MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 22, NEW YEAR, NEW HOPE


__ADS_3

                Masih di Jogjakarta. Ini hari


terakhir Riana CS menghibur di Sakura hotel. Pengunjung jauh lebih padat dari


biasanya. Mereka sudah standby dan start menghibur dari pukul tujuh malam tadi,


dan sekarang, mereka diberi jeda waktu sekitar 20 menit untuk makan dan minum


sedikit.


                “Aaaaa, fix tepar gue habis


ini!” keluh Riana seraya menghempaskan pantatnya di sofa empuk, persis di


sebelah Muara.


                “Hahahaha baru pertama kali


nge-job langsung jebret begini ya? Tenang aja, coba aja dibiasain sebulan tiga


kali nge-job dengan alur yang kayak gini, dijamin sering masuk rumah sakit


kamu...” ledek Muara seraya membuka kaleng soft drink yang tersedia di atas


meja.


                “Ish, malah ngeledek!” sungut


Riana.


                “Hahahaha, gitu aja ngambek kamu


tuh...” Muara yang gemas mencolek hidung mancung Riana, membuat si empunya hidung


memerah wajahnya.


                “Eh, ini berarti kita terakhir


ngisi sampai pas moment pergantian tahun ya, Ra?” tanya Abhi.


                “Iya, Bhi. Bentar lagi juga kita


naik panggung ini. Tiap tahun, yang aku tau dan aku pahami alurnya ya kayak


gini. Ya udah yuk, siap-siap...” ajak Muara. Semuanya mengangguk.


***


                “In five, four, three,


two, one! Happy new year 2022!” Suara MC dan letupan kembang api saling


bersahutan, belum lagi tepuk tangan pengunjung yang memadati lounge.


Alhamdulillah, mereka sudah selesai menghibur. Rangkaian acara yang berjalan


itu ternyata sukses besar. Dan setelah mereka membawakan lagu Indo dan Manca,


untuk closing-nya mereka benar-benar melakukan yang “antiklimax” abis, dengan


membawakan lagu “Mendung Tanpo Udan”, milik Ndar Boy Genk. Pake acara ada flash


mop joget bareng segala, lagi. Dan kalau udah melihat antusiasme pengunjung


yang sebesar itu, lelah yang mendera mereka serasa hilang sudah. Tapi memang


sejak hari pertama mereka menghibur disini, antusiasme dari para audiens tidak


pernah berkurang sedikitpun. Hal itu kiranya sudah cukup membuktikan bahwa


mereka semua adalah para musisi muda yang berbakat.


***


                “Great Job, Muara.


Seumur-umur gue ngelola lounge di hotel, belom pernah ada team penghibur yang


mengisi dengan sebaik ini. Pengunjung juga kelihatannya puas banget sama


performance kalian...” kata Jeremy – sang manager hotel yang meminta Muara


untuk menghibur di tempatnya.


                “Makasih, bang. Tapi maaf ya,


karena agak lama memberikan jawaban, habis, gue bingung banget, tetiba disuruh


bawa band sendiri, biasa juga cabutan kan...” kata Muara.

__ADS_1


                “Oh santai, Ra, justru kudunya


gue yang minta maaf nih karena dadakan gini. Gue Cuma dapet rekomendasi dari


Mario sih, makanya ngebawa lo ke Jogja. Tapi ya gue lupa survey juga, lo biasa


solo apa bawa pemain, eh untung aja temen-temen lo lagi pada liburan disini


semua. Dan, chemistry kalian di atas panggung tuh kayak udah nyatu banget


lho...” puji Jeremy.


                “Padahal kita tuh belum pernah


main bareng lho, bang...” kata Riana.


                “Justru itu, namanya jodoh


kadang kita nggak mesti pacaran dulu, biasanya nek kakean pacaran malah pedot


nang tengah, kan gak enak. Mending gini aja, namanya jodoh di tempat yang tak


terduga...” kelakar Jeremy.


                “Iki ngopo tho mase ki, ndadak


bahas jodoh barang...” Riana nyengir.


                “Hahaha sorry, kelamaan jomblo


gue, pikirannya ke jodoh mulu nih. Ya udah, ayok deh ke ruangan gue, kalian


perlu diapresiasi dengan sangat pantas, karena kalian udah ngelakuin yang


bener-bener terbaik...” kata Jeremy. Mereka berlima mengangguk, lalu segera


mengikuti langkah Jeremy menuju ruangannya.


