
“Mbak, bisa minta waktunya sebentar?”
“Mbak sahabat deketnya almarhumah Elsa, kan? Udah kenal berapa lama?”
“Mbak, bisa diceritakan bagaimana kronologi kecelakaannya Elsa?”
“Mbak nangkep firasat apa sebelum kepergian Elsa?”
“Mbak...”
“Mbak...”
“Mbak...”
“Aaaaaaaa, NGGAAAAAKKKK!”jerit Riana frustasi. Sekarang, ia mengurung diri di kamar kost-nya. Sudah hampir dua hari ia tak keluar kemana-mana, menghindari entah apa. Sepertinya, ini ada kaitannya dengan barisan wartawan yang memburunya, memaksanya, menanyakan beberapa hal yang tidak ingin ia jawab. Selama dua hari ini, ia sudah melayani wartawan sebisanya, ia sudah menjawab semampunya pertanyaan-pertanyaan mereka, dengan keramahan yang terpaksa ekstra ditingkatkan. Sebenarnya Riana tahu, mereka tidak salah, mereka hanya barisan pejuang hidup yang mencari uang melalui wadah berita, tapi, ya nggak gitu juga caranya, nggak harus sampai memaksa dan menekan orang hanya untuk kepentingan mereka sendiri saja.
Tok-tok-tok... Sebuah ketukan pintu, pelan dan teratur. Riana mencopot bantal dari sebelah telinganya, dan membuka pintu tersebut tanpa kata.
“Mbak Ri...” sapa Selena pelan, ketika ia melihat gadis itu dengan rambut yang sungguh acak-acakan, plus matanya yang sayu dan memerah. Tekanan batin ini rupanya telah mengganggu pola tidur dan pola istirahatnya.
“Mbak, ada yang nyari...”
“Kalau wartawan, aku gak mau! Harusnya aku ikut mati aja sama Elsa, aku gak suka dicecar, aku gak suka ditekan, aku gak suka dipaksa!” jeritnya. Ia mengambil satu cermin yang ada di atas meja, dan bersiap melemparnya. Tapi Selena dengan cepat menangkap gerakan itu, dan mengambil cermin itu segera dari tangan Riana.
“Bukan mbak, sumpah bukan wartawan... Bu Dian juga sudah mewanti-wanti kami disini, kalau nggak boleh nerima tamu banyak, apa lagi wartawan. Bu Dian juga khawatir sama mbak, jadi mbak tenang ya, wartawan nggak punya akses untuk kesini...” kata Selena seraya dengan tangan gemetar mengembalikan cermin itu ke atas meja. Dia jadi agak was-was meninggalkan Riana sendirian dalam kondisi begini. Soalnya, dia tidak hanya bisa menyakiti diri sendiri, tapi juga bisa menyakiti orang lain.
“Kalau gitu, siapa? Siapa yang datang?” tanya Riana. Sorot matanya tajam, sama sekali tidak bersahabat. Tapi Selena tidak gentar. Karena baginya, ini hanya akan terjadi sementara, sejatinya, Riana adalah gadis yang baik, asal tidak ada hal-hal buruk yang mengusik ketenangan batin dan jiwanya, seperti saat ini.
“Dia laki-laki mbak, kayaknya anak SMA, dia bilang adikmu... Namanya... Tadi siapa ya?”
“Suruh dia masuk kesini, tolong tuntun, dia tunanetra...” ucap Riana dingin. Dalam kondisi kalut begini, ternyata ia tetap mengutamakan etika. Apa lagi, Selena selama ini juga sangat baik padanya.
“Iya, mbak, aku bawa dia kesini ya. Tunggu sebentar...” kata Selena seraya buru-buru keluar kamar gadis itu, lalu berlari lagi ke bawah. Sesuai yang dikatakan, ia menjemput anak laki-laki itu, dan membawanya ke kamar Riana.
***
Riana menangis sejadi-jadinya di pelukan bocah SMA yang dikabarkan kedatangannya oleh Selena tadi. Itu adalah Ganesh, ia sedang ada urusan sebentar di Jakarta, bersama sang ayah. Tapi sore ini, ia pulang duluan bersama Abhi, yang katanya mau ada acara di Malang.
“Ya ALLAH mbak... Kok bisa segininya tu lho, kenapa?” tanya Ganesh seraya mengelus kepala juga punggung sang kakak.
“Kamu temenin mbak ya disini, mbak pokoknya maunya sama kamu, bukan sama orang lain...” pinta Riana. Ganesh menghela napas. Bagaimana caranya ia bilang kepada kakaknya kalau sore ini juga ia harus pulang kembali ke Malang?
“Andai aku tau mbak kejadian ini, dan andai HP mbak nggak tiba-tiba nggak bisa dihubungi... Aku mau mbak nemenin mbak disini, mau banget, tapi ntar sore aku harus balik ke Malang...”
__ADS_1
“Ganesh, please...” lirih Riana. Ganesh menghela napas. Ya ALLAH, bagaimana ini... Kenapa situasinya jadi serumit ini?
