
“Muaraaaa! What a surprise? Kenapa kita bisa ketemu lagi disiniiii?” seru Riana heboh seraya segera memeluk Muara, meninggalkan Abhi yang kebingungan karena gandengannya terlepas tiba-tiba. Beruntung, Riana cepat menyadarinya.
“Astaga, Abhi, sorry... Sini...” serunya seraya kembali ke tempat Abhi berdiri, membawanya menemui Muara.
“Hi, bro!” sapa Muara heboh seraya mengajak Abhi toast, dan memberi salam ala laki-laki.
“Yoi, bro, ketemu lagi kita...” kata Abhi seraya membalas jabat tangan erat Muara.
“Aku masih punya surprise lagi, yuk, ke sebelah sana...” ajak Muara. Riana dan Abhi mengangguk. Dan begitu sampai di tempat yang dituju, jeritan Riana dua kali lebih heboh, karena dia bertemu dengan...
“Ganesha Dwi Pradanaaaaaa!”
“Astaghfirullah mbak, telingaku pengeng yo!” serunya jengkel seraya memberontak dari pelukan brutal sang kakak. Set dah Riana, sadar bentuk napa, situ tuh agak berisi, anak orang dipeluk nganti remek og piye...
“Eh, maap-maap, Nesh.” Riana nyengir seraya mengusap-usap telinga sang adik.
“Riana cakep-cakep bar-bar ya, tadi ketemu aku main lari aja, meluk kenceng banget, terus Abhi ditinggal. Iki yo ngunu, adiknya hampir diremukkan. Duh elah, pusing saya mah...” keluh Muara seraya garuk-garuk kepala.
“Mbak, kok aku gak dipeluk juga?” seloroh Wisnu. Kontan saja Ganesh langsung menjitak manja kepala sahabatnya tersebut.
“Ra oleh, kui mbakku!” serunya pura-pura galak.
“Iyo Nesh, iyo, hadaaaah...” Wisnu meringis.
“Ya udah, yuk langsung ke hotel aja semua. Kalian kudu keabsahan dulu, kan?” tanya Muara.
“Iya, kok tau sih?” tanya Riana.
“Aku lho panitianya, kacau emang, nggak sesuai job desc banget, biasa jadi penghibur sekarang malah ngurusin administrasi, ini-itu dan anu yang terasa membagongkan...” ucap Muara.
“Oalaaa, semangat kalau gitu Ra, sekarang, ayo layani aku sebagai guru pendamping anak-anak SMA, bukan sebagai sahabat...” canda Riana.
“Rese ah, aku masih kagok nih. Udah ayuk, cepetan, nanti keabsahan di lantai dua ya, dari lift, naik sekali terus belok kanan...” ucap Muara. Riana mengangguk. Ia segera pergi mengabarkan ketua kontingen, agar segera melakukan keabsahan untuk rombongan mereka.
***
__ADS_1
Festival Pekan Budaya Pelajar adalah sebuah event tahunan yang mewadahi anak-anak remaja (khususnya SMA), untuk berkompetisi dan berkarya sesuai bakat dan minatnya (kegiatan ini juga diselenggarakan untuk 34 provinsi di Indonesia). SetelahTahun kemarin dan tahun sebelumnya kegiatan dan lomba ini dilaksanakan secara daring (online), kini akhirnya ada kesempatan untuk dilaksanakan secara offline lagi, tentu dengan prokes yang ketat, dimana salah satu syaratnya adalah harus membawa kartu/sertifikat vaksin. Selain itu tetap ada swab Antigen, dan juga ada screening session dengan dokter yang disediakan di lokasi.
***
“Akhirnyaaa sampai kamar jugaaaa!” ucap Riana seraya merebahkan badannya di atas kasur hotel yang empuk.
“Bu, Saras mandi duluan, ya, lepek ini,” ucap gadis itu seraya segera membuka kopernya.
“Iya, Ras, mandi aja, ibu mau tidur bentar... Itu si Rachel kemana kok gak balik-balik?” tanya Riana seraya menarik selimut ke tubuhnya.
“Ketemu temennya dari Jogja, bu. Ya udah, Saras mandi dulu ya bu, permisi...” kata Saras sopan seraya berjalan menuju kamar mandi.
Riana Cuma mengangguk sekilas, matanya sudah sama sekali nggak bisa diajak kompromi.
***
“Bu… Ibu… Bu Riri…” Riana terkejut. Tubuhnya diguncang-guncang dengan cukup keras. Meski agak kesulitan, akhirnya Riana membuka matanya, dan terlihatlah Saras dengan tampangnya yang super panik.
“Ada apa, Ras?” tanyanya seraya setengah mengantuk.
“Astaga dragon ball! Lapo aku lagek digugah saikiii?” ucap Riana reflek menggunakan bahasa Jawa.
