MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 26, PILIHAN TERBAIK


__ADS_3

“Tidak semua rasa cinta itu perlu diungkapkan. Terkadang, ada rasa cinta yang hanya perlu disampaikan lewat do’a, bersama desau angin dan aliran air yang senantiasa, sepanjang waktu.” (Abhi).


***


“Kuat amat sih njenengan iku, mas,” komentar Ganesh, sesaat setelah mereka sampai di Malang. Sepanjang perjalanan di atas pesawat, yang jadi bahan diskusi mereka berdua cuman itu aja ; apakah perasaan kagum, suka, atau semacamnya itu, sebaiknya diungkapkan atau tidak?


“Ganesh, kamu berpikir begini karena kamu masih remaja. Seandainya kamu sudah seusia aku, pasti mikirmu udah beda lagi...” jawab Abhi seraya menunggu pramugari membantunya untuk turun. Kali ini, mereka Cuma berdua, dan dua-duanya tunanetra. Sempat ada beberapa kendala di bandara dan di dalam pesawat, tapi alhamdulillah, semua bisa dilalui dengan baik.


“Tapi mas, namanya cinta kan kadang mengalahkan logika? Gara-gara cinta, orang bisa jadi nggak waras secara tiba-tiba,” komentar Ganesh lagi. Abhi Cuma tertawa, lalu menepuk pundak bocah SMA itu.


“Kita lanjut di kostmu aja nanti, sekarang, ayo ambil bagasi dulu...” kata Abhi. Ganesh mengiyakan. Kembali dua orang tunanetra itu berjalan bersama menuju counter pengambilan bagasi.


***


“Iya mbak, aku udah sampe di kost ini, baru aja. Habis mandi terus order makanan, kan ada Mas Abhi disini...”


“Enggak, dia nginep sehari doang kayanya, besok dijemput sama team dari EO-nya, buat dianter ke hotel...”


“Iya mbak, mbak baik-baik ya, nanti kalau mau pulang ke Malang bilang aku. Oke sip...” Ganesh mengakhiri pembicaraannya dengan sang kakak fia telepon. Dan bersamaan dengan itu, Abhi baru saja masuk ke kamarnya, setelah habis menerima telepon juga.


“Pasti baru ditelpon Riana,” tebaknya.


“Seratus, mas. Bener banget... Tapi BTW, kenapa bisa tau?” tanya Abhi.


“Cuma seorang Riana Mentari yang bisa bikin suaramu tuh terdengar riang dan penuh energi saat ngomong... Emang luar biasa ya dia...”


“Lah, itu juga yang aku tangkep dan aku rasain kalau Mas Abhi lagi ngobrol sama Mbak Riri...” komentar Ganesh. Abhi meringis.


“Kok baliknya ke aku lagi sih? Jangan gitu dong!” serunya pura-pura kesal.


“Ya habis mas itu lho aneh, udah tau suka, udah tau sayang, bukannya ngomong malah diem-diem begitu...” protes Ganesh.

__ADS_1


“Andai kamu tau, Nesh...” kata Abhi pelan.


“Aku tau, mas, mas tuh suka kan sama Mbak Riri, aku masih ingat ketika mas bilang soal itu di Jogja...” kata Ganesh berapi-api.


“Hhh...” Abhi menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya di salah satu sisi dinding yang menghadap lemari, membelakangi Ganesh yang memilih bersandar di dekat tempat tidur.


“Sebenernya masalahnya bukan itu, Nesh.” Katanya lagi.


“Terus apa?” Ganesh masih tampak berapi-api. Ia begitu gemas dengan Abhi yang menurutnya bergerak terlalu lambat. Haruskah ia memaksa Abhi untuk hal yang satu ini? Lagi pula, dia juga setuju kok kalau kakaknya jalan sama Abhi.


“Dek, nggak semua yang kita rasain itu harus kita ungkapkan, ada sebagian perasaan yang lebih baik dipendam aja, demi kebaikan bersama...” kata Abhi pelan.


“Iya sih demi kebaikan bersama, tapi kalau yang sakit Cuma kita sendiri kayak gini, gimana?” tanya Ganesh lagi.


“Maksud kamu?” Abhi balik bertanya.


“Aduuuh, susah ngomong sama mas-mas ini satu. Ya udah sek, aku tak cerita sesuatu soal pengalamanku nanti, tapi kita order makanan dulu ya, aku laper,” kata Ganesh seraya mengambil ponselnya, bersiap menuju aplikasi ojek online.


“Lereno kono, aku tak nungguin abang ojol dulu...” kata Ganesh seraya keluar kamar. Hari ini, dia Cuma sendirian di kost, Wisnu lagi ke Sidoarjo, ke rumah saudaranya, menghadiri acara pernikahan. Jadi pas lah, dia bisa tidur tanpa harus empet-empetan bertiga (sebagai informasi aja nih, Wisnu itu bentukannya endut gitu, bulet), jadi pasti kasurnya penuh kalau ada dia.


***


“Oh, jadi gitu, Nesh? Rumit juga ya kisah cinta kamu...” kata Abhi seraya menyuap nasi goreng yang ada di hadapannya, bersama Ganesh yang megap-megap kepedesan karena salah pilih level.


“Iya mas, ya sekarang udah ngerti kan, kenapa aku ngebet banget maksa mas ngungkapin semuanya ke Mbak Riri? Aku mau mas memperjuangkan cintanya mas, sama kayak aku memperjuangkan Mbak Hani dulu...” kata Ganesh. Abhi menghentikan suapan nasi gorengnya, lalu meraih gelas es teh manis yang berada persis di sampingnya, kemudian meneguknya.