“Maaf mbak... Maaf...” Ganesh tetap memeluk sang kakak seraya menenangkan semampunya. Padahal niat awalnya, dia ingin menjadi surprise buat sang kakak, karena pas kebetulan dia juga ada di Jakarta, dan dia pengin mampir ke kos-kosan gadis itu tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Eh, kok sekarang situasinya kebalik? Malah dia yang justru terkejut mengetahui kondisi Riana yang sedang tidak baik-baik saja.
“Ini Mas Abhi tau nggak kira-kira kondisi mbak yang kayak gini?” tanya Ganesh tanpa sadar.
“Seharusnya dia tau, karena kata anak-anak, beberapa hari dia kesini nyari mbak. Tapi serius Nesh, wartawan-wartawan itu luar biasa menakutkan buat mbak...” ucap Riana.
“Ya aku tau... Aduh gimana sih? Ini nggak ada yang bisa kasih pengertian apa soal kondisi ini? Mbak gue tuh gak mau jadi artist woi, jadi artist dengan cara bener lewat karya aja dia nggak seberapa mau, apa lagi dengan cara begini? Belom lagi nanti ada netizen tanpa akhlak yang ngebully ; bilang dompleng namalah, inilah, itulah, hangkrik!” Ganesh tanpa sadar memisuh di dalam ruangan itu. Ia segera mengambil ponselnya, dan dalam kalut – sambil tetap memeluk erat sang kakak, ia mengirim pesan WhatsApp kepada Abhi.
[Mas, yoopo iki, mbakku kok ngene?] Mas Abhi is typing
[Kenapa Nesh? Mbakmu kenapa?] merasa kurang efisien karena agak lama mengetik di ponsel, Ganesh memutuskan untuk mengirim voice note saja, menjelaskan semuanya.
“Ya ampun... Jadi itu alasan kenapa dua hari HP-nya Riana nggak bisa dihubungi? Wah ya repot kalau begini caranya...” Abhi membalas pesan suara itu.
“Itulah, mas, jadi aku harus apa?” tanya Ganesh sekali lagi, masih lewat voice note.
“Tunggu... Sekarang kalau aku kesana, dia mau nemuin gak?” tanya Abhi.
“Jajalen sih, tak tunggu disini mas,” jawab Ganesh lagi.
***
“Ri, Ganesh-nya balik ke Malang dulu, ya, nggak papa kan? Kasihan lho, bentar lagi kan dia masuk sekolah...” bujuk Abhi. Sekarang tinggal mereka berdua di kamar Riana, Ganesh-nya lagi di kamar mandi, untuk sebuah urusan yang biasa kita sebut... Mandi (ya iya dong, kalau masak, pasti di dapur, bukan disitu).
“Insya ALLAH nggak Ri. Kamu harus tenang, dan harus berpikir positif ya. Ok sebut aku sok tau atau apapun, karena kali ini, aku bener-bener nggak tau jenis trauma dan tekanan yang kamu hadapi, sehingga kondisimu bisa separah ini. Tapi coba ya, ajak dirimu untuk berpikir positif, siapa tau ini bisa membantu. Maaf, aku Cuma bisa kasih saran itu...” kata Abhi sedih. Riana mengusap lengan cowok itu, dan tersenyum kemudian.
“Iya ya, Bhi? Kalau aku menghindar terus kayak gini, selesainya bakal kapan?” kata Riana pelan.
“Itu dia... Hadapi, lalu selesaikan. Aku tau, kamu bukan type orang yang suka lari dari masalah, kamu itu orang paling bertanggung jawab yang aku kenal...” kata Abhi. Riana tersenyum, lalu bangkit dari posisi berbaringnya. Ia begitu meresapi kata-kata Abhi. Dan memang bener, kalau ada masalah itu diselesaikan, bukannya ditinggal lari. Soalnya kalau udah kelar lari terus balik lagi, masalahnya juga bakalan masih ada, jadi larinya yang tadi sama aja sia-sia. Masak iya mau lari lagi, terus juga balik lagi? Gitu aja terus sampai salah satu dari kembar Upin-Ipin tumbuh rambut! Gak beres-beres yang ada.
Riana pergi ke meja riasnya, membuka salah satu laci yang ada, mengambil ponselnya. Sudah dua hari ia menonaktifkan ponsel itu, pasti banyak hal yang sudah terlambat untuk di-handle dan diselesaikannya. Riana agak was-was juga jadinya... Bagaimana kalau hal-hal yang luput dari perhatiannya itu, salah satunya adalah tentang pekerjaannya? Waduh! Dengan perasaan cemas, ia menunggu ponsel itu menyala. Dan setelah ponsel itu menunjukkan tanda-tanda kehidupan, telepon pertamanya langsung berdering. Tanpa melihat siapa nama yang tertera, ia langsung menjawabnya. Dan serentetan omelan langsung keluar begitu saja, layaknya rentetan peluru yang ditembakkan tak putus-putus oleh barisan tentara yang sedang berlatih.
“Mbak Yuraaaa, stop dulu!” seru Riana jengkel. Kapan dia jawab pertanyaannya kalau yang punya pertanyaan nyerocos terus begitu?
“Ehehehe, sorry-sorry, Ri. Habis gue kecarian sih, berasa digosting tau, tiba-tiba nomor lo gak bisa dihubungi gitu...”
