
Pagi hari ini cerah, namun tak secerah suasana hati pemilik wajah cantik yang baru saja bangun dari lelapnya. Disibaknya tirai jendela, supaya sinar mentari bisa masuk menghangatkan kamarnya. Mentari, itu nama belakang si cantik itu. Nama yang mungkin saja memiliki harapan bahwa hidupnya akan selalu secerah sinar mentari, kendati sesekali ia tertutupi awan mendung. Tapi apa yang terjadi? Nyatanya nama hanya tinggal nama. Nyatanya, hidupnya tidak pernah secerah dan se-bermakna itu, jangankan untuk orang lain, orang-orang di sekitarnya. Dirinya sendiripun masih sulit memaknai hidupnya ini. Ironis.
Riana keluar dari kamar. Matahari belum begitu tinggi tampaknya. Ia melirik jam yang tertempel manis di dinding ; dan ternyata benar, masih pukul 07:15 pagi. Riana memasuki area dapur kos-kosannya. Ia sejenak melihat-lihat kulkas, kiranya apa yang bisa dimasak pada pagi hari ini. Ah, ya, dia ingat. Semalam setelah pulang dari cafe (dan memergoki pacarnya yang berselingkuh), Riana sempat mampir ke supermarket untuk membeli stok bahan makanan. Sepertinya memasak pasta di akhir pekan terdengar cukup menyenangkan. Yes! Riana bersorak girang. Kali ini, ia akan memasak pasta dalam porsi yang besar, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk teman-temannya, yang tiga itu terutama.
***
“Selamat pagi Mbak Ri,” sapa Selena yang baru muncul dengan tampang bangun tidurnya.
“Pagi, Sel...” balas Riana seraya tersenyum.
“Gimana suasana hati mbak pagi ini?” tanya Selena seraya memperhatikan aksi Riana yang begitu cekatan mengiris daging asap untuk topping pasta.
“Kalau ditanya gimana sih, yang jelas masih ancur ya, siapa juga yang nyangka bakal diselingkuhin?” Riana meringis.
“Ya ampun mbak! Bang Rey selingkuh?” Selena membulatkan matanya, terkejut.
“Iya, Sel. Nanti aku cerita sambil kita mukbang pasta. Sekarang, kamu bangunin Mimi sama Maura, biar nggak kesiangan. Hari sabtu ini, mereka tetep kerja soalnya,” ucap Riana seraya tetap melanjutkan aktifitas memasaknya.
“Siap, Mbak. Aku bangunin Mbak Milia sama Mbak Maura dulu ya!” kata Selena seraya berlari riang menuju lantai atas, ke deretan kamar-kamar. Riana mengangguk dan tersenyum. Sebagai anak terakhir di dalam keluarga, melihat sikap riang, polos dan ceria dari Selena, dia jadi berasa punya adik, dan dia seneng banget, karena Selena sendiri menganggapnya juga sebagai kakak. Dan Selena juga memang sedekat itu dengan dirinya.
“Mbaaaaakkk!” jerit Selena seraya langsung turun dua sekaligus dari anak tangga terakhir.
“Eh kutu goreng... Kamu itu, Sel, ngagetin aja... Ini pasta masih belum mateng lho, nanti kalau dia shock terus berubah jadi mie goreng gimana?” omel Riana.
“Yeeee, si mbak... Ya kali dia shock terus bisa berubah, emang dia manusia?” Selena ketawa.
“Se-shock-shock-nya manusia, dia juga nggak akan berubah wujud gitu reaksinya...” komentar Riana.
“Dibahaaaaaas, bukan dilanjut masaknya, hadeeeh...” Selena meringis.
“Pagi-pagiiii...” sapa Milia yang sudah turun dan memakai seragam kerja. Seperti yang pernah diceritakan, kalau weekend, Milia itu bekkerja di daycare, atau tempat penitipan anak.
“Pagi, Mil,” sapa Riana seraya menuangkan pasta hasil masakannya ke piring-piring.
“Ya ampun, Mac N cheese doooong!” seru Milia antusias.
