MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 24, TENTANG CARA MENGHARGAI HIDUP


__ADS_3

“Seorang model cantik berusia 20 tahun bernama Elsa Pramudita, tewas dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan tol...” Riana hampir saja melempar cangkir tehnya ke lantai, begitu berita infotaindmen di televisi memberikan kabar yang sama sekali tidak diduganya. Kakinya lemas, seolah-olah tulangnya luruh satu-persatu, sehingga tak kuat menyangga tubuhnya.


“Ri... Lo kenapa?” tanya Milia panik seraya meninggalkan cuciannya, buru-buru menghampiri Riana yang sedang jongkok dengan ekspresi shock, seraya memegang erat-erat cangkir teh di tangan, dan menatap hampa ke arah layar TV.


“Ri... Lo kenapa? Lo baik-baik aja, kan?” tanya Milia khawatir.


“Gu-Gue nggak salah denger kan?” tanyanya pelan.


“Ada apa sih?” tapi tanpa perlu Milia bertanya lagi, jawaban itu telah datang sendiri, dari Maura yang berlari-lari menuruni tangga seraya menangis histeris.


“Ya ampuuuun... Lo gak becanda kan, bang? Serius Elsa udah nggak adaaa?”


“Eh, innalillahi... Itu Elsa yang diceritain Riana kemarin kan?” tanya Milia. Tapi tidak ada yang menggubris, semua merasa shock atas kabar duka yang begitu tiba-tiba datangnya.


*** Riana menatap lurus-lurus lelaki yang berpenampilan kacau di depannya. Sambil berlinangan air mata\, ia duduk bersimpuh di dekat makam yang tanahnya masih basah itu. Ia memukuli dirinya sendiri\, merasa sangat bersalah.


“Aku jahat... Aku pembunuh... Aku bejat, aku brengsek, harusnya aku yang mati...”


“Rey-Rey...” panggil Riana.


“Aku jahat... Aku pembunuh... Aku pembunuh... Aku...”


“REY FARIS SAPUTRA!” Riana terpaksa meneriaki lelaki itu, agar ia berhenti dari racauannya. Rey menoleh, dan penyesalannya semakin bertambah, begitu melihat mantan kekasihnya berdiri disana, bahkan seperti berusaha menghibur dan menguatkannya.


“R-Ri...” untuk kedua kali dirinya kelu di hadapan gadis ini, untuk kedua kali ia merasa tak mampu berbuat apa-apa, bahkan setelah perlakuan kasarnya di Bali tempo hari, kini Riana datang lagi, dan tetap baik padanya.


“Ayo pulang, udah sore ini...” ajak Riana.

__ADS_1


“Aku masih mau disini, Ri... Aku merasa bersalah...”


“Jangan terus meratap begitu, kasihan Elsa, biarkan dia tenang ya. Kalau kamu nggak bisa bahagiain dia di dunia, tolong, bahagiain dia di akhirat dengan cara mempermudah jalannya,” ucap Riana lembut. Rey tertunduk. Ia benar-benar bingung setengah mati, sebenarnya, terbuat dari apa hati gadis ini? Mengapa ia tetap begini baik padanya, sekalipun ia telah menorehkan pahatan luka yang begitu dalam di hatinya?


“Sebaiknya kamu aja Ri yang pulang, ini sudah mau hujan, aku laki-laki, bisa jaga diri. Kamu kan cewek, nggak baik magrib-magrib masih di luaran, di makam pula...” kata Rey.


“Kamu beneran nggak papa kalau aku tinggal?” tanya Riana tak yakin.


“Trust me, I will fine...” ucap Rey pelan. Riana mengangguk, tidak bisa memaksa Rey untuk pulang bersamanya. Mungkin kondisi Rey juga begitu terpukul, dan ia butuh waktu lebih untuk menenangkan dirinya. Lebih baik, sekarang Riana pulang, demi menenangkan hati sahabat-sahabatnya yang mungkin juga sedang mencemaskan dirinya sekarang.


***


“Terima kasih ya, mbak, gue pamit...” suara seorang perempuan terdengar secara tiba-tiba di belakangnya,, membuat Riana mendadak menghentikan motornya. Dari kaca spion, ia melihat bayangan perempuan yang begitu jelas, dan bayangan itu – demi apapun, bayangan itu membentuk wujud serupa Elsa.


