MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 5, SETAHUN BERIKUT YANG INDAH (TENTANG NICO DAN RIRI, PART 2)


__ADS_3

-STIL FLASHBACK


-POV AUTHOR


Ayah dan ibu Nico telah kembali ke Amerika, sebulan setelah semua situasi kembali normal. Sebenernya Nico juga dibujuk untuk ikut pulang bersama mereka, tapi Nico tidak mau, dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Indonesia. Maka begitulah akhirnya, Nico tetap stay di Indonesia, kuliah disini, sambil mencari separuh hatinya yang hilang ; R                        iana.


***


Sore hari, November yang basah karena diguyur hujan seharian. Nico sedang asyik memandangi aktifitas orang-orang di bawah melalui kaca transparan yang ada di dalam ruang pribadinya. Tak peduli apapun musimnya, semua orang hobi pergi ke cafe. Mau musim kemarau, mau hujan, pengunjung cafe tetap saja banyak.


“Mas Nico, ini tadi minta green tea anget katanya, udah dipanggilin dari tadi juga, malah gak denger!” omelan seorang gadis menghentikan sejenak aktifitas yang sedang dilakukan Nico itu. Cowok jangkung setengah bule itu memutar bola matanya malas, ke sebuah meja yang di atasnya sudah tersaji secangkir teh hijau hangat dengan sepotong cheesecake yang hampir lumer bagian atasnya.


“Sorry, Sa, gue terlalu asyik lihatin lalu-lalang dan aktifitas orang-orang di bawah,” ucap Nico seraya menyeruput pelan tehnya.


“Lo ngeliatin orang-orang, apa lagi nyari orang?” pertanyaan Carissa tepat mengenai sasaran, dan Nico menghela napas lagi, menggalau lagi.


“Jakarta itu luas, mas, nggak semudah itu lo mencari satu orang di kota seluas ini,” ucap Carissa.


“Ya lo bener juga sih, Sa. Tapi gue harus gimana ya? Setahun gue kehilangan dia...” keluh Nico.


“Apa setelah dia pergi dari Malang itu lo bener-bener gak ada kontakan lagi sama dia?” tanya Carissa.


“Seharusnya ada ya, tapi gue nggak berani, nanya udah sampe apa belum, sehari setelah dia pergi ke Jakarta aja gue nggak berani...”


“Yeeee, berarti salah lo sendiri kalau gitu mas, hadeh, udah bucin, bego pula. Double kill!” seru Carissa jengkel seraya segera meninggalkan ruangan milik boss-nya tersebut. Iya, cafe kecil ini milik Nico sendiri. Dan Carissa adalah mahasiswa tingkat pertama di sebuah kampus di Jakarta, dan ia bekerja disini, atas rekomendasi dari Aunty Verro – sahabat sang ibu. Kebetulan Carissa ini memang keponakannya Aunty Verro.


Nico melanjutkan aktifitasnya lagi, menatapi lalu-lalang orang-orang yang keluar-masuk cafe-nya dengan berbagai latar belakang.


“Suatu saat Ri,” katanya seraya meminum lagi teh hijaunya, “Cafe ini akan jadi besar, dan lo ada disini, jadi bagian dari cafe ini,” lanjutnya kemudian seraya menutup kaca jendela transparannya dengan gorden. Kayaknya dia udah bosen ngeliatin aktifitas orang-orang (dan nggak ada satupun pertanda kalau orang yang sedang dia cari bakal datang kesini), setelah itu, cowok jangkung itu segera menghidupkan PC-nya. Mending dia main game aja lah daripada makin galau.


***


Tapi nyatanya, gak perlu nunggu cafe ini gede dulu kok untuk mengundang Riana datang kesana. Suatu malam, ketika pengunjung cafe sedang sepi, Nico memutuskan untuk keluar sebentar dan berjalan-jalan. Bosan juga seharian dia Cuma main PC di ruang pribadinya. So daripada dia terus menggila + menggalau karena terus-terusan disitu, mending dia keluar aja, jalan-jalan.


“Mau kemana, mas?” tanya Carissa yang lagi sibuk memanggang sesuatu di dapur.


“Mau jalan-jalan, Sa. Mau nitip sesuatu?” tanya Nico.


“Titip pacar satu boleh mas? Aku bosen jomblo,” seloroh Carissa. Nico menoyor kening gadis itu, seraya mencomot sepotong brownies yang ada di atas sebuah piring.


“Idih, kalau laper tuh bilang mas, kan nanti bisa aku masakin...” kata Carissa seraya membalik kuenya yang sudah matang itu.


“Bikin berapa loyang, Sa?” tanya Nico.