“Suka, Mil?” tanya Riana.
“Bukan gue, tapi Zara, kalau tuh anak datang lagi ke daycare, pasti setiap break lunch minta diorderin ginian,” jelas Milia.
“Oalah... Di daycare tempat lo ada fasilitas microwave nggak?” tanya Riana.
“Ada sih, kenapa Ri?” tanya Milia. Riana tidak menjelaskan apa-apa, tetapi tangannya langsung beralih ke lemari, dan menyiapkan satu buah wadah kotak makan siang, dan memasukkan sisa Mac N Cheese yang ia buat (satu kost udah kebagian semua kok, tenang aja. Kan dia masak porsi besar tadi), dan memberikannya kepada Milia.
“Ini buat apa, Ri?” tanya Milia bingung.
“Nikmati itu berdua bersama Dik Zara, sampaikan salam gue sama dia juga ya,” kata Riana. Milia mendadak menundukkan wajahnya. Ia mendadak sedih.
“Mudah-mudahan hari ini itu anak nggak pergi terapi, ya...”
“Lho, emang dia kenapa?” tanya Riana.
“Dia itu ada semacam kelainan gitu, orang sekolahnya juga di SLB, orang tuanya sibuk kerja semuanya, makanya tiap hari dititipin ke daycare, ketemu sama gue tapi Cuma sabtu sama minggu aja.” Jelas Milia.
“Ya ampun, kasian ya. Nanti sabtu depan gue kasih cokelat atau yang lain, nanti kalau gue sempet gue main kesana juga deh, lihat-lihat,” kata Riana. Sebenernya pada dasarnya, dia sendiri emang suka sama anak kecil.
“Kalau lo nggak kemana-mana mending ikut sekarang aja Ri, lumayan buat menghibur diri,” ajak Milia.
“Nggak bisa Mil, gue mau ke sekolah, ada bazaar yang digelar sama anak-anak disana, gue udah janjian sama mereka. Dan lagian, gue nggak mau anak-anak kecil yang tak berdosa di tempat kerja lo sampai melihat ini,” kata Riana seraya menunjukkan seluruh tangan kirinya yang dibalut perban.
“Masya ALLAH, iya juga ya Ri. Tapi kalau ada free time, minggu depan lo harus ikut gue ya, gue yakin, anak-anak disana pasti senang ketemu lo.” Kata Milia.
“Siap, beres!” Riana mengangguk. Tak lama berselang, Maura muncul dengan make-up super tebal, dan pakaiannya yang agak... Seksi. Sepertinya hari ini dia tidak di tempat kerjanya yang biasa.
“Ada brand baru, gue diminta foto buat jadi model, gue langsung jalan ya...”
“Nggak sarapan dulu, Ra?” tanya Riana.
“Nggak deh, Ri, nanti aja di tempat kerja. Gue duluan yaa!” serunya seraya keluar rumah, nyaris tanpa salam. Kehidupan Jakarta telah membuat Maura berubah dan melupakan tempat darimana dia berasal. Tapi sudahlah, toh itu hidupnya dia. Yang penting Riana tidak begitu. Dan sebaiknya, dia juga segera sarapan, karena bazaar-nya pasti sudah dimulai, dan anak-anak menunggunya.
***
__ADS_1
“Bu Ririiiiii!” sapa seorang murid ber seragam batik dengan sangat antusias. Ini dia, SMA Pelita Bangsa, tempat ia mengajar kesenian.
“Pagi Chel, anak-anak udah kumpul semua?” tanya Riana. Oh iya, nama anak murit tadi Rachel.
“Udah, ada bapak-ibu guru lain dan ibu kepala sekolah juga, mudah-mudahan acara kami
lancar ya, bu,” ucap Rachel.
“Persiapannya sejauh ini gimana, Chel, ada kendala?” tanya Riana.
“Nggak ada sih bu, alhamdulillah support semua,” Rachel tersenyum, memamerkan deretan gigi putih + lesunng pipinya.