“Tenang, Insya ALLAH gue pergi dengan cara yang benar, kok, lo kan tau, rencana gue yang mau pergi ke Bandung ketemu papa? Jadi, tolong do’ain gue ya...” kata Elsa lagi, seolah mengerti isi kepala Riana yang tengah menerka-nerka penyebab kematiannya. Sekali ini, Riana yang kelu, ia tak sanggup berkata apa-apa. Tapi kepalanya mengangguk, mengiyakan permintaan Elsa.


***


“Ri, aku turut berduka cita ya...” ucap Abhi, sesaat setelah Riana menemuinya di ruang tamu kost. Ada Dyo and the gank juga disitu.


“Makasih, Bhi. BTW datang dari jam berapa kamu?” tanya Riana seraya menyandarkan tubuh lelahnya di sofa.


“Jam lima, ini ternyata juga barengan sama temen-temen band kamu, tadinya mereka mau ngajakin jamming, katanya, tapi kata mbak siapa tadi ya? Kamu nggak ada, lagi takziah sekaligus ikut makamin siapa gitu...” jelas Abhi.


“Iya bener, temenku kecelakaan tunggal di jalan tol, meninggal di tempat. Mana lagi hamil...”


“Hah? Innalillahi!” seru Abhi terkejut.

__ADS_1


“Iya, kasihan ya...” timpal Dyo.


“Makanya, sorry banget ya guys, kayaknya malam ini kita nggak bisa jamming deh,” ucap Riana.


“Iya, nggak papa kok, Ri. Kami juga mau pulang ini, udah malam,” kata Satria seraya bangkit dari duduknya.


“Iya deh, Sat, nanti kita atur jadwal lagi ya. BTW, boleh nggak salah satu dari kalian barengin Abhi buat pulang? Kasian kalau dia harus ngojol malam-malam begini...” kata Riana.


“Lho nggak usah Ri, nggak papa, aku juga ada janji mau ketemu teman, nanti paling minta tolong Dyo sebrangin sampai depan...” kata Abhi.


“Lho, udah pada kenalan tho kalian?” tanya Riana.


“Abhi dulu additional player gue pas masih sering nge-jamm di Rainbow Lounge And Resto, Ri...” kata Rasya.


“Oh, ya bagus deh kalau gitu, jadi selama nunggu gue tadi nggak ada canggung-canggungan kan ya?”


“Nggak Mbak Ri, kita ngobrol akrab banget malahan... Ya udah, kita semua pamit ya, mbak istirahat, jangan lupa...” kata Dyo seraya mencium takzim tangan Riana.


“Iya Dyo, iya. Ya udah, selak bengi iki ngko...” kata Riana. Semuanya mengangguk. Akhirnya satu-persatu mereka mohon diri, pamit pulang.


***


Kamar kost, lagi. Riana menatap nyalang langit-langit kamarnya. Tiga hari ini, harinya sempurna berubah. Banyak orang yang datang dan pergi sesuai waktu dan ketentuannya, membawa berbagai macam pelajaran, agar ia semakin memiliki pemahaman akan makna hidup, serta alasan mengapa ia hadir di dunia ini.


Dan omong-omong soal makna hidup... Riana bangkit dari posisi tidurannya, mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Iseng, ia mmenyalakan senter pada ponselnya tersebut, lalu ia mengangkat baju lengan sebelah kirinya. Dan terlihatlah guratan-guratan mengerikan itu ; yang merupakan salah satu bukti ke-dzalimannya kepada dirinya sendiri, salah satu bukti paling nyata bahwa selama ini, ia kurang menghargai hidupnya.


“Astaghfirullah!” sekali lagi, dalam kesempatan dan waktu yang berbeda, gadis itu melafazkan istighfar yang sungguh-sungguh lahir dari hatinya. Sungguh beruntung dan lega rasanya, ketika ia berhasil menghindarkan Elsa dari seburuk-buruknya cara kematian umat manusia ; cara yang dibenci semesta sekaligus penciptanya ; bunuh diri. Ya ALLAH! Bagaimana kalau (amit-amit), ALLAH mencabut nyawanya disaat ia sedang men-dzalimi diri sendiri? Astaghfirullah! Lafaz istighfar itu mengalun berulang-ulang, seiring dengan tubuh Riana yang berguncang hebat karenanya. Sejatinya, seluruh rangkaian peristiwa hari ini adalah pelajaran paling baik bagi dirinya; pelajaran tentang bagaimana cara memaknai hidup.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2