“Makanya, gue ini mau cerita, bisa kan stop dulu?” omel Riana. Salah Yura sendiri, sih. Nggak tau aja dia kalau emosi Riana lagi super-duper tidak stabil.
“Iya-iya, deh. Kenapa?” tanya Yura akhirnya. Akhirnya Riana menceritakan semuanya sedetail-detailnya. Soalnya, Yura adalah salah satu sahabatnya juga sejak SMA, tapi nggak satu group dengan Milia dan Maura, soalnya Yura adalah kakak kelas mereka, dua tingkat di atas.
“Oalaaaah ya ampuuuun, jadi lo posisinya lagi diuber-uber wartawan sekarang, Ri?” tanya Yura kaget, usai Riana merampungkan ceritanya.
__ADS_1
“Ya begitu mbak, gue stress banget...” keluh Riana.
“Ya iyalah giling, lagian gue juga tau elo, elo nggak begitu suka kan diwawancara kayak gitu, apa lagi kalau caranya bar-bar. Tapi ada satu wartawan baik temen gue kok, namanya Elok, nanti gue aduin ke dia deh, dia kan senior, kalau dia nulis tentang etika dan adab seorang wartawan, pasti pada kena tuh mereka...”
“Jangan mbak, ini bukan sepenuhnya salah mereka juga, mereka kan Cuma kerja, dan pekerjaan mereka mengharuskan seperti itu...” kata Riana.
“Ya tapi agak salah juga caranya, ngejar-ngejar sampai bikin tertekan begitu... Lu mau ketemu psikolog sekalian gak buat nyembuhin trauma? Gue yakin, pasti hal kayak ginian bikin lo trauma, gue takutnya lo nggak bisa ngatasin kalau pas waktunya ketemu orang banyak, kan susah juga...” usul Yura.
“Sebenernya bantuan profesional semacam itu juga yang gue cari mbak, tapi kayaknya untuk saat ini, gue belum butuh-butuh banget deh.”
“Oke, nanti kalau udah butuh, kabarin gue aja. Ya udah, let’s back to the topic. Gimana soal tawaran gue kemarin tentang siaran di radio?” dan akhirnya, percakapan seputar pekerjaan itu berlangsung selama hampir satu jam lamanya.
***
“Makaaaaannnn!” teriak Ganesh tiba-tiba, saat Riana dan Abhi sedang asyik berbincang-bincang di dalam kamar Riana sambil tertawa-tawa.
“Semangat amat kamu, Nesh? Tadi order online kah?” tanya Riana seraya menyambut adiknya itu. Oh iya, dia udah mandi, udah bersih-bersih, udah sisiran sekarang, pokoknya udah keliatan kayak manusia lagi deh, Cuma mata merahnya itu lho, nggak nguati.
“Nggak, tadi keluar barengan sama mbak yang cantik itu, mbak-mbak kuliahan. Siapa namanya? Selena?” tanya ganesh seraya tersenyum penuh arti.
“Heh, Hani arep mbok apakne, tau-tau udah kepincut sama yang lain aja...” komentar Abhi seraya menutup layar ponselnya.
“Lho, jangan khawatir mas, udah ngambek itu anaknya, gara-gara aku update story sama Mbak Selena tadi di tempat makan...” Ganesh meringis.
“Heh, adiknya mbak jadi play group, eh, playboy, diajarin siapa?” tanya Riana seraya menjewer main-main telinga Ganesh.
“Diajarin Mas Abhi, mbak, oweeeeeekkk...” jawab Ganesh sekenanya, membuat Abhi hampir memisuh.
“Asem, ora yooo... La terus yoopo iku Hani?” tanya Abhi.
“Nggak tau mas, nanti aja kutelpon lagi dia. Gampang kok ngebujukinnya, asal nggak posisinya dia lagi ngamuk aja...”
“Ngamuk gimana?” tanya Abhi penasaran.
“Ya ngamuk... Kayaknya secara emosi, karakternya Mbak Hani itu sama lah sama Mbak Riana, kalau udah down atau udah kenapa, susah dibujuk... Ya kalau untuk Mbak Hani sekarang, aku harus kerja keras deh bujukinnya, soalnya dia emang cemburuan, sih...”
“Sama ya kayak author yang nulisin kisah kita ini?” celetuk Abhi. Duh ini anak, belum pernah ngerasain dilempar sepatu sekalian sama rak-raknya, ya? Bisa-bisanya lagi ngegibahin author-nya. Ntar tak hiatus, tak stop ceritanya tau rasa tuh mereka!
“Eh ampun-ampun, thor, ampun, nggak gibah lagi, deh...”
“Heh, iki sido dilanjut gak iki ceritane? Malah do gelut dewe-dewe!” Iya-iya, ah. Ini Abhi sih mancing-mancing. Ya udah lah ya, kalian mau makan juga kan padaan? Ceritanya distop sampai sini aja ya, nanti langsung lanjut part 26.
“Lho, ngambek beneran ini author-nya?”
__ADS_1
Nggak-nggak, udah ya, sampai sini dulu aja.
(TBC).