“Oh ya syukur deh kalau gitu. Ini udah mulai kah acaranya?” tanya Riana lagi.
“Udah, bu, udah ada beberapa pertunjukan juga. Ayuk ke sebelah sana,” ajak Rachel.
“Wah, berarti ibu yang telat ya? Yuk deh.” Kata Riana. Dan akhirnya, gadis cantik itu mengikuti kegiatan di sekolahnya hingga selesai.
***
Pintu cafe itu berdenting terbuka, ketika Riana dan beberapa anak muridnya masuk ke dalam sana. Ini masih Cafe yang sama. Dimana lagi kalau bukan Rose Cafe? Dan yang menyambut kedatangan mereka adalah sang owner sendiri, Nico.
“Siang ibu guru... Aduuuh kok bawa ciwi-ciwi dan dua dedek cowok gemes begini? Dari mana lo?” tanya Nico.
“Hus, ini murid-murid gue, ada Rachel, Saras, Riza sama Andre...” kata Riana. Nico Cuma ketawa, dan menyalami keempat bocah SMA yang merupakan murid-murid Riana tersebut. Hihi. Sebenernya Kalau diperhatikan sekilas, Riana dan keempat muridnya ini kayak masih seumuran. Di usianya yang sudah 21 tahun, Riana masih keliatan imut-imut.
“Salam kenal ya, semuanya. Tapi beneran deh, ada Riana di antara kalian, aku nggak ngerasa Riana itu guru kalian, kayak temen satu gank,” kata Nico.
“Tadi aja di jalan banyak yang bilang gitu kak, ngeliatin kami, terus nggak percaya pas Bu Riri bilang dia guru kami,” kata Rachel.
“Iya kak, Bu Riri itu cantik lho. Kalau saya nggak sengaja pulang bareng sama beliau, saya dikira pacarnya dong,” timpal Andre.
“Yeeee, lu mah ngarep!” ledek Saras. Niko Cuma ketawa. Ternyata di zaman manapun, baik zamannya dia ataupun zamannya Rachel CS, masa SMA adalah masa yang seru, masa penuh ledek-ledekan.
“Ya sudah ya sudah. Mau rapat ya kalian pasti? Langsung ke lantai 2 aja ya Ri, nanti order sama yang jaga disana aja.” Kata Nico.
“Siap. Thanks, Nic. Yuk guys!” ajak Riana kepada keempat muridnya. Mereka mengangguk, dan segera mengikuti Riana ke tangga, menuju lantai 2.
***
“Bu, apakah kita perlu mencari pasangan yang sempurna?” tanya Saras mengawali. Riana jelas kaget menerima pertanyaan seperti itu. Terlebih posisinya saat ini adalah korban dari gagalnya sebuah hubungan.
“Kenapa kamu tanya begitu, Ras?”
“Ya nggak papa, pengen tau aja. Menurut ibu, apakah pasangan sempurna itu perlu? Apakah kita perlu menemukan dan mendapatkan pasangan yang sempurna?” tanya Saras lagi. Riana menghela napas, menatap satu-persatu muridnya. Sebetulnya, disini peran dia sebagai seorang tenaga pendidik sedang diuji, bagaimana dia harus menyederhanakan sesuatu yang rumit, memperjelas yang samar, dan mencerahkan segala sesuatu yang masih terasa gelap dan abu-abu bagi pikiran mereka yang belum matang sempurna.
“Gini deh. Kita balik ke definisi standar aja. Apa menurut kalian, semua manusia itu sempurna?” tanya Riana setelah hening yang agak lama.
“Ya enggak dong, bu, pasti ada kurang-lebihnya. Kalau semuanya sempurna, takutnya kita nggak belajar apa-apa, dan nggak berusaha berubah untuk jadi lebih baik juga,” jawab Rachel. Riana tersenyum. Ia cukup puas dengan jawaban Rachel.
“Nah, sekarang kita balik ke premis awal, pertanyaannya Saras. Apakah pasangan sempurna itu perlu? Memang menurut kalian, definisi sempurna itu kayak apa?”
