MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 28, LAGI-LAGI BERTEMU (MENGAPA CINTA PERTEMUKAN)


__ADS_3

“Yok, kita segera check in di counter sebelah sana, ya,” ucap Pak Catur, yang ternyata hari ini menjadi official sekaligus ketua kontingen DKI Jakarta untuk Festival Pekan Budaya Pelajar tahun ini. Riana ada di barisan paling belakang, bersama Saras, Rachel, Riza dan Andre. Iya, mereka nge-band tapi berempat aja anggota intinya. Sisanya additional player. Hihihi, sebenernya bukan karena ada apa-apa sih mereka terpaksa Cuma berempat plus anggota additional player tadi, masalahnya Saras itu cemburu, karena Andre mau merekrut anak cewek dari kelasnya yang suaranya bagus sebagai vocalist. Gitu juga Andre, dia cemburu karena Saras mau merekrut satu orang yang jago gitar dari kelasnya untuk jadi gitaris tambahan (BTW, emang mereka semua beda kelas ya, tapi temenan aja gitu). Jadi ya udah, daripada berantem terus nggak ketemu titik tengahnya, jadi aja itu si dua orang yang niatnya direkrut buat jadi anggota tetap, tetep dibawa, tapi hanya sebagai additional player aja.


“Bu Riri, kok tegang sih?” tanya Saras seraya menatap heran Riana yang Cuma diam saja sejak tadi.


“Nggak papa kok Ras, ini, ibu nunggu temennya ibu dari SMA Harapan, takutnya dia nggak tau harus pergi kemana, kalau gak ada yang bantu kasian juga...”


“Oh, maksud ibu Pak Narendra ya? Itu dia di sebelah sana, sama muridnya, namanya Rara... Rara itu temenku bu, satu gank...” jelas Rachel yang juga ada bersama Riana dan Saras.


“Oh, gitu ya...” Riana menanggapi seadanya.


“Tapi chel, lo tau gak kalau Rara itu suka sama Pak Narendra?” tanya Saras – setengah berbisik.


“Eh hus, ngawur lo. Masak iya?” Rachel tak percaya. Sekarang iya mendekatkan kepala kepada Saras, ikut merendahkan suara.


“Dia ngaku kok ke gue pas kita lagi dateng ke pesta ultah sepupunya dia, gue diundang kan, karena emang gue sama Rara lumayan akrab lah, sering lomba bareng dari kecil...” kataSaras.


“Bentar, lo dateng ke ultahnya siapa itu sebenernya gak penting. Tapi gue penasaran, dia ngaku gimana? Dan kenapa bisa dia suka sama sosok yang nggak sempurna kayak Pak Narendra itu?” tanya Rachel penasaran.


“Hus Saras, Rachel, kalian ini ya...” potong Riana.


“Kenapa bu? Kami ada salah bicara kah?” tanya Saras hati-hati.


“Nggak sih, tapi nggak baik ngegibah begitu. Lagian kan kalian udah pernah tanya ibu soal definisi pasangan sempurna. Kok pandangannya masih begitu?” tanya Riana.


“Iya juga ya bu... Aduh ampun, maafkan otak remaja kami, yang cara pandang dan pola pikirnya masih sangat terbatas ini. Hadeeeh...” kata Saras seraya menepuk keningnya sendiri.


“Nggak papa Ras, yang kayak gitu tuh gak bisa dipaksa, nanti semua akan berubah dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu...” Riana tersenyum, menepuk pundak Saras.


“Bu Riri, anak-anak, ayo segera ke ruang tunggu ya, pesawat kita akan segera berangkat ini...” instruksi Pak Catur itu segera membubarkan kelompok-kelompok kecil yang berdiskusi sendiri-sendiri di sekitar tempat check in.


“Adaw!” seruan seseorang membuat Riana menghentikan langkahnya. Itu Abhi yang sedang mengusap-usap jidatnya, karena kepentok tiang.


“Abhi, mana rombonganmu?” tanya Riana.

__ADS_1


“Di depan, mereka buru-buru, lupa kalau bawa aku kayaknya...” Abhi meringis.