“Cuman 3 kok, ini pesanan buat diantar besok. Tapi kayaknya mas harus nambah orang lagi deh kalau mau nerima layanan pesan cake box gini, kalau Cuma delapan orang disini gak cukup, takutnya urusan cafe nggak ke-handle...” ucap Carisa.


“Oh iya gampang, nanti gue minta temen buat bikin iklan loker deh. Gue tinggal dulu ya Sa, happy baking!” seru Nico seraya menarik kepangan ekor kuda Carissa, membuat pemiliknnya memutar bola mata dengan malas, lalu mengusirnya menggunakan gestur. Nico Cuma tertawa, sebelum akhirnya ia berjalan cepat menuju pintu keluar cafe. Syukurlah, bebannya bisa sedikit bberkurang setelah menjahili Carissa tadi.


***


Disini Nico sekarang. Beruntung ia memutuskan untuk keluar dari cafe-nya dan berjalan-jalan, masalahnya, dia baru ingat, kalau keperluan dapur dan logistik bulanannya sudah habis semua. Beruntung juga ia membawa sepeda motornya hari ini.


“Ya ampun, siapa sih orang yang kurang kerjaannya belanja malam-malam begini?” keluh Nico seraya memperhatikan aktifitas dan kepadatan mobilitas orang-orang di dalam supermarket tersebut. Setelah melontarkan keluhan itu, dia meringis kemudian. Bukannya dia salah satu orang yang dengan kurang kerjaannya menjadi bagian dari keramaian ini.


“Mas, mas, misi dong. Aduh suwek, udah raknya tinggi banget, kehalangan masnya malah jadi tambah gak keliatan ini,” ucap seorang wanita seraya menunjuk rak bumbu dapur yang memang rupanya tak sengaja dihalangi oleh Nico. Nico yang kaget ditegur begitu, segera mundur ke belakang, dan karena tidak siap, ia malah akhirnya jadi korban “tabrak lari” seseibu yang repot banget bawa troli belanjaan sambil menggandeng kedua balitanya yang kembar dan botak. Lucu banget, kayak Upin-Ipin.


“Maaf mas,” ucapnya seraya berjalan cepat sekali bersama troli belanjanya, mengejar kedua balitanya yang super lincah. Nico Cuma nyengir, terus garuk-garuk kepala. Sebenernya situasi macam apa sih yang sedang dia hadapi ini?


“Eh mas, tolongin dong,” suara wanita tadi terdengar lagi. Nico segera menoleh (tanpa melihat ke arah si wanita), lalu bertanya.


“Kenapa, mbak?”


“Anu, nggak nyampe e sayanya. Tolong ambilin yang itu, yang itu, sama yang itu di paling atas ya, tinggi banget, serius,” ucapnya seraya nyengir, mungkin merasa tak enak. Nico mengangguk dan tersenyum. Dengan cepat, ia mengambil beberapa barang yang diminta oleh si wanita lalu menyerahkannya.


“Terima kas...” kata-kata wanita itu terhenti, tatapannya juga terhenti persis di depan wwajah Nico. Nico yang keheranan akhirnya membalas tatapan wanita itu, dan pada sepersekian detik yang lain, mereka sama-sama menyadari tentang siapa yang sebenarnya sejak tadi berada dalam satu lokasi dan satu tempat.


***


Nico memarkirkan sepeda motornya dengan kondisi mata yang masih berkaca-kaca. Di boncengan belakang, Riana juga terlihat sama terharunya. Tidak disangka, setelah setahun, akhirnya mereka dipertemukan lagi dalam nuansa dan suasana yang berbeda.


“Nico... A-Aku masih nggak percaya kalau ini kamu,” ucap Riana seraya mencopot helm-nya.

__ADS_1


“Aku lebih nggak percaya lagi kalau kamu sekarang ada disini secara tiba-tiba, selama setahun ini, aku putus asa nyari kamu,” kata Nico. Mereka turun dari motor dengan bergandengan tangan, melupakan barang bawaan yang masih tertata dengan indah di dalam bagasi motor yang cukup besar tersebut.


“Carissaaaaa!” jerit Nico, sesampainya di dalam cafe. Beruntung cafe sudah sepi, hanya tersisa para pekerja yang belum pulang – termasuk Carissa.


“Ngopo e mas? Malah teriak-teriak!” serunya.


“Sa, dia datang Sa, dia datang, dia ada disini!” seru Nico seraya menggoyang-goyangkan lengan Carissa dengan penuh semangat.


“Aduh apaan sih? Ini kalau lenganku copot gimana? Dia siapa? Siapa yang datang?” tanya Carissa.


“Orangnya ada di belakang lo, Riana!” seru Nico, masih dengan antusiasme yang sama.


“Hi... Ini kalian berdua kenapa sih?” tanya Riana nggak ngerti.