“Mungkin seperti seseorang yang bener-bener sempurna secara apa yang terlihat (fisik), dan sempurna secara pikiran, dalam artian, mungkin dia merupakan seseorang yang good looking dan smart,” jawab Saras.
“Sebenernya nggak begitu konsepnya, Ras,” kata Riana. Ia meminum sedikit ice lemon tea-nya sebelum melanjutkan kata-katanya. “Kalau menurut ibu, sempurna itu adalah bukan sesuatu yang akan terlihat ketika kita berjalan sendiri-sendiri. Kalau konteksnya pasangan, ya sempurna itu adalah ketika masing-masing di antara kamu dan pasangan kamu itu bisa saling melengkapi. Sempurna itu juga bisa berarti utuh, dan keutuhan itu bisa tercapai kalau ada lebih dari satu part atau bagian. Jadi, yang sempurna itu justru ketika kalian sebagai pasangan bisa saling melengkapi.” Lanjutnya kemudian.
“Berarti selama ini apa yang menjadi prinsip saya salah dong bu? Soalnya selama ini, saya selalu mencari sosok yang sempurna di penglihatan saya. Dan begitu udah dijalani, rasanya tuh hambar, beneran, kayak kosong aja,” ucap Saras.
“Itu karena dia sudah terlihat utuh dan sempurna dengan dirinya sendiri, bisa jadi, dia nggak butuh orang lain lagi untuk melengkapi hidupnya. Dia sudah merasa baik-baik saja dengan ada atau tidaknya kamu di hidup dia. Itu yang salah. Karena seperti yang ibu bilang tadi, sempurna itu adalah ketika kamu bisa melengkapi kekurangan dia, dan sebaliknya, dia juga bisa melengkapi kekurangan kamu.” Kata Riana bijak.
“Bu, sekarang ganti saya yang mau tanya.” Kata Andre seraya memperbaiki posisi duduknya.
“Iya. Kenapa, Ndre?” tanya Riana seraya menatap Andre. Yang ditatap Cuma salah tingkah, dan memainkan jemarinya di atas permukaan meja.
“Anu bu... Be-Begini. Tapi ibu jangan marah ya, sumpah, soalnya ini pertanyaan yang sensitif banget,” kata Andre takut-takut.
“Takok-o sek talah, mana ibu tau ibu bakal marah apa enggak?” Riana ketawa.
“Hehehe. Bukan apa-apa bu, saya tau, pertanyaan kayak gini, apa lagi buat seorang perempuan, itu pasti jatohnya sensitif, atau malah mungkin kurangajar...”
“Ya udah, apaan? Kon iki yo malah bikin penasaran.” Riana nyengir.
__ADS_1
“Mohon maaf sebelumnya ya bu. Menurut ibu, dalam sebuah hubungan... Bersentuhan secara fisik itu perlu nggak sih?” tanya Andre.
“Sentuhan fisiknya gimana dulu ini?” Riana nggak ngerti.
“Masak ibu nggak ngerti? Emang belum pernah?” tanya Andre.
“Kalau Cuma pegangan tangan sih pernah... Itu kan termasuk bagian dari sentuhan fisik juga. Tapi yang kamu maksud sentuhan fisik yang gimana lagi, kan ibu nggak ngerti,” jawab Riana jujur. Dan dia memang sepolos itu ; sepanjang hidupnya, ketika ia menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, sentuhan fisik yang paling sering ia lakukan hanya pegangan tangan, paling mentok ya berpelukan, kayak teletubbies. Jadi, ya jelas aja dia bingung sama pertanyaannya Andre tadi.
“Maksud saya tuh... Ini lho bu,” Andre memberi tanda kutip dengan jarinya. Dan entah mirasa mungkin klu tersebut kurang jelas atau bagaimana, Andre juga memonyongkan bibirnya, terus merem-melek, kayak seseorang yang sedang menikmati sesuatu. Dan dodolnya, Riana baru paham maksud Andre setelah melihat gayanya yang “nggilani” itu.