“Ya udah, bareng aku aja yuk, sini,” kata Riana seraya segera menggandeng tangan Abhi. Abhi mengangguk.


“Makasih yaa...” katanya.


“Sama-sama, Bhi, kita kan teman. Ayuk, sudah ditunggu sama yang lain...” ajak Riana seraya setengah menarik tangan Abhi. Abhi lagi-lagi Cuma bisa mengangguk, terus mikir. Kenapa mereka harus dipertemukan lagi ya?


***


“Lho, Pak Narendra, maaf ya, Rara lupa... Eh, udah sama Ibu Riri ya?” sapa seorang gadis remaja – itu dia yang namanya Rara, sesampainya Abhi dan riana di ruang tunggu.


“Nggak papa kok, Ra, santai aja...” kata Abhi seraya memancarkan senyum khas-nya. Rara tidak mengatakan apa-apa, tapi Riana menangkap gestur gadis itu yang membuang muka, seolah enggan melihat Abhi yang berdekatan dengan dirinya. Riana jadi mikir ; jangan-jangan, apa yang dikatakan sama Saras dan Rachel tadi bener, kalau Rara menyukai gurunya itu?


“Aku tau kamu mikir apa...” Abhi memecah kesunyian.


“Apa?” tanya Riana.


“Soal Rara yang suka sama aku, kan?” bisiknya.


“Itu bukan rahasia lagi sih, semua orang pada ngomongin itu. Dan aku nggak nanggepin itu secara serius...” kata Abhi.


“Kenapa?” Riana heran.


“Karena aku tau, rasanya dia tuh nggak serius juga...” jawab Abhi.


“Kamu tau dari mana?” tanya Riana.


“Dia punya kakak, namanya Nayra Berliana, panggilannya Lilly, dia temen aku, tunanetra juga. Dan Rara, nggak sesayang itu sama kakaknya, cenderung benci dan malu malahan. Jadi kupikir, kenapa tiba-tiba dia bisa suka sama aku, orang yang jelas-jelas punya kondisi yang sama dengan kakaknya? Aneh gak sih menurutmu?” kata Abhi panjang-lebar. Dan demi apapun, Riana melihat ekspresi terluka sekaligus rasa bersalah itu di wajah gadis bernama Rara itu, yang duduk tak jauh dari tempat mereka. Mungkin merasa kepergok, gadis itu memilih menggabungkan diri bersama teman-teman sekolahnya, tanpa melihat ke arah mereka lagi.


“Kalau begitu, kenapa kamu gak jadian sama kakaknya dia aja sekalian, Bhi?” tanya Riana lagi. Ia bersiap menanti jawaban mengejutkan yang mungkin saja datang dari Abhi nantinya. Sebenernya dari tadi dia udah terkejut mendengar semua cerita-cerita ini.


“Kakaknya dulu calon tunanganku, Ri, tapi seminggu sebelum acara tukar cincin itu, Lilly ditemukan meninggal di kamarnya, selesai shalat subuh. Padahal nggak ada sakit, nggak ada apa-apa, posisinya sujud gitu juga...”

__ADS_1


“Innalillahi...” Riana berucap lirih. Belum pernah ia merasa begitu merinding karena mendengar cerita tentang seseorang ketika menjemput kematiannya seperti ini. Tapi setidaknya, dia mendapat pelajaran hidup tambahan lagi ; kemarin dari Elsa, sekarang dari Lilly, orang yang sama sekali tidak ia kenal.


“Ini, fotonya. Aku pengen tau pendapat kamu, apa dia cantik atau tidak...” ucap Abhi pelan, seraya menyerahkan ponselnya kepada Riana. Riana meraih ponsel itu, dan melihat potret seorang gadis muda berhijab yang sedang duduk di sebuah ayunan. Latar fotonya adalah bunga-bunga yang tumbuh dan ikut menyemarakkan suasana di sana. Keindahan dan kesederhanaan yang ditawarkan alam itu selaras dengan sesosok manusia cantik yang duduk dengan tenang dan ekspresi senang di atas ayunan itu, keindahan alam dan potret sang dara sangat serasi, cantik sekali. Tanpa sadar, Riana mengusap matanya. Ia begitu terharu.


