MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 9, HAVE A NICE TRIP (KETIKA STORY WA DILIHAT SAMA MANTAN)


__ADS_3

“Cieeee, yang mau liburan, semangat banget beres-beresnya...” goda Milia, ketika melihat Riana sibuk dengan tas koper dan beberapa barang yang sedang ditata.


“Iya dooong, ini tuh gara-gara elu sama Maura juga kan, pake cerita ke Nico segala tentang gue habis ngapain, kan jadi rese dianya, sampai ngasih hadiah tiket liburan segala, kacau lu pada,” omel Riana.


“Nico berhak tau, Ri, lagi pula, bukannya kalian deket banget ya?” tanya Milia.


“Tapi kan kita udah punya kehidupan masing-masing, Mil... Lagian, gue juga kasihan sama Nico...” kata Riana seraya memasukkan barang terakhir ke dalam koper, dan menutupnya.


“Kasihan kenapa?” tanya Milia.


“Sebagai perempuan, gue nggak bisa dibohongi Mil, gue bisa dibilang lebih dari ngerti soal ini, soal Nico yang masih berharap dan masih mencintai gue, padahal dia tau, yang menghalangi kita ini Cuma perbedaan, tapi perbedaannya ini sendiri ya bukan perbedaan main-main. Gue khawatir, dengan semua perlakuan baik dia ke gue gini, justru ini malah akan makin nyiksa dia...” jelas Riana.


“Gue percaya Nico orang baik, Ri, insya allah dia tulus ikhlas mau bikin elo bahagia, nggak lagi karena rasa. Lagian, dia udah cerita kan sama lo soal ibunya dia yang juga masih jadi pejuang mental helth?” tanya Milia.


“Udah sih...”


“Mbak, udah belom? Ayok berangkat, pesawatmu jam setengah satu lho,” kata Selena seraya membuka pintu kamar Riana.


“Sek talah, iki lho baru jam setengah sembilan...” kata Riana seraya merapikan kamarnya, sekaligus memastikan tidak ada barang yang tertinggal.


“Sarapan dulu, ketemu yang lain dulu, itu temen-temen band-nya mbak pada mau ikut nganter katanya, masak digosting?” kata Selena.


“Ya udah, sek, aku nurunin koper dulu...”


“Nggak usah mbak, biar Dyo aja...” kata sebuah suara yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. Riana menoleh, terkejut. Refleks ia memukul kepala Dyo dengan remote AC yang dipegangnya.


“Aduh mbak!” seru Dyo kesakitan.


“Lho, ngopo?” Riana kaget.


“Nggak tau nih mbak, akhir-akhir ini kepalaku sering sakit e...” kata Dyo.


“Aduh maaf, Dy, mbak nggak tau...” ucap Riana menyesal.


“Alah santai lah mbak, paling juga pusing biasa doang... Yuk sini, kopernya tak bawain...” kata Dyo seraya memberdirikan koper Riana yang cukup berat karena dijejali banyak barang.


“Hati-hati, Dyo, bisa nggak?” tanya Selena.


“Santai mbak, Cuma koper ini kok. Yuk, udah semua kan? Mari kita turun!” seru Dyo riang seraya mendorong koper Riana.


***


Singkat cerita, kini Riana sudah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bersama tiga teman kost dan empat teman band yang mengantarnya. Riana menikmati semua proses persiapan perjalanan keberangkatannya menuju pulau Dewata (Bali), sesuai keterangan di tiket pesawatnya yang baru dia lihat kemarin. Tapi selama semua proses itu berlangsung, Riana tidak bisa melepaskan tatapannya kepada Dyo yang seperti sedang menahan sakit.

__ADS_1


“Apa sih mbak, dari tadi ngeliatin aku mulu? Tambah ganteng ya aku?” kelakar Dyo seraya menepuk pundak Riana.


“Eh, kamu. Nggak, nggak papa kok, Cuma rada khawatir aja. Kamu gak papa tah?”


“Alah nggak papa-nggak papa, paling Cuma sakit kepala biasa aja. Dah yuk, kita ke ruang tunggu aja. Bener kan kata aku juga, untung mbak berangkat pagian. Ini prosesnya di bandara aja udah panjang banget...” kata Dyo. Riana mengangguk. Ia kenbali melangkahkan kakinya menuju ruang tunggu. Sekarang jam telah menunjukkan pukul 12:15 siang. Itu artinya, sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.