“Oh... Kissing tah?” tanya Riana refleks.
“Iya, bu, hehehe. Maaf ya bu kalau saya kurang sopan...” Andre nyengir, tampak salah tingkah dan serba salah.
“Seandainya posisi ibu bukan seorang guru ya, kita andaikan aja ibu kakak perempuan kamu misalnya Ndre, ibu pasti udah jitak kamu...” Riana meringis.
“Pasti begitu bu. Mungkin bukan cuman jitak, bisa jadi saya akan ditampol...” Andre ketawa. Saras dan Rachel Cuma senyam-senyum. Barangkali mereka mikir, “Andre bar-bar juga, ya,”, sementara Riza malah nggak peduli, sibuk sama game Mobile Legend di HP-nya.
“Begini, Ndre...” Riana menghentikan kalimatnya. Serius, dia bener-bener heran sekaligus kaget dapet pertanyaan macam gini dari muridnya yang baru pada beranjak dewasa. Menurutnya, lebih baik dia ditanyain soal periodisasi sejarah musik dari kuno sampai modern deh, daripada harus ditanyain soal asmara seperti ini. Jujur, dia jadi pengen garuk-garuk kepala sekarang, saking bingung harus jawab apa.
“Ya ampuuuun, piye lehku njawab yo?” Riana jadi garuk-garuk kepala beneran, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan suatu perkara yang menurutnya “rumit” ini.
“Kan pertanyaannya tinggal perlu apa enggak, bu. Iya kan?” Rachel menanggapi.
“Bener... Tapi kan musti ada alasannya Chel, yang logis gitu, yang bisa diterima sama kalian semua... Hadeeeh apa tak tanya Nico aja ya?” tanya Riana, lebih kepada dirinya sendiri.
“Apa-apaan sih, gue baru dateng kok disebut-sebut?” tanya Nico yang tiba-tiba muncul dan membawa pesanan Riana dan keempat muridnya.
“Ya ALLAH Nicooo, gue kutuk jadi tupai tau rasa lo ya!” sungut Riana.
“Opo maneh tho cantik? Aku lho mek nganterin ini... Carissa CS lagi gak bisa diganggu-gugat, lagi tak kasih tugas misi rahasia.” Nico nyengir.
Sebenernya ini bukan misi rahasia yang gimana-gimana, tapi yang pasti, semua ini ada hubungannya sama Riana. Apa hayo kira-kira? Nanti, kita pasti akan temukan jawabannya. Mending sekarang bantuin dia jawab pertanyaan murid ABG-nya aja yuk.
“Nic, cafe aman gak?” tanya Riana tiba-tiba.
“Aman sih. Kenapa?” tanya Nico.
“Duduk sini deh, bantuin gue njawab pertanyaan anak-anak...” kata Riana seraya menarikkan kursi untuk Nico.
“Ada apa Ri?” tanya Nico. Riana menceritakan garis besar pertanyaan salah satu muridnya tadi (Andre). Dan Nico-pun akhirnya ngakak. Salah juga si Andre, nanya ginian ke Riana, ya pasti dia kebingungan lah jawabnya. Karena Riana emang bener-bener polos.
“Jangan ngakak Nicooo, please jawabiiin...” Riana cemberut. Nico berusaha menghentikan tawanya, dan melirik Andre yang tampaknya masih benar-benar penasaran sama jawaban dari sudut pandang Riana. Kalau dari sudut pandang Nico, pasti jawabannya perlu. Yah biasalah, laki-laki gitu.
“Sebenernya lo nggak perlu bingung kok Ri. Andre itu Cuma minta jawaban dari sudut pandang lo aja...” kata Nico.
“Jadi kalau itu kesannya subjektif nggak papa?” tanya Riana lagi.
“Ya nggak papa, yang penting ada alasan yang kuat dan logis untuk jawaban itu. Ayolah, seorang Riana yang merupakan bintang kelas pas SMA masak bingung sama pertanyaan se-receh ini,” kata Nico. Riana nyengir, jelek banget. Asli, dia bener-bener pusing sekarang. Tapi mending dia cepetan jawab, daripada makin lama dia tertahan disini, dan dapet pertanyaan yang makin aneh dari murid-muridnya.