***


                Riana menatap amplop di


tangannya dengan mata berbinar. Ia tidak pernah perform dan dibayar dengan


nominal sebesar itu ; lima juta untuk tiga kali perform. Wow! Serasa artist


papan atas! Tapi kalau dia ingat artist, pasti ingatannya auto melayang kepada


artist, menjadi seorang public figure. Atau lebih tepatnya ; menjadi bonekanya


orang-orang dalam bidang seni, karena sejatinya seorang artist tidak pernah


memiliki hidup mereka lagi, ketika berhadapan dengan orang banyak. Seorang artist,


biasanya akan dituntut untuk selalu harus jadi “sempurna”, sesuai keinginan


mereka, yang katanya memuja, nyatanya membuat sengsara. Mereka, yang katanya


mengagungkan, nyatanya, membunuh secara perlahan. Mereka itu yang disebut


sebagai para fans.


                “Kok bengong, Ri?”


                “Eh buntute sopo ucul...


Astagfirullah, Muara i mesti kok...” omel Riana seraya memegangi dadanya


kuat-kuat, khawatir jantungnya mencelat terus pindah tempat.


                “Ya kamu, serius banget


ngeliatin langitnya... Kepikiran sesuatu kah?” tanya Muara seraya berdiri tepat


di sebelah gadis itu. Rooftop hotel, malam hari, usai tahun baru. Kini tinggal


mereka berdua disana, sementara tiga anak tuyul (baca : Ganesh, Wisnu, dan


Abhi), ketiganya memutuskan untuk tidur duluan, capek, katanya.


                “Nggak kepikiran apa-apa kok,


Ra, Cuma ngerasa jadi kayak artist aja, manggung, dibayar segini gedenya. Lima


juta buat perorang itu kayak sesuatu yang amazing banget gak sih?”


                “Aku jan-jane yo mikir sih, ini


apresiasi paling gede lho yang aku terima selama manggung terus pindah-pindah

__ADS_1


tempat begini...” kata Muara.


                “Terus habis ini masih ada


agenda manggung tah?” tanya Riana.


                “Yo ora yo, mati muda aku ngko


nek kerja terus. Aku pulang ke Surabaya lah, sowan sama ibu, sama bapak dan


adik-adik...”


                “Lho, awakmu nduwe adik tha?”


tanya Riana.


                “Iya, namanya Binar sama Embun,


dua-duanya perempuan. Punya kakak satu namanya Samudra, tapi udah nikah,


tinggal di Makassar sama istrinya, dia juga mengabdi disana sebagai ASN...”


                “Lho, maaf ya, kalau kerjaan


kakakmu udah lumayan mapan begitu, mestinya kamu gak perlu kerja sekeras ini


dong untuk ngebiayain orang tua sama adik-adikmu? Emang abangmu nggak pernah


ngirim ta?” Riana heran.


                “Halah mana ada, dia tuh disetir


banget sama istrinya, entah kurasa dia menikahi perempuan ini juga bukan karena


kemauan dia, mungkin aja ada semacam ilmu pengasih...”


                “Maksudmu?” Riana gak ngerti.


                “Ya, pelet...” jawab Muara


santai.


                “Hus! Nggak boleh suuzhon gitu


ah sama sodara sendiri...” nasihat Riana. Muara Cuma mengangguk. Lalu sambil


melihat langit, ia melanjutkan perkataannya lagi.


                “Makanya, kalau aku punya istri


nanti, aku maunya perempuan yang nggak hanya sayang sama aku, tapi sama


keluargaku juga, dia bisa sayang sama ibu, bapak, adek-adekku...”


                “Aamiin paling serius, Muara...”


jawab Riana. New year, new hope. Tahun baru, harapan baru. Dan tentu saja,


setiap orang pasti menginginkan yang terbaik untuk diri mereka.


                “Selamat tahun baru...” ucap


Muara dan Riana kompak. Setelahnya, mereka saling tatap dan tertawa.


                “Tadi harusnya siapa yang


ngucapin buat siapa sih?” tanya Riana, usai tawa mereka mereda.


                “Harusnya aku ke kamu, terus


kamu ke aku... Kenapa jadi barengan?” Muara garuk-garuk kepala.


                “Mbuh wes, bingung aku... Ya


udah ke kamar yuk, besok sama lusa, puasin jalan-jalannya, kan tanggal 3 udah


mencar lagi kita...” kata Riana.


                “Okay tuan putri. Yuk, kuanter


ke kamar ya, kasian cewek cantik naik lift malem-malem gini. Kalau digodain


sama penunggu lift-nya gimana?


                “Heh tuyul, malah nakut-nakutin.


Suwek lu. Ya udah, ayok...” Riana cemberut. Muara Cuma tertawa. Duh, seandainya


aja ini legal ya, pasti habis tuh pipi sama bibirnya. Tapi yowes lah, berhubung

__ADS_1


        author-nya baik hati, gimana kalau kita do’ain mereka berjodoh aja?


(TBC).


__ADS_2