MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 36, INI PERTANDA APA?


__ADS_3

[Insomnia sialan, kenapa sih lo harus datang disaat gue lagi mau ngadepin hari-hari penting kayak gini?] Argh! Riana mengusap kasar wajahnya. Malam sudah benar-benar di titik paling pekat, sudah jam satu lewat. Tapi Riana tetap nggak bisa memejamkan matanya. Dengan gemas, setelah menulis status WhatsApp, dia melempar ponselnya ke tumpukan bantal di ujung tempat tidur. Untung deh bener-bener mendarat disana, gak kebayang kalau gara-gara emosi sesaat itu LCD HP remuk gegara ngantem tembok, bisa abis gaji dia sebulan buat perbaikan. Tring... Ponselnya berkedip, menandakan satu pesan masuk. Pasti SW-nya udah dikomen ini. Siapa sih yang segitu rajinnya ngeliatin Story WA orang malam-malam?


[Non, kenapa sih tengah malem ngomel begitu? Kek kunti gak kebagian jatah kembang aja dah...] oalaaa kirain siapa, Muara ternyata.


[Sialan kamu, aku gak bisa tidur, padahal capek dan ngantuk banget, tadi banyak kerjaan di sekolah, terus....] Riana mengirim serentetan pesan, berisi semua keluhannya, semua unek-uneknya di hari ini yang sudah berakhir beberapa jam. Bahkan semestinya karena jam dua belas malam sudah lewat, ini sudah memasuki hari baru. Tapi bagaimana bisa dia merasa kini hari baru telah tiba? Orang memejamkan matanya barang sesaatpun iya tidak. Padahal pagi nanti dia harus ke sekolah lagi, ngajar lagi, ngerjain administrasi lagi. Ampun DJ!


[Wadadadah, aku dispam rek wkwk.] Satu balasan dari Muara muncul beberapa saat kemudian. Lalu balasan berikutnya muncul. [Mau nyoba sleep call gak? Siapa tau membantu.]


[Apaan tuh sleep call? Baru denger...] Muara is typing.


[Aku telepon kamu, terus ajak kamu ngobrol sampai ketiduran, gitulah...]


[Hah? Nggak ada usul atau saran yang lebih berguna daripada itu ya?] Riana nyaris terbahak membaca penjelasan dari Muara tersebut. Apa tadi namanya? Sleep call? Idih!


[Cobain dulu deh, nggak usah cerewet. Emang mau ke sekolah dengan mata panda?] balas Muara lagi. Riana menimbang-nimbang usulan konyol dari sahabatnya tersebut. Dia harus segera memutuskan, sebelum pagi benar-benar menjelang.


[Ya udah, let’s try. Tapi kalau cara itu gak berhasil, kugantung kamu di atas jemuran tetangga.] kata Riana. Muara Cuma mengirim emot ngakak saja, sebelum akhirnya ia menelepon gadis itu.


“Halo non, ancaman tadi gak serius kan?”


“Buset gak pake salam gak pake apa, langsung begitu...” Riana tertawa.


“Lagian kamu, ngancemnya bar-bar banget, kagak ada lembut-lembutnya jadi cewek.” Muara ikut tertawa.


“Lho, emang aku cewek ya? Perasaanku aku wanita deh...”


“Sama aja, dasi pramuka. Emang bedanya dimana?” Muara gemes.


“Ya ampun ceng-cengan jaman kapan juga itu yang dipake?” Riana masih tertawa. Selama beberapa saat lamanya, keheningan kamar kost yang cukup besar itu diisi dengan tawa sepasang anak manusia yang bercengkerama lewat telepon.

__ADS_1


“Ri, hari ini aku lagi pindah kota lagi nih, biasa, dengan pekerjaan yang sama. Terus...” Muara asyik saja bercerita, padahal Riana sudah tidak peduli, dia sudah jatuh tertidur dengan


Deru napas yang teratur. Muara tersenyum, ternyata metode ini ampuh juga. Tapi satu hal yang jadi perkara sekaligus kendala, kalau nanti dia kecanduan sleep call gimana? Atau jangan-jangan Riana juga? Ah ya udahlah. Dipikir nanti aja yang itu. Mending sekarang, dia ikut tidur aja.


***


SMA Pelita Bangsa, siang hari. Yes, senangnya hatiku, turun panas demamku *kok kayak iklan, ya? Riana yang nyanyi juga baru sadar, lagi. Hadeh, nggak, gini deh. Kita anggap aja, barusan itu ekspresi senangnya Riana yang bisa pulang cepat hari ini, dikarenakan tugas administrasi sudah tidak begitu banyak. Hari ini agenda mengajarnya juga lancar, semua berjalan sesuai harapan.


“Siang, Mbak Riri,” sapa Pak Catur yang kebetulan berpapasan dengannya di koridor.


“Selamat siang, pak.” Jawab Riana.


“Saya pulang duluan nggih, mau jemput istri sama anak saya di stasiun, mereka main-main ke Jakarta, jauh Mbak Ri, dari Semarang...” pammit Pak Catur.


“Oh, monggo pak, saya juga mau pulang ini, kebetulan kerjaan sudah selesai semua. Kalau begitu, sampai ketemu besok ya pak...”