“Beb, seneng-seneng ya disana, say no for galau-galau,” kata Milia seraya memeluk Riana.


“Bahagia sampai pulang yaa, kalau bisa seterusnya deh,” ucap Selena seraya memeluk Riana juga.


“Dapet jodoh yaa disana, kalau bisa yang sampe ngajak lo nikah dan bikin lo bahagia deh,” kata Maura sedikit ngelantur.


“Makasih guys, kiranya do’a-do’a itu akan kembali pula sama kalian. Gue jalan dulu yaa, assalamu’alaikum...”


“Waalaikum salam, hati-hati, Ri...” kata semuanya. Riana mengangguk. Ia meneruskan perjalanannya menuju kursi tunggu. Para sahabatnya melihat dari jauh. Dan di saat yang tidak terduga, tiba-tiba Nico datang, dan main peluk Riana aja.


“Riiii, sorry gue telat. Ya ampun sidang proposal skripsi tadi lama banget... Sampe stress sendiri gue, dipikir lo udah berangkat, tau nggak...”


“Ya ampun Nicolas Shon Putra Fernandes, kebiasaan banget dah bocah... Emang, kurang dari 15 menit lagi gue bakal berangkat, tapi kan gak usah seheboh itu jugaaaa,” kata Riana seraya menjewer main-main telinga pemuda bule yang berdiri menjulang di hadapannya itu. Kasian beut dah itu Riana, perkara mau ngejewer telinganya Nico aja sampai harus jingjit begitu, saking tingginya Nico, hihihi.


“Jangan terlalu niat menjewerku, sayang, percuma, tanganmu tak akan sampai,” ledek Nico seraya memegang tangan Riana.


“Kan suwek nih anak... Ya udah, gue naik ke pesawat ya, udah dipanggil-panggil tuh...” kata Riana. Dan benar, pengumuman bandara sudah memanggil para penumpang untuk naik ke pesawat masing-masing, sesuai kemana tujuan mereka.


***


[Bismillah mau terbang dulu ini. Do’ain selamat pulang pergi guys...] tulisnya, lengtkap dengan menambahkan emoji bergambar pesawat kecil di akhir. Banyak komentar yang masuk, rata-rata mengucapkan hati-hati di jalan, dan mendo’akan keselamatan untuknya. Tapi satu chat di paling atas mendadak menghentikan sementara jantung Riana. Dia hafal banget, itu chat dari siapa. Mana notifnya belom dibalikin ke default lagi, jadi aja deh dia keteteran sendiri menghadapi rasa galau yang menyelusup secara kurang ajar ke dalam hatinya.


[Have a nice trip, Riri. Hati-hati di jalan ya, pastikan kamu kembali kesini sudah dalam keadaan yang lebih baik, dan lebih bahagia pastinya...] Riana hanya membalas dengan kata-kata tersingkat versinya (ok, makasih), lalu buru-buru mematikan ponsel, sebelum perkara bertambah panjang. Lagian kan bentar lagi dia terbang juga, dan aturan di dalam pesawat mengharuskan para penumpang untuk mematikan gadget mereka selama penerbangan.


“Permisi, mbak...” suara seorang pria menggugah Riana dari lamunan. Dan begitu ia menoleh, jantungnya terhenti lagi. Alamaaaakkk! Ganteng sekali ini orang? Apa ini gantinya Rey yang dikasih Tuhan buat dia? Eh, hus. Pamali ah, belum ada seminggu putus masak udah nyari lagi.


“Ya, mas? Ada apa ya?” tanya Riana sopan.


“Kayaknya nomor kursi kita ketuker deh mbak, ini saya baru naik, karena tadi telat,” ucapnya.


“Emang masnya nomor berapa?” tanya Riana. Dan ia baru sadar, kalau pria yang sedang diajaknya berbicara adalah seorang penyandang tunanetrra, terlihat dari tongkat putih yang dengan setia digenggamnya. Tapi terbersit sedikit rasa heran juga di benak Riana ; bagaimana pria tunanetra ini bisa sampai di hadapannya, padahal pesawat ini begitu luas, dan sit-nya begitu banyak?


