
Masih di Jogjakarta. Ini hari
terakhir Riana CS menghibur di Sakura hotel. Pengunjung jauh lebih padat dari
biasanya. Mereka sudah standby dan start menghibur dari pukul tujuh malam tadi,
dan sekarang, mereka diberi jeda waktu sekitar 20 menit untuk makan dan minum
sedikit.
“Aaaaa, fix tepar gue habis
ini!” keluh Riana seraya menghempaskan pantatnya di sofa empuk, persis di
sebelah Muara.
“Hahahaha baru pertama kali
nge-job langsung jebret begini ya? Tenang aja, coba aja dibiasain sebulan tiga
kali nge-job dengan alur yang kayak gini, dijamin sering masuk rumah sakit
kamu...” ledek Muara seraya membuka kaleng soft drink yang tersedia di atas
meja.
“Ish, malah ngeledek!” sungut
Riana.
“Hahahaha, gitu aja ngambek kamu
tuh...” Muara yang gemas mencolek hidung mancung Riana, membuat si empunya hidung
memerah wajahnya.
“Eh, ini berarti kita terakhir
ngisi sampai pas moment pergantian tahun ya, Ra?” tanya Abhi.
“Iya, Bhi. Bentar lagi juga kita
naik panggung ini. Tiap tahun, yang aku tau dan aku pahami alurnya ya kayak
gini. Ya udah yuk, siap-siap...” ajak Muara. Semuanya mengangguk.
***
“In five, four, three,
two, one! Happy new year 2022!” Suara MC dan letupan kembang api saling
bersahutan, belum lagi tepuk tangan pengunjung yang memadati lounge.
Alhamdulillah, mereka sudah selesai menghibur. Rangkaian acara yang berjalan
itu ternyata sukses besar. Dan setelah mereka membawakan lagu Indo dan Manca,
untuk closing-nya mereka benar-benar melakukan yang “antiklimax” abis, dengan
membawakan lagu “Mendung Tanpo Udan”, milik Ndar Boy Genk. Pake acara ada flash
mop joget bareng segala, lagi. Dan kalau udah melihat antusiasme pengunjung
yang sebesar itu, lelah yang mendera mereka serasa hilang sudah. Tapi memang
sejak hari pertama mereka menghibur disini, antusiasme dari para audiens tidak
pernah berkurang sedikitpun. Hal itu kiranya sudah cukup membuktikan bahwa
mereka semua adalah para musisi muda yang berbakat.
***
“Great Job, Muara.
Seumur-umur gue ngelola lounge di hotel, belom pernah ada team penghibur yang
mengisi dengan sebaik ini. Pengunjung juga kelihatannya puas banget sama
performance kalian...” kata Jeremy – sang manager hotel yang meminta Muara
untuk menghibur di tempatnya.
“Makasih, bang. Tapi maaf ya,
karena agak lama memberikan jawaban, habis, gue bingung banget, tetiba disuruh
bawa band sendiri, biasa juga cabutan kan...” kata Muara.
__ADS_1
“Oh santai, Ra, justru kudunya
gue yang minta maaf nih karena dadakan gini. Gue Cuma dapet rekomendasi dari
Mario sih, makanya ngebawa lo ke Jogja. Tapi ya gue lupa survey juga, lo biasa
solo apa bawa pemain, eh untung aja temen-temen lo lagi pada liburan disini
semua. Dan, chemistry kalian di atas panggung tuh kayak udah nyatu banget
lho...” puji Jeremy.
“Padahal kita tuh belum pernah
main bareng lho, bang...” kata Riana.
“Justru itu, namanya jodoh
kadang kita nggak mesti pacaran dulu, biasanya nek kakean pacaran malah pedot
nang tengah, kan gak enak. Mending gini aja, namanya jodoh di tempat yang tak
terduga...” kelakar Jeremy.
“Iki ngopo tho mase ki, ndadak
bahas jodoh barang...” Riana nyengir.
“Hahaha sorry, kelamaan jomblo
gue, pikirannya ke jodoh mulu nih. Ya udah, ayok deh ke ruangan gue, kalian
perlu diapresiasi dengan sangat pantas, karena kalian udah ngelakuin yang
bener-bener terbaik...” kata Jeremy. Mereka berlima mengangguk, lalu segera
mengikuti langkah Jeremy menuju ruangannya.
