MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 6, JANGAN SINGGAH JIKA TAK BISA SUNGGUH


__ADS_3

Kembali ke masa kini, kembali kepada apa yang sebenarnya terjadi sebelum Riana jatuh dan tidak sadarkan diri.


***


Riana dan Nico menaiki lift menuju area lantai 2 di cafe. Nico berada dalam kebimbangan. Haruskah ia memberitahukan semuanya, atau, mungkin lebih baik jika ia menyimpan semuanya sendiri. Semua keputusan ada di tangannya, dan ia harus segera memilih hendak melakukan apa, karena waktunya sudah tidak banyak lagi.


    “Kenapa tangan lo dingin banget sih? Lo sakit?” tanya Riana yang tampak khawatir. Omong-omong, setelah kejadian pertemuan tidak sengaja mereka di supermarket waktu itu, akhirnya mereka memutuskan untuk tetap berteman, dan melupakan perasaan. Artinya, tetap ada rasa sayang di antara mereka, hanya saja bentuknya telah jauh berbeda dari yang sebelumnya. Lagi pula, ada satu peristiwa besar lagi yang pada akhirnya menyadarkan mereka ; yang juga memperjelas tentang perbedaan yang membentang di antara mereka itu, kapan-kapan akan aku ceritakan.


“Nggak kok, gue sehat-sehat aja. Yuk, masuk.” Jawab Nico. Ia semakin erat menggenggam tangan Riana, dan mereka berada semakin dekat dengan ruangan tempat pesta.


***


Riana menghentikan langkahnya, persis di tengah-tengah ruangan, bersama Nico yang sudah pasrah, bersiap dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Di depan mereka, terlihatlah sosok pemuda – itu Rey – yang sedang mengandeng mesra tangan seorang perempuan (yang bukan pacarnya, tentu saja, karena kalian ingat, Riana baru datang tadi kan). Sesekali, pemuda itu juga memeluk bahu perempuan muda yang memakai dress bertali satu itu, jadi bahunya ter-ekspos semua. Riana yang tidak sanggup melihat  itu segera jatuh dan luruh di lantai di bawah kakinya, dia shock berat. Tapi sebelumnya, ia sempat meletakkan kotak kue tersebut di atas meja, dan meminta agar kue itu disampaikan kepada yang berhak menerimanya.


***


“Maafin aku, Ri,” ucap Rey, sesaat setelah ia berhasil menemui Riana, melewati sejuta halang-rintang yang diberikan oleh Nico, sahabat Riana.


“Sudah berapa lama kamu jalan sama dia?” tanya Riana pelan. Tapi semesta tau, suara gemuruh di hatinya itu lebih dari sekadar memekakkan telinga, itu adalah gemuruh paling dahsyat yang berpotensi meluluh-lantakkan.


“Hampir sebulan ini, Ri. Ta-Tapi...”


“You’ve doing great,” puji Riana sarkastik. Jangan tanya bagaimana perasaan gadis berrambut panjang itu saat ini, luruh, runtuh, hancur dan tak berbentuk.


“A-Aku tau aku salah...” Rey mengacak rambutnya, mengusap kasar wajahnya. Ia benar-benar tidak mengerti harus berbuat apa. Dan memang kau pikir, apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah ketahuan berselingkuh seperti itu?

__ADS_1


“Ma-Af, Ri, maafkan aku...” Bugh! Seseorang mendorong Rey hingga ia terjungkal ke belakang. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya usai pukulan tak terduga itu.


“Maaf doang? Cuma maaf doang?” tanya seseorang seraya berdiri berkacak pinggang, persis di hadapan Rey yang sudah terlentang karena tak siap tadi. Karyawan Rose Cafe yang lain segera minggat dari aktifitasnya masing-masing dan berlari berjamaah ke lantai 3, berniat melerai boss mereka yang hilang kendali dan malah mukulin anaknya orang. Nico melanggar janjinya pada Riana. Dia bilang, dia akan membiarkan Riana berbicara empat mata dengan Rey. Tapi belum ada lima menit, dia udah balik, dan pake nyerang segala.


“Mas Nico, yang sabar mas!” seru Alit seraya menahan Nico dari belakang.


“Mas, aku tau masnya udah lama nggak latihan bela diri, tapi ya nggak anak orang dijadiin samsak hidup talah!” seru Ica sang waitres. Carissa berdiri diam di anak tangga terakhir, menyaksikan semuanya tanpa suara. Firasatnya tak salah, Carissa tahu – sangat tahu bahwasannya Nico masih menyimpan perasaan kepada Riana. Dan iapun memilih untuk pergi, dari pada harus tersakiti lagi.


***


“Elsa itu temen kampus aku,” ucap Rey. Kini ia benar-benar berbicara berdua dengan Riana, di private room lantai 3. Nico sudah diamankan, dibawa ke ruangan lain oleh anak-anak. Tapi Carissa tidak ikut serta. Dengan dalih ada urusan mendadak, ia izin untuk pulang cepat dari cafe.


“Murni teman?” tanya Riana datar. Ia menatap lurus-lurus tepat ke mata Rey, sementara yang ditatap memilih membuang pandangannya jauh ke depan.


