berbicara dengan bahasa dimana kita tinggal, supaya lebih akrab dengan penduduk sekitar,” aku segera memotong ucapan Aunty Verro.
“Tante ngerti kok. Tapi sekarang, kamu baca ini dulu ya. Soalnya, kalau kamu nggak tau, kamu nggak akan bisa paham tentang alasan kenapa ibumu tidak suka, atau tidak ingin, atau menghindari berbicara dengan bahasa ibunya, bahasa negaranya.” Kata Aunty Verro seraya menyerahkan sebuah buku berwarna biru muda kepadaku.
“This is her diary, you will find everything or every answer here,” ucapnnya. Aku membuka-buka buku itu perlahan, membaca setiap tulisan ibuku saat remaja sepertinya, kkarena ini masih menggunakan bahasa Indonesia (kadang diselingi Bahasa Jawa). Ada banyak emosi meledak-ledak yang tertuang sempurna disini. Dan entah kalian percaya atau tidak, tulisan ibu saat remaja itu malah mengingatkanku pada sosok Riana.
“Gue nggak bisa disini terus, sebelum papa semakin gila dengan keinginan dan ambisinya, serta obsesinya yang gila-gilaan. Dunia entertain itu, memang kelihatannya main-main, kelihatannya memang dunia yang receh, tapi, dunia ini juga yang akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka yang bekerja disana secara tepat... Enggak ada pilihan, gue harus pergi dengan cara yang benar-benar halus, sampai tidak diketahui. Kalau perlu, sampai satu keluarga benar-benar lupa dan nanti enggak kenal gue lagi. Dan gue gak akan pernah kembali ke tempat ini, gue akan pergi sejauh-jauhnya. Ini serius...” itu lembar terakhir dari catatan diary milik ibuku. Sumpah... Semua ini malah semakin mengingatkanku dengan gadis cerewet ber-rambut panjang itu ; Riana.
“Sudah selesai?” tanya Aunty Verro seraya kembali lagi ke dalam mobil. Di tangannya, ada beberapa kaleng minuman dan sekantung besar keripik kentang.
“Om Roy, kakekmu, punya tiga anak. Yang pertama Aunty April, kakak perempuan ibumu, terus Uncle David yang sekarang hidup bahagia di Australia sama istri dan ketiga anaknya, yang terakhir, ya ibumu, yang akhirnya menetap di Amerika bersama Louis dan memiliki kamu sebagai putra satu-satunya. Jadi, ibumu sering diperlakukan tidak adil, dibanding-bandingkan sama Aunty April, kakak perempuannya itu. Semua kekerasan bentuk verbal diterimanya mentah-mentah sejak kecil, pokoknya ibumu itu bukan bintang lah di keluarga. Nah saat SMA, itu adalah saat hancur-hancurnya ibumu. Dia sering melakukan hal-hal semacam itu, yang buktinya sudah kita lihat bersama di rumahmu tadi. Yang mengerti semua ini Cuma tante, sama Mareta, sahabat kami satu lagi, dan Enrico, satu-satunya sahabat laki-laki yang ada di pertemanan kami waktu itu. Sebelum benar-benar kabur ke luar negeri, ibumu sempat sekolah tata busana dulu di Jakarta, pake program beasiswa yang dicari secara pontang-panting sama dia sendiri. Setelah kelar urusan kuliah, ibumu sempet kerja setahun, sekantor lagi sama Mareta karena mereka punya basic passion yang hampir sama, yang Mareta itu suka design interior, ibumu itu fashion design. Tapi setelah setahun, beliau bilang beneran mau cabut dari Indonesia, mau kuliah lagi, karena ada info beasiswa S 2, tapi di Canada. Ya mungkin memang itu jalannya juga buat ibumu untuk berhenti dan terbebas dari rasa sakitnya ketika dia diabaikan, tak dianggap dan tidak diapresiasi disini. Ya, tante gak bisa mencegah, tante pingin dia bahagia, sebagai seorang sahabat, Cuma itu keinginan tante buat dia, Nic,” tutur Aunty Verro panjang-lebar. Aku tersentuh mendengar cerita ini. Kenapa ibu tidak ingin membaginya sendiri padaku? Aku kan putranya...
“Alina itu orang baik, Nico. Sebaik-baiknya manusia, mungkin dia itulah orangnya. Tante gak pernah lihat ada orang sesabar itu ketika diperlakukan buruk sama orang lain. Memang ada sisi meledaknya, sisi up-nya, sisi marahnya dia itu ada. Tapi dia jarang menunjukkan, dia lebih suka menyimpannya untuk dirinya sendiri. Lagian, dia juga banyak berjasa dalam hidup tante. Tante itu bukan anak orang kaya, nggak punya temen dulunya, beda sama Alina, Mareta dan Enrico yang satu strata, sama-sama orang kayanya. Dan dulu pas SMA, Cuma orang bertiga itu yang mau bberteman dengan tante. Dan tante kan dulunya kepengen banget kuliah psikologi, itu ibumu juga yang bantu belajar intensif dan cariin beasiswa juga, sampai akhirnya tante selesai S 1 dan terus dapet kesempatan S 2 lagi, melalui jalur dan jalan yang sama, beasiswa. Makanya, tante sedih banget waktu ibumu bener-bener nggak ada kabar, sampai akhirnya ada facebook, dan pertemanan kami terjalin lagi. Jujur, tante sendiri kaget waktu dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Tante ngiranya dia sudah berdamai dengan banyak hal disini, tapi rupanya bbelum. Jadi itu sebabnya ibumu selalu menyembunyikan ke-indonesiaannya darimu, beliau belum bisa berdamai dengan banyak hal disini, Nico...” lanjutnya kemudian. Aku menunduk dalam-dalam. Ternyata ibuku tidak bahagia. Ternyata ibuku berjuang sendirian untuk memaafkan dan menerima semua bagian menyakitkan dari masalalunya.
“I’m a bad child,” ucapku, lebih kepada diriku sendiri.
“Kamu bukan anak yang buruk, kamu hanya tidak tahu dan tidak mengerti. Tapi yang harus kamu tau, ibumu sangat mencintaimu, Nico... Sekarang kita pulang, sudah hampir pagi...” ucap Tante Verro seraya menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya. Aku segera memasang sabuk pengaman dan menatap hampa ke luar jendela. Besok, saat ibuku sudah lebih baik, aku akan meminta maaf padanya, aku akan memeluknya lebih lama, dan mengatakan aku mencintainya lebih banyak dari biasanya. Besok dan seterusnya, ibu adalah prioritas utama dalam hidupku. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?
(TBC).
__ADS_1