“Tadi saya diantar pramugari mbak,” seolah mengetahui bahwa Riana heran, pria itu segera menjelaskan penyebab dia bisa ada di barisan sit yang salah satunya ditempati oleh Riana.


“Bisa lihat nomor kursinya, mas? Biar saya bantu?” tawar Riana.


“Ini mbak,” kata pria tersebut seraya menunjukkan nomor sit-nya. Riana melihat-lihat sebentar, dan ternyata sit-nya pria itu lumayan jauh darinya. Daripada nanti pria ini mengalami kesulitan selama perjalanan, lebih baik dia panggil salah satu pramugari untuk bernegosiasi dan berkoordinasi.

__ADS_1


“Bagaimana mbak, ada yang bisa saya bantu?”


“Iya mbak, jadi begini. Sit sebelah saya kan kosong, ini ada penyandang disabilitas tunanetra, saya merasa kasihan kalau dia duduk jauh sementara gak ada yang bantu. Bagaimana kalau dia dibiarkan duduk di sit yang ini saja?”


“Oh iya mmbak, nggak papa, saya tadi berpikir juga begitu, kebetulan untuk sit sebelah ini ada yang membatalkan keberangkatannya, sementara ada yang nggak kebagian tiket di jadwal ini juga ngincer kursi yang tadinya ditempatin sama masnya. Jadi memang sepertinya sudah rejeki dari masing-masing orang nih, masnya langsung duduk disini aja, dan bapak yang nggak kebagian sit tadi, duduk di sit masnya...” jelas mbak pramugari ramah.


“Oooh, alhamdulillah kalau begitu mbak, makasih ya. Sini, mas, duduk di sebelah saya...” kata riana ramah seraya menggandeng pria tunanetra itu, membawanya ke ttempat duduk yang berada persis di sebelahnya.


“Makasih, mbak,” ucapnya sopan.


“Iya sama-sama, mas,” jawab riana seraya tersenyum. Ia tau, ia paham betul bagaimana caranya berkomunikasi dengan seorang tunanetra, karena ia mempunyai seorang adik (sekarang ikut tantenya di Malang), yang juga merupakan seorang penyandang tunanetra, Ganesh namanya. Adik laki-lakinya yang tampan.


***


Pesawat sudah take off, sudah mengudara pada ketinggian sekian-sekian di atas permukaan laut (maafkeun ya readers, dia lupa nyimak penjelasan pramugari tadi). Riana sibuk mengeksplorasi sekeliling dengan matanya, melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tidak ada percakapan sama sekali di antara dirinya dan pria tampan (tapi tunanetra), yang duduk di sebelahnya itu. Paling tadi Cuma sempat basa-basi perkenalan diri bentar, dan dia tau, nama pria itu Abhimanyu, sementara pria itu juga tau namanya, Riana. Riana juga tidak tgerlalu ambil pusing sih sama rekan se-perjalanannya. Yang penting dia udah bantu memudahkan akses pria itu tadi, menghargai hak-haknya sebagai penyandang disabilitas. Setelah itu, ia merasa selesai sudah tugasnya, mau selanjutnya ada interaksi berkelanjutan atau tidak, ya itu urusan nanti. Lagian, Riana juga masih mau menggalau karena insiden yang terjadi tadi, sepersekian detik sebelum Abhi datang dan mengalihkan sejenak pikirannya. Ternyata, Rey masih menyimpan kontaknya, dan ternyata, Rey juga masih sering diam-diam melihat story WA-nya. Apa-apaan sih ini?



“Engkau meminta padaku


Untuk mengatakan bila 'ku berubah


Jangan pernah kau ragukan


Engkau 'kan selalu di langkahku, oh


Mau dikatakan apa lagi?


Kita tak akan pernah satu


Engkau di sana, aku di sini


Meski hatiku memilihmu


Engkau di sana, aku di sini


Meski hatiku memilihmu


Yang telah kau buat sungguhlah indah


Buat diriku susah lupa” (Kahitna, Mantan Terindah).


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2