“Oh, sorry, mbak, Hi, aku Carissa, karyawannya Mas Nico di cafe ini. La kalau mbak tanya sama aku, aku tanya sama siapa? Yang jelas, dia tuh nyariin mbak terus, curhatnya ya ke aku, makanya, barang kali dia happy banget setelah ketemu sama mbak,” kata Carissa. Riana melongo. Serindu itukah Nico padanya? Nico menghadiahkan Carissa sebuah pelototan, tapi gadis manis itu tak peduli, dan tetap melanjutkan ceritanya.


“Mas Nico setiap hari itu selalu lihat ke jendela dari ruangannya di atas, berharap mbak lihat cafe ini terus masuk ke dalamnya, buat singgah. Tapi nggak disangka, kalian malah ketemu setelah Mas Nico keluar dari persembunyiannya...”


“Wes, Sa, wes. Ojo ngawur lehmu cerito kui... Mending siapno sesuatu yang spesial buat Riri, dia kan baru pertama kali datang ke sini...” kata Nico menginterupsi, tanpa ia tahu bahwa lawan bicaranya sendiri sedang berdamai dengan rasa sakit yang asing, yang tiba-tiba menyelusup dalam hati. Setelah semua rahasia itu, setelah semua cerita dan jutaan keluh itu, ia akan segera diabaikan, digantikan oleh yang pernah hilang dari pandangan.


***


“Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Riana,” ucap Nico, sesaat setelah mereka berdua tiba di dalam ruang pribadi Nico.


“Maaf, Nico. Tapi kalau seharusnya kamu rindu, kamu kan bisa menghubungi aku lebih dulu. Aku hanya pergi, dan tidak bisa meneruskan rasa di antara kita karena perbedaan itu. Tapi kan bukan berarti kita tidak bisa lanjut berteman,” ucap Riana. Nico terhenyak. Ia menundukkan wajahnya, tak berani menentang tatapan serta ucapan Riana. Gadis itu benar. Sebenarnya selama ini, dirinyalah yang dengan sengaja membiarkan gadis itu menghilang.


“Jadi sebenernya, siapa yang meninggalkan siapa?” Riana memecah kesunyian. Nico menghela napas, ia mencoba menatap mata Riana, mata sejernih telaga yang dirinduinya itu.


“A-Aku, Ri, aku yang salah. Maaf,” lirih Nico seraya membawa gadis mungil itu ke dalam pelukannya.


“Sudahlah, yang penting, kita bisa bareng-bareng lagi sekarang...” Riana membalas pelukan Nico begitu erat. Sepertinya, ia juga merasa kehilangan.


“Permisi...” Carissa membuka pintu perlahan. Di tangannya, ada satu nampan berisi dua gelas cokelat panas dan sepiring penuh berisi brownnies yang sepertinya baru matang.


“Hi, Carissa. Sini gabung,” ajak Riana ramah.


“Makasih mbak, aku


“Are you ok, Sa?” tanya Nico khawatir.


“Aku nggak papa kok mas... Aku pulang ya?”


“Jangan sendirian, gue anter aja ya, kost lo kan jauh...” tawar Nico.


“Nggak deh mas, aku kayaknya bareng Mas Alit, dia juga belum pulang itu. Aku permisi ya, selamat malam,” kata Carissa. Nico tidak bisa mencegah. Jujur ia bingung, kok Carissa beda ya? Kenapa ini?


Selama ini ribuan hari


Kudekat denganmu


Lewati berbagai hal ku ada di sisi mu


Tanpa kau tahu perasaan ku padamu


Sendiri ku berharap


Memberi kasih walau tak kembali


I maybe not yours and you're not mine


But I'll be there for you when you need me


It is only me


Believe me girl it's only me


Yeah it's only me


I will always be the one who pull you up


When everybody push you down

__ADS_1


And it's only me


Believe me girl it's only me


Yeah it's only me


Sekali pun kau tak pernah perdulikan rasa ku


Ku takkan acuhkan dirimu


Tapi kuharap suatu saat nanti kau tahu


Sendiri ku berharap


Memberi kasih walau tak kembali


I maybe not yours and you're not mine


But I'll be there for you when you need me


It is only me


Believe me girl it's only me


Yeah it's only me


I will always be the one who pull you up


When everybody push you down


And it's only me


Believe me girl it's only me


Yeah it's only me


Aku memang bukan


Rasa yang kau mau


Namun ku kan slalu ada


Untukmu untukmu


I maybe not yours and you're not mine


But I'll be there for you when you need me


It is only me


Believe me girl it's only me


Yeah it's only me


I will always be the one who pull you up


When everybody push you down


And it's only me


Believe me girl it's only me


Yeah it's only me


It's only me


Its only its only me


Yeah its only me


(Kaleb J- It’s Only Me).

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2