***
Riana menatap amplop di
tangannya dengan mata berbinar. Ia tidak pernah perform dan dibayar dengan
nominal sebesar itu ; lima juta untuk tiga kali perform. Wow! Serasa artist
papan atas! Tapi kalau dia ingat artist, pasti ingatannya auto melayang kepada
artist, menjadi seorang public figure. Atau lebih tepatnya ; menjadi bonekanya
orang-orang dalam bidang seni, karena sejatinya seorang artist tidak pernah
memiliki hidup mereka lagi, ketika berhadapan dengan orang banyak. Seorang artist,
biasanya akan dituntut untuk selalu harus jadi “sempurna”, sesuai keinginan
mereka, yang katanya memuja, nyatanya membuat sengsara. Mereka, yang katanya
mengagungkan, nyatanya, membunuh secara perlahan. Mereka itu yang disebut
sebagai para fans.
“Kok bengong, Ri?”
“Eh buntute sopo ucul...
Astagfirullah, Muara i mesti kok...” omel Riana seraya memegangi dadanya
kuat-kuat, khawatir jantungnya mencelat terus pindah tempat.
“Ya kamu, serius banget
ngeliatin langitnya... Kepikiran sesuatu kah?” tanya Muara seraya berdiri tepat
di sebelah gadis itu. Rooftop hotel, malam hari, usai tahun baru. Kini tinggal
mereka berdua disana, sementara tiga anak tuyul (baca : Ganesh, Wisnu, dan
Abhi), ketiganya memutuskan untuk tidur duluan, capek, katanya.
“Nggak kepikiran apa-apa kok,
Ra, Cuma ngerasa jadi kayak artist aja, manggung, dibayar segini gedenya. Lima
juta buat perorang itu kayak sesuatu yang amazing banget gak sih?”
“Aku jan-jane yo mikir sih, ini
apresiasi paling gede lho yang aku terima selama manggung terus pindah-pindah
__ADS_1
tempat begini...” kata Muara.
“Terus habis ini masih ada
agenda manggung tah?” tanya Riana.
“Yo ora yo, mati muda aku ngko
nek kerja terus. Aku pulang ke Surabaya lah, sowan sama ibu, sama bapak dan
adik-adik...”
“Lho, awakmu nduwe adik tha?”
tanya Riana.
“Iya, namanya Binar sama Embun,
dua-duanya perempuan. Punya kakak satu namanya Samudra, tapi udah nikah,
tinggal di Makassar sama istrinya, dia juga mengabdi disana sebagai ASN...”
“Lho, maaf ya, kalau kerjaan
kakakmu udah lumayan mapan begitu, mestinya kamu gak perlu kerja sekeras ini
dong untuk ngebiayain orang tua sama adik-adikmu? Emang abangmu nggak pernah
ngirim ta?” Riana heran.
“Halah mana ada, dia tuh disetir
banget sama istrinya, entah kurasa dia menikahi perempuan ini juga bukan karena
kemauan dia, mungkin aja ada semacam ilmu pengasih...”
“Maksudmu?” Riana gak ngerti.
“Ya, pelet...” jawab Muara
santai.
“Hus! Nggak boleh suuzhon gitu
ah sama sodara sendiri...” nasihat Riana. Muara Cuma mengangguk. Lalu sambil
melihat langit, ia melanjutkan perkataannya lagi.
“Makanya, kalau aku punya istri
nanti, aku maunya perempuan yang nggak hanya sayang sama aku, tapi sama
keluargaku juga, dia bisa sayang sama ibu, bapak, adek-adekku...”
“Aamiin paling serius, Muara...”
jawab Riana. New year, new hope. Tahun baru, harapan baru. Dan tentu saja,
setiap orang pasti menginginkan yang terbaik untuk diri mereka.
“Selamat tahun baru...” ucap
Muara dan Riana kompak. Setelahnya, mereka saling tatap dan tertawa.
“Tadi harusnya siapa yang
ngucapin buat siapa sih?” tanya Riana, usai tawa mereka mereda.
“Harusnya aku ke kamu, terus
kamu ke aku... Kenapa jadi barengan?” Muara garuk-garuk kepala.
“Mbuh wes, bingung aku... Ya
udah ke kamar yuk, besok sama lusa, puasin jalan-jalannya, kan tanggal 3 udah
mencar lagi kita...” kata Riana.
“Okay tuan putri. Yuk, kuanter
ke kamar ya, kasian cewek cantik naik lift malem-malem gini. Kalau digodain
sama penunggu lift-nya gimana?
“Heh tuyul, malah nakut-nakutin.
Suwek lu. Ya udah, ayok...” Riana cemberut. Muara Cuma tertawa. Duh, seandainya
aja ini legal ya, pasti habis tuh pipi sama bibirnya. Tapi yowes lah, berhubung
__ADS_1
author-nya baik hati, gimana kalau kita do’ain mereka berjodoh aja?
(TBC).