“Abhi... Dia cantik banget, aku nggak bohong...” ucapnya seraya mengembalikan ponsel milik Abhi itu dengan tangan bergetar.


“Cuma potret ini yang nggak pernah terhapus dari ponselku. Setiap aku punya rencana mau bersih-bersih sampah disana, itu foto mesti tak backup dulu ke laptop, baru nanti kalau HP udah bersih, tak taro sana lagi. Tapi setahun lalu aku telah mengkhianati janjiku sama Lilly, selepas kepergiannya, aku jatuh cinta lagi sama seorang perempuan, kami udah deket, udah saling sayang banget, dan dia perempuan awas sama kayak kamu, tapi orang tua dia nggak setuju. Aku terpaksa meninggalkan perempuan itu di pesta ulang tahunnya yang ke-22. Mungkin aku masih belum boleh melepaskan Lilly, apa lagi melupakannya, sehingga Tuhan tidak membiarkan aku berjodoh dengan perempuan itu...”


“Hus, nggak boleh suuzhon sama Tuhan, Abhi... Boleh jadi memang kamu belum berjodoh dengan perempuan awas itu, tapi bukan karena Lilly belum mengizinkan, Cuma takdirnya saja yang belum berpihak sama kamu. Aku yakin, Lilly di atas sana pasti tengah menanti kabar bahagia dari kamu, Bhi. Jangan kira dia nggak memantau kamu dari tempat yang sama sekali kamu nggak tau. Lilly masih ada, dia masih mengawasi kamu...” kata Riana.


“Entah ya Ri. Dan kembali di tahun ini, aku jatuh cinta lagi sama seorang perempuan. Tapi kayaknya sekali lagi takdir belum berpihak padaku. Cuma masalahnya... Kenapa aku harus selalu dipertemukan terus sama dia, ya?” ucap Abhi pelan. Dan wajahnya terkejut kemudian, karena ternyata dia hampir keceplosan. Bukan hampir itu sebenernya, tapi udah setengah.


“Hah? Maksud kamu?” Riana kaget.


“Apaan?” Abhi balik bertanya. Ekspresinya jadi canggung luar biasa.


“Aku ngerti cerita kamu di paragraf awal, tentang kamu yang tahun ini jatuh cinta lagi. Tapi, di akhir-akhirnya lho aku nggak ngerti, emang siapa perempuan yang selalu dipertemukan sama kamu itu?” tanya Riana lagi. Duh elah ini orang, pengen digetok pake keprukan es batu apa ya? Kok bisa sikapnya ikut-ikutan author gini *eh. Nggak, salah. Maksudnya, kenapa bisa dia nggak peka begitu?


“O-Oh, itu. Nggak kok, bukan apa-apa, lupakan aja Ri...” kata Abhi seraya buru-buru mengotak-atik ponselnya, skrol-skrol nggak jelas, demi menutupi kecanggungannya.


“Diberitahukan kepada seluruh penumpang pesawat tujuan Kota Malang, harap segera naik ke atas pesawat.” (yaiyalah, emang mau naik kemana lagi? Mereka semua ini ada di bandara, malih! Tapi biarin deh ya, aku agak bingung, gimana ini nulisin suara pengumuman di bandara itu, enggak hafal isinya soalnya). Suara pengumuman bandara itu kembali membuyarkan kelompok-kelompok kecil yang berbicara di ruang tunggu, sekaligus mencairkan sedikit moment awkward antara Riana dan Abhi tadi.


“Yuk, kita naik sekarang, Bhi...” ajak Riana.


“Ayo, Ri...” jawab Abhi pelan. Riana menggandeng tangan Abhi, dan Abhi menyambutnya. Dan sekali lagi, hati anak itu dibawa melambung setinggi-tingginya, dengan pikiran, ini akan berlangsung abadi dan selamanya, sebelum akhirnya dijatuhkan kembali sejatuh-jatuhnya ; dijatuhkan begitu keras oleh realita dan fakta yang ada.


“Mengapa cinta pertemukan


Bila akhirnya dipisahkan?


Dan mengapa ku jatuh cinta


Pada cinta yang tak jatuh padaku?” (Arsy Widianto, Tiara Andini-Bahaya).

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2