“Nggih Mbak Riri, hati-hati...” Pak Catur melambaikan tangannya, Riana membalas. Dan sekarang, dia harus pergi ke suatu tempat yang sudah disepakatinya bersama Pak Dimas kemarin. Riana melihat lagi sepucuk kartu nama itu, beserta alamatnya. “Jalan Anggur II nomor 14, Gedung Perkantoran Star Corporation.” Syukurlah, ternyata jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah tempatnya mengajar. Hanya tiga kilometer. Maka dengan semangat 45, gadis itu berjalan – setengah berlari menuju parkiran, lalu cepat-cepat memacu motornya ke temmpat tujuan.


***


“What a surprise?” tanya Riana pelan, tapi tidak cukup pelan untuk didengar oleh sosok itu – Muara. Ya, itu Muara, tidak salah lagi.


“I don’t know... Tapi agaknya semesta selalu mengatur perjjumpaan kita dengan cara-cara yang hebat dan tak terduga,” jawab Muara. Riana tidak berkata apa-apa, tapi ia menghampiri lelaki itu, dan beberapa saat kemudian, tubuh mungilnya telah tenggelam dalam rengkuhan rapat pemuda itu.


“Sehat, Ra?” tanya Riana kembali, seiring terlepasnya pelukan mereka.


“Sehat, dong, kalau lagi sakit, aku gak mungkin bisa nemenin kamu sleep call, dan bisa ada disini sekarang,” Muara tertawa, mengusap puncak kepala Riana. Riana ikut pula tertawa. Setelah berbincang-bincang beberapa saat lamanya, tiba-tiba, pemilik kantor itu – Pak Dimas, muncul dari kejauhan, keluar dari pintu lift sebelah utara lobby.


“Sudah datang, ya?” sapanya ramah. Matanya menatap Riana dan Muara yang berdiri bersisian di hadapannya.

__ADS_1


“Selamat siang, pak,” sapa keduanya kompak.


“Siang... Ayo, langsung ke ruangan saya saja, biar lebih enak ngobrolnya. Selain itu, kita sekalian makan siang juga ya, saya menunda jadwal makan siang hanya demi menunggu kalian lho,” kata Pak Dimas seraya mendahului langkah, berjalan kembali menuju pintu lift.


“Kok gitu sih pak? Kami jadi gak enak nih,” kata Muara. Riana mengangguk membenarkan.


“Alah, kan kalian tamu istimewa, yang kehadirannya juga sudah saya tunggu-tunggu. Ayo, silakan,” ajak Pak Dimas. Lift membawa mereka ke lantai 15, lantai tertinggi di gedung itu, ruangan utama milik CEO terletak disitu. Begitu mereka memasuki ruangan, Riana dan Muara benar-benar kagum dengan penataan ruangan itu yang sungguh sangat mewah. Begitu masuk, mereka langsung bisa melihat beberapa kursi berlengan yang empuk dan tampak nyaman, lalu big sofa, dan meja besar yang sudah ditata rapi dengan berbagai makanan dan minuman, seolah ruangan itu sudah dikhususkan dan diperuntukkan untuk menyambut mereka.


“Yuk, masuk-masuk, anggap rumah sendiri saja...” kata Pak Dimas ramah seraya membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan mereka masuk. Muara menggandeng tangan Riana, langsung membawanya ke salah satu kursi berlengan yang terdekat.


“Bagus banget ya, Ra, tempat ini.” Kata Riana pelan.


“Iyalah, aku aja nggak nyangka bisa masuk ke gedung Star Corp, bisa ke ruangan CEO-nya langsung lagi,”


“Duduk, anak-anak. Kursi itu ditaruh disitu buat didudukin, ayo, ayo. Jangan tegang lah...” Pak Dimas berusaha bercanda dengan mereka, mencoba membuat suasana se-rileks mungkin. Setelah mereka semua duduk, dimulailah jamuan makan siang yang setengah terlambat itu. Mereka menikmati makanan dengan sesekali menimpali pembicaraan Pak Dimas. Mereka berdua sama-sama tegang, sampai rasanya mereka hampir tidak bisa menelan makanan tersebut dengan baik.


“PAK...” RIANA MEMECAH KESUNYIAN.


“Kenapa bisa ada Muara disini?”


“Itu juga yang ingin saya tanyakan, kenapa bisa ada Riana disini?” Muara menimpali.


“Setelah saya menemui kalian di tempat yang berbeda, sekarang saatnya kalian dipertemukan di satu tempat yang sama, dan mendengar cerita saya, sebelum saya berangkat ke inti tentang maksud dan tujuan saya memanggil kalian kesini...” kata Pak Dimas. Riana tanpa sadar menahan napasnya. Kali ini, apa lagi yang akan mengejutkannya?


“Sepertinya, semesta begitu baik kepada saya, karena menghubungkan jalinan kisah ini, begitu mudah caranya... Jadi begini, selain Elsa yang mengikat dan membawa saya kepada Riana, ada satu lagi orang yang akhirnya malah menghubungkan saya tidak hanya kepada Riana, tapi juga Kamu, Muara. Oh, bukan satu, bahkan ada dua...”


“Siapa, pak?” tanya Riana dan Muara, nyaris berbarengan.


“Narendra Abhi dan Mario.”

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2