“Baiklah, Andre. Sebelumnya, makasih udah ngerjain ibu. Kalau ibu boleh bilang sih, sentuhan secara fisik sama pasangan tuh perlu gak perlu ya. Artinya mungkin perlu ketika di antara kalian harus ada yang dikuatkan, misalnya melalui genggaman tangan atau pelukan. Walaupun bentuk sentuhan fisik yang seperti itu juga bisa digunakan tidak hanya kepada pasangan, bisa kepada teman, sahabat, atau saudara. Kalau seperti yang kamu maksud tadi, sih... Jujur ibu nggak tau, karena ibu sendiri emang belum pernah...” Riana menutup penjelasannya dengan menutup wajahnya juga. Sukses besar, pemirsa. Pipi gadis itu kemerahan kini, karena membahas hal yang seperti ini di depan beberapa orang sekaligus, yang beberapa di antaranya adalah lawan jenis dan sebaya dengannya. Ya Lord! Andre mengangguk, tampak puas dengan jawaban Riana. Dia juga menyadari, berarti persepsinya selama ini salah, nggak semua perempuan suka diperlakukan lewat sentuhan fisik yang berlebihan. Dia berharap cewek incerannya (Saras), punya sikap dan prinsip yang sama dengan ibu guru cantiknya, Riana.
***
“Sukses malu gue dapet pertanyaan kayak gitu Nic, hadeeeh!” Riana menghempaskan bokongnya di sofa di ruangan pribadi Nico.
“Hahaha. Gak papa Ri, kan mereka remaja, mereka juga pengen tau lah. Tapi... Emang seriusan lo belom pernah?” tanya Nico hati-hati.
“Belom Nico, gue gak berani kayak gituuu, dan mungkin belom saatnya juga,” jawab Riana jujur. Nico merapatkan dirinya kepada Riana, lalu berbisik.
“Terus kenapa lo nggak minta itu sama gue, pas acara perpisahan sekolah?” Riana menghela napas. Seandainya perbedaan itu nggak pernah ada, mungkin mereka berdua sudah sama-sama bahagia sekarang. Tapi apa boleh buat, ini sudah ketentuannya. Tidak ada yang salah dalam peristiwa ini. Yang salah itu takdirnya ; mengapa mereka harus ditakdirkan berbeda?
“Jangan sedih, Riana, gue bercanda kok. Dan sekali lagi, lo yang sabar ya, soal peristiwa semalam itu...” kata Nico seraya mengacak rambut Riana.
“Thanks, Nico... Ya udah kita keluar dari sini yuk, biar gue bisa bantu-bantu layanin pengunjung. Sumpek gue duduk mulu,” kata Riana mengalihkan percakapan.
“Iya, ayuk...” kata Nico. Tampaknya, ia juga enggan melanjutkan percakapan itu, karena jujur saja, rasanya pada Riana belum sepenuhnya sirna.
***
Sisa hari itu dilalui Riana dengan pikiran yang kalut. Sepanjang berkegiatan di Cafe-nya Nico (hingga ia bersiap-siap hendak pulang ke kost-nya sekarang), pikirannya masih saja terfokus pada percakapannya dengan para muridnya, terutama soal asmara. Dan pertanyaan bar-bar itu... Riana meringis sendiri. Ternyata, dalam proses pendewasaan itu harus banyak hal yang ikut didewasakan atau terdewasakan juga. Baiklah, semua orang boleh mengakui Riana itu cerdas dan dewasa dalam banyak hal, tapi, dia sama sekali tidak mengalami pendewasaan dalam hal asmara. Halah mbuh wes. Kebersamaannya sama para remaja tadi membuat otaknya meleleh dan kepalanya pusing, serasa mau pecah. Mending dia cari makanan yang pedas, untuk menetralisir semuanya.
__ADS_1
(TBC).