“A-Awalnya Cuma teman. Tapi, maaf, aku nyaman sama dia, karena dia ngasih semua yang aku mau. Termasuk, yang itu...” Rey membentuk tanda kutip dengan jari-jarinya. Setelah sekuat tenaga Riana menahan, tapi akhirnya pertahanannya jebol juga. Riana menangis. Ia kecewa, bukan pada berakhirnya hubungan mereka dengan cara begini, tapi tentang apa yang dicari Rey darinya selama ini.


“Maafin aku, Ri. Kamu emang nggak pantes bersanding sama aku. Kamu perempuan baik-baik, dan aku bukan lelaki yang seperti itu. Mungkin jodoh kita hanya sampai disini. Tapi yang harus kamu tau Ri, aku nggak pernnah nyesel kenal dan jatuh cinta sama kamu. Tapi kayaknya, kamu ya yang nyesel bisa sampai sejauh ini sama aku,” Rey tersenyum getir. Entah kenapa, dengan dia menyakiti perempuan ini, dia serasa menyakiti dirinya sendiri, atau ibunya, atau adiknya yang perempuan. Astaga!


“Aku masih punya kesan yang sama dengan kamu, dan aku tidak pernah menyesal atas apa yang pernah terjadi sama kita, dari dua tahun lalu hingga detik ini. Tapi, aku nggak nyangka aja kalau cara kita berakhir harus seperti ini...”


“Maafin aku, Ri. Sungguh, kamu bisa melakukan apapun kepada diriku yang sangat jahat ini. Dan setelah itu, berbahagialah, masih ada takdir indah yang menantimu di depan sana, dan yang jelas, kamu akan melangkah ke sana bukan denganku...” Rey memeluk Riana. Ia membiarkan gadis itu menangis – untuk terakhir kalinya – di pelukannya. Dan jika Rey boleh egois meminta, ia tidak ingin hari ini berakhir. Atau bila perlu, ia ingin terjun bebas ke dua tahun lalu, untuk memperbaiki segalanya yang terasa salah ini.


“Maafin aku Riana... Aku bakalan susah lupa sama kamu.” Kata Rey seraya tetap memeluk mantan terindahnya itu.


“Sepertinya aku pun begitu, Rey, karena, dua tahun itu bukan waktu yang sebentar.” Kata Riana.

__ADS_1


“Makasih ya untuk semuanya, selama dua tahun ini, kamu terbaik, Ri. Entah apakah aku akan dapat kesempatan lagi untuk menjaga cewek baik seperti kamu atau nggak setelah ini, aku nggak tau...”


“Insya ALLAH yang lebih baik tengah menantimu...” kata Riana membesarkan hati Rey.


“Aku nggak yakin, Ri, apa lagi setelah apa yang aku lakukan sama kamu...”


“Jadikan ini sebagai pelajaran, dan juga perbaikan untuk kamu ke depannya. Karena aku rasa nggak mungkin kamu mengulangi kesalahan yang sama, sepahit-pahitnya sebuah peristiwa atau pengalaman dalam hidup, itu adalah pelajaran yang paling jelas maknanya bagi kita.” Nasihat Riana bijak. Rey tertunduk semakin dalam. Pupus ssudah harapannya untuk tetap bersama gadis baik ini, hanya karena kenyamanan sesaatnya saat ia bersama Elsa selama berada di kampus. Berawal dari satu tim saat tugas kelompok, akhirnya malah jadi cinlok ; cinta lokasi yang justru menghancurkan hati wanita yang seharusnya ia jaga.


“Hey, jangan sedih gitu. Lagi pula, ini kan hari spesial kamu...” kata Riana seraya tersenyum dan menatap Rey, seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Rey terpana. Ternyata, Riana masih ingat hari ulang tahunnya.


“Happy Birthday, Rey Faris Saputra. Happy 21 years old.” Ucap Riana lagi, seraya memberikan kotak kue yang tadi dibawanya kesini sepulang bekerja. Dan entah siapa yang menyelamatkan kue ini sehingga bentuknya masih utuh, Riana harus berterima kasih untuk itu. Rey menerima kotak kue itu dengan tangan bergetar. Sisi rapuhnya sebagai seorang laki-laki tidak bisa dibohongi, ia benar-benar merasa malu atas kelakuannya terhadap kekasihnya (yang sudah jadi mantan) ini.


“Make a wish dulu dong, tak nyalain lilinnya ya,” kata Riana riang seraya menghidupkan lilin yang tertancap manis di atas kue tersebut. Rey mengangguk. Ia memejamkan matanya dan berdo’a. Ada banyak hal yang telah terjadi dalam hidupnya, dan yang terburuk adalah hari ini ; hari dimana ia telah kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupnya, justru karena kesalahannya sendiri. Ironis.


Selesai meniup lilin, mereka bertepuk tangan, tertawa, dan berfoto bersama. Dan oh ya, masih ada momen suap-suapan juga lho. Tidak apa lah, ini yang terakhir. Setelah ini, mereka akan berjalan masing-masing, menjemput takdirnya masing-masing, dengan seseorang yang lain yang memberi kesan berbeda.


“Sekali lagi, happy birthday ya, Rey,” ucap Riana seraya membereskan kotak kue tart yang sudah kosong itu.


“Thanks, Ri. Kamu memang terbaik...” ucap Rey tulus.


“Tapi aku punya satu permintaan, boleh gak?” tanya Riana.


“Boleh kok Ri, apa itu?” Rey penasaran.


“Jangan pernah singgah jika kamu tidak bisa sungguh...”

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2