“Nggak segampang itu masalahnya, Nesh... Kalau soal Riana, aku tau mungkin dia bisa terima aku, tapi orang tua kalian gimana, papa kalian gimana? Oke mungkin aku pengecut disini, karena aku nggak mau mencoba memperjuangkan dulu. Tapi Nesh, asal kamu tau, dulu aku juga pernah ada di posisi begini, sama seorang cewek, udah deket banget, udah sayang banget, tapi terhalang restu orang tuanya, aku dipermalukan di pesta ulang tahun cewek itu, kebayang kan gimana, betapa tidak punya mukanya aku setelah itu, bahkan nggak ada kesanggupan sama sekali dari aku buat ketemu si cewek, dan aku memilih buat pergi dan melupakan semuanya...” tutur Abhi panjang-lebar. Ganesh melongo. Otomatis suapannya juga terhenti. Dia jadi ingat sebuah program yang membahas kisah-kisah seperti itu ; kisah cinta yang tak direstui semesta, dan atau kisah-kisah lainnya, di sebuah radio streaming (kalau penasaran apa nama radionya dan siapa nama penyiarnya, komen atau inbox aja ya, nanti author bisikin).


“Masak sih mas, sampai segitunya?” tanyanya pelan.


“Yeee, serius, itu terjadi setahun yang lalu... Eh nggak, September ini baru pas setahun.” Jawab Abhi.

__ADS_1


“Ya ampun, berarti terhitung baru dong, mas?” Ganesh kaget.


“Iya, makanya itu, aku sempet mengutuki keadaan, mengutuki diriku sendiri terutama, kenapa aku harus jatuh cinta lagi, ketika aku masih merasakan sakit atas hal itu gitu lho...” jelas Abhi. Ganesh menghela napas. Ya, susah juga kalau begini. Seandainya nggak pernah ada trauma itu, mungkin Abhi bisa lebih mudah


Mengungkapkan semuanya. Lagian, dia setuju-setuju aja kalau Abhi berpacaran dengan kakaknya. Cuma bener juga sih ya, papa mereka kan orang yang rumit, yang ketinggian seleranya. Masak iya Ganesh tega mau membawa Abhi ke situasi menyakitkan itu lagi, apa lagi posisi dia juga masih trauma...


“Yah... Susah juga mas kalau begitu ceritanya. Aku nggak tau e kalau ternyata ada cerita memilukan dibalik keputusan dan sikap mas yang maju-mundur begini...”


“Itulah dia, Nesh, sampai sekarang aku memilih untuk tetap diam, supaya perasaanku bisa memudar dengan sendirinya. Tapi kalau intensitas ketemu aku sama Riri continue, terus-terusan, ya mbuh maneh...” Abhi menghela napas.


“Hadeeeh... Dulu begitu juga aku sama Mbak Hani tuh, malahan ya mas, saat aku ngungkapin itu ke Mbak Hani, posisinya dia punya pacar lho...”


“What?” Abhi terkejut. Ini dari tadi makan mereka gak kelar-kelar lho BTW, gegara diselingi acara curhat.


“Serius, tapi hubungan mereka udah di ambang-ambang hancur gitu, memang Mbak Hani-nya sendiri ya curhat ke aku, kalau pacarnya toxic banget gitu, sudah hampir setahun, dia mau putus tapi mental terus, dan masuklah aku ke circle pertemanan dia, dan otomatis, masuk pula aku ke kehidupan dia...” kata Ganesh lagi.


“Jadi kamu sengaja bikin mereka putus, Nesh?”


“Enggaaak, kami jadian setelah Mbak Hani putus lama dari pacarnya. Tapi, Mbak Hani itu perempuan yang baik sih mas, kurasa, bodoh aja cowok yang nyia-nyiain dia dari dulu. Aku sih ngerasa beruntung, karena bisa dapetin hatinya dia. Tapi masih ada yang mengganjal nih...”


“Apaan?” Abhi penasaran.


“Sainganku banyak, temen kampusnya, temen-temen cowoknya yang lain, sampai pusing aku mas, insecure sendiri jadinya...”


“Halah itu Cuma karena kamu itu masih remaja, Nesh, masih terlalu mikir apa itu yang namanya cemburu, kalau Hani itu jodohmu, dia nggak akan kemana-mana...” kata Ganesh bijak.


“Aamiin, mas, mudah-mudahan kami berjodoh. Eh, sek ya, dia nelpon tuh...” kata Ganesh seraya tergesa mengambil ponselnya. Abhi mendesah setengah jengkel. Kalau udah begini, alamat sampai malam dia ditinggal sama si Ganesh, ditinggal pacaran, lagi, kan parah banget. Ya udah lah, mending dia nyalain laptop aja, sekalian nyiapin materi presentasi dia lusa. Besok pagi-pagi, dia akan dijemput sama EO, dibawa ke hotel tempat pelaksanaan acara. Dan daripada dia kesel sendiri ngedengerin percakapan mesranya Ganesh sama Hani lewat telepon, mending dia pasang headset, denger lagu, terus internetan sambil baca-baca materi. Nggak papa, biar jomblo, yang penting nggak merana.


***


Waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Abhi mematikan laptopnya, mengembalikannya ke dalam ransel. Sudah tidak terdengar suara-suara, itu artinya Ganesh juga sudah tidur. Abhi mendesah, lagi. Kok begini amat ya nasib percintaannya dia? Kenapa juga dia harus jatuh cinta lagi, justru disaat hatinya belum bener-bener sembuh sempurna? Ah, sudahlah. Semoga keputusan untuk tidak mengungkapkan itu adalah pilihan terbaik baginya. Setidaknya, untuk saat ini.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2