“Saaken ibu mau turune penak banget, aku yo ra tego...” jawab Saras yang juga ikut-ikutan pake bahasa Jawa.
“Kamu ada turunan Jawa ta, Ras?” tanya Riana seraya sibuk berganti pakaian dan memoles make-up seadanya, serta menata rambutnya.
“Nama saya kan Diajeng Saras Putri Kinasih, bu. Ibu saya asli Solo..” jawab Saras. Riana mengangguk. Sekarang yang terpenting baginya adalah, bagaimana caranya bisa menjangkau Abhi dalam waktu yang super singkat ini, karena dia khawatir Abhi gak ada yang bantu.
***
“Wah, untung aja, ternyata kamu udah disini duluan tho, Bhi?” tanya Riana, sesaat setelah ia keluar dari lift bersama Rachel, Saras, Riza dan Andre yang mengekor di belakangnya.
“Iya, tadi bareng-bareng sama pak official, yang dari sekolah kamu. Siapa?”
“Pak Catur, Bhi. Emang, itu orang baik banget. Beliau itu kalau gak salah buka sanggar seni untuk temen-temen difabel di daerah Semarang, kampung halamannya...”
__ADS_1
“Berarti udah biasa dong ya bawa anak kemana-mana kalau pementasan?” tanya Abhi tertarik.
“Biasa banget, banyak banget aktifitas Pak Catur di sanggarnya kalau lagi pulang kampung, bisa dicek di channel youtube-nya juga...”
“Halo Mbak Riana!”
“Eh ndas glundung... Ya ampun bapaaaakkk...” Riana meringis, memegang dadanya. Dasar Pak Catur, senengannya gitu emang, ngagetin.
“Hehehe. Ojo kaget tho, Cuma Pak Catur yang datang, malah kayak didatengi hantu aja. Ya udah, yuk makan malam sekarang saja, lebih cepat lebih baik kan. Dan nggak usah khawatir soal kawannya ini Mbak Riri, dia sekamar dengan saya, jadi kemana-mana insya allah onok gandengane...” kelakar Pak Catur seraya menepuk akrab pundak Abhi.
“Oh, nggih, pak. Ya udah ayo guys, makaaaan!” seru Riana memandu keempat muridnya yang Cuma bengong menggikuti alur percakapan.
“Eh, Arina mana?” tanya Andre seraya matanya memindai sekeliling.
“Evan mana?” tanya Saras seolah gak mau kalah. Ini anak berdua rupanya masih meneruskan pertengkaran mereka yang dimulai semenjak awal latihan deh kayanya. Hadeeeh. Udah tau sama-sama cemburuannya juga, malah begitu.
“Udah-udah, jangan mulai dulu, fokus kompetisi. Ayo, pada makan semua!” seru Riana galak. Nah, kalau udah begini keluar dah aura gurunya.
***
Rachel, Riza, Saras, Andre dan kedua teman mereka sedang berdiskusi di sebuah meja panjang yang diatasnya tersaji teh manis dan kue-kue di atas piring cantik.
“Gila, masak nomor 2 sih? Kacau nih...” keluh Riza.
“Nggak tau, do the best aja lah... Bismillah.” Kata Saras. Semua mengangguk sepakat, lalu lanjut makan kue lagi.
***
Sementara itu, di meja sebelah...
Usai technical meeting, Riana memutuskan untuk berkumpul sebentar dengan para panitia – yang termasuk ada Muara juga di dalamnya. Gadis itu mempercakapkan banyak hal, sementara ia lupa bahwa seseorang tengah menunggunya seraya memainkan ponsel. Ialah Abhi. Riana berjanji mengantarnya berjalan-jalan di sekitar hotel ; merasakan suasana keriuhan malam di Kota Apel, Malang. Tapi sepertinya Riana lupa dengan janjinya, karena telah begitu asyik dengan percakapannya bersama Muara. Tak ingin terus disitu dan memperparah luka hatinya, Abhi memutuskan untuk kembali ke kamar saja, istirahat, untuk mempersiapkan kompetisi besok. Dan dia juga harus sadar diri, memangnya siapa dirinya? Kenapa dia harus berharap Riana akan se-peduli itu kepadanya?
***
Di dalam kamar, ia menjawab sekenanya pertanyaan dari Pak Catur, perihal agendanya yang ingin merasakan sebentar ramainya Kota Malang. Setelah itu, ia memutuskan untuk memutar musik dari ponsel, memasang headset dan tidur. Suasana telah memanas karena sebuah kompetisi yang akan dimulai rangkaiannya pada esok hari. Tapi tak ada yang tahu, bahwa di atas sebuah tempat tidur, di sudut sebuah kamar hotel, ada yang merasakan hatinya lebih panas lagi.
__ADS_1
(TBC).